
Follow instagram aku ya guys @n.lita.s
*Disana ada informasi update juga novel-novel aku yang lain. Sekali an kita bersilaturahmi di media sosial **💜*
**
Yoga yang babak belur diantar pulang oleh Rey dan sopirnya. Rey pun menginap di apartemen untuk menemani Yoga. Dia membantu Yoga mengompres luka nya dengan es batu. Luka yang lebam cukup parah di beri obat merah oleh Rey.
“Sakit kak?” Tanya Rey berhati-hati mengobati luka di bagian bibir Yoga.
Luka seperti ini tidak ada apa-apanya di banding luka kehilangan anak.
“Sama sekali enggak.” Jawab Yoga.
“Maafin Daddy ya kak.” Rey merasa tidak enak dengan apa yang sudah dilakukan Raka pada Yoga.
Tapi, Yoga tidak merasa marah dengan sikap Raka. “Tidak papa, Rey. Daddy benar, kalau aku yang jadi Daddy mungkin aku pun akan melakukan hal yang sama.” Sahut Yoga.
Rey mengamankan baskom yang berisi air es ke dapur mencucinya kemudian kembali ke kamar Yoga. Saat Rey kembali, dia melihat Yoga sudah memejamkan matanya. Nafasnya pun nampak teratur. Rey mengira Yoga sudah tidur, dia pun pergi ke kamarnya untuk beristirahat. Lagi pula waktu sudah menunjukan pukul 03:30 WIB.
Namun, ternyata Yoga belum tidur. Dia hanya berpura-pura tidur. Saat mendengar suara pintu di tutup Yoga membuka matanya. Rey sudah keluar dari kamar Yoga. Lengan kekar Yoga, ia letakan di atas keningnya sementara cairan bening dari pelupuk mata nya mulai mengalir membasahi sebagian wajahnya. Yoga kembali mengingat saat dokter memberitahu Jessi keguguran.
“Maafkan bapak, nak. Maafkan bapak yang tidak menyadari kehadiranmu. Bahkan sampai kamu meninggalkan bapak, bapak tidak ada didekatmu, nak. Maafkan bapak.” Rintihnya dalam keheningan malam. Hatinya teramat sakit. Kehilangan buah cintanya dengan Jessica membuat Yoga kacau. Ditambah sang istri yang menyalahkan dirinya saat ini.
Yoga turun dari tempat tidur. Dia mengambil air wudhu, lalu mencari sarung dan memakainya. Sajadah yang tersimpan dibalas ia ambil. Agar hatinya lebih tenang, Yoga melakukan sholat malam. Usai sholat, Yoga kembali ke atas tempat tidur dan mulai memejamkan mata.
Pagi harinya Yoga sudah rapi dengan kemeja polos berwarna putih dan celana Chino berwarna Cream. Pakaian yang cukup casual baginya yang terbiasa rapi dengan setelan jas kerja.
Di meja makan sudah tersaji sarapan sederhana yang di buat Rey. Sarapan roti tawar dan susu putih hangat. Rey pun sudah rapi dengan seragam sekolahnya saat Yoga bergabung di meja makan.
__ADS_1
“Kak Yoga enggak kerja?” Melihat penampilan Yoga yang terkesan lebih santai.
“Nggak Rey, hari ini kakak mau ke rumah Daddy.” Jawabnya sambil mengoles roti tawar dengan selai kacang dan susu coklat kental manis.
“Sendirian?” Tanya Rey khawatir. Bisa-bisa kakak iparnya itu babak belur lagi oleh Bodyguard Daddy Raka. Jika Yoga sendiri mungkin Rey akan ikut saja dan bolos sekolah. Dia akan menjadi tameng bagi kakak iparnya. Rey merasa kasihan pada Yoga, lagi pula semua musibah terjadi ‘kan karena kehendak-Nya. Bukan salah kak Yoga. Jika mau menyalahkan sepertinya lebih tepat menyalahkan Jessi, kakak nya sendiri.
“Sendiri. Tapi kamu tenang saja, kakak akan menyelinap lewat pintu belakang. Mommy sudah berjanji akan membantu ku.” Jawab Yoga percaya diri. Saat Yoga saling berkirim pesan dengan mommy Ayu, mommy Ayu sudah membuat rencana yang matang. Mommy akan membiarkan Yoga menyelinap masuk tanpa sepengetahuan Daddy Raka.
“Baguslah kalau begitu.” Rey menghela nafas lega.
Namun ternyata rencana mommy Ayu tak berjalan mulus sedikitpun. Daddy Raka sudah mencium gerak-gerik komplotan antara istri dan anak menantunya.
“Ayo dong mas, temani aku shopping.” Rengek Ayu pada Raka.
Raka menolak dengan tegas, “tidak mau! Kamu pasti sengaja mengajak aku keluar rumah agar menantumu itu bisa menemui Jessi ‘kan?Tidak semudah itu Ayu.” Ucapnya menyeringai santai. Kadal kok mau di kadal in mungkin itu yang Raka pikirkan saat ini.
“Sial. Aku harusnya berpikiran jauh, mas Raka enggak mungkin bisa di bujuk dengan mudah.” Batin Ayu. Sudah beberapa kali Ayu membujuk Raka untuk menemaninya keluar rumah yang langsung ditolak tegas oleh Raka. Bahkan, Raka memilih tidak pergi ke kantor.
“Benar juga apa kata Ayu. Apa gue keluar sama Ayu, tapi Jessi Bagaiamana?gue belum selesai menghukum Yoga.” Batin Raka berpikir. Disatu sisi dia juga ingin menghabiskan waktu bersama istri tercintanya, disisi lain dia ingin melindungi putri tercintanya dari suami yang tidak bertanggung jawab.
“Kamu enggak kangen sama aku apa mas?kita bisa mampir hotel kek apa kek.” Ayu menggoda Raka dengan jari telunjuknya yang ia tempelkan pada dada Raka. Dia tunjuk-tunjuk lembut dada Raka dengan jari lentik nya, “padahal aku kangen banget sama kamu lho mas.” Ayu mendekat pada Raka dan berbisik dengan nada sensual.
HAP.. dengan sekali gerakan Raka menangkap jari-jemari Ayu. Dia menarik tubuh Ayu hingga naik ke atas pangkuannya, “kamu menggodaku ya, Yu.” Satu kecupan lembut mendarat di bibir Ayu.
Kena kau Raka!
Ayu mengalungkan kedua tangannya di leher Raka, “mana berani aku menggodamu, mas.” Katanya sambil mengedipkan sebelah mata.
“Dasar rubah liar ku.” Raka gemas pada istrinya. Meskipun tidak lagi muda Ayu tidak pernah gagal jika menggoda Raka. Begitu pun Raka, dia selalu merasa muda saat bermesraan dengan Ayu.
__ADS_1
“Jadi gimana? Mau enggak jalan-jalan terus mampir hotel?”
“Iya.”
“Yes! Yoga bisa bertemu Jessi tanpa perlu menyelinap. Hanya ini yang bisa mommy bantu, Ga. Urusanmu dengan Jessi semoga berjalan lancar.” Batin Ayu.
Ayu turun dari pangkuan Raka dengan girang. “Kalau gitu aku ganti baju dulu ya sayang.” Pamitnya sebelum melesat menuju ruang baju.
Aya geleng-geleng kepala sambil tersenyum. “Dasar demi menantumu kamu seperti ini.” Bukan Raka jika tidak tau niat istrinya.
Sambil menunggu Ayu berganti pakaian dan berias Raka menemui para pengawal yang berjaga di kediamannya.
“Man, Diman!” Panggilnya pada Diman salah satu pengawal kepercayaan Raka.
“Bapak manggil saya?” Diman mendekat dan bertanya.
Raka mengangguk, “Saya sama ibuk mau pergi. Nanti kalau menantu saya datang mau bertemu istrinya biarkan saja. Kalian cukup berjaga di luar. Kalau ada keributan dan Jessi histeris panggil dokternya.” Kata Raka memerintah.
“Siap pak bos.” Jawab Diman.
“Ayo, mas!” Ayu muncul dari belakang Raka entah sejak kapan Ayu datang. Raka menoleh, “sudah dandannya?” Tanya Raka.
“Sudah dong. Udah cantik ‘kan aku?”
“Kamu selalu cantik sayang.” Kecupan hangat Raka layangkan di puncak kepala Ayu.
“Saya pergi dulu, man. Jaga rumah!”
“Baik, pak, Bu.”
__ADS_1
Di perjalanan Ayu was-was. Ayu menerka-nerka apa yang Raka ucapkan pada si Diman. Jangan-jangan Raka menyuruh Diman untuk menghalang Yoga masuk rumah. Bisa gawat ini. Ayu ingin mengirim pesan pada Yoga tapi takut ketahuan Raka.
“Semoga kamu bisa masuk dan bertemu Jessi, Ga.” Ayu membatin berdoa.