
“Kalau perasaan kamu ke saya, kamu maunya gimana?” Sambil mengusap air mata Jessi dengan ibu jarinya. Sementara tangan Yoga yang lain masih merengkuh pinggang Jessi.
Jessica?Masih sama mendongak menatap Yoga dengan intens sambil kedua tangannya memegangi kemeja Yoga
“Apa Jessi harus jawab?Padahal kak Yoga sudah tau apa mau Jessi.” Jessica melepas tangan Yoga dari pinggangnya, dia mundur dua langkah dari Yoga. Jarak mereka kurang lebih lima puluh centi menter saling berhadapan.
“Kak Yoga sebenarnya tau, kan, sikap Jessi selama ini gimana ke kakak? Kak Yoga juga sudah cukup dewasa untuk memahami arti dari sikap Jessi ke kakak. Selama ini kak Yoga mengabaikan Jessi, menolak peka sama perasaan Jessi ke kakak, Jessi tau semua itu, kak. Kak Yoga melakukan itu semua karena mengira perasaan Jessi hanya perasaan kekanak-kanakan yang hanya bisa bertahan sementara lalu pudar dengan seiring waktu. Iya, kan? Itu yang kakak pikirkan tentang Jessi, kan?” Ucap Jessi menjeda ucapannya lalu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan.
“Jessi bisa memahami semua perlakuan kak Yoga ke jesssi. Tapi, kak, semua yang Jessi lakukan itu bukan hanya perasaan sementara, bukan sekadar main-main ataupun rasa penasaran Jessi sama kakak, bukan! Jessi mencoba dekat ke kakak, Jessi menggoda kakak, Jessi merecoki kakak, Jessi mengikuti kakak, semua yang Jessi lakukan untuk menggoyahkan hati kakak. Jessi berharap kak Yoga bisa melihat setidaknya ketulusan dari perasaan Jessi. Jessi sayang sama kak Yoga, Jessi cinta sama kak Yoga.” Ucap Jessi tenang namun nampak serius.
Jessica menggigit bibir bawahnya pelan. Ia sudah mengungkap semuanya, dan tidak mungkin menarik ucapannya. Jika, ini akhir kebesamaanya dengan Yoga, Jessi akan ikhlas. Jika, Yoga berbalik membencinya, Jessi akan ikhlas. Toh, sudah terlanjur mengaku. Lebih baik maju terus dari pada kalah sebelum perang. Anggap saja begitu perumpamaannya.
“Kak?” Panggil Jessi pada Yoga yang hanya menatapnya dengan tatapan tidak bisa di artikan. “Maaf, kak.” Lirih Jessi menunduk.
“Maaf, kak. Maaf sudah lancang mencintai, kakak.” Ucap Jessi semakin menggigit bibir bawahnya. Jessi ingin menangis tapi ia tahan.
Grep.. Dengan satu gerakan Yoga menarik Jessi ke dalam pelukannya.
“Kenapa minta maaf, Hm?”
“Jes-Jessi salah, Jessi nggak mau kakak benci Jessi. Maafin Jessi, kak.”
Yoga mengelus-elus kepala Jessi. “Kamu nggak salah, Jess. Saya yang salah disini, saya egois.” Ucap Yoga. Jessica menggeleng-gelengkan kepalanya di pelukan Yoga. Gadis itu membalas erat pelukan Yoga.
“Kakak nggak egois, kak Yoga nggak salah.”
“Salah Jessi, saya sudah membiarkan kamu mengucapkan dialog yang seharusnya saya ucapkan lebih dulu. Saya jelas salah!” Tegas Yoga.
“Maksud kakak apa?” Mendongak menatap Yoga.
“Mengucapkan cinta itu harusnya dilakukan seorang lelaki lebih dulu, tapi, kamu mengambil kesempatan saya. Saya salah karna terlalu lama menyadari perasaan saya ke kamu sampai-sampai saya kalah start dari kamu.” Ungkap Yoga membuat Jessi bingung.
“Jessi nggak ngerti maksud kak Yoga.” Duh, Jessica, dimana otak smart kamu itu?Masa begitu saja tidak bisa memahami.
“Saya cinta sama kamu, Jess. Saya sayang sama kamu. Saya tidak tau sejak kapan rasa ini muncul, saya selalu memikirkan kamu, Jess. Bahkan, selama dua minggu ini hari-hari saya terasa hampa tanpa kamu recoki. Bayangan kamu juga selalu menggangu saya.” Tutur Yoga lembut.
“Oh My God. Apa ini mimpi?” Gumam Jessi.
Yoga tersenyum, bisa-bisanya Jessica bergumam apa yang Yoga ucapkan adalah mimpi. Sementara saat ini Jessi masih berada di pelukan Yoga.
“Ini bukan mimpi, sayang! Ini nyata, saya memang cinta sama kamu.” Mendekap Jessi semakin erat. Jessi berontak melepaskan pelukan Yoga.
Mundur satu langkah saat Yoga melepaskan Jessi. “Serius, serius, kak Yoga juga cinta sama Jessi?” Tanya Jessi. Yoga menganggukkan kepalanya.
“Coba kakak ulang, Jessi nggak denger tadi.” Pinta Jessi ingin memastikan sekali lagi ungkapan cinta dari Yoga.
__ADS_1
“Dengar baik-baik, tidak akan ada siaran ulang lagi!” Jessi mengangguk.
“Saya cinta sama kamu, Jess. Saya sayang sama kamu.” Menatap Jessi sejenak. Lalu tersenyum hangat pada gadis di hadapanya.
“Jessica Rahardian Pratama, maukan kamu menjadi pacar saya?Saya memang sudah berumur namun saya tidak kalah tampan dengan pria-pria seumuran kamu. Kamu tidak akan menyesal menjadi pacar saya.”
“Mau, mau, mau. Mana mungkin Jessi nggak mau padahal ini yang Jessi tunggu-tunggu. Kak Yoga membalas perasan Jessi.” Ucap Jessica sambil berjingkrak-jingkrak. Gadis itu begitu bahagia mendapatkan ungkapan cinta dari sang pujaan hati.
“Jadi?”
“Jadi, ini hari pertama kita jadian, kak. Catat di buku besar! Ini hari yang penting.”
Fyuh.. Yoga bisa bernafas lega. Ternyata mengungkapkan cinta tidak sesulit yang dia bayangkan. Yoga justru merasa bahagia seakan ada beban yang terlepas dari dirinya.
“Kak Yoga dengerin Jessi, kan?”
“Iya, sayang. Catat hari ini di buku besar sebagai hari penting.”
O..Em..ji, Gue nggak salah dengar, kan?Kak Yoga udah dua kali panggil gue sayang. Meleleh melebur sudah Jessi di panggil Yoga sayang.
“Peluk..” manja Jessi pada Yoga. Tak perlu lama, Yoga kembali menarik Jessi ke dalam pelukannya. Ia juga langsung menghujani Jessi dengan banyak ciuman. Entah sudah berapa kali adegan peluk, lepas, peluk, lepas yang Yoga dan Jessi lakukan, intinya kedua nya sedang sama-sama bahagia.
***
“Dari mana kamu?” Hardik Jordan pada Jessi yang baru saja sampai di rumah. Sekarang sudah pukul dua puluh satu, saat Jessi masuk kedalam rumah sambil senyum-senyum sendiri.
“Kamu kesambet, pulang-pulang senyam-senyum.”
“Sembarang, Jessi lagi bahagia tauk.” Sewot Jessi dikatai kesambet oleh Jordan.
“Bahagia ya bahagia, biasa aja. Nggak usah kayak orang kesurupan. Sudah mandi sana!”
“Iya,, iya.” Jessi cemberut lalu meninggalkan Jordan menuju kamarnya.
Sampai di kamar Jessi melihat Salsa dan Celia sedang menonton drama korea, ada Rey juga bersama mereka. Tak lupa satu toples camilan dan jus menemani mereka.
“Ehem..” dehem Jessi. Ketiganya menoleh pada Jessi sekilas lalu kembali menatap layar besar yang mereka gunakan untuk menonton drama Korea.
“Ehemmmmmm!” Kembali Jessica berdehem mencari perhatian pada ketiga orang yang sedang berada di kamarnya itu.
“Kak, kak, ada suara tapi nggak ada orang, kak.” Ucap Rey melirik Salsa dan Celia.
“Iya, Rey. Kakak jadi merinding.” Balas Celia.
Sialan, emang mereka kira gue jin.
__ADS_1
“Ini gue woy!” Teriak Jessi.
“Hiii, serem Rey. Kakak juga dengar suara nya.” Timpal Salsa.
Wah, bener-bener ni!
Jessi yang kesal pun berjalan ke arah layar led itu dan matikan layar itu. Ia berkacak pinggang di hadapan kedua sahabat dan adik bungsunya. “Ini gue woy, kalian nganggep gue jin! Emang ada jin secantik gue? Nggak ada, halu kalian! Kenapa sih, gue buat salah apa ke kalian? Sampai gue yang secantik princess ini kalian anggap jin??”
“Oh.. kak Jessi, Rey kira jin. Habis kakak datang dan pergi sesuka kakak. Kayak Jailangku*g aja.” Cibir Rey yang langsung diangguki oleh Salsa dan Celia.
“Kapan?Kapan gue datang dan pergi kayak jailangku*g?”
“Tadi di resto pamit ke toilet tiba-tiba ilang, eh tau-tau muncul di kamar!” Saut Salsa.
“Betul.” Celia menimpali.
“Oh, masalah tadi. Sorry, guys! Gue tadi diculik pacar.” Ucap Jessi senyum-senyum sendiri lalu duduk di sofa.
Rey, Salsa, Celia langsung melotot menatap Jessi dengan tatapan meminta penjelasan dari apa yang Jessi ucapkan.
“Gue udah jadian sama kak Yoga.”
“Halu.” Cibir Rey.
Salsa berdiri dari karpet bulu yang ia duduki kemudian mendekati Jessica dan menyentuh kening Jessica.
“Panas?” Tanya Celia. Salsa menggelengkan kepalanya.
“Enggak panas, lo nggak lagi sakit kok Jess.” Kata Salsa setelah memeriksa kening Jessi.
“Gue nggak lagi sakit dan nggak lagi halu. Gue emang udah jadian sama kak Yoga!” Tegas Jessi.
“Ya..ya.. ya, anggaplah begitu. Sekarang kamu mending mandi dulu, badan kamu bau!” Jordan ikut menimbrung, entah kapan datangnya lelaki itu sudah berdiri di pintu kamar Jessi.
“Tapi, kak..”
“Mandi!!” Seru Jordan tidak menerima penolakan.
“Iyaa..” berjalan lunglai menuju kamar mandi.
Kenapa nggak ada yang percaya?Padahal Jessi beneran jadian sama kak Yoga. Batin Jessica.
.
.
__ADS_1
.