
***
Rio yang mendapat kabar Jessi di rawat pun datang menjenguk. Siang hari Rio bergegas ke rumah sakit untuk menjenguk Jessi. Lelaki itu juga membawa sebuket bunga dan sekeranjang buah.
Rio bertanya pada pusat informasi dimana ruangan Jessi di rawat, setelah mendapat informasinya Rio langsung menuju ruangan Jessi dirawat.
Sampai di depan ruangan Jessi di rawat, Rio sedikit mengintip dari kaca jendela melihat siapa saja yang berada didalam ruangan itu. Hanya ada bocah laki-laki dan Jessi didalam nya.
Rio mengetuk pintu kamar Jessi, setelah Jessi menyahutnya dia masuk kedalam.
“Kak Rio!” Jessi yang tidak menyangka Rio akan datang pun kaget. Rey menoleh ia lalu berpindah tempat duduk memutar ke sebelah kanan brankar.
“Hai Jess, bagaimana keadaanmu?” Meletakan buah dan bunga di nakas sebelah tempat tidur. Lalu duduk di kursi sebelah kiri brankar.
“Sudah sehat, kak. Kak Rio tau dari mana Jessi disini?” Bahkan Jessi tidak memberitahu Rio. Jika Rio tau maka kemungkinan Tari yang memberitahunya. Yah, Jessi hanya sekadar basa-basi saja sih.
“Tari yang kasih tau, kamu sakit apa?”
Sudah kuduga Tari, padahal aku sudah bilang hanya flu. Terpaksa jujur.
“Ah, kena tifus, kak.” Jawab Jessi.
Rio manggut-manggut, lelaki itu juga menatap kearah Rey yang sedang sibuk dengan ponselnya. “Siapa Jess?” Mengarahkan kepalanya pada Rey.
Jessica menoleh pada Rey. “Anak ini?” Menunjuk Rey dengan malas. Yang ditunjuk apalagi bergeming pun tidak.
Rio mengangguk. “Adik kamu?”
“Iya, kak. Dia ini si bungsu di keluargaku, tapi, maaf dia agak cuek. Rey, sapa temen kakak, dong!” Menjewer kecil telinga Rey agar adiknya itu menghentikan sejenak bermain ponselnya.
Ingat sopan santun yang diajarkan mommy Ayu, Rey menyapa Rio terlebih dulu dan melupakan sejenak ponselnya. “Halo kak, Rey.” Ucapnya memperkenalkan diri sambil menjulurkan tangannya menjabat tangan Rio.
“Halo Rey, Rio.” Menerima uluran tangan Rey. “Kamu tampan Rey.”
“Oh, itu sudah pasti, kak. Gen di keluarga kami memang sempurna, yang perempuan cantik-cantik dan yang laki-laki sangat tampan-tampan.” Balas Rey percaya diri. Mendengar adiknya yang terlalu ke pede an itu Jessi memutar bola matanya malas. Sudah bukan rahasia lagi jika Rey sering membanggakan tampangnya sendiri. Entah dapat dari mana sikap narsisnya itu.
“Ya, kau benar. Kakak mu juga sangat cantik.” Puji Rio sambil memandang Jessi dan tersenyum.
Dipuji blak-blakan oleh seorang pria tampan tentu membuat Jessi malu. Pipinya menjadi merona sendiri dan salah tingkah. Tangan Jessi menyelipkan sulur rambutnya kebelakang telinga sambil tersipu.
Untung jantung gue nggak bergetar. Kalau bergetar, kan, gue bisa salah mengartikan perasaan gue ke Rio.
__ADS_1
“Cih, sok malu-malu. Genit!” Gumam Rey pelan. Jessi melotot pada adiknya.
“Kak Rio memang nggak kuliah?” Tanya Jessi.
“Sudah pulang, kok.” Balas Rio berbohong. Padahal masih ada satu mata kuliah penting tapi, ia memilih membolos. “Mommy sama Daddy kamu dimana, Jess?” Merasa heran karena Jessi hanya di jaga Rey. Dimana kedua orang tua Jessi?
“Diluar negeri, kak.” Jessi sengaja tidak memberi kabar Ayu dan Raka jika dirinya di rawat. Ia tidak mau membuat kedua orang tua nya khawatir.
“Jadi, kamu hanya berdua dengan Rey?”
Mandiri! Satu kata kagum dari Rio yang hanya ia batin. Jika gadis lain pasti akan merengek meminta perhatian kedua orang tuanya saat sakit.
“Tidak, ada kakak laki-laki kembaran ku. Dia sekolah.” Jawab Jessi.
“Kembaran?” Jessi menangguk. Rio mencoba mengingat ingat masa-masa SMA nya, ia tidak ingat Jessi memiliki saudara kembar. “Bukannya kamu hanya sendiri di SMA seingat ku?” Tanya nya penasaran.
“Iya.. kakakku sekolah di tempat lain kak, kita beda sekolah.” Jawab Jessi menjelaskan. Rio manggut-manggut.
Obrolan mereka lumayan seru apalagi saat Rey dan Rio terlihat akrab membahas game. Tanpa mereka sadari ada seseorang mendengar semua percakapan ketiga orang di dalam ruangan itu.
***
Yoga langsung menuju rumah sakit saat tiba jam makan siang. Ia juga membawa makan siang untuk Jessi dan Rey. Sebelumnya Yoga sudah menghubungi Rey menanyakan apakah Rey sudah pulang atau belum.
Namun, saat akan membuka pintu kamar Jessica, Yoga mendengar suara laki-laki asing. Yoga mengurungkan niatnya dan menunggu beberapa saat di luar. Ia juga menguping apa saja yang mereka bicarakan. Sesekali Yoga mengintip untuk melihat ekspresi Jessi. Yoga kesal sendiri melihat Jessi yang malu-malu saat Rio mengatakan Jessi cantik.
“Kenapa dia tersenyum seperti itu?Genit.” Gerutu Yoga melihat Jessi.
Yoga semakin kesal saat Rio menceritakan pada Rey tentang kisah SMA Rio dan Jessi. Apalagi saat Rio mengatakan pernah menembak Jessi namun di tolak. Ada gemuruh yang menggangu di dada Yoga saat mengetahui lelaki lain sempat menyatakan cinta pada Jessi nya. Hah, Jessi nya??Sejak kapan Jessi menjadi Jessi nya?
Satu jam berlalu, Rio tak kunjung pamit. Mau tidak mau Yoga menerobos masuk. Ia juga sudah kesal menunggu. Yoga membuka pintu kamar Jessi pelan tanpa mengetuk pintu. Saat mendengar pintu di buka dari luar Jessi, Rio maupun Rey menoleh ke arah pintu. Yoga kembali menutup pintu itu.
Senyum bahagia terpancar di wajah Jessi melihat Yoga datang. Semua orang bisa melihat perbedaan raut wajah Jessi saat ini termasuk Rio.
‘Siapa laki-laki itu?’ Batin Rio.
“Kakak datang?” Tanya Jessi semangat.
“Hem. Saya tidak tau kalau sedang ada tamu, apa saya menggangu?”
“Tidak!!” Jawab Jessi cepat. Dan, Yoga pun manggut-manggut.
__ADS_1
“Saya bawakan makan siang untuk kamu dan Rey.” Yoga melirik sekilas nakas di sebelah brankar. Sudah penuh dengan sebuket bunga dan buah di dalam keranjang.
Memang orang mati dibawakan bunga.
Yoga merasa semakin kesal dengan adanya bunga mawar merah di nakas. Akhirnya Yoga meletakan makan siang yang dia bawa di meja dekat sofa.
Rey langsung beringsut mendekati bungkusan yang Yoga bawa. Bocah laki-laki itu memeriksa apa yang Yoga bawa.
“Nasi Padang, mantap.” Mengambil satu bungkusan dan siap menyantapnya.
Rio melihat Rey merasa sedikit kesal. ‘Harusnya aku membawa makan siang bukan buah.’ Batin Rio. Merasa tidak nyaman Rio akhirnya pamit pada Jessi.
“Sepertinya saya harus pulang Jess, masih ada urusan di cafe.”
Cepet pergi sana! Batin Yoga.
“Ah iya, kak. Terimakasih sudah datang, kak.” Ucap Jessi lembut. Rio mengangguk.
“Terimakasih untuk bunga dan buah nya juga ya, kak. Malah ngerepotin kakak.” Ujar Jessi.
“Sama-sama Jess, cepat sembuh ya!” Refleks tangan kanan Rio mengelus rambut Jessi. Jessi tersenyum kikuk mendapat perlakuan seperti itu. Sementara Yoga nampak mengepalkan tangannya.
Lancang sekali bocah ini!Sabar Yoga!
“Pacar kamu?” Tanya Yoga setelah Rio keluar dari ruangan Jessi.
“Calon, kak.” Sahut Rey yang langsung mendapat pelototan tajam dari Jessi. Rey sengaja memanas manasi Yoga. Rey juga penasaran bagaimana perasaan Yoga yang sebenarnya pada Jessi.
“Oh.” Yoga hanya membalas dengan ber oh ria.
“Bu-bukan, kak. Cuman temen.” Jelas Jessi terbata-bata tidak mau Yoga salah paham.
“Pacar juga tidak papa. Kamu juga sudah besar suka sama lawan jenis itu normal.” Jawab Yoga yang langsung ingin merutuki diri nya sendiri. Kenapa ia malah seakan tidak masalah Jessi dan Rio pacaran. Padahal melihat Rio mengelus rambut Jessi saja Yoga kesal bukan main. Bagaimana jika mereka benar-benar pacaran?Bisa gila Yoga.
Jadi, kak Yoga tidak peduli Jessi mau pacaran sama siapapun?Apa kak Yoga memang tidak bisa memberi Jessi sedikit saja harapan. Batin Jessi sambil menunduk menahan tangis. Jessi merasa sedih dengan perkataan Yoga. Untung Rey bisa membaca gelagat Jessi, Rey langsung mengajak Yoga untuk menemaninya ke kantin membeli teh hangat.
Setelah Rey dan Yoga keluar, air mata Jessi luruh bergitu saja. “Dari dulu sampai sekarang memang hanya aku yang punya perasaan cinta ini. Apa kah artinya aku harus menyerah?” Gumam Jessi merasa putus asa.
.
.
__ADS_1
.
.