Pengacara Tampanku

Pengacara Tampanku
Kedatangan Rey


__ADS_3

Yoga menuju sofa, ia melepas jas nya dan melampirkannya di kursi sofa. Ia juga membuka dua kancing bagian atas kemejanya dan menggulung lengan kemejanya hingga siku.


Semua yang dilakukan Yoga tak luput dari pandangan Jessi. Gadis itu memperhatikan Yoga hingga lupa memakan irisan buah pepaya yang sedang ia pegang. Saat Yoga menatap kearahnya Jessi buru-buru mengalihkan pandangannya dan memakan pepaya nya.


Dasar Bocil, dia kira gue nggak bakalan tau dia mandangin gue tadi.


Yoga berdiri lalu menghampiri Jessi. Ia duduk di kursi yang berada di sebelah Jessi.


“Kak, Jessi itu punya saudara nggak sih?” Keluh Jessi dengan mulut mengunyah buah pepaya.


Yoga mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Jessi. “Ada Jordan sama Rey, kan?Pertanyaan yang sudah jelas jawabannya.”


“Terus sekarang mereka dimana?Nggak ada sini padahal Jessi sakit.” Cebik Jessi kesal pada dua saudara kandungnya.


“Rey masih di jalan dari les, Jordan nggak bisa dihubungi. Saya tanya guru kelasnya Jordan ada acara di luar kota sama teman sekelasnya.” Jawab Yoga.


“Tetap aja mereka kayak nggak peduli sama Jessi.” Gerutu Jessi.


Ceklek.. pintu ruangan dibuka dari luar. Jessi dan Yoga serentak menoleh ke arah pintu. Bocah laki-laki masih dengan seragam sekolahnya masuk ke ruangan itu. Bocah itu melangkah dengan santainya masuk ke ruangan Jessi.


“Baru pulang Rey?” Tanya Yoga basa-basi sambil berdiri. Padahal sudah tau dan sudah jelas jawabannya. Rey hanya mengangguk.


“Kakak kok bisa sakit sih?Kenapa nggak kerumah sakit Daddy aja?” Gerutu Rey.


“Lah kakak mana tau pihak sekolah bawa kakak kesini, lagi pula rumah sakit ini paling dekat sama sekolah kakak. Kamu juga kenapa baru datang?Lebih penting les kamu dari pada kakak?” Cebik Jessi.


“Iya maaf, Rey tadi mau kesini langsung pas kak Salsa ngabarin, tapi kata Kak Salsa nggak usah. Suruh les aja, ada kak Salsa sama kak Celia yang jagain kakak.” Ucap Rey naik ke atas brankar dan duduk di tepinya.


“Kiraan nggak peduli.”


“Mana mungkin, kak Jordan mana?”


“Nggak bisa dihubungi Rey.” Jawab Yoga.


“Jadi, kak Jordan nggak tau kakak dirawat?” Tanya Rey. Yoga mengangguk. “Wah payah,”


“Kamu mandi sana Rey, bawa baju ganti, kan?” Tanya Jessi.


“Bawa kok kak.” Rey turun dari brankar langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Yoga sengaja memilih ruangan rawat inap yang di dalamnya tersedia dua tempat tidur Satu untuk tempat tidur pasien dan satu bed untuk keluarga yang menunggu pasien. Yoga berpikir Rey pasti menginap dan tebakan Yoga jelas tepat.

__ADS_1


Meskipun masih memakai seragam sekolah nya, Rey terlihat menenteng paper bag yang kemungkinan berisi baju ganti dan perlengkapan sekolah Rey besok pagi.


“Kak Jessi lapar.”


“Kamu nggak di kasih makan sama pihak rumah sakit?” Jessi menggeleng. “Serius nggak dikasih makan?”


Bercanda Bambang. Mana mungkin pihak rumah sakit nggak kasih makan.


“Di kasih tapi nggak enak, Jessi nggak makan.” Jawab Jessi jujur.


“Terus obat kamu belum kamu minum?” Yoga melipat kedua tangannya di depan dada.


Jessi menangguk. “Belum.”


“Astaga Jessi, kamu itu lagi sakit masih saja nakal.” Yoga geleng-geleng kepala. Pandangan Yoga melirik kearah nakas sebelah brankar Jessi. Disana ada tempat makan khas rumah sakit. Sepertinya itu jatah makan untuk jessi dari pihak rumah sakit. Dan Jessi hanya nyengir.


“Nggak enak kak makanan dari rumah sakit. Jessi mau makan mcd.” Pinta Jessi ingin ayam goreng mcd.


“Nggak ada mcd, mcd an. Kamu makan sekarang!” Yoga mengambil kotak makan itu dan membukanya. Ia kembali di duduk di sebelah Jessi.


“Nggak mau, kak.” Jessi menggelengkan kepalanya.


“Mau harus mau, saya suapi!” Tangan kanan Yoga menyentuh sendok dan menyendok nasi serta lauk, ia arahkan sendok itu ke dalam mulut Jessi. “Buka mulut kamu, aaa!”


“Kenapa nangis?” Tanya Yoga kaget. Ia buru-buru meletakan tempat makan itu kembali ke nakas lalu berdiri dan mengusap air mata Jessi dengan ibu jarinya. “Kenapa nangis, hem?” Ulang Yoga lembut.


“Nggak enak, kak. Hiks hiks.”


Apa sebegitu tidak enaknya? Yoga merasa tidak tega. Ia mengelus-elus rambut Jessi.


“Ya sudah saya carikan makanan lain, tapi bukan mcd ya.” Yoga akan mencari makanan sehat lain yang bisa Jessi makan.


“Kenapa kak Jessi nangis?Kak Yoga jahatin kak Jessi?” Rey yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung menghampiri Jessi ketika melihat Jessi menangis. Bocah itu juga melotot pada Yoga.


“Bukan salah kak Yoga.” Sambil terisak Jessi geleng-geleng kepala.


“Lalu, apa sakit sekali?” Tanya Rey menggenggam tangan Jessi. Rey terlihat khawatir pada Jessi.


“Kakak kamu tidak mau makan makanan dari rumah sakit, maunya ayam goreng mcd.” Ucap Yoga. Jessi menganggukkan kepalanya.


“Cuma gara-gara itu?” Lagi-lagi Jessi mengangguk. “Ya sudah, Rey suruh koki masak yang biasa mommy masakan saat Kak Jessi sakit ya?!” Menawarkan ide bagus. Rey juga tidak setuju Jessi makan mcd saat ini.

__ADS_1


“Nah itu bagus, sudah jelas terjamin gizi dan segalanya.” Yoga setuju.


“Bubur saja.” Lirih Jessi. Rey mengangguk.


Rey mengambil ponselnya di dalam tas lalu menghubungi koki untuk membuatkan bubur dan mengirimnya ke rumah sakit.


“Sudah jangan nangis lagi!” Mengelus-elus rambut Jessi lembut.


Kenapa gue jadi perhatian banged sama ni Bocil?Tadi gue juga panik banged saat dengar dia sakit, sebenarnya gue kenapa?


Yoga masih bertanya-tanya pada perasaannya. Selama seminggu terakhir bayangan Jessi memang menggangu pikirannya. Yoga sudah mempunyai beberapa dugaan tentang perasaan nya pada gadis pengacau itu, ia juga akan memastikan lagi perasaannya pada gadis itu.


Waktu sudah menunjukan pukul 21:00. Yoga masih bermain game dengan Rey, sementara Jessi di abaikan oleh kedua laki-laki itu.


“Rey, kamu nggak pulang?Sudah malam.” Niatnya Jessi ingin mengusir Rey agar dia bisa berduaan dengan Yoga.


“Rey menginap disini lah, mana mungkin Rey pulang. Kakak sakit, Rey harus menjaga kakak, apalagi kak Jo tidak ada.” Jawab Rey tanpa menoleh pada Jessi. Ia fokus pada ponselnya.


Yah, gagal beduaan.


“Kakak tidur saja, Rey sama kak Yoga bakalan jagain Kakak.” Ucap Rey lagi.


“Iya, kamu istirahat. Biar cepet sembuh.” Yoga menimpali. Sama seperti Rey, lelaki itu berucap tanpa menatap Jessi.


Cih, natap gue kek kalau lagi ngomong. Emang ponsel lebih berharga daripada gue?


Kesal Jessi pada kedua lelaki beda usia yang saat ini sedang menjaganya. Namun bukan menjaga dengan benar malah bermain game.


“Istirahat Jess!” Ulang Yoga karena Jessi tak kunjung berbaring. Gadis itu masih terduduk tegap.


“Iya, iya.” Jessi membaringkan tubuhnya lalu menarik selimut hingga menutupi bagian dadanya.


“Selamat malam.”


“Hem.” Jawab Yoga dan Rey.


.


.


.

__ADS_1


Done dua bab hari ini..


__ADS_2