Pengacara Tampanku

Pengacara Tampanku
Cinta dalam diam


__ADS_3

Suara deburan ombak terdengar jelas senja sore ini. Di ikuti suara kecipak air saat kaki Jessi berjalan di bibir pantai menghadang ombak yang datang. Jessica begitu bersemangat menunggu ombak datang, kala ombak itu semakin mendekat ia akan berlari menjauh di pasiran.


Percakapan Yoga dan Jessica saat di mobil membawa mereka berakhir di pantai. Setelah perdebatan sengit perihal kemana tujuan mereka, sampailah mereka pada kesepakatan bersama, yaitu pantai.


Semakin sore air pantai semakin tenang. Jessi duduk di pasiran sambil bermain pasir, sesekali ia meminta Yoga untuk memotret momen kebersamaan mereka atau sekadar memotret Jessi sendiri. Yoga selalu saja mendumel saat Jessi meminta nya bertindak selayaknya fotografer, namun lelaki itu tetap menuruti kemauan Jessi.


Jessica berlarian kesana kemari, bermain air pantai, bermain pasir dengan senyum sumringah di wajahnya. Hal yang membuat Yoga merasa damai. Kebahagiaan Jessi yang sesederhana ini Yoga bisa melihatnya dengan jelas.


Berlari ke arah Yoga yang berdiri memandang arah pantai sambil bersedekap di dada. “Kak, kak, besok ke Jogja yuk kalau Jessi habis ujian. Kita ke pantai yang disana.” Kata Jessi sambil berjingkrak jingkrak dan memegangi lengan Yoga.


Yoga bergeming. “Saya sibuk, Jess.”


“Dua hari saja, kak.” Menghentikan berjingkraknya. Menatap Yoga sambil mengedip-ngedipkan kedua mata nya. “Yaa, dua hari saja, ya ya.” Katanya lagi.


“Hem.”


“Yes, awas kalau ingkar.” Memeluk Yoga yang masih bersedekap dengan erat. “I love you!” Kata Jessi keceplosan. Jessi langsung menutup mulutnya sendiri. Yoga pun terkejut dengan ucapan cinta tiba-tiba dari Jessi. Lelaki itu mematung sesaat.


Dasar mulut penghianat! Rutuk Jessica pada dirinya sendiri. Bagaimana jika Yoga marah Jessi ternyata menyukai Yoga?Bagaimana jika Yoga menganggap perasaan Jessica remeh?


Jessi melepaskan pelukannya dari Yoga, ia mundur satu langkah sambil menunduk dan membalik tubuhnya berjalan pelan menjauhi Yoga.


“Kamu mau kemana, Jes?” Panggil Yoga sambil berjalan kecil mengikuti Jessi. Jessi terus melangkah menjauh.


Mati, mati, mati gue! Dasar mulut nakal. Rutuk Jessi sambil menepuki mulutnya dengan telapak tangan.


“Jessica, kamu dengar saya tidak?”


“Dengar, kak.” Jawab Jessi.


“Mau kemana kamu?” Tanya Yoga.


“Ma-mau, mau pulang, kak. Sudah gelap.” Terus dan terus melangkah tanpa menoleh pada Yoga.

__ADS_1


Yoga mengangguk-anggukan kepalanya. Langkahnya masih sama mengikuti Jessi dari belakang. “Ow, jadi kamu mau kabur setelah bilang cinta?’” Tanya Yoga.


“Hahaha, kapan Jessi bilang cinta, kak?Nggak ada Jessi bilang cinta.” Jawab Jessi sambil tertawa kikuk.


Mati gue, fiks!


“Tadi, pas kamu peluk saya. Saya dengan kamu bilang cinta ke saya.” Kata Yoga datar.


“KA-kakak salah dengar kali, tadi kan ada angin yang banter banged ada ombak juga. Kakak halu itu mah, atau pengen banged ya Jessi bilang cinta ke kakak?” Pluk.. lagi-lagi Jessica menutup mulutnya dengan telapak tangan. Sudah mengatai Yoga halu masih saja mengarang cerita padahal jelas-jelas Jessica mengucap kata cinta.


“Mana ada saya halu, kuping saya masih waras, Jes!Saya dengar jelas kamu bilang cinta ke saya.” Pungkas Yoga.


Lelaki itu sudah lelah berjalan mengikuti Jessi. Awalnya saat Jessi memeluk Yoga, Yoga akan langsung mengajak Jessi menepi dan jajan. Selain lelah Yoga juga lapar. Ya, setelah pulang dari perjalanan bisnis Yoga belum istirahat. Tapi, siapa sangka Yoga malah mendapat ucapan cinta dari gadis yang selalu menggangu pikirannya. Apakah Yoga bisa menganggap ini sebuah jackpot?


“Pokoknya kak Yoga halu, Jessi nggak bilang apa-apa. Nggak bilang cinta juga!” Teriak Jessi lalu berlari. Yoga dengan sigap berlari menyusul Jessi. Berlarian di pasiran tidak bisa secepat di lapangan atau di jalan karena berat di kaki yang masuk di pasir.


Jangan kejar please jangan kejar! Batin Jessi yang jelas percuma karena ia bisa mendengar Yoga meneriakinya untuk berhenti sambil berlari mengejar Jessi.


HAP!! Tangan kanan Yoga berhasil meraih tangan kiri Jessica.


Jessica mau tidak mau menghentikan langkahnya, apalagi tangan kirinya sudah berada di cengkeraman Yoga. Namun, Jessi diam. Ia tidak menjawab pertanyaan Yoga. Jessica sibuk menetralkan jantungnya yang berdegup sangat cepat. Pasti Yoga akan menanyakan perihal ucapan cinta Jessi itu. Pikir Jessica.


“Kamu kenapa sih?Lari-lari an, nggak capek?Saya saja capek.” Tanya Yoga.


“Jessi mau pulang, kak.”


“Iya, nanti saya antar kamu pulang.”


Gadis yang ada di hadapannya itu terlihat menunduk, Jessica tidak berani membalik tubuhnya menghadap Yoga. Ia masih saja berdiri memunggungi Yoga dengan tangan di genggam Yoga.


“Jessi maunya pulang sekarang, kak.” Lirih Jessi.


“Kalau ngomong sama orang itu tatap wajahnya, jangan di punggungi kaya gini. Saya juga mau lihat wajah cantik kamu, bukan lihat punggung kamu.” Ucap Yoga sambil menggombal. Bisa juga menggombal ternyata si pak pengacara itu.

__ADS_1


Gue cantik?Seriusan gue cantik dimata kak Yoga? Teriak Jessi girang di dalam hatinya. ‘Berbalik nggak ya, berbalik nggak ya?’ Gumam Jessi.


Yoga menunggu reaksi Jessi saat dia menggombali Jessi namun tidak seperti yang Yoga harapkan, Yoga mengira Jessi akan langsung berbalik saat Yoga menggodanya, ternyata tidak, Jessica tetap bergeming memunggungi Yoga.


“Ah. Kelamaan mikir kamu Jess!” Yoga menarik tangan Jessi hingga gadis itu berbalik, dan Yoga semakin menarik Jessi, merengkuh tubuh Jessi dan memeluk nya. Jessi membelalak seketika mematung di dalam pelukan Yoga, Jessi masih mencoba mencerna apa yang dia rasakan saat ini, mimpi atau kenyataan?Yoga yang lebih dulu memeluknya itu seperti mimpi indah Jessi.


“Kenapa kabur, Hm?” Bertanya dengan lembut sambil membelai rambut Jessica. “Kamu malu setelah bilang cinta ke saya?” Lanjut Yoga kemudian.


Jessi menggerakan kedua tangannya meraih kemeja Yoga dan memeganginya. Gadis itu mendongakkan kepalanya. “Jessi takut, kak.” Jawab Jessi lirih.


“Takut kenapa,Hm?” Menunduk menatap Jessi. Keduanya saling bersitatap.


“Takut kakak nggak punya perasaan yang sama kayak Jessi. Selama ini, kan, hanya Jessi yang mengejar kakak. Kak Yoga selalu dingin.” Jelas Jessi berkaca-kaca.


“Bagaimana kamu bisa tau perasaan saya, kalau setelah mengucapkan kalimat itu, kamu malah kabur-kabur an kaya tadi?Kamu nggak mau tau perasaan saya ke kamu?” Tanya Yoga lembut. Tangan kanannya mengusap usap kepala Jessica.


“Mau tapi Jessi takut, kak. Jessi, kan, jadi malu sendiri kalau kak Yoga nggak punya perasaan sama Jessi. Gimana Jessi mau menghadapi kak Yoga nantinya?Cinta bertepuk sebelah tangan itu nggak mudah, kak. Mendapat penolakan itu juga nggak mudah. Lebih baik mencintai dalam diam.” Jelas Jessi yang disertai cairan bening menetes di pipinya.


“Lebih baik mencintai dalam diam??” Tanya Yoga, Jessica menganggukkan kepalanya. “Kalau mencintai dalam diam berarti nggak masalah dong kalau yang dicintai bersama orang lain?” Lanjut Yoga.


“Itu resiko mencintai dalam diam, kak.” Jawab Jessi.


“Kalau kamu?”


“Maksud kakak apa?”


“Kalau perasaan kamu ke saya, kamu maunya gimana?” Sambil mengusap air mata Jessi dengan ibu jarinya. Sementara tangan Yoga yang lain masih merengkuh pinggang Jessi.


Jessica?Masih sama mendongak menatap Yoga dengan intens sambil kedua tangannya memegangi kemeja Yoga


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2