Pengacara Tampanku

Pengacara Tampanku
Last ..


__ADS_3

FOLLOW INSTAGRAM AKU YAH TEMEN-TEMEN


@n.lita.s DI SANA AKU BAKALAN SHARE NOVEL-NOVEL AKU JUGA SPOILER :-)


***MAKASIHHH...


**************************************************************************************


Di perjalanan pulang Sutomo kembali mengalami serangan jantung, ia terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Danu yang ia kira adalah orang baik ternyata mempunyai niat terselubung padanya. Sutomo yang mengira Danu dan Yulia tulus ternyata hanya topeng, bukan hal baik yang Sutomo dapatkan dari perjodohan Radit dan Yulia, ia justru mendapatkan kekecewaan yang sangat mendalam.


Beruntung Radit langsung membawa Sutomo ke rumah sakit terdekat, Sutomo dapat tertolong karena penanganan medis yang cepat. Dokter bahkan mengatakan telat lima menit saja nyawa Sutomo tidak tertolong.


Radit dan Ning hanya fokus pada Sutomo sampai mereka lupa membereskan kekacauan di tempat akad. Beruntung, Yoga langsung menyuruh Kris untuk mengurus kekacauan di tempat akad. Memberi pengertian pada tamu undangan dan lain-lain.


Tak lama setelah adzan Azhar, Sutomo terbangun. Dia langsung mencari Radit.


“Iya, pak, ini Radit, pak.” Radit menggenggam lembut telapak tangan Sutomo dan duduk di sisi kanan brankar tempat Sutomo terbaring lemah.


Sutomo di bantu suster melepaskan alat bantu pernafasannya, ia sudah bisa bernafas tanpa bantuan alat namun masih lemah. “Maafkan bapak, nak,” ucapnya lirih.


Mungkin serangan jantung kali ini membuat Sutomo tersadar apa yang dia paksakan pada Radit adalah hal yang salah. Beruntung kali ini mereka mengetahui kebenaran kebusukan dari keluarga Danu sebelum Radit menikahi Yulia. Apa jadinya jika mereka sudah menikah dan Radit terjebak pada niat jahat Danu. Sutomo pasti akan merasa sangat bersalah sudah menjerumuskan Radit dalam pernikahan dosa. Radit tidak akan bahagia jika itu sampai terjadi.


“Maafkan bapak yang sudah memaksamu menikahi Yulia. Bapak sadar semua salah bapak,” lanjut Sutomo.


Radit menggelengkan kepalanya, setetes cairan bening membasahi pipi lelaki itu. “Bukan salah bapak, Radit bersyukur kita tau kebenarannya sebelum terlambat, pak. Semua sudah berlalu, bapak tidak usah memikirkan hal itu. Bapak harus fokus sama kesehatan bapak, Radit nggak mau lihat bapak kaya gini,” ucap Radit sendu.


“Iya, pak. Radit benar, pak. Alhamdulillah anak kita tidak jadi menikah, pak. Ibu bersyukur gusti Allah masih baik sama kita, kita di tunjukan kejahatan mereka, pak.” Sahut Ning ikut menenangkan Sutomo. Ning menggenggam tangan putra dan suaminya.


Sutomo mengangguk. “Iya, buk. Alhamdulillah, bapak juga bersyukur sekali, buk.” Kelakar Sutomo.


Tangis haru menyelimuti moment itu. “Sekarang pergilah, nak.” Kata Sutomo sambil memandang Radit.


Pergi ?


“Bapak ngusir Radit?”


“Apa salah Radit, pak. Kenapa bapak mengusir satu-satunya anak kita?”


Radit dan Ning kompak membelalak mendengar Sutomo menyuruh Radit untuk pergi.


“Tidak, tidak. Bukan itu maksud bapak, Dit.”


“Lalu?” Radit menaikan sebelah alisnya heran.


“Maksud bapak pergilah kejar cintamu,” jawab Sutomo.


“Ma-maksud bapak?” Radit terbata-bata antara ragu dan kaget.


Sutomo menepuk tangan Radit pelan. “Pergilah kejar cintamu, siapapun pilihanmu bapak akan merestuinya,”


“Meskipun itu Celia?” Masih bertanya dengan ragu, nada suaranya pun lirih.


Sutomo mengangguk. “Yaa, siapapun itu termasuk artis itu bapak akan merestui,” balas Sutomo lagi.


Ning memandang Radit bahagia. “Pergilah nak, dapatkan cintamu, bawa dia ke hadapan kami.” Ucap Ning lembut dengan kedua ujung bibir terangkat membentuk senyuman.


Radit mengangguk dan kembali fokus pada Sutomo. “Bapak yakin?”


Lagi-lagi Sutomo mengangguk. “Ya, jawaban bapak akan sama. Aku dan ibu mu akan merestui wanita pilihanmu, asalkan itu demi kebahagiaanmu. Bapak ibu pasti akan ikut bahagia.” Tutur Sutomo lembut.

__ADS_1


Grep.. Radit membungkuk dan merangkul Sutomo, pun lelaki itu memeluk Radit balik sembari menepuk-nepuk punggung sang anak dengan pelan.


“Terimaksih, pak.”


“Sama-sama, nak,”


“Sudah-sudah, nanti bapakmu bisa sesak nafas kalau kamu tindih begitu.” Seloroh Ning.


Radit bangkit dengan penuh semangat. “Radit mohon doa restu nya pak, buk. Semoga Radit bisa membawa Celia ke sini hari ini.”


“Doa dan restu kami menyertaimu, nak.” Serempak Sutomo dan Ning.


Radit meninggalkan rumah sakit dengan perasaan senang dan semangat membara. Ia sudah mengantongi restu dari kedua orang tuanya, tinggal menemui Celia lalu meminta izin pada orang tua Celia. Dan, Radit akan meminang Celia secepatnya.


**


“Non Jessi ada tamu,” ucap asisten rumah tangga di green residance.


“Siapa, mbok?” tanya Jessi dengan mulut penuh potongan apel. Ia baru saja memasukan potongan apel yang di kupas oleh sang suami tercinta ke dalam mulutnya kala asisten rumah tangga menghampiri.


“Pak Radit, mbak.” Jawab asisten rumah tangga.


“Kak Radit, mas?” Jessi memandang Yoga yang mengangkat kedua bahunya acuh.


“Nyariin Celia mungkin,” jawab Yoga.


“Suruh kesini saja ya, mbok.” perintah Jessi.


“Baik, non.”


“Oh, iya.. minta tolong buatkan teh manis dan camilan ya mbok.”


“Baik, non.”


“Ngapain lo nyari Celia?” tanya Yoga.


“Ga, serius dong. Lo pasti tau ‘kan gue bakalan kesini nyari Celia.”


Yoga menggelengkan kepalanya. “Gue enggak tau.” balas Yoga.


Radit beralih memandang Jessi yang masih sibuk dengan potongan buah di piringnya.


“Jess, Plis kasih tau saya dimana Celia. Kamu pasti tau ‘kan kemana Celia?” pinta Radit memohon.


Jessi menggelengkan kepalanya. “Jessi nggak tau kok.” jawabnya sok imut.


“Kalian nggak mungkin tega sama gue, ‘kan?” kembali Radit bertanya.


“Hm..” Jessi menghela nafas panjang, “Celia ke luar negeri. Pesawatnya berangkat jam 20:00,” menjeda ucapannya dan melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. “Masih ada waktu 30 menit kalau kak Radit nyusul sekarang.” Lanjut Jessi.


“Oke, Thanks..” Radit berbalik arah dan melesat secepat mungkin menyusul Celia.


“Kamu nggak bilang tujuan Celia ke luar negeri sayang?” tanya Yoga.


“Biarin aja, kak. Kalau beruntung mereka bakalan ketemu, biar Celia sendiri yang ngomong,” Jawab Jessica.


Radit memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju bandar udara. Ia tidak mau kehilangan Celia.


“Celia...” teriak Radit memanggil gadis yang ia kenali. Gadis itu menoleh dan kaget. Dia mematung melihat Radit yang berlari menghampirinya.

__ADS_1


“Kak Radit?”


“Iya ini saya. Kamu mau kemana? Kamu mau ninggalin saya, kamu pikir dengan kamu memblokir kontak saya, saya nggak akan nemuin kamu, ha? Mau kamu ke ujung dunia pun saya akan menemukan kamu.” Kata Radit tegas.


Celia menunduk sedih. Namun, langsung menghapus air matanya dengan usapan jari tangannya.


“Kak Radit ngapain nyari Celia?” tanya Celia tenang.


Ayo lah, Cel... Bukankak sudah jelas karena perasaannya Radit menemui mu.


“Kamu bertanya karena tidak tau atau pura-pura nggak tau?”


Dia menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Radit. Hal itu membuat Radit gemas. “Astaga, pantas saja kamu tidak lolos tes masuk universitas kedokteran, otak kamu apa hanya sebesar biji sawi?” Ejek Radit.


“Tapi, Celia ‘kan lolos jadi artis,” jawab Celia sambil memanyunkan bibirnya.


Radit meraih tangan Celia dan menariknya masuk ke dalam pelukannya. “Saya mencintai kamu, Cel. Saya mau kamu menikah sama saya..” kata Radit lembut pada Celia yang ia peluk hangat.


Perasaan Celia menghangat sebentar, lalu ia melepaskan diri dari Radit dan melotot. Membuat Radit heran.


“Apa ada yang salah, kenapa di lepaskan?”


“Kak Radit ngelamae Celia?” tanya Celia.


Radit menganggukan kepalanya. “Iya, saya mau kamu jadi istri saya.”


Puk.. satu pukulan mendarat di dada Radit. Pukulan yang tidak berasa apa-apa bagi Radit.


“Kok di pukul?”


“Biarin.. Celia nggak mau, nggak terima. Enak aja kakak ngelamar nggak ada cincin nggak ada bunga. Lamaran macam apa an. Nggak mauuuuuu..” protes Celia.


Radit terkekeh, ia melupakan seperintilan hal penting dalam proses lamaran. Ia kembali memeluk Celia yang masih menerocos protes.


“Iya maaf.. saya salah melamar tanpa persiapan, anggap saja saat ini latihan. Saya akan siapkan lamaran yang mewah untuk kamu, sekarang kita pulang yaa..” ajak Radit.


Celia melepaskan diri. “Maaf kak, Celia enggak bisa..”


“Kamu nolak saya?” Celia menggelengkan kepalanya menjawab.


“Lalu?”


“Celia harus keluar negeri untuk syuting tiga bulan, dan ada pemotretan majalah di Paris juga. Mungkin totalnya sekitar empat bulan.” Jawab Celia tidak enak.


“Empat bulan?”


“Iyaa, maaf.”


“Huh.. ya sudahlah mau bagaimana lagi saya akan nunggu kamu.”


“Kak Radit yakin?”


“Untuk kamu apa yang tidak bisa saya lakukan.”


Pelukan mengakhiri percakapan mereka malam itu. Celia melanjutkan perjalan nya ke luar negeri sedang Radit hanya bisa melihat pesawat yang membawa Celia di dalam nya meninggalkan langit kita Jakarta. Kali ini giliran Radit yang menunggu Celia.


***


End ..

__ADS_1


Masih ada epilog, mungkin aku up besok..


__ADS_2