Pengacara Tampanku

Pengacara Tampanku
Kecupan II


__ADS_3

Jessi turun dari mobilnya dengan langkah gontai. Lelah.. satu kata yang bisa mendeskripsikan perasaannya saat ini. Kerja part time nya hari ini melelahkan setelah menemani Rio mencari barang-barang untuk spot baru cafe, Jessi melanjutkan pekerjaan ya sebagai waitress. Apes nya salah satu karyawan cafe iri pada Jessi yang bisa pergi dengan Rio, karyawan yang iri itu melimpahkan banyak pekerjaan pada Jessi hingga ia tak bisa istirahat sama sekali.


“Dinginnya.” Merasakan hawa dingin yang menusuk saat ia turun dari mobilnya. Jessi langsung berlali masuk ke dalam rumah. Salah sendiri Jessi memarkir mobilnya sembarangan tidak langsung ke garasi jadinya kedinginan.


Sampai di dalam rumah Jessi melihat Jordan dan Rey sedang menonton televisi di ruang keluarga. Jessi tersenyum melihat kedua saudara kandungnya itu mengobrol.


“Rey, tolong bilang ke bibi buatkan kakak jahe susu anget. Kakak mau mandi sebentar!” Sambil berlari ke kamarnya.


“Sana Rey!” Jordan mengangguk lalu menunjuk arah dapur.


Rey menggerutu namun tetap menjalankan perintah Jessi. Dengan malas Rei pergi ke dapur.


Rey kembali ke ruang keluarga dengan membawa secangkir jahe susu anget reques Jessi juga roti bakar isi kacang.


“Buat kakak?” Jordan hendak mengambil roti bakar di piring itu namun tangannya di tepis oleh Rey.


“Buat kak Jessi.”


Tak lama kemudian Jessi turun dan bergabung dengan Jordan dan Rei, Jessi hanya mandi bebek secepat kilat. Jessi mengenakan piyama tidurnya bermotif keropi.


“Mana jahe susu ku?” Rei menunjuk meja.


“Makasih adik ku sayang.” Merangkul tubuh Rey.


“Lepasin, kak. Rey sudah besar.” Melepaskan diri dari rengkuhan Jessi.


“Capek banged kayaknya?” Tanya Jordan.


“Banged, kak.” Sambil memakan roti bakar yang di siapkan Rey. “Kalian udah makan belum?”


Jordan dan Rey menggeleng. “Nunggu kamu.” Serentak keduanya.


“Ya udah ayok makan!” Ajak Jessi seraya berdiri.


“Jahe susu dan roti bakarmu?”


“Nanti saja. Makan nasi dulu, ayok!” Berjalan menuju ruang makan.


Jordan dan Rey mengikuti Jessi ke ruang makan. Ketiganya makan malam bersama.


Keesokan paginya Jessi, Jordan dan Rey sudah siap berangkat sekolah dengan seragam dan tas masing-masing. Rey berangkat lebih dulu dengan sopirnya. Di ikuti oleh Jessi yang langsung masuk kedalam mobilnya. Namun, Jordan malah ikut masuk ke mobil Jessi dan duduk di sebalah kemudi.


“Mau apa kau?” Hardik Jessi.


“Nebeng, sekolahmu, kan, melewati sekolahku.” Jawab Jordan santai.


“Mobil mu kenapa?”


“Tidak kenapa-napa, malas saja.”


Jessi mendengus kesal lalu menjalakan mesin mobilnya. Jessi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


***


Seperti kemarin Jessi pulang sekolah menuju kantor Yoga karena dua sahabatnya les, dan teman-teman Rey masih mengambil libur. Jessi pergi ke kantor Yoga tanpa mengabari dulu karna memang ia tidak pernah mengabari Yoga saat akan menemui Yoga, takut Yoga kabur.


“Mbak, Kak Yoga ada?” Tanya Jessi pada mbak Ani. Mbak Ani mengangguk mengiyakan.


“Ada, langsung masuk saja. Pak Yoga sendiri an, kok.” Jessi mengangguk dan langsung masuk kantor Yoga.


Tok..tok.. mengetuk pintu dulu.


‘Masuk.’ Sahutan dari dalam.


“Kak, makan siang yuk!” Ajak Jessi langsung setelah berada di dalam ruang kerja Yoga. “Mumpung masing jam makan siang.” Jessi melirik jam tangannya dan masih jam setengah satu siang.


Yoga sibuk pada dokumennya, ia tidak begitu mendengarkan ucapan Jessi. Saat Jessi masuk ke ruangannya, Yoga hanya melihat Jessi sekilas lalu kembali fokus pada dokumennya.

__ADS_1


Yah diabaikan. Terbesit lah pikiran nakal Jessi untuk menggoda Yoga.


“Kak...” rengek Jessi mendekati Yoga dan mendudukan dirinya di pangkuan Yoga. Yoga terkesiap Jessica tiba-tiba duduk di pangkuannya.


“Apa-apaan kamu Jess?” Bentak Yoga.


“Duduk, kakak nggak lihat?” Menyenderkan kepalanya di dada bidang Yoga.


Shit..Kenapa jantung gue berdetak kencang gara-gara ni Bocil.


Yoga gugup bukan main saat Jessi menyenderkan kepalanya di dada bidangnya.


“Kak, jantung Kakak?” Jessi menengadah menatap Yoga. “Kak Yoga sakit?” Jessi bisa mendengar degum jantung Yoga.


“Turun, Jes!”


Jessi menggeleng di dada Yoga terjadi gesekan di dada Yoga karena gelengan Jessi.


“Saya bilang turun!Saya sakit jantung gara-gara kamu duduk di pangkuan saya, cepat turun!”


“Asal kakak mau makan siang sama Jessi.” Hei, Jessica sudah berani membuat kesepakatan ternyata.


Dasar licik.


“Oke.” Mau tidak mau mengiyakan permintaan Jessi.


“Yes.” Bersorak riang dan turun dari pangkuan Yoga. “Lets go!” Menarik tangan Yoga.


Yoga mengikuti Jessi, lelaki itu membiarkan saja Jessi menarik tangannya. Yoga bahkan lupa pada jas nya.


“Pak Yoga akan keluar?” Sapa mbak Ani yang baru saja menyelesaikan makan siang nya.


“Iya, mbak. Kita mau makan di luar.” Saut Jessica .


“Saya akan pergi satu jam an.” Ucao Yoga.


“Jes, lepas tangan saya!” Menepis tangan Jessi.


“Nggak mau.” Meraih kembali lengan Yoga dan merangkulnya.


“Saya malu, Jes.” Keluh Yoga merasa tidak nyaman dengan pandangan para karyawan yang menatap aneh pada Jessi dan Yoga.


Apa kalian lihat-lihat, colok mata kalian baru tau.


“Nggak usah malu, nanti juga terbiasa.” Ucap Jessi cuek pada pandangan orang lain.


Huh.


Yoga membawa Jessi ke warung bakso dan Mie ayam langganan Jessi dan aunty Abel. Yoga juga pernah beberapa kali datang bersama Nabila.


Mereka makan siang dengan cepat. Tidak sampai satu jam mereka sudah sampai kembali di kantor Yoga. Namun, Jessi malah ketiduran di mobil Yoga. Lelaki itu terpaksa menggendong Jessi karena Jessi tidak bisa dibangunkan.


Tubuhnya sangat ringan, berbanding terbalik dengan nafsu makannya.


Yoga sampai di lantai ruangan nya berada. Mbak Ani yang melihat Yoga membopong Jessi pun langsung membukakan pintu ruangan Yoga.


“Terimakasih.” Yoga sudah di ajarkan untuk selalu mengucapkan Terimakasih pada orang yang sudah membantu nya tanpa memandang siapa mereka dan dari status sosial apa.


“Sama-sama, pak.”


Yoga membaringkan tubuh Jessi di Sofi panjang. Lalu menyelimuti rok Jessi dengan jas nya. Setelahnya Yoga kembali ke kursi putarnya dan melanjutkan pekerjaanya.


Detik berganti detik, menit berganti menit, jam berganti jam. Sudah pukul lima sore. Pekerjaan Yoga juga sudah selesai, tibalah waktunya untuk pulang. Namun, Jessi belum juga terbangun. Gadis itu masih pulas.


Yoga berjalan ke arah Jessi, ia menundukkan kepalanya menatap Jessi. Kurang jelas, Yoga berjongkok di samping sofa menghadap tubuh Jessi, lelaki itu menyelipkan sulur rambut milik Jessi yang menutupi sebagian wajah Jessi ke belakang telinga Jessi.


“Cantik.” Gumam Yoga.

__ADS_1


Tatapan Yoga beralih pada bibir Jessi yang berwarna merah jambu, dan nampak menggoda.


Cup.. refleks Yoga mengecup sekilas bibir Jessi. Segera Yoga menjauhkan tubuhnya dari Jessi saat Jessi mengerjapkan matanya namun telat tangan Jessi sudah menahan Yoga. Kedua mata Jessi pun terbuka sempurna dan melepaskan tangan Yoga. Yoga mundur beberapa langkah menjauh dari Jessi.


“Kakak mau kabur setelah nyium Jessi?”


Si Alan, ternyata dia sadar. Apa dia sengaja?


Yoga menggaruk tengkuknya yang tidak gatal lalu mendekati Jessi. “Kamu pura-pura tidur?” Tuduh Yoga. Jessi menggeleng.


“Lalu?”


“Jessi terbangun saat ada sesuatu yang menempel di bibir Jessi.” Jawab Jessi polos.


“Maaf, tidak sengaja.”


“Oh, ya?!” Jessi bangkit berdiri, mereka saling berhadapan.


Enak aja bilang nggak sengaja.


“Iya.”


“Oke, kalau begitu mari kita buktikan, sengaja atau tidak.” Jessi berjinjit seraya menarik dasi Yoga hingga lelaki itu menunduk dan Cup, Jessi mengecup bibir Yoga cukup lama. Yoga membelalak akan perlakuan Jessi.


Cih, tidak sengaja katanya?Lalu kenapa tidak mendorong ku, malah diam saja?


Jessi hendak melepaskan kecupannya pada Yoga, tapi Yoga dengan cepat menahan tengkuk Jessi. Lelaki itu membalas kecupan Jessi, ia bahkan menggigit bibir bawah Jessi agar Jessi membuka mulutnya. Kecupan itu beralih menjadi lum*tan, Yoga seakan menikmati bagaimana mengeksplor rongga mulut Jessi. Jessi sendiri secara naluriah membalas ciuman Yoga, mereka saling berpagutan liar dalam beberapa waktu sampai Jessi hampir kehabisan nafas baru Yoga melepasnya.


“Jangan memancing saya, saya juga lelaki normal, Jess.” Tutur Yoga lembut sambil mengacak rambut Jessi, setelahnya Yoga kembali ke meja kerja nya untuk mengambil tas dan kunci mobil.


Jessi sendiri masih mematung di tempatnya menutup wajahnya dengan telapak tangan karena malu.


Arggg.. Tadi itu bukan mimpi, kan?


“Ayo pulang!” Yoga menarik tangan Jessi dan menggenggam nya. Di sepanjang jalan menuju basement Jessi hanya diam.


Kini mereka berada di dalam lift.


“Jess, kamu sariawan?” Yoga melepas genggaman tangannya menoleh pada Jessi. Jessi menggelengkan kepalanya.


“Tumben diam.”


Gue diam karena lo, kak?Masa nggak sadar, gue malu tauk. Ingin sekali Jessi berteriak memaki Yoga tapi ia malu, ia yang lebih dulu menggoda Yoga dengan mengecup bibir Yoga. Yah, walaupun Yoga juga diam-diam mencuri kecupannya.


“Kamu ikut mobil saya saja, saya antar kamu pulang.”


What?gue nggak salah denger, kan?Dia secara suka rela mau nganter gue pulang, eh tapi nggak bisa. Gue harus kerja part time. Yah sayang banged, padahal kesempatan.


“Jessi bawa mobil, kak.” Tolak Jessi.


“Mobil kamu ditinggal saja.”


“Nggak bisa, kak. Besok Jessi sekolah gimana?”


“Bareng Jordan.”


“Jessi nanti mau mampir ke rumah Celia, kak.”


Akhirnya Yoga mengalah dan membiarkan Jessi pulang sendiri. Yoga mengantar Jessi sampai ke mobilnya. Yoga melepaskan tangan Jessi saat gadis itu akan masuk ke dalam mobil.


“Kabari saya kalau sudah sampai rumah.” Jessi mengangguk.


.


.


.

__ADS_1


IG: @nlita.s


__ADS_2