Pengacara Tampanku

Pengacara Tampanku
Bab pertengkaran besar


__ADS_3

Flash back off..


Yoga langsung mengantar Jessi pulang setelah mereka berkencan di bioskop. Namun, saat itu Yoga tidak mengantar Jessi pulang ke rumahnya melainkan ke rumah Salsa, Jessi akan mengambil beberapa buku di rumah Salsa, Jessi pulang dari rumah Salsa bersama Jordan yang kala itu bermain dirumah sahabat Jordan yang satu komplek dengan Salsa.


Yoga sendiri berniat pulang ke apartemennya setelah mengantar Jessi ke rumah Salsa. Namun, ia tiba-tiba memutar kemudinya ke arah yang berlawanan dari arah apartemennya karena merasakan ada seseorang yang mengikutinya sejak keluar dari basement Mall.


Ckit.. Brak.. Yoga sengaja mengerem mendadak hingga mobil yang mengikutinya sejak tadi pun menabarak mobilnya. Yoga melirik ke arah spion mobil melihat sang pengemudi mobil yang sepertinya perempuan. Ia lalu keluar dari mobil dan menghampiri si pemilik mobil yang menguntitnya sejak tadi.


“Devina?!” Teriak Yoga membelalakkan mata melihat sang penguntit adalah Devina. “Kamu mengikuti saya?!” Bentak Yoga kesal.


Devina pun turun dari mobil. “Iya, aku ngikutin kamu! Kenapa, kamu marah?” Tantang Devina.


“Jelas saya marah! Apa-apaan kamu, memang kamu tidak punya kegiatan lain? Kurang kerjaan saja.” Cibir Yoga.


“Aku yang harusnya marah, kamu pura-pura nggak kenal aku, padahal kita pernah saling mencintai.”


“Itu masalalu Devina!!” Potong Yoga geram.


Devina geleng-geleng kepala. “Nggak Yoga, di masa lalu maupun masa sekarang kita masih saling mencintai.” Kata Devina percaya diri.


“Halu kamu, Dev!” Yoga berbalik menjauh, namun Devina malah memeluk Yoga dari belakang. Sama seperti kejadian di kantor Yoga. Kali ini Yoga bisa dengan mudah melepaskan tangan Devina. Yoga membalik tubuhnya cepat dan mendorong Devina.


“Arrgh.” Pekik Devina tersungkur di aspal.


“Jangan kurang ajar kamu, saya diam bukan berarti saya bisa mentolelir semua sikap kurang ajar kamu ke saya!” Tegas Yoga. Ia sama sekali tidak merasa kasihan melihat Devina tersungkur di aspal.


“Jahat kamu, Ga.” Bediri dengan susah payah dan menepuk-nepuk bok*ng nya yang sakit terpentok aspal.


“Terserah, saya tidak peduli.” Ketus Yoga berlalu.


“Yogaaa!” Devina hendak mengejar Yoga namun heels nya patah dan kakinya tergelincir sehingga dia pun terjatuh lagi ke aspal. “Brengs*k.” Umpat Devina kesal. Lagi-lagi bok*ng mulusnya harus mencium aspal.


Yoga menghidupkan kembali mesin mobilnya dan berlalu dari sana.


Tanpa Yoga maupun Devina sadari Celia melihat semua kejadian itu dari jauh dan salah sangka. Celia mengira Yoga berselingkuh karena melihat Devina memeluk Yoga dari belakang, tak lupa Celia pun memotretnya untuk ia jadikan bukti saat memberitahu Jessica. Namun, Celia tidak melihat sampai akhir. Setelah memotret Yoga yang di peluk Devina, ia pergi dari sana. Celia terburu-buru karena hanya naik ojek. Saat itu Celia tengah membeli nasi goreng di sekitar tempat itu.


Celia langsung melaporkan apa yang ia lihat pada Jessi beserta bukti foto Devina memeluk Yoga dari belakang. Sejak menerima foto itu Jessi kesal bukan main, ia bahkan sempat sengaja membiarkan ponslenya lowbat agar Yoga tidak bisa menghubunginya. Niatnya Jessica ingin menghindari Yiga untuk sementara waktu meredam amarahnya agar tidak salah ucap saat bertemu Yoga. Siapa sangka Yoga malah pergi ke rumah Jessi.


Flash back off


“Jess, saya-.” Kata Yoga akan menjelaskan apa yang terjadi antara dirinya dan Devina.


“Apa?? Kak Yoga mau ngeles apa lagi, mau bilang itu bukan kakak?Iya, Ha??” Potong Jessi.


Sudah ada bukti mau ngenes apa lagi kao?


“Sayang, kamu dengarkan dulu penjelasan saya. Jangan potong perkataan saya.” Balas Yoga lembut. Harus ekstra sabar menghadapi Bocil nya itu


Sabar Yoga, sabar.


“Ini bukan pertama kalinya ya, kak Yoga di peluk tante itu. Saat di kantor kakak waktu itu juga, tante itu meluk kakak. Masih mau ngeles lagi?” Meluap-luap sudah emosi Jessica.


Yoga mendelik sebentar lalu ingat kejadian di kantor saat Devina memeluknya. Saat itu Jessi sedang berada di ruang pribadinya tidur. “Kamu tidak tidur waktu itu?”


“Sudah bangun.”

__ADS_1


“Jess, itu bukan seperti yang kamu pikirkan. Saya bisa jelaskan.” Ujar Yoga.


“Sudahlah, kak. Jessi sudah tau apa arti Jessi di mata kakak. Lebih baik kita putus saja, kak. Jessi nggak ma-.”


Ckittt .. belum sempat Jessi menyelesaikan ucapannya, Yoga sudah menepikan mobilnya dan mengerem mendadak.


“Apa kamu bilang?Bisa kamu ulang lagi?” Mobil sudah menepi di tepi jalan dan Yoga mematikan mesin mobilnya, ia memiringkan tubuhnya menatap Jessi tajam.


“Memang kurang jelas?”


“Kurang, caba kamu ulangi lagi!” Kata Yoga.


“Kita putus saja, sudah!” Ucap Jessi sedikit berteriak.


“Putus??Hah, mudah sekali kamu bilang putus, padahal kamu belum mendengar penjelasan saya.” Ucap Yoga geleng-geleng kepala. Ia tau Jessi akan marah soal Devina tapi Yoga tidak mengira Jessi sampai mengucap kata putus.


“Tidak ada yang perlu di jelaskan, toh memang sudah jelas.” Seloroh Jessi santai.


“Jelas dari mananya? Kamu saja belum mendengar penjelasan saya.” Kata Yoga.


“Jessi sudah melihat dan mendengar sendiri, memang apa lagi yang perlu di jelaskan?” Cuek Jessica. Gadis itu menahan air matanya sebisa mungkin agar tidak luruh, ia berlagak sok tegar, dan tidak terluka padahal dalam hatinya menjerit. Jessi tidak mau terlihat lemah di hadapan Yoga.


“Yang kamu lihat itu tidak seperti yang kamu pikirkan, Jessica! Saat di kantor bukannya kamu juga mendengar apa yang saya katakan pada Devina?” Tanya Yoga. Harusnya Jessi bisa menilai bagaimana perasaan Yoga ke Devina dari interaksi keduanya. Yoga terlihat jelas tidak menyukai Devina.


“Tapi, dia mencintai, Kakak. Kak Yoga juga.”


“Itu masa lalu, Jess.” Yoga meraih kedua pipi Jessica menangkupnya. “Dengarkan saya, ini penjelasan penting, saya dan Devina memang pernah menjalin hubungan tapi dulu. Dan, huhungan kita sudah berakhir bersama cinta saya ke dia juga sudah berakhir. Sekarang saya tidak mencintai dia lagi, saya cinta sama kamu. Kamu yang sekarang ada di hadapan saya.” Ucap Yoga serius. Manik matanya menatap lekat pada Jessi.


“Bohong.”


“Saya tidak berbohong, sayang.” Melepaskan pipi Jessica dan mengelusnya lembut.


“Huh.” Yoga menghela nafas berat. “Kami tidak ketemuan, saat saya mengantar kamu ke rumah Salsa. Ada mobil yang mengikuti, bahkan sampai kerumah Salsa. Saya tidak memberitahu kamu karena tidak mau kamu khawatir, setelah mengantar kamu, Saya sengaja berhenti di jalan, dan mobil yang mengikuti saya menabarak saya dari belakang karena saya mengerem mendadak. Saat saya turun dari mobil, ternyata Devina yang mengikuti saya. Saya juga tidak sadar jika saya berhenti di depan taman kota.” Kata Yoga menjelaskan.


Jessi terbengong mendengar penjelasan Yoga.


Jadi, gue salah paham? Malunya. Jessi menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya karena malu. Ia bahkan melontarkan kata putus tanpa mendengar penjelasan Yoga.


“Maaf.” Lirih Jessi.


Yoga tersenyum tipis mendengar kata maaf dari bocil kesayangannya.


“Masih mau putus?” Tanya Yoga sedikit mengejek dengan senyum jahil nya. Jessi menggelengkan kepalnya.


“Lain kali jangan di ulangi, jangan sembarangan mengucap kata putus atau saya bisa benar-benar marah.” Tegur Yoga dengan lembut sambil mengusap rambut kepala Jessi. Dan, gadis itu pun menganggukkan kepalanya.


Kesalahpahaman pun Clear. Yoga kembali melajukan mobilnya menuju sekolah Jessica.


“Sayang, boleh saya minta sesuatu sama kamu?” Tanya Yoga di sela-sela mengemudinya.


Minta sesuatu?Aduh, kak Yoga mau minta apa nih?Jangan-jangan mau minta ***-*** sama Jessi? Cinta si cinta tapi kalau ***-*** Jessi nggak mau, kan, belum nikah.


Jessi dengan pemikiran anehnya. Dan, karena pemikiran aneh itu Jessi reflek menutup dadanya dengan kedua tangannya sambil duduk mepet ke pintu mobil.


“Ngapain kamu?Jangan bilang kamu lagi mikir yang enggak-enggak?” Tebak Yoga membaca gerak-gerik Jessi.

__ADS_1


Jessi malah menggigit bibir bawahanya, membuat Yoga gemas ingin mencium bibir mungil itu.


“Bukan Jess, saya nggak mungkin minta yang aneh-aneh. Saya cuma minta kamu berhenti kerja di cafe.” Ujar Yoga sebelum pemikiran aneh Jessi berlanjut ke hal yang lebih parah.


“Oh, minta berhenti kerja.” Kata Jessi lega. “Eh, apa?” Sedikit berteriak setelah menyadari apa permintaan Yoga.


“Kamu berhenti kerja di cafe. Kalau kamu butuh uang, atau tambahan uang jajan, kamu nggak perlu capek-capek kerja. Saya bisa kasih kamu tambahan uang jajan.” Ucap Yoga.


“Bukan itu masalahnya, kak. Jessi nggak kekurangan uang jajan, kok.” Jawab Jessi.


“Oh, bagus itu. Jadi, nggak masalah dong kamu berhenti kerja?” Tanya Yoga senang.


“Nggak bisa, kak. Jessi harus tetap kerja.” Untuk saat ini Jessi masih membutuhkan pekerjaan.


“Kenapa tidak bisa?”


“Ya, pokoknya nggak bisa, kak. Jessi punya alasan sendiri.”


Alasannya demi kamu, kak. Demi kado ulang tahun kamu.


Entah mengapa Yoga merasa kesal, Jessi tidak mau berhenti kerja. Pikiran-pikiran negatif pun bermunculan. “Kenapa kamu nggak bisa berhenti kerja?Apa alasan nya?biar kamu bisa berduaan sama Rio di belakang saya?biar bisa gandeng-gandengan tangan?Iya, begitu?”


“Kok, kak Yoga bawa-bawa Rio sih?”


“Loh, memang harus di bawa. Karna dia, kan, alasan kamu tidak mau berhenti kerja?” Tuding Yoga mulai tidak sabaran. Mereka sudah sampai di depan gebang sekolah Jessi. Yoga pun menepikan mobilnya di seberang jalan.


“Nggak, bukan karna dia.”


“Kalau bukan karna dia, trus karna apa?” Desak Yoga ingin tau.


“Ya ada lah, pokoknya. Tapi, bukan karna Kak Rio.” Jawab Jessi.


“Cih, kamu menuduh saya berduaan sama Devina. Sementara kamu sendiri jalan sama Rio, gandengan tangan pula.” Cibir Yoga.


“Loh kok kakak fitnah?”


“Saya nggak fitnah, saya ada buktinya.” Kata Yoga pe-de. Yoga mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto Jessi dan Rio sedang bergandengan tangan.


“Kakak nyuruh orang buat mata-mata in Jessi?” Tuduh Jessi melihat Yoga mempunyai foto dirinya dan Rio. “Kak Yoga nggak percaya sama Jessi?”


“Saya bukan nggak percaya tapi sudah ada bukti.” Tegas Yoga. “Kamu nggak mau berhenti kerja karna dia, itu kesimpulan saya saat ini melihat dari interaksi kalian bedua.”


Bodoh!Gue kerja demi lo, demi kado ulang tahun buat lo! Lo malah drama !!!


Rasanya memaki Yoga pun tidak ada gimana nya karena Jessi tidak bisa menjelaskan alasan dia tidak bisa berhenti kerja.


“Terserah apa kata kakak, yang jelas Jessi kerja bukan karna Rio!” Kata Jessi tegas lalu turun dari mobil dan membanting pintu mobil.


Yoga sendiri hendak mengejar Jessi namun, ia mengurungkan niatnya setelah mendengar bel masuk kelas. Terpaksa Yoga meninggalkan sekolah Jessi dengan kesalahpahaman baru.


.


.


.

__ADS_1


.


Kasih Like dan Komen ini 1600 kata lho..


__ADS_2