Pengacara Tampanku

Pengacara Tampanku
Bab Hotel


__ADS_3

Setelah selesai bekerja pukul 19:00 karena Jessi masuk kerja lebih awal jadi pulang pun awal, Jessi menemui Rio. Jessi berniat keluar dari pekerjaannya, ia juga sudah satu bulan lebih bekerja di cafe Rio. Awalnya Jessi berniat kerja sampai ia masuk kuliah, tapi, pertengkaran nya dengan Yoga membuat dia memutuskan berhenti kerja. Apalagi Yoga sudah menuduh Jessi dan Rio yang tidak-tidak, jika diteruskan bekerja tidak menutup kemungkinan hubungannya dan Yoga akan sering berselisih paham. Lebih baik Jessi yang mengalah kali ini.


Toh, Yoga juga begitu. Lelaki itu memberikan kasus Devina pada Radit demi menjaga perasaan Jessi. Jika Yoga saja bisa menjaga hati nya hanya untuk Jessi, makan Jessi pun akan berlaku sama.


Urusan Jessi dengan Rio berjalan lancar yah meskipun Rio terlihat kecewa tapi dia bisa mengerti kemauan Jessi. Rio pikir Jessi juga butuh istirahat karena sebentar lagi ujian. Maka dari itu Rio tidak mempersulit proses resign nya Jessi.


Pulang dari cafe Jessi pergi ke apartemen Yoga, ia berniat untuk minta maaf atas sikapnya yang kekanak-kanakan. Namun, satpam gedung aprtemen Yoga mengatakan jika Yoga belum pulang. Akhirnya Jessi menunggu di pos satpam sambil menghubungi Yoga.


‘Hallo!’ Jawab Yoga saat sambungan telepon Jessi tersambung.


“Kak Yoga dimana?Jessi di apartemen kakak.” Tanya Jessi to the point.


‘Kamu di apartemen saya?Kenapa nggak ngabarin, kalau ngabarin, kan, saya bisa pulang lebih awal.’ Ucap Yoga.


“Ya sudah sekarang kak Yoga pulang, Jessi nunggu di pos satpam nih.” Keluh Jessi.


‘Nggak bisa sayang, saya ada meeting sama klien. Kamu masuk saja ke apartemen saya, sandinya tanggal lahir kamu.’ Ucap Yoga.


“Malam-malam kok meeting, memang kak Yoga meeting dimana?” Tanya Jessi penasaran.


‘Pratama hotel, sudah dulu ya sayang, satu jam lagi saya pulang. Kamu tunggu di dalam apartemen saja.’


Klik... Yoga memutuskan begitu saja panggilan telepon dari Jessi tanpa menunggu sahutan dari Jessi.


Sebal, sebal, sebal. Gerutu Jessi sambil menghentak-hentakkan kaki nya.


***


“Selamat malam nona Jessica, ada yang bisa saya bantu nona?” Tanya petugas resepsionis ramah.


“Mbak, tolong carikan dimana orang ini dong!” Menunjukan foto seseorang yang ia jadikan walpaper. “Minta petugas CCTV lacak, sekarang dia lagi dilantai berapa kamar nomor berapa?” Lanjut Jessi memerintah.


“Baik, nona.”


“Oh, Iya. Saya mau ke kamar saya, tolong kirim makan malam ya mbak. Saya lapar.”


“Baik, nona.”


“Oke, Terimakasih.”


Jessi berlalu begitu saja meninggalkan meja resepsionis. Ia berjalan menuju lift. Jessi tidak menghiraukan bisik-bisik beberapa orang yang sedang menyindirnya. Sedikit aneh memang, gadis SMA yang masih memakai seragam abu-abu masuk kedalam hotel tanpa malu.


Ah, segarnya.


Jessi baru saja selesai mandi. Ia makan malam sendirian di kamar hotel yang paling mewah di hotel itu. Kamar hotel yang berada di lantai paling atas. Lantai khusus untuk keluarga pemilik hotel. Ya, sekarang Jessi tengah berada di hotel milik Daddy Raka.


Jessi sengaja pergi ke hotel milik Daddy Raka karena dibanding pulang ke rumah, hotel milik Daddy Raka jaraknya lebih dekat dari apartemen Yoga. Ia akan tidur di hotel malam ini.

__ADS_1


Setelah makan malam mewah yang disiapkan karyawan hotel. Jessi pergi ke ruang CCTV.


“Sudah ketemu?” Tanya Jessi pada salah satu karyawan di ruang CCTV.


“Sudah nona, Silahkan jika nona ingin memeriksa.” Jawab karyawan itu sopan.


“Tidak perlu, di kamar No berapa dan lantai berapa?” Jessi lebih memilih hasil dari pada harus memeriksa sendiri.


“Lantai 7, kamar 104, nona.”


“Okay, makasih.” Kata Jessi kemudian berlalu dari ruang CCTV.


“Itu tadi anak yang punya hotel, namanya nona Jessi. Kalau ketemu di jalan jangan lupa disapa.” Kata karyawan senior pada juniornya.


“Mana berani saya menyapa anak yang punya hotel, pak.” Jawab junior itu.


“Malah wajib hukumnya, pak Raka sama keluarganya itu baik. Kita ini dianggap kayak keluarga bukan karyawan. Kalau kamu nyapa duluan, mereka malah senang.” Tutur pak senior.


Junior itu pun menganggukkan kepala nya mengerti.


Jessi sudah sampai di lantai 7 tepatnya di depan kamar nomor 104. Namun, ia malah bingung sendiri harus berbuat apa? akhirnya Jessi hanya mondar-mandir tidak jelas di depan kamar itu. Sesekali ia disapa karyawan hotel yang berlalu lalang.


Sudah sepuluh menit menunggu akhirnya pintu kamar 104 itu terbuka. Keluarlah dua orang lelaki dan satu orang perempuan. Salah satu dari kedua lelaki itu, Jessi sangat mengenalnya. Ya, dia adalah Yoga.


“Sayang?!” Pekik Yoga kaget melihat Jessi di depan kamar hotel.


“Kamu ngapain disini?” Tanya Yoga dengan tatapan menyelidik.


“Aku?” Jessi menunjuk dirinya sendiri. Yoga menganggukkan kepalanya. “Aku, ya?Em.. a-aku, aku cari kamu.” Jawab Jessi lirih karena takut akan tatapan Yoga yang tajam dan tampak mengintimidasi.


“Siapa, Ga?” Tanya lelaki yang sedari tadi berada di sebelah Yoga. Lelaki itu terlihat memperhatikan Jessi dari ujung kepala sampai ujung kaki.


Apaan nih om-om lihatin gue sampe segitunya, gue culek juga tuh mata.


“Pacar gue, Ka.” Jawab Yoga lalu menarik Jessi agar mendekat pada Yoga. Yoga pun langsung melingkarkan tangannya di pinggang Jessi. Bukan tanpa alasan Yoga bersikap mesra dengan Jessi, ia tidak suka melihat tatapan Deka pada Jessi. Seperti tatapan singa kelaparan.


“Oh, lo gak kenalin ke gue?” Tanya Deka penuh harap.


Yoga melirik Jessi sekilas, gadis itu menundukan kepalanya, mungkin takut di marahi oleh Yoga.


“Next time aja kenalannya.” Jawab Yoga.


Dalam hatinya Deka merasa kecewa. “Pelit lo. Ya udah, kalau gitu gue duluan.” Pamitnya pada Yoga.


“Tiati Bro.” Deka dan perempuan yang sejak tadi disampingnya itu pergi.


“Masuk!” Kata Yoga menyuruh Jessi masuk ke dalam kamar 104 yang sudah di buka pintunya oleh Yoga. Dengan menurut dan menundukan kepalanya Jessi masuk ke dalam kamar itu. Di ikuti pula oleh Yoga, Yoga kemudian menutup pintu kamar. Sementara Jessi sudah duduk di sofa masih dalam keadaan menunduk.

__ADS_1


Yoga berdiri di depan Jessi sambil memandangi Jessi dengan tangan bersedekap di dada. “Bukannya saya sudah menyuruh kamu menunggu di apartemen?” Tanya Yoga.


Jessi menganggukkan kepalanya.


“Lalu?Kenapa kamu bisa sampai disini?” Selidik Yoga. Meskipun Yoga bisa menebak alasan Jessi sampai mencarinya ke hotel. Gadis itu pasti berpikiran negatif pada Yoga.


“Jessi cuman mau tau aja, kakak meeting sama siapa?Kali aja sama tante itu.” Lirih Jessi tanpa berani memgangkat kepalanya.


“Kalau bicara itu tatap lawan bicaranya.” Tegur Yoga. Jessi menggelengkan kepalanya.


Menggemaskan.


“Saya, kan, sudah bilang, saya dan Devina itu hanya masa lalu. Masa depan saya itu kamu.” Kata Yoga serius. Jessi mendongak menatap Yoga, gadis itu lalu berdiri tepat dihadapan Yoga.


“Kakak nggak bohong, kan?”


Yoga menggelengkan kepalanya. “Enggak sayang, kamu nggak percaya sama saya?” Tangan kanannya menyentuh pipi Jessi dengan lembut. Manik mata Yoga terfokus pada bibir mungil Jessi dengan warna pink muda. Perlahan jari jemari Yoga menyentuh bibir itu, mengusapnya dengan lembut, diikuti kepala Yoga yang semakin mendekat kearah wajah Jessi.


“KA-kakak mau apa?” Tanya Jessi terbata-bata.


Cup.. kecupan sekilas mendarat di bibir Jessica.


“Mencium pacar!” Jawab Yoga.


Dengan satu gerakan tangan kiri Yoga merengkuh pinggang Jessi agar mendekat padanya. Sementara tangan kanannya menahan tengkuk Jessi, dan Yoga pun mencium bibir Jessi lembut.


Jessi sendiri terbelalak akan serangan tiba-tiba dari Yoga. Namun, gadis itu segera membalas ciuman Yoga sebisanya.


“Manis.” Ucap Yoga melepaskan ciuman mereka. Namun tidak dengan kedua tangannya yang masih berada di pinggang dan satu di belakang tengkuk leher Jessi.


“Kak?” Lirih Jessi.


“Lain kali jangan pergi ke hotel sendirian, meskipun itu hotel keluarga kamu. Mengerti?” Jessi pun menganggukkan kepalanya.


Yoga tersenyum lalu kembali mencium Jessi dengan rakus. Hampir saja tangan Yoga khilaf menyentuh area dada Jessi, untung akal sehat lelaki itu segera kembali. Yoga langsung menghentikan ciumannya karena takut khilaf.


“Ayo, saya antar kamu pulang!” Meraih tangan Jessi dan menggenggamnya. Jessi menurut saja, ia melupakan niat awalnya menginap di hotel.


Saat Jessi dan Yoga keluar dari kamar itu dengan bergandengan tangan. Tanpa, mereka bedua sadari seseorang tengah memotret keduanya.


“Bakal jadi berita heboh ini, seorang pengacara terkenal beduaan di hotel dengan gadis SMA.” Kata seseorang yang baru saja mengambil foto Yoga dan Jessi saat keluar dari kamar. Senyum puas terpancar di wajah orang itu.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2