
Bagi Celia menjadi artis adalah salah satu impiannya sejak kecil. Disini lah sekarang ia berada, di sebuah acara besar penghargaan yang di adakan salah satu stasiun televisi. Ia masuk dalam nominasi artis pendatang baru terpopuler berkat aktingnya yang memukau di series ftv.
“Assalamualaikum..” usai namanya di panggil sebagai pemenang di nominasi artis pendatang baru terpopuler Celia naik ke atas panggung untuk menerima piala.
“Bingung mau ngomong apa, nggak nyangka banget bisa menang.” Sambil memegang piala yang baru saja ia terima Celia terlihat berkaca-kaca, “Alhamdullilah ya Allah. Piala ini Celia persembahkan untuk mama dan papa yang selalu mendukung karir Celia dari pas mulai casting sampai papa yang bela-belain cuti demi nganter Celia syuting di luar kota. Terimaksih, pa. Akhirnya untuk pertama kali Celia dapat ini.” Mengangkat piala di tangan kanannya dengan bangga, “Celia juga mau ucapin terimaksih buat staf yang kerja sama Celia, mbak Ani, buat sahabat Celia, semua fans yang udah mendukung Celia sampai saat ini. Tanpa kalian Celia bukan apa-apa,”
Celia turun dari atas panggung dengan anggun membawa piala yang ia menangkan. Tak lupa senyum bahagia terpancar nyata dadi wajah perempuan itu.
Di tempat lain Jessica heboh sendiri melihat Celia memenangkan piala penghargaan artis terpopuler.
“Tuh ‘kan Jessi bilang apa, Celia tu punya bakat buat jadi artis.” Ucap Jessi setelah bertepuk tangan saat Celia mendapat piala itu.
“Iya-iya.” Suaminya menanggapi Jessi dengan datar.
“Coba aja kak Jordan dengerin Jessi buat rekrut Celia, dah pasti untung banyak dia.” Ingat Jordan mempunyai perusahan yang menaungi artis-artis Indonesia, salah satunya Naya.
“Celia nya yang nggak mau sama Jordan, eh apa harusnya saya panggil kak Jordan?” Sampai saat ini Yoga masih belum terbiasa memanggil Jordan dengan sebutan kak apalagi jarak usia Yoga yang lebih tua dari Jordan.
“Masa sih Celia nggak mau? Mas manggil kak nanti aja kalau kita udah punya anak.”
“Kan ada siapa itu musuhnya Salsa.”
“Cih, si nenek lampir.”
Keduanya terkekeh, Jessi dan Yoga sama tidak sukanya dengan Naya. Mereka kerap kali menggosipkan Naya bila ada kesempatan.
Tidak hanya Jessica yang bangga pada Celia, Radit pun merasakan hal yang sama. Diam-diam Radit tengah menonton siaran langsung yang menayangkan acara penghargaan yang di terima Celia. Lelaki itu menonton acara itu di handphone dengan menggunakan headshet karena saat ini dia tengah berada di dalam taksi menuju apartemen setelah bertemu klien.
Radit memang tidak membawa mobil hari ini. Mobilnya ia tinggal di bengkel karena harus servis rutin. Selama di perjalanan pulang, Radit senyum-senyum sendiri mengingat wajah cantik Celia saat menerima penghargaan itu.
“Andai gue pacarnya. Dia pasti sebut nama gue.”
Menghayal saja kau Radit, bagaimana dengan Yulia? Celia tidak mungkin mau di jadikan yang kedua.
__ADS_1
Drttt..
Menggangu saja. Satu panggilan masuk dari sang kekasih dengan nama kontak “sayang”.
“Hallo!”
“Sayang, kamu dimana?”
“Jalan pulang.”
“Aku tunggu di apartemen ya, love you.”
“Hm.”
Panggilan telepon di matikan sepihak oleh Radit. Radit merasa malas setiap kali Yulia bersikap manja, apalagi tiba-tiba datang ke apartemennya saat jam pulang kerja.
“Kamu kenapa sih, Dit?” Tanya Yulia dengan nada tinggi.
“Kamu yang kenapa?” Balas Radit cuek.
“Perasanmu saja.” Lagi-lagi Radit menjawab seenaknya.
Yulia menggerak-gerakkan tangan kanannya melambai ke kanan dan kiri, “nggak, bukan hanya perasaanku tapi kamu memang berubah. Kamu cuek sekarang, nggak perhatian lagi. Nggak senang kalau ketemu aku.” Perasaan mengganjal yang Yulia rasakan pun di utarakan oleh perempuan itu.
“Aku lelah, Yul. Bisa nggak jangan berdebat dulu.”
Selalu!! Selalu itu yang Radit ucapkan akhir-akhir ini saat Yulia menanyakan perubahan sikap Radit.
“Aku tau kamu lelah.”
“Kalau tau kamu harusnya ngertiin aku bukan marah-marah kaya gini.”
Ruang makan yang semula damai mulai memanas. Mereka baru saja selesai makan malam dan masih duduk di posisi masing-masing saat perdebatan di mulai.
__ADS_1
“Bagaimana dengan kamu, Dit?”
“Aku?” Radit bingung sambil menaikan sebelah alisnya, kenapa denganku? Begitu kira-kira yang Radit bingungkan.
“Ya bagaimana dengan mu? Kamu minta aku ngertiin kamu tapi kamu ngertiin aku nggak? Kamu jangan egois, Dit. Kamu selalu minta dimengerti sementara kamu nggak mau mengerti aku. Aku cuma mau perhatian kamu kayak dulu. Rasa sayang kamu kayak dulu.” Ucap Yulia panjang lebar.
Radit diam tenang mendengarkan Yulia mengeluarkan semua uneg-unegnya.
“Aku mau Radit yang posesif, Radit yang cemburuan bukan Radit yang cuek seperti saat ini.” Keluh Yulia.
“Kamu kenapa plin-plan sekali, Yul? Saat aku bersikap posesif bukankah kamu sering marah dan mengataiku tidak dewasa. Saat aku mulai bersikap dewasa seperti yang kamu inginkan dengan tidak cemburuan, tidak posesif, kenapa kamu bersikap seperti ini? Cukup ya Yul, jangan cari-cari alasan untuk berdebat. Saya capek.”
Bukan hanya Yulia, Radit pun mengeluarkan uneg-unegnya.
“Siapa yang cari-cari alasan, kamu berubah, Dit. Berubah!” Perempuan di hadapan Radit itu mulai menangis sambil berteriak memaki Radit, “kamu berengsek, bisa-bisanya bikin aku over thinking terus. Kamu jahat!”
Hah, jahat? Tidak mengabari bisa dibilang jahat? Radit tidak mengerti dengan perempuan.
“Terus mau kamu apa? Kalau aku jahat aku berengsek, mau kamu sekarang apa? Mau putus?” Sebelumnya tidak pernah sekalipun Radit mengucap kata putus. Entah mengapa kata itu lolos begitu saja dari mulut Radit saat ini.
“Ya, aku mau putus. Aku benci kamu!Kita PUTUS!” usai menekankan kata-kata akhir dari sebuah hubungan Yulia mendorong kursinya dan berlari sambil menyambar tas sling bagnya keluar dari apartemen Radit. Sementara Radit terbengong di tempat nya duduk.
Putus? Ah, sudahlah terserah dia saja. Radit acuh tak acuh dengan berakhirnya hubungannya dengan Yulia. Ia memilih mencuci piring bekas makannya dan melanjutkan pekerjaan kantor yang belum selesai.
Di sepanjang jalan menuju basement, Yulia terus menoleh berharap Radit mengejarnya dan meminta maaf. Namun, nihil yang di harapkan tidak menunjukan batang hidungnya. Sampai Yulia tiba di sebelah mobilnya terparkir Radit tidak kelihatan mengejar Yulia.
“Radit nggak ngejar gue huhuhuhu.” Di dalam mobil Yulia menangis sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan. “Huhuhu, biasanya dia ngejar, sekarang dia nggak peduli lagi sama gue hiks hiks..”
Kebiasaan yang sering Yulia lalukan selama pacaran dengan Radit saat mereka bertengkar adalah mengacam putus, dengan begitu Radit akan mengejar Yulia dan minta maaf. Jika sudah begitu Yulia lah pemenang dalam pertengkaran mereka, namun, untuk pertama kalinya Radit tidak mengejar Yulia saat Yulia mengucap putus. Apakah artinya kali ini hubungan keduanya sudah benar-benar berakhir?
.
.
__ADS_1
.