Pengacara Tampanku

Pengacara Tampanku
Yulia lagi Yulia lagi..


__ADS_3

Yulia lagi Yulia lagi! Radit tidak menyangka Yulia akan mengadu pada bapak dan ibu Radit akan masalah mereka. Sungguh tidak dewasa perempuan itu di mata Radit. Radit yang bergegas mampir kerumah bapak dan ibu sepulang kerja harus menahan kekecewaan karena ternyata semua itu sudah direncanakan Yulia. Dari ibu yang tiba-tiba menelpon Radit hingga makan malam yang sudah di persiapkan Yulia.


Radit dan Yulia dalam perjalanan menunju rumah Yulia mengantar Yulia pulang usai acara makan malam.


“Aku nggak peduli kamu suka atau enggak. Yang jelas kita nggak bisa putus. Kamu juga ingat nasihat ibu tadi ‘kan?” Yulia membuka percakapan. Yulia tidak tahan dengan sikap Radit yang terkesan mengacuhkannya sejak mereka pulang dari rumah orang tua Radit. Radit terlalu malas untuk menanggapi Yulia, dia memilih deheman untuk menjawab Yulia, “Hm.” Dehem Radit datar.


Yulia tetap mencoba mengajak Radit mengobrol namun gagal, selalu saja Radit menjawab dengan deheman cuek.


“Sudah sampai.” Radit menepikan mobilnya dipinggir jalan.


Benar, mereka sudah sampai. Yulia tahu betul tapi enggan untuk turun dari mobil. Dia masih ingin berlama-lama dengan Radit.


“Sudah sampai, Yul!” Ulang Radit tanpa menoleh pada Yulia.


“Aku tahu.” Jawab Yulia tangan nya meraih lengan Radit dan bergelanyut disana. Radit membiarkan saja Yulia menggelanyuti lengannya, “tapi aku tidak mau turun, aku masih ingin sama kamu, kamu nginep aja ya?!” Pintanya manja.


Radit melepaskan tangan Yulia dari lengannya dengan terpaksa, dia muak dengan sikap Yulia. “Terserah kalau enggak mau turun, biar aku yang turun. Kamu bisa tidur di mobil!” Radit melepaskan sabuk pengamannya dan turun dari mobil. Yulia sangat senang, ia langsung menyusul Radit turun dari mobil. Yulia mengira Radit akan menginap.


“Aku senang kamu mau nginep.”


Yulia mendekati Radit menempel pada Radit. Radit menggeser tubuhnya, ia tidak mengerti dari mana Yulia bisa berpikiran Radit akan menginap, padahal Radit sama sekali tidak mempunyai niat menginap.


“Ayo!” Yulia menjulurkan tangannya mengajak Radit masuk kedalam rumah.


“Saya enggak mau masuk. Kamu masuk saja sendiri.” Tolak Radit.


Yulia tersenyum, sebelum turun dari mobil Yulia sudah membawa kunci mobil Radit. Yulia akan menjadikan kunci mobil Radit sebagai alat memaksa Radit untuk menginap.


“Ya sudah kalau enggak mau masuk. Lagi pula kunci mobil kamu sama aku.” Ucap Yulia cuek. Dengan percaya diri Yulia meninggalkan Radit di pinggir jalan. “Kamu pasti akan menyusul, Dit. Memang kamu mau tidur di jalanan.” Batin Yulia cengengesan.


Beberapa menit berlalu, Radit tidak menyusul Yulia. Akhirnya Yulia pun keluar dari rumah, namun dia tidak menemukan Radit di jalan. Hanya ada mobil Radit yang terparkir di tempatnya. Lalu kemana Radit pergi? Sejurus kemudian ponsel Yulia berdering, satu pesan masuk dari “My honey” yang adalah Radit.


Kamu pikir dengan kamu menyita kunci mobil saya, saya enggak akan bisa pulang? Kamu salah, ojek online di mana-mana. (Emot mengejek).


Yulia mengepalkan tangannya kesal. “Sialan!” Teriaknya. Dia gagal menahan Radit. Yulia tidak berpikiran jauh, dia lupa teknologi sekarang sudah serba maju.

__ADS_1


Sementara di tempat lain sepasang pasutri (pasangan suami istri) tengah memperdebatkan hal kecil.


“Aku maunya warna Kuning, mas!” Jessi memilih warna mobil yang akan di beli Yoga.


Berbeda dengan pilihan Yoga.


“Nggak, lebih bagus warna Silver. Lebih elegan.” Ucap Yoga.


Jessi menggelengkan kepalanya tidak setuju, “kuning lebih bagus. Tampak ngejreng dan hidup warnanya.”


“Bagus apanya? Kayak warna kotoran gitu.” Celutuk Yoga.


“Pokoknya aku mau warna kuning.” Jessi melengos.


“Polonya beli yang warna Silver.” Kini Yoga pun ikut melengos ke arah yang berlawanan.


“Beli dua-duanya aja!” Ucap Rey menengahi.


“Nggak!” Jawab Jessi maupun Yoga serentak.


Rey yang sejak satu jam yang lalu berkunjung ke aprtemen pasutri itu terpaksa melihat perdebatan sepele keduanya. Dia duduk di sofa dihadapan Yoga dan Jessi sambil memegang mangkuk berisi salad buah yang di buat Jessi. Menikmatinya sambil menonton Kakak dan kakak iparnya berdebat.


“Diem kamu anak kecil.” Semprot Jessi.


“Pokoknya beli Silver.” Yoga kembali menegaskan akan membeli mobil warna Silver. Jessi tidak mau kalah, “ya sudah beli aja! Aku bisa minta Daddy mobil warna kuning!”


Jessi bangkit dan meninggalkan Yoga menuju kamarnya. Dia membanting pintu dengan keras.


Yoga menyusul karena tidak terima Jessi akan meminta mobil pada Daddy Raka. Dia suaminya, kenapa Jessi harus minta pada orang tuanya? Yoga tidak mau dianggap tidak mampu oleh ayah mertuanya.


“Buka pintunya, Jessi!” Yoga mengetuk pintu saat tau Jessi mengunci pintu kamar mereka.


“Kamu tidur diluar malam ini!” Balas Jessi.


“Saya suami kamu. Kenapa saya harus tidur di luar?” Tanya Yoga polos.

__ADS_1


“Pikir aja sendiri!”


“Untuk apa saya mikir kalau kamu bisa menjawabnya?”


Yoga benar-benar suami o’on bin menjengkelkan bagi Jessi saat ini. Dia tidak peka Jessi sedang merajuk.


Sementara Rey, dia masa bodoh dengan perdebatan kedua kakaknya. Rey memilih masuk ke dalam kamarnya dan tidur. Bocah itu memang akan menginap di rumah Jessi selama beberapa hari karena Daddy Raka dan mommy Ayu sedang berlibur ke luar negeri. Sementara Jordan selalu sibuk.


Kembali pada pasutri yang masih berdebat gemas.


“Kamu enggak kasihan sama saya, Jess?Diluar dingin. Kalau saya kedinginan, masuk angin, sakit, gimana?” Bujuk halus Yoga agar Jessi mau membuka pintu kamar mereka. Sudah tiga puluh menit Yoga berdiri di depan pintu, membujuk Jessi.


Jessi masih cuek, “sakit tinggal ke dokter. Yang simpel nggak usah di bikin ribet.” Balasnya.


Yoga kembali memutar otaknya. Ini jurus terakhir yang Yoga punya.


“Yang sayang?” Panggil Yoga.


“Nggak denger!”


Yoga menahan tawa, “nggak denger kok nyaut sayang?” Tanya Yoga.


“Bodo amat!”


Uh, Yoga malah gemas. Rasanya ingin mencubit pipi Jessica dan mengunyel-unyel pipi istrinya itu.


“Sayang, kalau saya tidur di luar. Yang ngelonin kamu siapa dong? Emang kamu bisa tidur tanpa saya?” Goda Yoga.


Hening.. tidak ada sahutan dari Jessi. Yoga yakin Jessi pasti sedang mempertimbangkan ucapannya. Sebentar lagi pintu kamar nya pasti akan terbuka. Yes, kali ini Yoga lah pemenangnya. Sejenak Yoga merasa bangga sudah bisa meluluhkan Jessi. Namun, kebanggaannya harus sirna kala beberapa menit berlalu dan tidak ada sahutan dari Jessi.


“Sayang? Jessica sayang?” Panggil Yoga.


Sial! Jessica mungkin ketiduran. Hah, itu berarti Yoga benar-benar harus tidur di luar malam ini. Yoga berusaha memanggil-manggil Jessi lagi beberapa kali tetap tidak ada sahutan. Dan, kali ini Yoga kalah lagi. Dia salah mengira akan bisa memenangkan perdebatan kali ini. Nyatanya, Yoga selalu kalah dan kalah.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2