Pengacara Tampanku

Pengacara Tampanku
Memastikan Perasaan


__ADS_3

FOLLOW INSTAGRAM AKU YAH TEMEN-TEMEN @n.lita.s DI SANA AKU BAKALAN SHARE NOVEL-NOVEL AKU JUGA SPOILER :-)


MAKASIHHH...


***********************************************************************************


Pertemuan Radit dan kliennya selesai setelah mereka makan siang bersama. Masih ada waktu sampai pukul 17:00 sampai jadwal penerbangan mereka menuju Jakarta. Lantas Radit memutuskan mengajak Celia jalan-jalan yang


langsung di setujui oleh Celia.


“Kita ke Jatim Park Dua aja ya, Kak,” pinta Celia.


Radit berpikir jika ke Jatim Park II mereka akan memakan waktu cukup lama menuju ke Bandar Udara. Tapi, itu bukan ide yang buruk. Biar saja mereka tertinggal pesawat. Radit tidak keberatan, dia justru merasa senang


dengan begitu bisa menghabiskan waktu lebih lama bersama Celia.


“Kak.. Gimana?”


Celia merasa Radit tidak mendengarkannya. Dia menyenggol lengan Radit hingga pria disebelahnya itu menoleh.


“Haa, apa?” Radit malah bertanya pada Celia. Dia tidak fokus karena sedang memnyusun rencana licik menahan Celia bersamanya.


“Makanya kalau Celia ngomong itu di dengerin,” cebik Celia.


“Iyaa, maaf-maaf. Kamu tadi bilang apa?Ke Jatim Park II ‘kan?” Radit mengkonfirmasi ajakan Celia yang langsung di angguki oleh Celia.


“Ya sudah kita kesana, memang disana ada apa?Kembaran kamu ya?” Radit cengengesan mengejek Celia namun yang di ejek justru loading lama seperti idiot. Membuat Radit merasa gemas dengan tingkah Celia. “Maksud saya


orang hutan itu ‘kan kembaran kamu,” mengacak rambut Celia hingga berantakan.


“Enak aja, itu ‘kan nenek moyang kakak,” Celia tidak terima rambutnya di acak-acak oleh Radit. Dia menahan tangan Radit yang masih berada di atas kepalanya, sepersekian detik tubuh mereka yang berada di kemiringan


beberapa derajat itu membuat keduanya saling bersitatap. Hening, keadaan menjadi sunya kalai Radit menatap Celia dengan tatapan teduh.


“Cantik,” Radit menatap Celia dan salah satu tangannya yang lain membelai lembut pipi Celia.


Sentuhan halus tangan Radit di pipi Celia membuat hatinya bergetar. Perasaan yang sempat ia tahan, perasaan yang sempat ia tutup rapat-rapat itu kembali terbuka.


“Ah, maaf.”


Buru-buru Radit menjauhkan tangannya dari pipi Celia. Sementara Celia juga melepaskan tangan Radit yang lain. Celia yang salah tingkah memilih sibuk merapikan rambutnya yang berantakan karena acakan tangan Radit.


“Kan, jadi berantakan tangan aku. Kak Radit sih.” Sungut Celia kesal.

__ADS_1


“Iya-iya maaf.” Kali ini Radit mempuk-puk puncak kepala Celia sambil tertawa entah apa yang lelaki itu tertawakan. Seakan ada yang lucu.


Kedua saling menyembunyikan detak jantung yang berdegup cepat karena interaksi cukup intim beberapa saat yang lalu. Perjalanan menuju Jatim Park II akhirnya sunyi. Celia memejamkan mata sepanjang sisa perjalannan


menikmati wkatu yang tenang sambil memikirkan perasaanya pada Radit saat ini. Benarkah dia sudah melupakan Radit sepenuhnya?Benarkan dia tidak menyukai Radit lagi?Ia mulai ragu pada dirinya sendiri.


Berbeda dengan Radit, ia semakin meyakini perasaanya pada


Celia.  Radit bisa memastikan dengan jelas perasaan apa yang dia miliki pada Celia saat ini. Perasaan yang lebih


dari sekedar teman, perasaan yang meminta lebih. Dia ingin menjadi lelaki bagi Celia bukan seorang kakak kenalan saja.


Celia kembali memakai masker, kaca mata dan topi hitamnya kala mereka berkeliling di Jatim Park II. Senyum Celia mengembang menikmati liburan tidak direncanakan yang ia rasakan saat ini. Radit bergitu menuruti apa


yang Celia inginkan seolah lelaki itu sedang memperlakukan Celia like a queen.


“Mau lagi es cream nya?” tanya Radit pada Celia yang baru saja menghabiskan es creamnya. Celia menggelengkan kepala menolak. “Sudah, Celia harus diet,” Celia ingat betul profesinya yang sebagai artis memaksanya untuk selalu menjaga postur tubuh idelanya. Kelebihan berat badan satu kilo


saja bisa membuat Celia mendapat kritikan warga sosial media Indonesia. Apalagi disaat karirnya sedang berkembang.


“Kenapa mesti diet?”


Radit tidak mengerti mengapa perempuan selalu peduli pada berat badannya. Padahal tidak semua lelaki peduli pada berat badan perempuan. Dia salah satunya, Radit tidak peduli Celia gendut atau kurus sepertinya Radit akan


“Celia itu harus tetap dalam berat badan ideal. Kalau enggak ideal nggak cantik,” Jawabnya.


“Cantik kok.” Sahut Radit cepat.


“Hm, kak Radit nggak tahu.”


“Kenapa memangnya?”


“Sudahlah Celia jelasin gimanapun juga kakak nggak akan ngerti,” Celia mengibas-ibaskan tangannya di depan Radit.


“Kenapa sih perempuan cantik itu harus identik dengan tubuh langsing kulit putih dan rambut lurus?” tanya Radit heran.


“Itu tanyakan pada diri kakak sendiri. Kalian para lelaki harusnya lebih bisa menjawab itu.” Acuh Celia. Dalam batinnya Celia pun turut menanyakan pertanyaan yang baru saja Radit lontarkan pada dirinya sendiri. “Kenapa


perempuan cantik itu harus identik  dengan tubuh langsing kulit putih dan rambut lurus?” Celia menanyakan hal yang sama pada dirinya sendiri. Ini tidak adil bagi perempuan dengang kilit sawo matang, kulit eksotis dan kulit kuning langsat Baru memikirkannya saja membuat Celia kesal.


“Enggak sekalian ditambah hidung mancung, Cel?” celutuk Radit yang membuat dirinya semakin kesal.


“Nggak adil banget,” gumam Celia yang di dengar oleh Radit.

__ADS_1


“Itu kamu tahu. Lagian ya Cel, enggak semua cowok itu berpikir cewek cantik harus berkulit putih bersih, punya berat badan ideal dan rambut lurus juga mancung. Cowok mungkin awalnya lihat dari segi fisik tapi tetap aja untuk keseriusan mereka akan lebih menilai attitudenya, baik hatinya, pemikirannya dan kedewasaanya dalam menghadapi masalah,” tutur Radit menjelaskan.


“Temasuk kak Radit?”


Pertanyaan yang Celia lontarkan saat ini bagai pukulan telak bagi Radit yang sempat memilh Yulia. Apa yang baru saja ia ucapkan pada Celia tidak bisa ia terapkan pada dirinya sendiri saat berpacaran dengan Yulia. Nyatanya


Radit menerima Yulia tanpa memikirkan attitudenya.


“Iya termasuk saya,” jawabnya berbohong. Dia ingin Celia melihat sisi baik dari dirinya.


“Oh,” tak disangka Celia hanya menjawab dengan ber-oh ria.


Grep.. Radit refleks menggandeng tangan Celia hingga Celia menoleh tidak mengerti dengan sikap Radit.


“Saya cuman takut kamu hilang. Karena disini ramai, apalagi kamu sering keluyuran tidak jelas,” ucap Radit menjawab pandangan mata Celia yang terlihat meminta penjelasan akan perbuatan Radit. Meskipun Celia terlihat


tidak suka dengan sikap Radit yang seenaknya menggandeng tangannya, Radit tetap enggan melepaskan tangan Celia, pun Celia akhirnya menurut saja. Membiarkan Radit menggandeng tangannya di sepanjang jalan berkeliling jatim Park II.


Sesuai rencana licik Radit mereka terpaksa menginap di Malang karena tertinggal penerbangan. Dan, jadwal penerbangan tercepat besok pagi pukul 05:00.


Keesokan paginya Radit dan Celia kembali ke Jakarta dengan jadwal penerbangan paling pagi. Sampai di Jakarta Radit memsan taksi yang akan membawanya dan Celia pulang ke apartemen.


“Cel, kita ke apartemen saya dulu yaa..” ucap Radit pada Celia yang terlihat masih mengantuk.


“Kenapa nggak anter Celia dulu sih?” protes Celia yang tidak sabar bertemu kasur dan melanjutkan tidurnya.


“Saya cuman ambil baju ganti buat kerja, kalau antar kamu dulu saya bisa kesiangan. Nanti saya mau langsung kekantor setelah antar kamu pulang,” ucap Radit menjelaskan. Radit berniat mandi di kantor.


“Ya sudah terserah kakak saja,”


Mereka tiba di apatemen Radit. Celia mengekori Radit menuju apartemennya. “Kenapa sih Celia nggak boleh nunggu di dalam taksi aja?” lagi-lagi Celia memprotes kesal. Dia ‘kan bisa tidur didalam taksi sembari menunggu Radit mengambil baju kerjanya.


“Nanti saya ambil mobil. Saya antar kamu pakai mobil, kita enggak naik taksi lagi,” Jawab Radit.


Celia pun mengingat kemarin saat dia dan Radit pergi, Radit tidak membawa mobilnya. Radit menekan tombol lift yang akan membawanya menuju unit apartemennya.


Ting.. pintu lift terbuka, Radit melangkah lebih dulu keluar dari dalam lift. Diikuti Celia di belakangnya.


Bruk… “Aduh,” pekik Celia menabrak punggung bagian belakang Radit. “Kak Radit kenapa berhenti mendadak sih, sakit tau nggak kek nabrak batu,” tidak ada sahutan dari Radit. Celia pun penasaran apa yang membuat Radit


berhenti seakan membeku di tempat. Celia memiringkan tubuhnya kesamping melihat suasana di depannnya yang sempat terhalang badan besar Radit.


“Jadi ini alasan kamu menjauh dari aku Radit?” teriak seorang wanita yang Celia kenal suaranya.

__ADS_1


__ADS_2