
Di depan kamar tamu Celia menetralkan dulu detak jantungnya yang berdetak melebihi normal. Barulah ia masuk ke dalam kamar.
“Lama banged sih lo, minum apa ketiduran?” Hardik Jessi.
“Gu-gue minum sekalian pipis.” Jawab Celia gugup.
“Lo, sakit?” Celia menggelengkan kepalanya.
“Kok muka lo merah, alergi dingin?” Celia mengangguk.
Bodoh amat, lebih baik dikira alergi dingin dari pada Jessi tau gue habis ciuman sama kak Radit.
“Astaga, bentar gue cariin obat.” Jessi langsung bergegas keluar dari kamar pergi mencari Yoga untuk meminta obat.
“Fyuh..” Celia menghela nafas lega, “Dasar nakal.” Rutuknya sambil memukul lembut bibirnya.
Gue harus lupa in kejadian tadi, harus. Tapi, itu ‘kan ciuman pertama gue di bibir.
Setelah memukul, kini Celia mengusap lembut bibirnya sambil membayangkan kejadian di dapur.
Sementara di ruang kerja Yoga.
“Loh, kak Radit juga alergi dingin?”
__ADS_1
Yoga dan Radit saling pandang mendengar pertanyaan Jessi.
“Maksud kamu apa, sayang?” Beralih menatap Jessi.
“Itu, wajah kak Radit merah kayak Celia. Kalau Celia alergi dingin makanya ini Jessi mau cariin obat.” Menyelonong melewati Yoga dan Radit menuju rak kotak obat yang berada di ruangan itu.
Yoga melirik Radit, yang dilirik pun menjadi salah tingkah.
Jessi membawa beberapa obat di tangannya juga vitamin, “Jessi balik ke kamar ya kak, oh ya ini buat kak Radit.” Menyerahkan obat alergi dingin. “Diminum pakai air putih dan setelah itu jangan minum kopi dulu setidaknya satu sampai dua jam.” Lanjut Jessi menjelaskan.
Radit menerima obat itu dan mengangguk, “Makasih, Jess.” Dibalas acungan jempol oleh Jessi.
“Jujur sama gue!” Setelah Jessi keluar dari tuang kerja Yoga, lelaki itu langsung menginterogasi Radit. Yoga cukup dewasa untuk merasakan hal yang tidak beres pada diri Radit.
“B*ngke, lo udah punya Yulia, Dit.” Yoga geleng -geleng kepala tidak percaya sahabatnya itu bisa melalukan hal yang tidak pas.
“Sorry, Ga. Gue emang salah.” Lirih Radit.
“Huh, kita nggak bisa kerja malam ini. Lebih baik istirahat dulu.” Bagaimana mereka bisa mengurus pekerjaan jika Radit saja nampak tidak waras di mata Yoga.
“Dia mau berhenti suka sama gue, Ga.” Ucap Radit lebih terdengar seperti mengeluh.
“Itu memang seharusnya terjadi, lagi pula lo nggak bisa balas rasa suka Celia.” Yoga merapikan berkas-berkas nya yang berserakan di meja dan menumpuknya menjadi satu.
__ADS_1
Radit mengubah posisinya kini bersandar punggung sofa dan memejamkan matanya, “Entah mengapa gue nggak rela.” Ucap Radit.
“Celia pantas dapat yang lebih baik dari, Lo.” Tekan Yoga.
“Gue juga pantas buat Celia,” sahut Radit.
“Yulia mau lo kemanain?”
“Gue mau keduanya.” Yoga membelalak mendengar Jawaban Radit.
“Jangan gila lo!! Lo mau jadi brengsek?”
Radit diam tidak menyahuti ucapan Yoga, ia merenungi apa yang baru saja ia katakan pada Yoga. Apa benar ia ingin menjadi brengsek? Tapi, Celia? Wajah gadis itu menghantui Radit saat ini.
“Gue mau ke kamar, lo mau nginep atau pulang? Kalau pulang jangan lupa matiin lampu.” Kata Yoga sebelum meninggalkan ruang kerjanya.
Setelah Yoga berlalu pun Radit tidak merubah posisi tubuhnya, ia masih bersandar punggung sofa dengan mata terpejam hingga akhirnya pun ketiduran di sana.
.
.
.
__ADS_1