Pengacara Tampanku

Pengacara Tampanku
Berita duka


__ADS_3

Follow instagram aku ya guys @n.lita.s


*Disana ada informasi update juga novel-novel aku yang lain. Sekali an kita bersilaturahmi di media sosial **đź’ś*


**


Di tengah-tengah meeting, sekertaris Yoga izin masuk.


“Ada apa?” Tanya Yoga dan sekertarisnya berbisik, “ada seseorang mengaku sopir bapak ingin bertemu pak Yoga, namanya pak Joko.”


Pak Joko? Ada apa pak Joko mau bertemu dengannya di jam seperti ini? Yoga mulai merasakan ada yang tidak beres.


“Suruh menunggu diruang kerja saya.”


“Baik, pak.”


Yoga pamit pada Radit dan meminta Radit menyelesaikan rapatnya. Sementara dia menemui pak Joko.


“Ada apa pak?” Tanya Yoga pada pak Joko yang duduk dengan tidak tenang.


“Saya kesini untuk mengabari, bapak. Mbak Jessi masuk rumah sakit.” Jawab pak Joko.


Deg.. Jessica! Istrinya, istri tercintanya Yoga masuk rumah sakit. Yoga merasakan detak jantungnya tidak stabil gemuruh di dadanya membuncah. Perasaan takut dan khawatir yang tidak bisa ia ungkapkan.


Tanpa mendengar penjelasan lebih lanjut dari pak Joko, Yoga mengambil kunci mobilnya dan berlari secepat mungkin menuju parkiran. Lift yang biasanya berjalan cepat kenapa rasanya begitu lambat?


Yoga mamacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menunju rumah sakit. Hanya ada satu rumah sakit yang ada di pikirannya, Edward hospital. Yoga sangat yakin Jessica pasti ada disana.


“Dimana suaminya?” Tanya dokter Pram.


Celia hendak menjawab saat suara Yoga menyahut keras. “Saya suaminya, dok.” Keringat bercucuran di dahi Yoga. Kemungkinan lelaki itu habis berlari.


“Iya, dia suaminya, dok.” Tunjuk Celia pada Yoga.


“Bagaimana keadaan istri saya, dok?”


“Dokter disebelah saya yang akan menjelaskan, pak.” Jawab dokter Pram. Dokter disebelah dokter Pram mulai berbicara,


“Kami memerlukan persetujuan bapak untuk melakukan kuret.” Ucap dokter itu.


“Kuret?” Bahasa medis, Yoga maupun Celia tidak paham. Mereka menunggu dokter yang bernama Sinta itu untuk menjelaskan.


“Begini pak Yoga, istri bapak mengalami keguguran. Untuk menghentikan pendaraan dan membersihkan sisa-sisa keguguran kami akan melakukan kuret.” Ucap dokter Sinta menjelaskan.


Yoga maupun Celia shock, keguguran? Jessica hamil? Sejak kapan? Sontak Celia langsung ambruk dan ditangkap dokter Pram. Sementara Yoga, tubuhnya bergetar, istrinya keguguran? Bagaimana mungkin? Jessica hamil dan keguguran? Yoga merenung, perasaannya hancur dia kehilangan anak yang bahkan tidak dia sadari kehadirannya.


“Pak Yoga, kami perlu melakukan tindakan secepatnya. Apakah pak Yoga bisa memberikan persetujuan tindakan kuret untuk ibu Jessica?” Dokter Sinta memecah renungan Yoga. Yoga tersadar dan mencoba berpikir logis, “saya akan tanda tangan, dok. Lakukan yang terbaik untuk istri saya.” Ucapnya sambil menandatangani dokumen yang telah di siapkan suster.


Jessica di pindahkan ke ruang operasi dan langsung mendapatkan penanganan. Sementara Yoga menunggu dengan mondar-mandir tidak tenang.


Celia sendiri seperti orang linglung duduk di kursi tunggu bersandar tembok. Sahabat terbaiknya kehilangan anak, bagaimana Celia bisa baik-baik saja? Dia tentu sedih. Andai Celia datang lebih cepat mungkin dia bisa merubah keadaan.


Drap.. Drap.. Rey dan Radit datang, bersama mereka juga datang pak Joko. Setelah dari kantor Yoga, pak Joko langsung menjemput Rey dari sekolah.

__ADS_1


Saat Rey akan menghampiri Yoga, Celia melambaikan tangannya menyuruh Rey untuk mendekat. Bocah SMP itu mendekat pada Celia dan langsung di rangkul Celia. Celia merangkul erat Rey sambil menangis. Jika bukan dalam keadaan begini Rey pasti akan berontak dan mengomel, namun melihat Celia yang begitu sedih Rey membiarkan saja sahabat kakaknya itu memeluknya.


Radit pun ikut menghampiri Celia dan Rey. Dia duduk di sebelah Rey, kini Celia diapit oleh Rey dan Radit.


“Huhuhuhu.” Celia terus menangis sambil memeluk Rey. Sementara Rey mulai sesak nafas karena pelukan Celia yang erat. Rey menatap Radit menghiba. Radit memahami apa maksud tatapan Rey. Lelaki itu tau apa yang Rey rasakan. Radit pun menarik punggung Celia, melingkarkan tangan kanannya di bahu Celia dan menarik tubuh gadis itu ke dalam dekapannya. Celia bingung siapa yang menarik tubuhnya karena dia tidak menyadari kehadiran Radit. Ia mendongak dan menatap Radit yang juga sedang menatapnya.


“Menangislah!” Di dekap erat tubuh Celia ke dalam dada bidangnya. Celia menurut, dia kehilangan akal pikirannya melupakan kenyataan Radit adalah pacar Yulia. Celia menyembunyikan wajahnya di dada bidang Radit dan terus menangis keras. “Huhuhuhu, Jessica huhuhu.” Tangisnya pecah tak terkendali.


Radit menepuk-nepuk punggung Celia dengan lembut sesekali kali ia menenangkan Celia dengan ucapan.


Hening, tidak ada lagi suara tangisan. Yang ada hanya suara nafas teratur. Celia ketiduran! Bisa-bisanya gadis itu ketiduran dalam dekapan Radit.


“Dia tidur?” Tanya Rey.


Radit menunduk menatap gadis yang masih berada dalam dekapannya, dilihatnya kemejanya basah karena air mata Celia.


“Sepertinya begitu.” Menjawab pertanyaan Rey. Radit sedikit melonggarkan dekapannya agar Celia merasa nyaman. “Kamu pindah kesana Rey!” Titah Radit agar Rey berpindah ke arah kursi panjang lain. Rey menurut saja, bocah itu bangkit dan berpindah kursi. Sementara Radit mengubah posisi Celia menjadi tidur di kursi. Kaki Celia ia angkat ke atas kursi sementara kepala gadis itu, Radit biarkan berbantal pahanya. Radit pun melepas jas kerjanya untuk menutupi bagian paha Celia yang terekspos karena gadis itu hanya memakai dress selutut.


Pintu ruang operasi terbuka. Dokter Sinta keluar yang langsung di sambut oleh Yoga dan Rey.


“Bagaimana istri saya, dok?”


“Bagaimana kakak saya, dok?” Baik Yoga maupun Rey saling melontarkan pertanyaan.


Dokter Sinta tersenyum paham akan kekhawatiran dua orang itu. “Kuret berjalan lancar, pak. Ibu Jessica baik-baik saja, dan akan segera di pindahkan ke ruang rawat inap.” Jawab dokter Sinta.


Yoga dan Rey bernafas lega. “Terimakasih, dok.” Ucap keduanya.


Keluarga besar Yoga datang kerumah sakit setelah mendengar kabar keguguran yang dialami Jessica. Nabila dan Adam datang bersama si kembar Akra dan Aksa.


“Kenapa bisa keguguran?” Nabila bertanya sembari menggenggam tangan Jessica. Jessica sendiri masih tidak sadarkan diri.


Yoga menjawab, “Yoga nggak tau kronologinya, mbak.”


“Gimana bisa enggak tau, kamu suaminya bukan?” Amarah Nabila terpancing kala Yoga menjawab dengan jawaban tidak bertanggung jawab menurutnya.


“Sabar sayang..” Adam menekan kedua bahu Nabila lembut. Lelaki itu selalu berada di dekat istrinya, mengantisipasi terjadinya ledakan amarah dari Nabila.


“Gimana aku bisa sabar, mas? Ini Jessi keguguran, lho. Dan, Yoga bilang enggak tau. Dimana tanggung jawabnya sebagai suami. Apa yang akan kita katakan nanti sama mbak Ayu dan pak Raka?” Nabila mengomeli Adam yang menyuruhnya bersabar.


“Iya, aku tau tapi sabar, yank. Yoga pasti masih shock, dia juga sedih. Kita kasih waktu buat Yoga, ya?”


Niatnya Adam ingin membujuk Nabila tapi gagal, istrinya malah semakin mengomel.


“Udah paling bener aku sarankan tinggal di rumah utama. Malah milih tinggal di apartemen, gini ni jadinya. Hamil nya aja kita enggak ngerti tiba-tiba udah keguguran.” Gerutu Nabila kesal.


“Siapa yang keguguran aunty?”


“Sayang?” Yoga langsung bisa mengenali suara lemah itu.


Jessica bertanya dengan lemah, sambil memandang Nabila menunggu jawaban Nabila. Sedang Nabila bingung harus menjawab Apa.


“Kamu sudah sadar, Jess? Mana yang sakit?” Nabila mengalihkan pembicaraan. Yoga mendekat dan berdiri di seberang Nabila. Di brankar sayap barat.

__ADS_1


“Jessi sedikit pusing, aunty.” Keluhnya.


“Pusing?”


“Panggil dokter, cepat!” Titah Adam pada si kembar yang sejak tadi duduk di sofa dengan tenang. Aksa berlari cepat mencari dokter.


“Sayang..” Yoga mengelus rambut Jessica lembut. Jessica memandang Yoga.


“Kamu kenapa, mas?” Tanya Jessi melihat raut wajah Yoga yang kacau. Mata sembab kemeja kusut.


“Enggak papa sayang, aku senang kamu sudah sadar.” Ucap Yoga berat sambil menahan tangis.


“Aku sakit keras ya?” Tatapan Jessi beralih pada Nabila yang sudah meneteskan air mata. Melihat wajah sendu Nabila dan Yoga membuat Jessi ikut bersedih.


“Kamu keguguran, sayang.” Yoga memberanikan diri mengucapkan kalimat duka pada Jessi.


“Keguguran?” Yoga menganggukan kepalanya.


“Nggak papa sayang. Kamu masih sangat muda, masih banyak kesempatan untuk memiliki anak lagi.” Kata-kata yang Nabila kira akan menenangkan Jessica justru membuat Jessi merasa kacau.


“Nggak, nggak mungkin.” Teriak Jessi menjeda ucapannya, “nggak mungkin Jessi keguguran. Ini nggak mungkin.” Jessi menangis histeris.


“Sayang, kamu harus tenang sayang.” Yoga menunduk mendekatkan dirinya pada Jessi yang masih terbaring lemah.


“Ini nggak mungkin, ini pasti karena kamu, mas! Kamu jahat.” Jessi menunjuk-nunjuk Yoga dengan berapi-api.


“Ini pasti karena kamu, pergi kamu, mas. Pembunuh!” Astaga apa yang Jessi katakan.


“Sayang aku minta maaf. Ini salahku.” Yoga tidak bisa menahan lagi air matanya yang sudah menggenang di pelupuk. Semuanya pecah kala mendengar tudingan Jessi, “ini salahku sayang, maafkan aku. Maafkan aku.”


Jessica menggelengkan kepalanya, “kamu jahat, mas. Kamu membunuh anakku, anakku yang bahkan aku tidak tau kehadirannya. Kamu jahat, jahat.” Jessi semakin menjadi.


“Tenang Jessi, tenang sayang.” Nabila mencoba menenangkan Jessi. Dia merasa kasihan pada Yoga.


“Usir dia aunty, dia penjahat aunty.” Pinta Jessi pada Nabila untuk mengusir Yoga.


Yoga menggelengkan kepalanya pada Nabila, dia tidak mau meninggalkan Jessi barang sedetik pun. “Jangan aunty.” Pintanya menghiba.


“Usir dia aunty!” Teriak Jessi sekuat tenaga.


“Yoga, maafkan mbak.” Nabila memandang Yoga, perasannya serba salah. Namun, saat ini Jessi lebih penting. “Kamu keluar dulu, ya.” Ucapnya lembut pada Yoga.


“Nggak, mbak. Aku nggak mau keluar! Aku mau disini, Jessi butuh aku, mbak.” Yoga memelas.


“Siapa yang butuh kamu? Aku nggak butuh kamu. Pergi kamu! Usir dia aunty,” emosi Jessi sedang tidak stabil Nabila bisa memahaminya, namun Yoga tidak. Hatinya sakit kehilangan anak kini istrinya membencinya, dia bersikeras untuk tetep berada disisi Jessi.


“Aunty...” geram Jessi saat Yoga tak kunjung angkat kaki.


“Yoga, mbak mohon kamu pergi dulu.” Nabila berharap Yoga mau menurutinya.


“Ayo kita keluar dulu, Ga.” Adam mendekati Yoga dan memegang bahunya.


“Tapi, mas.”

__ADS_1


“Jessi butuh waktu, Ga.” Adam berucap dengan tenang namun mampu meyakinkan Yoga. Dia pun menganggukan kepalanya.


“Aku akan menunggu di luar sayang,” pamitnya pada Jessi yang melengos. “Aku tinggal dulu, mbak.” Nabila pun menganggukan kepalanya.


__ADS_2