Pengacara Tampanku

Pengacara Tampanku
Menjauh


__ADS_3

“Kenapa kau menangis?” Jordan baru saja masuk kedalam ruangan Jessi dirawat, ia mendapati adiknya sedang menangis sesenggukan. “Mana yang sakit?” Buru-buru melangkah menghampiri Jessi.


Jessi mendongak dan merentangkan tangannya isyarat agar Jordan memeluknya. Jordan sigap menundukan tubuhnya memeluk Jessica dengan erat, Jessica mendusel di dada Jordan, sedang Jordan mengelus-elus lembut punggung Jessi. “Kenapa,hm?Apa sakit sekali?” Mengira adiknya tidak bisa menahan sakit di tubuhnya. Jessi menggeleng. “Lalu?”


“Kak Yoga.”


“Kenapa kak Yoga?”


“Kak Yoga tidak menyukai Jessi.” Tangisnya yang sudah surut kembali pecah. Ingus Jessi pun mengenai seragam sekolah Jordan. “Kak Yoga bilang Jessi pacaran sama Rio nggak papa, berarti kak Yoga nggak suka Jessi hiks hiks.”


Selama ini Jessi tidak pernah menangis dengan perlakuan Yoga yang dingin. Namun, mendengar Yoga tidak masalah Jessi pacaran dengan orang lain membuat Jessi sedih.


“Sudahlah, mungkin memang kak Yoga bukan untukmu.” Membujuk sambil mengelus kepala Jessica.


Jessica menggelengkan kepalanya. “Tapi, Jessi sayang sama kak Yoga. Nggak mau laki-laki lain.” Ucap Jessi.


“Jess, perasaan itu tidak bisa dipaksakan. Seberapa keras kamu mencoba jika dia tidak menyukaimu semua perjuanganmu hanya akan sia-sia.” Tutur Jordan lembut.


“Tapi, kak..”


“Sudahlah! Fokus pada kesehatanmu dulu, dengarkan kakak kali ini saja!!Kamu bisa, kan?”


Jessi pun mengangguk. Mungkin benar apa yang dikatakan Jordan, memperjuangkan seseorang yang tidak menyukai nya balik hanya sia-sia. Jessica terus berpikir di pelukan Jordan. Menelaah ucapan Jordan dengan serius.


Ceklek.. Seseorang membuka pintu. Jessi melepaskan diri dari pelukan Jordan dan menoleh. Jordan juga ikut menoleh, melihat siapa yang membuka pintu.


“Jess, lo nangis?” Salsa menghampiri Jessica. Jessica buru-buru mengusap air mata di pipinya dengan jari jemarinya.


“Kenapa nangis, sakit banged ya?” Saut Celia yang langsung menyusul Salsa mendekati Jessica. Kedua sahabat dekat Jessi itu baru pulang sekolah, mereka langsung menuju rumah sakit untuk menjenguk Jessi. Bahkan, masih dengan seragam sekolah.


“Aku nangis karena kangen mommy, kok. Bukan karena sakit, lagian cuman tifus. Habis di infus juga sembuh.” Jawab Jessi sambil tersenyum.


“Kak Jordan nggak kasih tau mommy Ayu, Jessi sakit?” Salsa menoleh ke arah Jordan. Laki-laki itu menggelengkan kepalanya.


“Jessi bilang nggak perlu, Jessi nggak mau membuat mommy dan Daddy khawatir.” Jawab Jordan.


“Selain kangen sama mommy Ayu, lo mau apa?Gue cariin.” Ucap Celia.


“Mau kak Yoga.” Jawab Jessi.


“Yah, kalau itu sulit.” Gumam Celia lirih yang merasa tidak bisa memenuhi permintaan Jessi.


“Haha, bercanda, Cel. Gue mau makan buah, kupasin.” Perintahnya pada Celia.

__ADS_1


“Kalau itu gue bisa.” Celia membalik tubuhnya berjalan menuju sofa untuk meletakan tas sekolahnya. Kemudian ia kembali mendekati Jessi mengambil buah jeruk di nakas dan mengupasnya, lalu memberikannya pada Jessi.


Jordan dan Salsa mendudukan diri mereka di sofa sambil mengobrol. Sedang Celia yang duduk di sebelah brankar.


***


“Kamu dari mana Rey?” Tanya Jordan saat Rey dan Yoga masuk ke dalam kamar. Rey membawa termos mini berisi teh hangat dan roti tawar.


“Dari kantin rumah sakit, kak.”


“Dia sudah makan?” Tanya Yoga melihat Jessi sudah terlelap. Rey dan Yoga pergi cukup lama sampai-sampi Jessi sudah tidur saat mereka kembali.


“Baru saja, kak. Habis minum obat.” Jawab Jordan. Yoga manggut-manggut.


“Kalian sudah lama?” Pandangan mata Yoga beralih pada Salsa dan Celia.


“Lumayan, kak. Kakak sejak kapan disini?” Tanya balik Salsa.


“Tadi, pas jam makan siang. Karena kalian disini, saya akan kembali ke kantor.” Ucap Yoga yang diangguki oleh semua orang di ruangan itu. Yoga langsung kembali ke kantor setelahnya.


Beberapa hari kemudian Jessi sudah pulang dari rumah sakit, namun masih harus istirahat di rumah. Yoga selalu menjenguk Jessi setiap hari, namun Jessi selalu saja pura-pura tidur saat Yoga datang. Alhasil Yoga hanya bisa mengobrol dengan Rey ataupun Jordan yang kala itu sedang berjaga.


Selama istirahat di rumah Jessi tetap sekolah. Jessi terpaksa mengambil kelas dirumah dengan mendatangkan guru karena tidak mau tertinggal pelajaran. Kadang Salsa dan Celia membolos dan ikut Jessi belajar di rumah. Salsa dan Celia juga sering menginap di rumah Jessi. Jordan pun pulang kerumah setiap hari selama Jessi masih dalam masa pemulihan. Begitu juga Rey yang memilih libur les untuk menemani Jessi agar tidak kesepian.


Jordan dan Rey menatap tajam Jessi. “Jangan ngaco kamu, Jess!” Tegur Jordan.


“Tapi, beneran, kak. Jessi suka, saat Jessi sakit kakak sama Rey jadi nggak sibuk. Kalian selalu menemani Jessi.” Ucap nya lagi.


“Mulai sekarang Rey akan selalu menemani kakak, Rey nggak akan sibuk-sibuk lagi.” Rey merangkak naik keatas tempat tidur dan memeluk Jessi.


“Kakak jangan sakit lagi!”


“Yakin kamu nggak sibuk-sibuk lagi, game kamu gimana?” Jessi tidak percaya Rey bisa mengesampingkan game nya hanya demi menemani Jessi.


“Memang game lebih penting dari Kakak?Tidak lah, kakak yang terpenting setelah mommy dan Daddy.” Jawab Rey serius.


“Kecil-kecil sudah pintar membual.” Cibir Jordan.


Rey sudah tau Jessi sedang dalam mode menjauh dari Yoga atau mengabaikan Yoga. Maka dari itu Rey akan selalu menemani Jessi agar Jessi tidak selalu kepikiran Yoga.


“Terimakasih ya kalian.” Ucap Jessi memandangi Rey yang masih di dekatnya dan beralih memandang Jordan.


“Karena kita keluarga.” Jordan mendekat duduk di tepi tempat dan mengusap kepala Jessi.

__ADS_1


***


Setelah beristirahat di rumah selama beberapa hari Jessi akhirnya bisa kembali sekolah. Ia juga akan kembali bekerja part time hari ini.


Usai kelas selesai Jessi langsung menuju rumah sahabat Rey untuk mengajar les bahasa Korea. Selama dua jam Jessi mengajar bahasa Korea. Setelah selesai mengajar les bahasa Korea Jessi pergi ke cafe untuk kerja part time.


Sampai di cafe Jessi di sambut oleh Rio. Rio sudah menunggu-nunggu kedatangan Jessi. Kakak kelas Jessi itu juga sering menelpon Jessi hanya untuk menanyakan perkembangan kesehatan Jessica.


“Maaf ya kak, Jessi izin nya lama.” Ucapnya pada Rio merasa tidak enak. Jessi sedang berada di ruang kerja Rio. Gadis itu sengaja menemui Rio secara langsung untuk minta maaf karena terlalu lama izin.


“Nggak papa, lagi pula kamu izin karena sakit, Jess. Semua orang pasti maklum.” Maksud Rio karyawan yang lain pun akan memaklumi izinya Jessi.


“Kalau begitu Jessi langsung ke dapur, kak. Sepertinya sudah ramai.” Ucap Jessi lagi dan Rio menganggukkan kepalanya.


Karyawan yang lain juga tau Jessi baru saja sembuh dari sakit. Mereka sengaja memberi Jessi pekerjaan yang ringan-ringan.


Pukul dua puluh satu malam, Jessi selesai bekerja. Sudah ada Jordan yang menunggu Jessi. Jordan belum memperbolehkan Jessi menyetir sendiri. Ia rela mengantar jemput Jessi kemanapun.


Sampai dirumah Jessi langsung membersihkan diri dan istirahat. Kebetulan Jessi sudah makan malam dengan jatah makannya di cafe. Ia tidak perlu makan malam lagi saat sampai dirumah.


Seharian ini Jessi tidak menghubungi Yoga. Kemarin Jessi juga tidak menghubungi Yoga entah itu dalam bentuk pesan teks ataupun panggilan telepon. Jessi sengaja memberi jeda untuk tidak terlalu mengejar Yoga.


Jika sekarang Jessi tidur pulas berbeda dengan Yoga. Yoga sedang duduk selonjor di atas tempat tidur sambil bersedekap di dada memikirkan sesuatu. Lelaki itu juga sudah dua hari insomnia. Ada sesuatu yang kurang lengkap di dalam kehidupannya. Tapi, apa?Yoga masih beraktivitas seperti biasanya, apa yang membuat Yoga insomnia. Bahkan, saat ada banyak kasus yang perlu ia tangani saja ia masih bisa tidur nyenyak. Lalu apa yang menggangu jam tidur nya?


Hanya satu yang hilang selama dua hari ini, yaitu pesan teks dan telepon dari Jessi. Gadis pengacau yang setiap hari selalu membombardir ponsel Yoga dengan pesan tidak jelas itu tidak lagi mengiriminya pesan. Gadis yang sering missed call itu selama dua hari menghilang. Jessi juga tidak main ke kantor Yoga lagi. Padahal Yoga seakan menunggu-nunggu pesan dan telepon dari Jessi selama dua hari ini.


Yoga sesekali melirik layar ponselnya yang berada di nakas. Berharap ada pesan masuk dari Jessi atau sekedar missed call juga tidak papa.


“Kemana bocah itu?Apa dia sakit lagi?” Gumam Yoga. “Kenapa dia tidak mengacau lagi?Apa setelah sakit dia tidak menyukaiku lagi?hah, mana mungkin?Dia saja kelihatan cinta mati padaku?Atau dia benar-benar memiliki pacar dan membuang ku?” Tidak..tidak, tidak mungkin dia punya pacar. Dia bilang aku calon suaminya, lagi pula di bandingkan bocah mata sipit itu aku lebih tampan dan lebih mapan. Tidak mungkin Jessi memilih dia dan membuang ku.”


Yoga memikirkan berbagai macam alasan Jessi yang seakan menjauh darinya.


‘Jika kau merindukannya, telepon saja dia.’ Bisik Yoga versi baik.


‘Jangan!!Ingat, gengsi menelepon lebih dulu.’ Bisik Yoga versi iblis.


Yoga geleng-geleng kepala, ia yang awalnya akan mengambil ponsel di nakas mengurungkan niatnya. “Lebih baik aku tidur.” Membaringkan diri dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2