Pengacara Tampanku

Pengacara Tampanku
Modus


__ADS_3

Dokter yang biasa bertugas di sekolah Jessi tidak masuk hari ini. Pihak sekolah langsung membawa Jessi ke rumah sakit terdekat agar gadis itu segera mendapat pertolongan pertama. Bagaimanapun walau Jessica menyembunyikan identitasnya dari teman-temannya, namun kepala sekolah maupun guru-guru tau orang tua Jessi. Apalagi orang tua Jessi salah satu penyumbang dana terbesar di sekolah Jessi juga selalu memberi beasiswa kepada anak-anak yang tidak mampu.


Bukan berarti pihak sekolah mengistimewakan Jessi karena latar belakang keluarganya, pihak sekolah tentu saja akan melakukan hal yang sama jika siswa lain mengalami hal sama seperti Jessica, pingsan di sekolah.


Ibu Tika selaku wali kelas Jessi didampingi kepala sekolah serta dua sahabat dekat Jessi membawa Jessi ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit Jessi langsung di tangani oleh dokter. Sementara yang mengantar menunggu di depan ruang pemeriksaan. Pak kepala sekolah menjauh dari mereka saat ponsel nya berdering, beliau menjawab panggilan yang masuk di ponselnya.


“Celia, Salsa, ibu tinggal untuk mengurus administrasi masuk Jessica dulu ya, kalian disini sekalian menunggu pemeriksaan.” Tutur Bu Tika.


“Baik, Bu.” Jawab keduanya.


Bu Tika meninggalkan Salsa dan Celia untuk mengurus administari Jessi.


“Lo udah ngabarin kak Yoga kalau kita kerumah sakit ini, kan?” Tanya Celia.


“Udah kok. Kata kak Yoga bentar lagi nyampe.” Jawab Salsa.


Benar sesuai perkataan Salsa, yang dibicarakan sudah sampai di rumah sakit. Yoga sedang berjalan menghampiri mereka.


“Gimana Jessi?” Tanya Yoga dengan nafas ngos-ngosan, lelaki itu sepertinya habis berlarian.


“Masih di tangani dokter, kak.” Jawab Salsa.


“Kok bisa pingsan, ceritanya gimana?”


“Tadi kita mau ke kantin tiba-tiba aja Jessi pingsan.” Jawab Salsa.


“Tapi, dari tadi pagi dia sudah pucat, kak. Ke sekolah saja bareng Jordan.” Imbuh Celia.


“Udah ngabarin Jordan?”


“Sudah mencoba, kak. Tapi telepon kita di riject terus. Kita nggak berani ngabarin mommy Ayu.” Jawab Salsa.


Yoga pun manggut-mangut. “Terimakasih sudah menghubungi saya.” Yoga mengajak kedua sahabat Jessi itu untuk duduk di kursi depan ruangan Jessi dirawat.


Flash back on..


Yoga baru saja selesai menghadiri sidang pembelaan kliennya. Ia dalam perjalanan kembali ke kantor saat ponselnya berdenting. Satu panggilan masuk dari nomor tidak di kenal. Ia menepikan mobilnya sejenak di pinggi jalan lalu mengangkat telepon itu.


“Hallo.”


‘Hallo kak, ini Salsa, kak.’


“Salsa?” Yoga mengernyit mengingat ingat siapa Salsa.

__ADS_1


‘Salsa kak, teman Jessi, kak.”


“Oh, iya. Ada apa Sa?Tumben kamu yang telepon saya, biasanya Jessi yang ribut neleponin saya.”


Seakan-akan Yoga sering sekali menerima telepon dari Jessi hingga ia hafal sikap Jessi. Meskipun kenyataanya ya Jessi memang sering meneleponnya hanya untuk menanyakan hal tidak jelas.


‘Jessi pingsan, kak. Apa kak Yoga bisa kesini, kita nggak tau mau hubungin siapa. Mommy Ayu masih di luar negeri.’ Jawab Salsa.


“Pingsan?”


‘Iya kak, bisa, kan, kak?’


“Sekarang kalian dimana?Masih jam sekolah, kalian pasti di sekolah. Saya jalan kesana sekarang!” Klik.. Yoga mematikan teleponnya seacara sepihak bahkan tidak menunggu sahutan dari Salsa.


Tanpa banyak berpikir Yoga langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju sekolah Jessi. Ia sendiri sudah tau alamat sekolah Jessi. Dulu pernah pergi ke sekolah Jessi saat di beri kepercayaan oleh Ayu mengurus keributan yang Jessi buat di sekolah.


Apa dari semalam dia sakit?Jika diingat-ingat bocah itu semalam terlihat berbeda dari biasanya.


Saat di perjalanan Yoga mendapat SMS dari Salsa jika Jessi sudah di bawa ke rumah sakit. Salsa juga meminta Yoga untuk menyusul mereka ke rumah sakit.


Flash back off.


Dokter yang memeriksa Jessi akhirnya keluar dari ruangan. Semua orang termasuk Yoga langsung menghampiri pak dokter.


“Murid ibu terkena Tipes dan harus di opname. Selain Tipes juga kelelahan hingga hampir dehidrasi.” Jawab pak dokter.


Bu Tika manggut-manggut. “Baik dok, lakukan yang terbaik dok. Jika harus di opname maka lakukan.”


“Baik, pasien akan dipindahkan ke ruang perawatan.”


“Terimakasih, dok.” Ucap semuanya.


Setelah dokter pergi tidak berselang lama Jessica di pindahkan ke ruang perawatan. Yoga yang mengatur kamar rawat untuk Jessica, ia bertindak sebagai wali Jessi karena orang tua Jessi sedang tidak berada di tempat. Bu Tika sendiri sudah mengenal Yoga sebagai pengacara mommy Ayu.


Sore harinya Bu Tika dan kepala sekolah sudah kembali ke sekolah. Salsa dan Celia masih berada di rumah sakit menemani Jessi, mereka sudah meminta izin pada Bu Tika. Sementara Yoga pergi ke kantornya untuk mengurus beberapa hal. Yoga akan kembali ke rumah sakit setelah pekerjaanya selesai.


Menjelang magrib Yoga kembali ke rumah sakit. Lelaki itu masih mengenakan setelan jas yang tadi ia gunakan. Ia masuk kedalam kamar rawat inap Jessi dilihatnya Jessi sedang makan buah.


Jessi, Celia dan Salsa menoleh ke arah Yoga.


“Kenapa?” Tanya Yoga.


“Kami kira kakak nggak akan balik lagi.” Cibir Salsa karena Yoga pamitnya hanya sebentar tidak taunya lama.

__ADS_1


“Maaf, ada kerjaan penting. Apa kalian akan pulang?” Tanya Yoga. Keduanya mengangguk.


“Apa tidak papa jika kami pulang?” Tanya Celia ragu. Gadis itu tidak enak meninggalkan Jessi dalam keadaan sakit.


“Tidak!!Tidak papa, lo pulang aja. Ajak Salsa juga, gue nggak papa. Ada kak Yoga, kalian pulang aja, cepet. Orang rumah pasti udah nunggu-nunggu kalian.” Ucap Jessi menggebu-gebu sambil memandang Salsa dan Celia secara bergantian.


Cepetan pulang woy, gue mau berduaan sama kak Yoga. Kira-kira itu arti tatapan Jessica pada kedua sahabatnya.


Dasar modus. Batin Salsa.


Nggak sakit nggak sehat kak Yoga yang ada di otak Jessi. Batin Celia.


“Lo beneran nggak papa gue tinggal?” Tanya Salsa basa-basi.


Kampret ni anak, udah tau gue paling seneng beduaan sama kak Yoga, malah drama.


“Iya, gue nggak papa.”


“Nggak papa Sa, Cel. Kalian pulang saja, orang tua kalian pasti khawatir anak gadisnya belum pulang jam segini. Kalian tenang saja saya akan menginap disini malam ini.” Tutur Yoga lembut. Salsa dan Celia langsung melirik Jessi mendengar ucapan Yoga. Jessi terlihat berbinar mendengar Yoga akan menginap untuk menemaninya.


“Pulang sana, cepet!” Ucap Jessi dengan isyarat bibir tanpa suara.


“Ya sudah kak, kalau gitu Salsa sama Celia pulang dulu ya, kak. Kami titip Jessi.” Pamit keduanya pada Yoga. Yoga pun mengangguk.


“Kita pulang dulu ya, lo baik-baik nurut sama Bu dokter biar cepet sembuh!” Seru Celia.


“Iya bawel.”


“Jangan nyusahin kak Yoga ya, Jes!” Pesan Salsa.


“Iyaa, iya. Sudah kalian cepet pulang sana!” Tidak sabar ingin berduaan dengan Yoga. Salsa dan Celia menggendong tas sekolahnya lalu berlalu keluar dari kamar rawat inap Jessi.


Kini hanya tinggal Jessi dan Yoga di dalam ruangan an itu.


Asyik, sakit yang membawa berkah. Cihuy, bisa berduaan sama kak Yoga semalaman. Jessi cengengesan sendiri.


.


.


.


Satu bab lagi nanti yaa!Pengganti bab yang kemarin bolong hehe ..

__ADS_1


__ADS_2