Pengacara Tampanku

Pengacara Tampanku
Pengakuan Radit


__ADS_3

FOLLOW INSTAGRAM AKU YAH TEMEN-TEMEN @n.lita.s DI SANA AKU BAKALAN SHARE NOVEL-NOVEL AKU JUGA SPOILER :-)


MAKASIHHH...


***********************************************************************************


 


 


Ting.. pintu lift terbuka, Radit melangkah lebih dulu keluar dari dalam lift. Diikuti Celia di belakangnya. Awalnya Radit melangkah santai sampai ia melihat pemandangan di depan pintu apartemennya yang membuat dia menghentikan langkahnya. Radit tercengang melihat seorang perempuan duduk bersandar pintu apartemennya tanpa alas dengan penampilan yang lusuh. Perempuan itu berdiri dan menampilkan seulas senyum hangat.


Bruk… “Aduh,” pekik Celia menabrak punggung bagian belakang Radit. “Kak Radit kenapa berhenti mendadak


sih, sakit tau nggak kek nabrak batu,” Celia menggerutu namun diabaikan oleh Radit. Hingga Celia memiringkan tubuhnya kesamping melihat suasana di depannnya yang sempat terhalang badan besar Radit.


Seulas senyum hangat perempuan itu menghilang mengikuti arah pandangan matanya ke sebelah badan Radit dimana kepala Celia menyembul disana. Dia dan Celia saling bersitatap kaget. Radit ikut melirik ke sebelahnya menunduk melihat kekagetan dari raut wajah Celia.Sampai teriakan memecah perhatian Radit.


“Jadi ini alasan kamu menjauh dari aku Radit?” teriak seorang wanita yang Celia kenal suaranya. Wanita itu


berjalan tergopoh-gopoh mendekati Radit dan Celia. Celia pun membenarkan posisinya berdiri disampaing Radit mencoba mencerna situasi yang baru saja terjadi.


“Yulia, dengarkan penjelasan saya dulu,” Radit berucap namun telat.


Plak…satu tamparan keras lolos begitu saja mendarat di pipi kiri Celia.


“Yulia!” Radit tecengang dan berteriak. Tak hanya sampai disana Yulia bahkan meraih rambut Celia dan menjambkanya. "Dasar murahan..” Teriak Yulia hilang kendali. Celia tak tinggal diam merasakan mendapatkan serangan tiba-tiba dia berusaha membela diri, ditariknya rambut Yulia sebagai bentuk balas dendamnya atau bisa dikatakan pertahanan dirinya. Keduanya adu jambak sambil adu mulut.


”Murahan, wanita murahan kamu, Cel,” Yulia menjadi beringas.


“Bisa mbak lepaskan dulu tangan mbak dari rambut aku?Baru kita bicarakan baik-baik?” Celia tenang menghadapi


ocehan pedas Yulia dengan kedua tangannya yang masih sibuk menjambak Yulia.


“Tidak.. Kamu pantas mendapatkannya,” tolak Yulia semakin erat menjambak rambut Celia.


“Oke, lo jual gue beli,” sahut Celia tidak mau kalah dan semakin keras menjambak rambut Yulia.


Radit sendiri bengong sesaat. “Hentikan, Yul. Celia bisa terluka,” kalimat yang Radit ucapkan justu memicu pertengkaran semakin sengit.


Yulia semakin panas mendengar ucapan Radit yang terdengar lebih khawatir pada Celia. Bukankah seharunya Radit bersimpati padanya yang juga tunangannya kenapa lelaki itu justru lebih khawatir pada perempuan lain.

__ADS_1


“Hahaha, aku tidak akan melepaskannya. Akan aku buat dia kehilangan rambutnya,” Yulia tertawa keras


seakan kerasukan setan.


“Hahaha, kita lihat siapa yang akan lebih dulu kehilangan rambutnya,” sahut Celia yang juga tertawa sengit.


“Tolong.. Hentikan, kalian bisa terluka,” Radit bersikpa menengahi.


“Diam kamu Radit.. Diam kamu, kak!” Keduanya justru membentak Radit.


“Yulia, aku mohonlepaskan Celia..” Radit mengiba sambil menatap pada Yulia.


“Tidak akan..”


Kini Radit beralih menatap Celia, jika Celia genk Jessica maka dia tahu betul Celia tidak akan menyerah sampai


titik darah penghabisan. Kira-kira begitulah peribahasanya bagi Celia yang pantang menyerah. Radit mendekati Celia dan grep.. Dia memeluk Celia dari belakang. “Cel, hentikan oke,” pinta Radit. Bukan menghentikannya Celia justru menonjok dada Radit dengan sikutnya. “Gak usah peluk-peluk sok kenal,” sinis Celia.


“Kamu bisa marah, menghajar saya, saya akan diam saja tapi tolong lepaskan tangan kamu dari Yulia. Kamu bisa


terluka, Cel,” ucap Radit lembut tidak mau melepaskan dekapannya, lelaki itu justru semakin erat mendekap Celia dari belakang.


“Lepaskan Yulia, hm,” bujuk Radit lembut.


bertentangan terjadi dari Yulia, perempuan itu semakin mengurangi kekuatannya,perlahan dan mulai melapaskan kedua tangannya dari rambut Yulia. Celia heran, dia pun ikut melepaskan tangannya dari rambut Yulia, begitu juga Radit yang melepaskan tubuh Celia dari dekapannya.


Yulia menatap Radit dengan tatapan tatapan berkaca-kaca. “Perempuan ini ‘kan Radit?Perempuan ini kan penyebab kamu berubah?Perempuan ini ‘kan?” tanya Yulia.


“Kita bicarakan di dalam,” Radit melewati Yulia berjalan ke arah pintu apartemennya menekan kode sandi


apartemennya dan seketika pintu itu langsung terbuka.


“Jawab, Radit!” Yulia mengikuti arah pergerakan tubuh Radit dan berteriak.


“Astaga bisa budek gue,” gumam Celia menutup kedua daun telingannya dengan telapak tangan.


“Kita bicara di dalam Yulia..” Radit berbalik mendekati Yulia dan menarik paksa pergelangan tangan Yulia. “Kita bicara di dalam,” ulang Radit pada Yulia. Yulia mengibaskan tangan Radit berontak dan berteriak lagi. “Kenapa harus didalam? Kita bicara disini saja, biar semua orang tau kamu sudah berselingkuh dengan perempuan itu,” Yulia menunjuk Celia. Yulia sengaja memperkeruh suasana melihat penghuni apartemen yang lain mulai berkerubung mendengar pertengkaran. Dia ingin mencari simpati dari orang lain.


“Eh.. jaga ucapan lo ya mbak. Gue mana mau jadi selingkuhan, enak aja. Ngapain gue jadi selingkuhan kalau jadi


pacar sah aja gue bisa.” Tak terima Yulia mengatainya selingkuhan Celia pun membalas ucapan Yulia.

__ADS_1


“Terus apa sebutannya bagi perempuan yang bermalam sama pacar orang lain?” Yulia kembali menyerang Celia.


Kali ini dia pasti menang, apalagi para tetangga mulai berkasak-kusuk membicarakan dia dan Celia.


“Siapa yang bermalam sama siapa?” tanya balik Celia dengan santai.


“Kamu dan Radit..” tuduhnya percaya diri.


“Punya bukti?” tantang Celia.


Yulia gelagapan, dia tidak memiliki bukti apapun hanya menebak-nebak. Namun, melihat koper di belakang


Radit, membuat Yulia yakin tuduhannya pasti benar.


“Itu.. buktinya koper itu. Kalian pasti dari luar kota, nyatanya pagi-pagi sudah bawa-bawa koper. Tega kamu Radit,” Yulia beralih menatap Radit,


“Ya elah cuman koper doang mana bisa jadi bukti,” Sela Celia.


“Diam kamu, sudah jelas kamu selingkuhan Radit. Mau mengelak apa lagi? Jahat kamu, Cel.”


Tetangga sebelah apartemen Radit mulai memandang Celia dengan tatapan mencemooh. Membuat Radit merasa geram.


“Cukup Yulia! Ini semua tidak seperti yang kamu tuduhkan, dan Celia bukan selingkuhan saya,” tegas Radit.


“Hah.. Kamu bahkan mengelak atas kesalahan yang sudah kamu perbuat Radit. Kamu itu lelaki Radit jadilah lelaki


yang bertanggung jawab..” Yulia menggurui Radit.


“Celia bukan selingkuhan saya. Mau kamu tuduhkan sampai berapa kali pun jawaban saya akan tetap sama. Celia


bukan selingkuhan saya.” Radit membalas argument Yulia dengan tenang dan tegas di setiap kata yang ia lontarkan.


“Lalu kalau bukan selingkuhan..Dia itu apa?” tantang Yulia agar Radit mengakui saja apa yang Yulia tuduhkan


padanya.


“Jawab aja klien biar cepet selesainya, Celia ngantuk..” gumam Celia dengan gerakan bibir. Dia memohon


Radit segera mengakhiri drama pagi hari ini karena Celia masih mengantuk dan ingin segera pulang lalu memeluk guling kesayangannya.


“Dia apaa, Radit?” desak Yulia agar Radit segera menjawab apa yang dia tanyakan.

__ADS_1


Radit menatap Celia lekat-lekat, menatap dengan tatapan yang dalam. Tatatapan Radit justru membuat Celia merasa terancam, entah tatapan apa itu. Celia sulit mengartikannya.


“Dia wanita yang saya cintai..” Kata Radit lantang dan tegas sambil tersenyum hangat masih menatap Celia.


__ADS_2