
Di sepanjang perjalanan Jessica senyum-senyum sendiri mengingat kejadian di kantor Yoga. Sesekali ia menyentuh bibirnya lalu kembali tersenyum. Namun beberapa saat kemudian ia merasa kesal.
Arggg. Bodoh!
Jessica merutuki kebodohannya sendiri bagaimana ia bisa mencium Yoga lebih dulu, bukan hanya di pipi atau kening tapi di bibir.
Bagaimana kalau kak Yoga menganggapku gampangan?
Jessi menggigit bibir bawahnya merasa was-was. Ia memang mengejar Yoga selama ini tapi masih tahap wajar. Setelah mencium Yoga di bibir lelaki itu Jessi merasa gelisah, gadis itu takut Yoga akan berpikiran yang tidak-tidak pada Jessi.
Ah, masa bodoh! Kak Yoga dulu yang mencium bibirku, aku hanya membalas. Ya, aku hanya membalas bukan aku yang mulai, anggap saja bukan aku.
Mobil Jessica menepi di tempat pencucian mobil yang letaknya berada di samping cafe tempatnya bekerja. Tempat cucian mobil itu adalah milik salah satu teman Jordan, jordan sendiri yang meminta izin pada temannya agar Jessi bisa menitipkan mobilnya disana selama bekerja part time di cafe Rio. Jessi sengaja menitipkan mobilnya di sana karena tidak mau karyawan cafe yang lainnya tau bahwa dirinya putri keluarga kaya. Cukup Rio saja yang tau.
Turun dari mobilnya Jessi masih mengenakan seragam sekolahnya lengkap dengan sepatu dan tas punggungnya.
Jessi menyapa pak Soleh, karyawan di tempat cucian mobil itu. “Pak, saya titip ya, nanti saya ambil jam sepuluh sekarang mau kerja dulu pak.” Ucapnya pada pak Soleh.
“Siap, non.”
Jessi melangkah kan kakinya menuju dapur cafe lewat pintu samping. Ia langsung menuju ke loker karyawan memakai baju seragamnya, dan menaruh baju seragamnya di dalam loker.
Jessi menuju dapur bergabung dengan yang lainnya. Melihat karyawan lain yang sibuk bolak-balik sepertinya sedang ramai.
“Mbak, rame banged ya?Maaf Jessi telat.” Menyapa mba Dewi teman Jessi selama di cafe.
“Banged, Jess. Aku kira kamu izin, syukurlah kamu datang, cepat bantu yang lain.” Kata mbak Dewi pada Jessi. Jessi mengangguk lalu menuju tugasnya.
Benar, suasana cafe lebih ramai dari biasanya. Spot baru yang instagramable sudah mulai di buka, pantas saja banyak yang datang. Rata-rata yang datang anak-anak kekinian yang hobi berburu spot instagramable. Mereka juga rata-rata hanya minum namun nongkrong sampai berjam-jam dengan mengambil foto yang entah sudah berapa banyaknya.
***
Disisi lain ada seorang lelaki yang sedang menunggu pesan dari seorang gadis. Dia adalah Yoga. Yoga tiba di apartemen nya sekitar pukul setengah 6 sore.
Usai membersihkan diri dan makan malam Yoga mengecek ponselnya berharap ada pesan masuk dari Gadis pengacau yang beberapa hari ini mulai mengusik hatinya. Setengah jam yang lalu Yoga juga sudah mengecek ponselnya namun tidak ada pesan masuk dari gadis itu.
Kenapa dia tidak mengabariku, apakah dia sudah sampai rumah atau belum?
Cemas?mungkin! Yang jelas Yoga ingin tau apakah gadis itu sudah sampai di rumah dengan selamat atau belum. Dia harus memastikannya. Jika gadis itu tidak mengirimnya pesan apakah Yoga harus mengiriminya pesan?Tapi, gengsi!
Cih, merepotkan!Harusnya aku paksa antar pulang saja dari pada kepikiran.
Kenapa Yoga jadi kesal sendiri?Tidak seperti biasanya. Yoga terkesan cuek pada gadis pengacau itu, tapi sekarang Yoga sangat ingin menghubunginya. Menanyakan keberadaan gadis itu, sudah makan atau belum.
__ADS_1
Aku saja yang mengirim pesan lebih dulu. Tidak..Tidak, akan sangat memalukan jika aku mengiriminya pesan lebih dulu. Dia pasti besar kepala.
Yoga menggelengkan kepalanya tidak setuju dengan ide yang baru saja muncul di kepalanya itu. Ego nya lebih besar.
“Aku tanya Jordan saja. Tidak, tidak, Jordan pasti menertawakan ku. Atau Rey saja, anak itu masih kecil pasti bisa menjaga rahasia. Hemm, tidak, tidak, Rey sepertinya lebih dekat dengan Jessi dari pada Jordan, dia pasti akan mengatakan pada Jessi jika aku mengiriminya pesan.” Gumam Yoga.
Yoga termenung sambil memegang ponselnya. “Ah, masa bodoh dengan gengsi. Aku telepon saja dia.” Hendak menelepon Jessi namun ponselnya lebih dulu berdering.
“Radit?” Yoga mengernyit melihat id si pemanggil.
“Hallo, Dit.” Mengangkat telepon dari Radit.
‘Lo dimana?Lebih baik lo kesini sekarang.’
“Gue diapartemen, emang lo dimana?Gue lagi males keluar.” Jawab Yoga yang memang sedang tidak mood untuk keluar rumah.
‘Gue di cafe lagi nongkrong, yakin lo nggak mau kesini?’
“Hm.”
‘Yah, sayang banged padahal ada Jessica.’
Mendengar nama Jessica di sebut Yoga langsung semangat.
“Lo dimana sekarang?Gue kesana!”
“Oke.”
Yoga menyambar jaketnya di almari dan lansung menuju cafe yang lokasinya sudah di share loc Radit.
Sampai si cafe Yoga memarkir mobilnya di parkiran dan langsung menelepon Radit. Radit sendiri menyuruh Yoga masuk ke dalam cafe.
Yoga celingukan mencari sosok Radit yang ternyata duduk di pojokan. Entah apa motivasi Radit memilih kursi di sudut ruangan dengan pencahayaan remang.
“Sampai juga lo,” Radit terkekeh mengingat Yoga yang langsung datang hanya karena nama Jessica di sebut.
“Mana dia?” Tanya Yoga to the point.
“Duduk dulu.” Menepuk kursi di sebelah Radit.
Yoga pun mendudukan dirinya di sana dan berniat melepas maskernya namun di tahan Radit.
“Jangan di lepas masker sama topi, lo.” Saat mengirim pesan share loc, Radit juga memberi tahu Yoga agar datang dengan memakai masker dan topi.
__ADS_1
“Kenapa memang?” Yoga mengurungkan niatnya untuk membuka masker. “Dimana Jessi?” Tanya Yoga tidak sabaran.
“Nggak sabaran banged lo.”
“Jangan-jangan lo ngibulin gue.” Tebak Yoga.
Radit menggeleng. “Suer gue lihat Jessi tadi.” Ucap Radit meyakinkan.
“Terus mana orangnya?” Yoga terlihat celingukan mencari si gadis pengacau.
“Gue juga lagi nyari dia, Wait.” Radit melambaikan tangannya ke arah waitress perempuan yang langsung menghampiri Radit.
“Ada yang bisa saya bantu, tuan?” Tanya waitress itu.
“Saya mau pesan cappucino, mbak. Sama salad buah.” Jawab Radit.
“Baik, Tuan. Apakah ada tambahan.”
“Kalau tambahannya pertanyaan bisa?” Sedikit ragu namun akhirnya waitress itu mengangguk.
“Apa karyawan di sini ada yang namanya Jessica?”
“Maaf, tuan. Saya tidak bisa menjawab.”
“Oh, baiklah.”
Waitress itu kemudian pergi ke dapur untuk menjanjikan pesanan Radit pada pihak dapur.
“Lo apa-apaan nanya kaya gitu, mana mungkin Jessica kerja di cafe.” Yoga yang sedari tadi hanya memperhatikan interaksi Radit dan waitress angkat bicara.
“Tadi gue lihat Jessica pakai seragam waitress bawa nampan.” Jawab Radit yakin dengan apa yang di lihatnya.
“Lo butuh kaca mata, Jessica nggak kekurangan uang sampai harus kerja di cafe.” Yoga geleng-geleng kepala.
Tak berselang lama seorang waitress datang membawakan pesanan Radit.
“Silahkan Tuan.” Ucap waitress itu membungkukkan tubuhnya sambil meletakan pesanan Radit di meja.
“Jessica!!” Pekik Yoga dan Radit bersmaan.
.
.
__ADS_1
.
IG: @nlita.s