
Sejak Celia terjun di dunia entertaiment, ia memang mempercayakan segala macam kontrak kerja atau apapun itu yang berkaitan dengan hukum pada Yoga. Tidak ada yang bisa Celia percayai lebih dari Yoga, selain Yoga adalah tunangan sahabatnya, Celia juga percaya Yoga pengacara yang handal. Tak heran jika Celia sering berlalu lalang di kantor Yoga. Kadang ia mungkin hanya menemani Jessi yang sedang menemui Yoga, tapi terkadang ia sendiri yang perlu bertemu Yoga untuk urusan pekerjaan seperti saat ini.
Salah satu online shop fashion menginginkan Celia menjadi brand ambasadornya, ia perlu mempelajari kontrak yang di ajukan oleh brand tersebut. Maka dari itu Celia menemui Yoga untuk berkonsultasi, ia juga akan membawa Yoga saat menandatangani kontrak.
Saat sampai di kantor Yoga, ternyata lelaki itu masih dalam perjalanan menuju kantornya. Terpaksa Celia menunggu Yoga di lobi, tidak disangka Celia malah bertemu Radit. Ditambah pula Radit malah mengatakan hal-hal yang menjengkelkan. Untung saja Yoga datang di saat yang tepat, Celia jadi tidak perlu mendengarkan ocehan Radit.
***
“Dari belakang aja cantik.” Gumam Radit.
“Siapa yang cantik, Dit?”
Satu tepukan mendarat di bahu Radit. “Siapa yang cantik?” Ulang Dito sambil menatap kearah depan yang kosong hanya terlihat lift dengan jarak beberapa meter dari tempatnya berpijak saat ini. Dito juga sahabat Yoga dan Radit. Sebut saja mereka tiga serangkai.
“Apaan sih lo, datang-datang nyaut aja.” Radit menggeser tubuhnya hingga tangan Dito yang berada di bahunya terayun ke udara.
“Gue penasaran aja, siapa yang lo bilang cantik. Secara kayaknya Yulia ‘kan nggak kerja disini, jadi aneh aja.” Kata Dito.
“Lo salah denger.” Radit berlalu meninggalkan Dito.
Untung Yoga sama Celia udah masuk lift, kalau Dito lihat gue lagi muji Celia, bisa rame.
Dito pun mengejar Radit dan mensejajarkan langkah kakinya dengan Radit. “Masa sih? Gue nggak salah denger kayaknya lo emang nyebut cantik gitu.”
Mereka masuk kedalam lift. Radit menekan angka 7 lantai ruangannya berada.
“Lo halu, gue nggak ada nyebut cantik. Dari pada bahas yang nggak penting, lo ngapain ke sini?” Radit mengalihkan pembicaraan.
“Oh, gue mau ketemu Yoga.”
“Dia ada di kantornya.” Ucap Radit. “Tapi, kayaknya ada tamu.” Lanjutnya mengingat Celia sedang berada di ruangan Yoga.
“Gue tau kok. Ada Celia ‘kan? Justru gue cepet-cepet kesini karena ada Celia, siapa tau bisa sekalian pdkt.” Kata Dito santai.
Deg.. Entah mengapa jantung Radit terasa tidak nyaman.
“Lo suka sama Celia?”
“Siapa yang nggak suka? Dia cantik, baik, artis pula. Gue ‘kan juga pengen punya pasangan kayak lo dan Yoga.” Jawab Dito serius.
Hening.. Radit tidak menyahuti ucapan Dito, ia tenggelam di dalam pikirannya sendiri.
Ting, lift terbuka sampailah mereka di kantor Radit. Namun, lelaki itu tidak keluar dari lift.
“Lo nggak keluar?”
“Gue lupa, gue juga mau ketemu Yoga buat laporan.” Radit kembali menekan angka lantai ruangan Yoga berada.
“Ohh.” Dito hanya menjawab dengan ber oh ria.
“Menurut lo Celia suka cowok kayak apa?” Tanya Dito.
Suka cowok kayak gue. Ingin sekali Radit menjawab seperti itu namun ia tahan.
“Mana gue tau, emang gue emaknya.” Ketus Radit.
“Kali aja lo tau, lo kan ahli betina.”
Bukan hal yang rahasia, Radit memang lebih ahli dalam hal percintaan dibanding Yoga dan Dito.
Mereka sampai di depan ruangan Yoga, keduanya berhenti tepat di depan meja sekertaris.
__ADS_1
“Vit, bilang pak Yoga ada Dito mau bertemu.” Perintah Radit pada Vita yang merupakan sekertaris Yoga.
“Baik, Pak.” Vita pun menghubungi Yoga dan menit berikutnya mempersilahkan Radit serta Dito masuk ke ruangan Yoga setelah mendapat izin dari Yoga.
Radit membuka pintu ruangan Yoga dengan hati perasaan yang tidak bisa di jelaskan ada perasaan senang dan cemas.
Hah, jadi ada orang lain. Yoga nggak cuman sama Celia.
Radit melihat ada satu lagi perempuan yang sedang bersama Yoga dan Celia. Kemungkinan perempuan itu adalah manajer Celia.
“Kalian kok bisa bareng?” Yoga menatap Dito dan Radit secara bergantian.
“Ketemu di lobi, dia mau laporan sama lo katanya. Jadi, kita sekalian bareng.” Jawab Dito sambil mendudukan dirinya di sofa yang kosong. “Hai, Cel.” Sapanya pada Celia sambil mengulurkan tangan menjabat tangan Celia.
“Halo, kak.” Balas Celia, tak lupa Dito menjabat tangan manajer Celia.
“Lo mau laporan apa, Dit?”
“Ah, g-gue.” Tiba-tiba Radit mendadak menjadi gagap, ia sendiri bahkan tidak tau mau laporan apa. Yang Radit pikirkan saat di lift hanya Celia. Ia takut Dito menggoda Celia dan Yoga hanya membiarkan saja.
“Dit?” Ulang Yoga.
“Sidang.” Ceplos Radit, “Ya ya, benar. Gue kesini mau laporan sidang.”
“Sidang?” Yoga menatap Radit aneh.
“Iyaa, gue mau laporan sama bos Yoga kalau gue memenangkan sidang hari ini.” Kata Radit bangga sambil mendudukan dirinya di sebelah Dito.
Niatnya Radit ingin terlihat keren di mata Celia, tidak disangka Celia tidak peduli sedikitpun ia tidak memandang Radit. Celia bahkan fokus berdiskusi dengan manajernya tanpa peduli ada Radit di ruangan itu.
“Oh, selamat. Bonus lo dikusiin sama Vita.” Ucap Yoga.
“Bentar gue selesein urusan gue sama Celia dulu.” Berucap pada Dito.
Fokus Yoga kemudian terlahirkan pada Celia dan manajernya.
“Gimana, Cel? Bagian mana yang kamu nggak paham?” Tanya Yoga.
“Cukup sih, kak.” Jawab Celia yang diikuti anggukan manajernya.
“Menurut saya kontraknya cukup bagus dan menguntungkan untuk karir kamu yang sedang merangkak.” Kata Yoga memberikan pendapatnya.
“Iya sih, kak. Cuman ada syuting yang di luar kota, yang kemarin jadi pertimbangan. Tapi setelah papa kasih izin Celia jadi nggak bimbang lagi.”
Yoga mengangguk, ia bisa memahami pertimbangan Celia. Apalagi Celia anak perempuan satu-satunya di keluarganya.
“Kalau gitu mau langsung tanda tangan kontraknya?”
Celia mengangguk, “Besok siang, Kak. Kak Yoga ada waktu ‘kan?”
“Bisa, besok saya kosongkan jadwal siang harinya. Kamu wa saja lokasinya.”
Mana mungkin Yoga tidak meluangkan waktu untuk membantu sahabat Jessi. Bisa-bisa Jessi merajuk jika Yoga tidak membantu Celia.
Tok..tok..
“Masuk.” Sahut Yoga.
Vita muncul dari balik pintu. “Maaf pak, ada Tuan Jordan ingin bertemu bapak.”
“Jordan?”
__ADS_1
Mau apa Jordan datang? Batin Yoga.
“Suruh langsung masuk saja.”
“Baik, Pak.”
Jordan masuk bersama Naya. Melihat Celia ada di ruangan Yoga, Naya dengan centil nya menggandeng lengan Jordan, saat lelaki itu melepasnya, maka Naya akan menggandeng lengan Jordan lagi.
Sementara Celia, ia memandang sinis pada Naya.
Cih, sok kecakepan. Batin Celia.
“Wah, lagi rame. Jordan nggak ganggu ‘kan kak?” Tanya Jordan.
“Nggak, kita cuman ngobrol-ngobrol santai kok.” Malah Radit yang menjawab.
“Duduk, Jo!”
Jordan duduk di sofa yang masih kosong berhadapan dengan sofa yang diduduki Celia. Begitu pun Naya, gadis itu menempel di sebelah Jordan.
“Jessi pasti cemburu lihat kita ngumpul kayak gini.” Ucap Yoga teringat pada kekasihnya.
Drt.. Drtt.. ponsel Celia berdering, gadis itu memeriksa ponselnya.
“Panjang umur, dia telepon kak.” Celia menunjukan ponselnya pada Yoga tertera di layar ponsel Celia panggilan masuk dari Jessica.
“Angkat, Cel. Pake pengeras suara gue mau nyapa Jessi.” Sahut Dito.
“Okay.” Jawab Celia yang langsung menggeser layar ponslenya.
“Halo, Jess.”
Tidak ada sahutan dari Jessi justru di seberang terdengar suara berisik dan langkah kaki yang terburu-buru.
Celia menatap Yoga yang lainnya. Begitu pun yang lainnya yang menatap ke arah Yoga.
“Jess?”
‘Oh udah tersambung, Halo Cel, gue lagi jalan ke Jogja sekarang.’
“Hah, jalan ke Jogja?”
‘Iya, ini gue di bandara. Salsa kecelakaan, dia kena tabrak lari, yangti tadi telepon gue.’
Deg!!
Salsa kecelakaan? Entah mengapa Jordan merasa cemas.
“Lo nge Prank?” Tanya Celia tidak percaya.
‘Dasar lo o’on dari dulu nggak sembuh-sembuh, mana mungkin gue ngeprank kaya ginian. Gue serius, ini gue udah di bandara sama mommy. Ya udah gue cuman mau ngabarin itu, ntar gue telepon lagi kalau udah sampai, pesawat gue bentar lagi take off.’
“Tung-tunggu dulu.” Telat, Jessi sudah menutup panggilan teleponnya.
Celia mencoba menelpon ulang nomor Jessi namun tidak aktif.
“Salsa kecelakaan?” Tanya Radit dan Dito bersamaan.
Sementara Jordan . . .
.
__ADS_1
.
.