
Mimpi indah, sayang ❤️
Satu pesan masuk di ponsel Jessica yang langsung membuat Jessica salah tingkah. Gadis itu cekikikan sendiri di bawah selimutnya. Sejak lima belas menit yang lalu Jessica bermain ponselnya sambil bersembunyi di bawah selimut. Ia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Sementara sahabat Jessica, Salsa dan Celia sudah tidur nyenyak di ranjang berukuran King size milik Jessi. Ranjang dengan dekorasi putri kerajaan yang selalu menjadi favorit Salsa dan Celia saat menginap.
Jessi sendiri memilih tidur di karpet bulu tebal yang berada di samping ranjangnya. Karpet bulu yang sering Jessi gunakan untuk menonton televisi maupun mengobrol sebelum tidur bersama sahabatnya atau pun keluarga yang main di kamar Jessi. Meskipun hanya karpet bulu tapi cukup hangat digunakan untuk tidur. Cukup nyaman juga dari pada tidur di sofa. Selain itu tidur di karpet bulu lebih aman bisa berguling kesana kemari tanpa takut jatuh dari ranjang karna ketinggiannya hanya beberapa cm, tidak setinggi ranjang tempat tidur.
Saat yang lainnya terlelap ke alam mimpi. Jessi masih sibuk membayangkan moment di pantai saat dirinya dan Yoga jadian. Sampai satu pesan masuk dari Yoga yang membuat Jessi mengantuk seketika. Ucapan manis berupa kata pengantar tidur dari Yoga mampu membuat Jessi merasakan kantuk. Terbukti setelah cekikikan sebentar usai mendapat pesan manis dari Yoga, Jessi langsung terlelap.
***
Keesokan paginya.. Semua orang baru saja selesai sarapan. Mereka akan pergi ke aktivitas masing-masing. Rey sudah berangkat sekolah bersama sopirnya. Jordan pun baru saja berangkat sekolah beberapa menit yang lalu.
“Gue heran, Jordan sama Rey, kan, satu komplek sekolahan, kenapa mereka nggak berangkat bareng aja sih?” Tanya Celia dari kursi penumpang bagian belakang.
“Biar kelihatan kalau kaya, mobilnya banyak.” Jawab Jessi ngasal. Seperti biasa Jessi menjadi sopir. Dan, Salsa akan duduk di sebelah Jessi.
“Serius, masa gitu?” Dari raut wajahnya Celia seakan percaya dengan ucapan Jessica.
“Ya, enggak lah bodoh! Lagi pula Jordan maupun Rey bukan sosok yang suka pamer. Mereka bawa mobil sendiri-sendiri karna Rey yang mau. Rey nggak mau ada yang tau dia adiknya Jordan.” Jelas Salsa yang sudah lama mengenal keluarga Jessi. Bobroknya tiga bersaudara Jordan, Jessi dan Rey pun Salsa sudah tau.
“Kenapa gitu?Padahal punya kakak yang tampan, kan, enak.”
“Nah, itu masalahnya, punya kakak yang tampan bagi Rey, itu memuakkan! Rey nggak mau di deketin sama senior atau kakak kelasnya nya untuk dimanfaatkan. Kalau anak-anak yang lain tau Rey adiknya Jordan, mereka pasti akan mendekati Rey dan cari muka biar bisa lebih deket sama Jordan.” Salsa tau dengan jelas alasan Rey karena dirinya pernah bertanya langsung pada yang bersangkutan.
Celia mengangguk-anggukan kepalanya. “Bener juga sih, gen keluarga lo emang sempurna, Jess.”
“Makanya gue juga males satu sekolah sama Jordan.” Ucap Jessi.
“Untung lo sekolah di sekolah kita, jadi gue bisa punya sahabat cantik plus tajir kayak lo.” Sahut Salsa.
“Gue juga beruntung punya sahabat o’on plus norak kayak lo.” Jawab Jessica fokus dengan kemudinya sambil terkekeh.
“Sialan lo.” Protes Salsa.
“Gue jadi penasaran sama sekolah Jordan.” Gumam Celia. Salsa menoleh ke belakang menatap Celia. Sedang Jessi melirik dari kaca depan.
“Mau lihat sekolah Jordan langsung?” Tawar Jessica.
“Emang bisa?” Tanya Celia.
“Bisa lah, kita pura-pura jemput Jordan aja ntar.” Jawab Jessica.
“Gue setuju banged, udah lama kita nggak main kesana.” Ujar Salsa semangat.
“Oke, gas lah. Mumpung gue nggak ada jadwal ngajar les.” Ucap Jessi.
Sudah di sepakati, pulang sekolah mereka bertiga akan pergi ke sekolah Jordan untuk menjemput Jordan.
***
“Halo, Kak.”
‘Halo sayang, kamu sudah pulang sekolah?’
__ADS_1
“Baru keluar kelas ini, kak. Kenapa?”
‘Nggak papa sayang, langsung kerumah ya, jangan keluyuran nggak jelas. Saya masih ada sidang satu kali, jadi, nggak bisa makan siang sama kamu. Maaf ya sayang.’
“Iya kak, Jessi pasti langsung pulang. Nggak papa kak, Next time bisa makan siang bareng. Yang penting kak jangan lupa makan.”
‘Iya sayangku, siap. Sudah dulu ya sayang, nanti saya telepon lagi. Love u!’
“Love u too, kak.”
Panggilan telepon dari Yoga pun berakhir. Hari pertama Yoga sangat perhatian pada Jessi. Yoga sudah mengirimi Jessi pesan dari sebelum bangun tidur, dan menelepon saat jam makan siang. Yoga juga selaku memanggil Jessi sayang di chat maupun di telepon.
Uh, senangnya jadi Jessi. Cinta nya terbalas. Pacarnya perhatian, semoga saja perhatian Yoga bukan cuman di awal saja.
“Kenapa lo?” Hardik Salsa melihat Jessica senyam-senyum sendiri. Salsa baru saja datang dari ruang guru setelah menumpuk buku tugas.
“Abis di telepon pacar.” Jawab Jessi nyengir.
“Astaga ni anak, masih juga halu.” Salsa geleng-geleng kepala sambil berjalan meninggalkan Jessica.
Salsa masih nggak percaya gue udah jadian sama kak Yoga.
Sudahlah, biarkan saja nanti juga percaya kalau lihat langsung.
Tersenyum menyimpan ponselnya kedalam tas dan menyusul Salsa.
“Kalian lama banged sih?” Protes Celia yang sudah menunggu di parkiran.
“Sorry, Jessi kumat halu nya jadi lama.” Balas Salsa.
“Idih, nunggu bentar doang cemberut. Ntar ilang cantiknya tauk.” Jessi mentoel dagu Celia dan membuka pintu mobil.
“Najis di toel-toel sama lo.” Gerutu Celia masuk ke dalam mobil.
“Emang lo pengennya di toel-toel, siapa?” Tanya Salsa.
“Roy si Playboy itu kali, Sa.” Ucap Jessi menimpali.
“Hiss, amit-amit. Jauh-jauh gue dari si Roy.” Mengibas-ngibaskan tangannya.
“Kali aja masih demen.” Ejek Salsa.
“Amit-amit.” Celia geleng-geleng kepala.
Setelah menempuh perjalanan tiga puluh lima menit, mereka tiba di depan komplek sekolah internasional. Tempat dimana Jordan bersekolah. Jessica memarkirkan mobilnya di depan gerbang sekolah Jordan. Ia mematikan mesin mobilnya.
Celia sangat kagum dengan sekolah Jordan. Dari luar saja nampak elegan dan mewah, apalagi bagian dalamnya. Celia sengaja membuka kaca mobil agar bisa mengamati bagian luar sekolah Jordan dengan seksama.
“Woah, ini sekolahan?Kaya istana, jauh banged sama sekolahan kita.” Gumam Celia takjub.
“Ya, iyalah. Sumbangannya juga beda jauh, cuy.” Sahut Salsa. Jessi hanya geleng-geleng kepala mendengar percakapan kedua sahabatnya.
“Turun, yuk!” Ajak Salsa.
“Buat apa?Tunggu di dalam mobil aja, panas di luar.” Cegah Jessi.
__ADS_1
“Buat nampang lah, biar cogan yang keluar dari sekolah bisa lansung liat kecantikan bidadari sekolah lain.. wkwk.” Jawab Salsa terkekeh lalu turun dari mobil. Jessi melongo mendengar jawab Salsa. Memang si Salsa sikap genitnya sudah mendarah daging di tubuhnya.
“Ide bagus, siapa tau dapat penggantinya Roy.” Gumam Celia mengikuti Salsa turun dari mobil.
Lah, temen gue nggak ada yang waras ternyata.
Mau tidak mau Jessi ikut turun dari mobil. Ketiga gadis itu berdiri sambil menyender di tubuh mobil menunggu Jordan.
Selama menunggu Jordan, terlihat mobil-mobil mewah berlalu lalang keluar dari sekolah Jordan. Ada juga mobil yang masuk ke dalam sekolah Jordan, kemungkinan mobil jemputan. Karena jam pulang sekolah makanya ramai.
Yang ditunggu-tunggu pun akhirnya nongol. Jordan terlihat berjalan menuju gerbang di ikuti beberapa gadis cantik.
“Jo, bareng gue aja yuk. Gue antar lo sampai rumah.” Ucap salah satu gadis yang berada di sisi kiri Jordan.
“Bareng gue aja, Jo. Mobil gue lebih bagus dari mobil dia.” Saut gadis disebelah Jordan yang lain. Beberapa gadis yang mengelilingi Jordan nampak berebut memberi tumpang untuk Jordan pulang.
Tingkah gadis-gadis itu tak luput dari pandangan Jessi cs. Jessi sendiri ilfil melihat gadis-gadis itu menempel pada kakaknya.
“Sa!!”
“Okay.” Kata Salsa. Berlari menghampiri Jordan.
“Sayang!!!” Panggil Salsa pada Jordan. Jordan menatap kearah suara yang ia kenal. Jordan tersenyum tipis pada Salsa. Sementara gadis-gadis yang berada di sekitar Jordan menatap Salsa sinis.
“Sayang, kamu lama banged sih. Aku udah nunggu setengah jam.” Salsa langsung merangkul lengan Jordan dan bergelanyut manja.
“Sayang?!!!” Pekik beberapa gadis itu.
“Sorry, gue duluan guys. Pacar gue udah jemput!” Tutur Jordan sambil melingkarkan tanganya di pinggang Salsa, yang langsung membuat para gadis pemuja Jordan tercengang.
Sampai di dekat Jessi dan Celia, Salsa melepaskan tangan Jordan dari pinggangnya. Sementara Jessi melemparkan kunci mobil kepada Jordan agar Jordan yang menyetir.
Mereka masuk kedalam mobil. Jessi duduk di sebelah Jordan. Sementara Salsa dan Celia di belakang.
“Kalian kenapa pake acara jemput gue segala?Gue jadi repot karna kalian.” Kesal Jordan yang harus berjalan dari kelas sampai gerbang. Biasnya ia tinggal ke parkiran masuk mobil dan pulang tanpa perlu dipusingkan dengan gadis-gadis seperti tadi.
“Celia pengen lihat sekolah, kamu, kak.” Jawab Jessi.
“Kan, bisa pas lihat basket.” Jawab Jordan.
Bener juga, gue lupa. Pas basket, kan, bebas siswa sekolah lain masuk.
“Terus mobil lo dimana, Jo?” Tanya Salsa.
“Dibawa temen gue. Sekarang langsung pulang atau kemana?” Tanya Jordan.
“Makan dulu lah.” Jawab Salsa dan Celia kompak. Mereka bedua selalu kompak jika berurusan dengan makanan.
.
.
.
.
__ADS_1
.