
Di ruang keluarga, Ayu sedang menikmati teh hangat dan cemplon buatannya sendiri.
“Loh loh, mbok Nem mau kemana? Pak Joko juga mau kemana?” Ayu terkesiap kala melihat dua orang yang sudah bertahun-tahun bekerja di kediaman Raka itu membawa tas besar seperti akan pindahan. Perempuan itu memandang mbok Nem dan Pak Joko secara bergantian.
“Mau pulang kampung?Kok mendadak?” Tanya Ayu kemudian. Keduanya menggelengkan kepalanya.
“Lah, terus?”
“Saya disuruh bapak ikut non Jessi, Bu.” Jawab mbok Nem pada Ayu yang diangguki oleh pak Joko tanda persetujuan. Ayu mengurut alisnya penasaran menanggapi jawaban Mbok Nem.
“Iya, Bu. Memang bapak belum bilang, Bu?” Sahut pak Joko.
Ayu menggelengkan kepalanya. “Bapak nggak ada bilang apa-apa sama saya, mungkin lupa. Memang mau ikut Jessi kemana?”
Bisa-bisanya Raka tidak memberitahu Ayu hal yang penting. Mau kemana gadis kecil Ayu itu?
“Kami enggak tau, Bu.”
“Memang mau kemana sih.” Gumam Ayu. “Coba saya telepon bapak dulu.” Ayu mengambil ponselnya yang berada di atas meja kaca dan menghubungi Raka.
Saat panggilan teleponnya tersambung Ayu langsung bertanya pada Raka.
“Oh, gitu. Mas ‘kan nggak bilang sama Ayu, jadi Ayu kaget aja lihat mbok Nem sama Pak Joko bawa tas besar kayak mau pindahan. Iya, iya, ya sudah lanjut ngobrol dirumah aja mas.” Ayu mengakhiri panggilan teleponnya dan meletakan kembali ponselnya di atas meja.
“Gimana, Bu?”
Ayu mengangguk. “Saya sudah tanya sama bapak, kata bapak mbok Nem sama Pak Joko sementara ikut Jessi pindah ke apartemen nya Yoga.” Ucap Ayu.
“Oalah pindah ke apartemennya Den Yoga.” Pak Joko manggut-manggut.
“Iya Pak Joko, nanti pak Joko sementara bantu-bantu jaga apartemen sama jadi sopir nya Yoga. Mbok Nem yang beres-beres apartemen sama masak.” Ucap Ayu menjelaskan jobdesk barunya Mbok Nem dan pak Joko.
“Nggih, Bu. Siap.” Jawab mbok Nem.
Setelah berpamitan pada Ayu, pak Joko dan mbok Nem berangkat ke apartemen Yoga dengan salah satu mobil Ayu. Sementara Jessica sudah menunggu di apartemen Yoga.
***
Kepulangan Yoga dari rumah sakit di sambut meriah oleh sahabat dan keluarganya. Bahkan, Jessi membuat surprize kecil-kecilan dengan menyiapkan makanan kesukaan Yoga dan kue tart yang di hiasi ucapan “selamat datang di rumah”.
“Kekanak-kanakan.” Cibir Yoga mengomentari acara yang di siapkan oleh Jessi. Jessi pun langsung cemberut dan merasa usahanya tidak di hargai.
“Kekanak-kanakan gimana? Ini tu salah satu bentuk rasa sayang Jessi ke kamu, Ga.” Ceplos papa Wisnu membela Jessi. Apalagi melihat raut wajah Jessi terlihat kecewa.
“Kenapa malah ngobrol di depan pintu? Ayo masuk.” Nabila datang dari arah dapur menghampiri Yoga, Jessi dan papa Wisnu yang masih beridiri di depan pintu masuk.
“Ini ni, Bil. Adik kamu sudah buat Jessi sedih.”
__ADS_1
“Kenapa Jess? Bocah itu bikin ulah apa sama kamu?” Tanya Nabila lembut sambil melirik tajam pada Yoga.
“Bela aja terus.” Yoga tidak menghiraukan Nabila berlalu begitu saja.
“Biar nanti opa yang marahin Yoga, Jes.”
“Jangan oppa, nanti kalau kak Yoga sakit kepala lagi, gimana? Jessi nggak papa, ko.”
“Kamu yang sabar ya, Jess.” Jessi pun mengangguk.
Usai makan malam keluarga, Nabila dan Adam pulang bersama papa Wisnu.
“Pulang sana!” Usir Yoga.
“Nanti.” Jawab Jessi cuek sambil menutup pintu dan berlalu.
“Nanti kapan? Sudah malam, saya masih sakit nggak bisa ngantar kamu, bahaya pulang malam-malam sendiri.” Yoga mengekori Jessi yang berjalan ke arah ruang tengah. Jessi pun mendudukan dirinya di salah satu sofa empuk ruang itu.
“Nanti saja.”
“Kamu ngeyel kalau di bilangin, pulang sekarang!” Berdiri di hadapan Jessi lalu menunduk, tangan kanan Yoga meraih tangan Jessi memaksa gadis itu untuk berdiri. “Saya belum bisa antar kamu, Jess. Pulang sekarang mumpung masih jam segini.”
“Kak Yoga khawatir sama Jessi?”
“Mana mungkin, saya cuman nggak mau nganter kamu pulang saja kalau kemalaman.” Langsung melepaskan tangan Jessi dan melengos ke arah lain.
“Nggak usah ge-er.” Duduk di sebelah Jessi. Mencari remote televisi dan menekan tombol power di remote itu. Seketika televisi pun langsung menyala.
Ting tong ting tong..
“Mau kemana?” Menahan tangan Jessi saat gadis itu beranjak berdiri.
“Buka pintu, Kak. Nggak dengar suara bel?”
“Ow.” Melepaskan tangan Jessi.
Jessi datang bersama kedua sahabat Yoga, Radit dan Dito. Kedua sahabat Yoga itu baru pulang kerja dan langsung mampir ke apartemen Yoga.
“Kalian ngapain malam-malam kesini?” Tukas Yoga merasa tidak senang dengan kehadiran dua sahabatnya.
“Mampir aja, kita denger lo udah boleh pulang.” Jawab Radit dan duduk di sofa. Dito juga duduk di sebelah Radit.
“Jessi mana?” Tanya Yoga tidak melihat Jessi.
“Buka pintu, ada tamu lagi.”
Jessi datang bersama Celia dan mbok Nem juga pak Joko.
__ADS_1
“Hai, kak.” Sapa Celia.
“Kamu juga datang, Cel.”
“Datang dong, kak. Celia sekarang tinggal di unit depan apartemen kak Yoga sama Jessi.” Jawab Celia.
“Oh, ya? Kok Jessi nggak bilang sama saya?” Memandang Jessi dengan tatapan menyelidik.
“Kakak nggak tanya ngapain Jessi bilang.” Jawab Jessi acuh tak acuh.
“Kalau ?” Pandangan Yoga beralih pada mbok Nem dan pak Joko.
“Mbok Nem dan pak Joko akan tinggal di sini sementara sampai kak Yoga sembuh. Ini kesepakatan bersama, kalau mau protes sama papa Wisnu atau Uncle Adam!” Kata Jessi tegas lebih mengarah pada pemberitahuan.
“Memang saya protes apa, cuma tanya saja.” Gumam Yoga lalu berdiri menjabat tangan mbok Nem dan pak Joko secara bergantian.
Setelahnya Jessi menunjukan kamar untuk pak Joko dan mbok Nem. Untung saja apartemen Yoga itu juga tersedia kamar untuk asisten rumah tangga.
“Siapa lagi yang datang?” Bel ketiga kembali berbunyi ternyata yang datang adalah Rania.
Rania sengaja datang untuk mencari Radit. Tidak lama setelahnya Radit dan Rania pulang begitu juga Dito. Jessi dan Celia juga pulang ke apartemen yang berada tepat di depan apartemen Yoga. Jessi sengaja merengek pada Raka untuk membelikan apartemen itu agar bisa dekat dengan Yoga, karna tidak mungkin Jessi menginap di apartemen Yoga terlalu sering sementara belum sah.
Pagi harinya sebelum kuliah Jessi menyempatkan diri untuk melihat Yoga apakah sudah bangun atau belum ternyata Yoga sudah bersantai di balkon sambil menikmati segelas teh hangat.
“Kak!”
Yoga menoleh. “Nggak kuliah?”
“Ini baru mau berangkat.”
“Ya sudah sana berangkat, ngapain kesini?”
“Mau lihat kak Yoga.” Mendekati Yoga tangan Jessi menengadah ke atas. “Minta yang jajan.”
“Hah?” Yoga melongo, gadis di hadapannya itu putri konglomerat tapi sekarang minta yang jajan padanya. Namun, sejurus kemudian Yoga langsung mengambil dompetnya dan bebeapa uang lembaran seratus ribuan ia ambil dari dompet dan berikan pada Jessi. “Cukup, nggak?” Tanya Yoga.
“Lebih dari cukup, makasih ya..” Yoga mengangguk dan Jessi langsung pergi.
“Langsung pergi aja, nggak cium dulu kek apa kek.” Menatap kesal pada Jessi yang berlari dengan senang setelah mendapat uang jajan dari Yoga.
.
.
.
.
__ADS_1