Pengacara Tampanku

Pengacara Tampanku
Hubungan yang toxic


__ADS_3

FOLLOW INSTAGRAM AKU YAH TEMEN-TEMEN @n.lita.s DI SANA AKU BAKALAN SHARE NOVEL-NOVEL AKU JUGA SPOILER :-)


MAKASIHHH...


***********************************************************************************


 


7 Jam yang lalu.


Yulia bingung harus mencari Radit kemana lagi. Dia mumutuskan pergi ke apartemen Radit berniat menunggu Radit di apartemen. Namun, Yulia lupa Radit sudah mengganti sandi apartemennya. Dia tidak bisa masuk seenaknya ke apartemen Radit. Yulia menunggu di depan apartemen Radit tepat di depan pintu dengan duduk bersandar


pintu hingga ia ketiduran.


**


Celia dan Yulia sama tercengangnya mendengar pengakuan Radit.


“Kak Radit bilang apa?” Celia bertanya karena ingin memastikan apa yang baru saja  didengarnya benar atau tidak.


“Kamu bilang apa Radit?” Yulia tidak percaya Radit akhirnya mengucapakan apa yang dia takuti selama ini.


Ketakutannya selama ini terjadi tepat di hadapannya. Radit mengakui perasaan cintanya pada perempuan lain dan lebih parahnya Yulia mengenal perempuan itu.


“Aku mencintai kamu, Celia.” Radit berucap dengan lebih jelas masih dalam posisi menatap Celia dalam.


Plak… Satu tamparan keras mendarat di wajah Radit. “Kamu bilang apa Radit?Mencintai katamu, mencintai


dia..” Kelakar Yulia berapi-api. “Tega kamu Radit.. Tega,” Teriaknya lagi.


Radit tidak bergeming masih dalam posisinya, lelaki itu seakan mengabaikan rasa sakit pada pipinya. Dia masih


menatap Celia, mencari jawaban atas pengakuannya. Radit ingin tahu bagaimana reaksi Celia saat dirinya mengungkpankan perasaannya. Namun, reaksi Celia jauh dari perkiraan Radit. Celia justru bersikap dingin pada Radit.


Celia menarik kopernya dan berjalan mundur. “Sepertinya kak Radit lelah. Celia akan anggap tidak pernah


mendengar apa yang kak Radit baru saja ucapkan,” Celia membalik tubuhnya berniat meninggalkan tempat itu.


Radit sendiri tercengan dengan tanggapan Celia. “Tunggu, Celia..” Radit menahan tangan Celia.


“Lepas, Kak.”


Celia berucap tanpa menoleh pada Radit.


“Lepaskan dia RADIT!” Yulia menahan tangan Radit.


“Cell..” Radit menghiba agar Celia menoleh padanya namun Celia enggan.


“Lepaskan dia Radit..” Yulia semakin mendesak Radit untuk melepaskan tangannya dari pergelangan tangan


Celia.


“Biarkan Celia pergi, Kak..” Celia memohon tanpa menoleh. Radit merasakan suara Celia bergetar, gadis yang


dicintainya itu sedang menahan tangis. Radit bisa merasakannya. Dia terpaksa melepaskan tangan Celia. Usai Radit melepaskan tangannya, Celia langsung berlalu pergi bersama koper kecil yang dia beli di Malang. Koper kecil mungil hadiah dari          Radit.


“Puas kamu Yul..” Radit mengibaskan tangan Yulia dan berlalu masuk ke dalam apartemennya, di ikuti Yulia.


Sampai di dalam apartemen Radit melempar jas yang ia kenakan ke sembarang arah . Jas yang sejak kemarin masih menempel di badannya. Sementara Yulia menangis sesenggukan melihat Radit yang mengacuhkannya. Dia tidak berjalan jauh di dalam apartemen Radit hanya berdiri di depan pintu dengan jarak satu meter dari pintu.


“Kamu tanya aku puas atau enggak, Dit? Harusnya aku yang tanya gitu ke kamu.. Apa kamu puas sudah menyakiti hati aku..” suara pilu yang keluar dari mulut Yulia tidak mampu meluluhkan hati Radit.


“Kamu tersakiti karena keegoisan kamu sendiri, Yul. Bukan karena aku.” Jawab Radit. “Kamu yang menolak


mengakhiri hubungan toxic kita padahal aku sudah berkali-kali bilang perasaanku sudah berubah Yuliaa, kamu yang bersikeras tetap bertahan. Lalu sekarang kamu menyalahkan aku atas rasa sakit yang kamu rasakan?” lanjut Radit tenang. Lelaki itu mulai menguasai dirinya dan bersikap tenang. Dia mengontrol emosinya.

__ADS_1


“Aku cinta kamu Raditt.. aku cinta sama kamu, kamu segalanya buat aku. Kenapa kamu enggak ngerti juga Radit,


kenapa?” ucapan yang diselingi isak tangis itu tidak menggoyahkan hati Radit sama sekali. Justru Radit semakin tegas pada Yulia.


“Perasaan aku sudah berubah, Yulia.. Kita tidak akan bisa kembali seperti dulu, mengertilah..”


Yulia menggelengkan kepalanya. “Tidak.. Aku sama sekali tidak mengerti. Aku cinta sama kamu, Radit. Aku cinta


sama kamu.”


Radit bergeming. Ia menghirup nafas panjang dan menghembuskannya kasar. “Tapi, aku tidak mencintai kamu,


Yulia.” Mencoba bersikap jujur akan perasaanya pada Yulia. Radit tidak mau Yulia salah paham lagi.


Yulia menolak pengakuan Radit. Dia melangkah mendekati Radit meraih lengan Radit dengan kedua tangannya lalu


merengek. “Kamu bohong ‘kan Radit?”


“Kamu bohong ‘kan Radit?” ualngnya masih dalam posisi yang sama.


“Enggak, Yul. Perasaanku ke kamu memang sudah berubah.”


“NGGAKKK!” Yulia berteriak sambil melepaskan tangannya dari lengan Radit dengan kasar. “Aku nggak percaya.


Hahaha, mana mungkin kamu tidak mencintai aku lagi,” Yulia terkekeh seperti orang tidak waras. Sedikit-sedikit menangis, sedikit-sedikit tertawa. “Kamu hanya sedang bosan denganku Radit. Kamu tidak benar-benar mencintai dia, kamu hanya sedang bosan denganku. Nanti kamu akan kembali padaku, Radit,” Yulia melanjutkan ucapannya yang sempat terjeda beberapa saat dengan cengengesan.


“Kamu salah Yulia, aku benar-benar mencintai, Celia. Aku mencintai Celia, sangat mencintainya sampai rasanya mau gila karena tidak bisa mengungkapkannya.” Kelakar Radit jujur.


Yulia kembali geleng-geleng kepala dia tidak terima, tidak bisa menerima apa yang Radit ucapkan. Perkataan


itu sangat menyakitkan bagi Yulia.


“Maka dari itu Yulia, ayo kita akhiri ini.. Aku capek, Yul. Aku capek dengan hubungan ini, tidakkah kamu tau


hubungan kita toxic.” Saat yang tepat bagi Radit untuk mengakhiri hubungannya dengan Yulia.


“Yull, tidak ada harapan lagi pada hubungan kita. Berhentilah menyakiti dirimu sendiri, kamu berhak bahagia


meski tidak dengan aku, Yul..” Radit mencoba memberi pengertian pada Yulia.


“Tapi bahagiaku kamu, Dit. Aku bahagia sama kamu Radit. Hanya kamu yang bisa membuat aku bahagia.” Keluh


Yulia.


“Tidak Yul, kamu hanya belum mencoba.”


“Aku tidak mau mencoba.” Tegas Yulia.


Lelah berdebat dengan Yulia, Radit mulai terpancing lagi emosinya.


“Terserah, kamu mau atau tidak. Yang jelas hubungan kita selesai, aku tidak mau kamu menyalahkanku lagi atas


rasa sakit yang nanti kamu rasakan.” Tegas Radit.


“Aku mencintai kamu, Radit. Tidakkah kamu mengerti?” sambil mengusap air matanya dengan telapak tangan


Yulia meminta Radit berempati pada perasaanya.


“Aku bukan tidak mengerti, Yul. Justru kamu yang tidak mengerti. Coba tanyakan pada dirimu dengan tenang apa


benar kamu mencintai ku atau hanya sekedar obsesimu saja? Jika kamu benar mencintai aku seharusnya kamu tau mencintai itu tidak memaksakan kehendak.” Tutur Radit.


Yulia membeku dengan ucapan Radit. Dia tidak bisa membantah lagi apa yang baru saja Radit ucapkan.


Sementara Radit memilih meninggalkan Yulia masuk kedalam kamarnya. Lelaki itu memberi ruang bagi Yulia untuk berpikir lebih jernih.

__ADS_1


**


Di dalam sebuah taksi Celia


menangis sesenggukan. Harusnya dia senang orang yang selama ini pernah ia sukai juga menyukainya. Namun, mengapa hati Celia justru merasakan sakit.


“Mau kemana mbak?” tanya sopir taksi.


“Kemana saja, pak.” Jawab Celia asal.


“Maksudnya, mbak?” sopir taksi kembali bertanya.


“Kemana saja yang jauh, pak.”


Tepat setelah Celia mengucapkan kalimat tidak masuk akal itu, ponselnya bordering. Satu panggilan masuk dari


sang sahabat.


Celia menghapus air matanya dan menetralkan pernafasannya. Mengatur suaranya agar tidak terdengar habis


menangis lalu mengangkat panggilan telepon dari Jessi.


“Hallo..” jawab Celia.


“Lo dimana, Cel. Gue di depan apartemen lo, nih.” Ucap Jessi dari seberang.


“Gue lagi di jalan mau syuting..” jawab Celia berbohong. Dia tidak mau bertemu Jessi dulu, Celia tidak mau Jessi


melihatnya dalam keadaan kacau.


“Jangan bohong.. gue udah cek jadwal lo hari ini kosong, lo dimana sekarang? Atau gue suruh orang-orang daddy


nyariin lo.” Ancam Jessica.


Celia tahu watak Jessi selain manja juga keras kepala. Saat Jessi mengatakan sesuatau maka Jessi akan


melakukannya.


“Gu-gue lagi di taksi, Jes.. huhuhu..” tangis Celia pun pecah. Dia tidak bisa menyembunyikan apapun dari


Jessi.


“Oke, kasih hp lo ke sopir taksinya.” Seperti tersihir akan ucapan Jessi, Celia dengan menurut memberikan


ponselnya pada sopir taksi.


“Hallo..Saya sopir taksi, mbak.” tanya sopir taksi sambil menepikan mobilnya ke tepi jalan.


“Hallo, iya pak saya tau. Saya mau minta tolong sama bapak tolong antarkan teman saya ke green residence blok F no 5 ya pak, antarkan dengan aman dan selamat ya, pak. Soalnya teman saya lagi patah hati jadi perlu penanganan lebih lanjut, pak.” Ucap Jessi di telepon.


Tidak mau banyak bertanya sopir taksi itu mengiyakan saja permintaan Jessica.


**


Epilog


Setelah masuk kedalam kamar, Radit menelpon Yoga meminta bantuan pada Yoga untuk mencari tahu keberadaan


Celia.


“Siapa yang telepon, mas?” tanya Jessica. Saat ini mereka tengah berada di rumah Ayu yang lain.


“Radit..”


“Tumben mas Radit telepon pagi-pagi.”

__ADS_1


“Dia minta tolong sama aku, lebih tepatnya minta tolong sama kamu. Katanya dia dan Celia baru saja bertengkar dan Celia pergi begitu saja. Radit khawatir makanya minta kamu buat nanya dimana Celia saat ini.” Tutur Yoga menjelaskan permintaan Radit.


Jessi langsung mengangguk paham dan mencari ponselnya untuk menghubungi Celia.


__ADS_2