
FOLLOW INSTAGRAM AKU YAH TEMEN-TEMEN
@n.lita.s DI SANA AKU BAKALAN SHARE NOVEL-NOVEL AKU JUGA SPOILER :-)
***MAKASIHHH...
**************************************************************************************
Saat menjelang Shubuh Radit dan Yoga baru selesai dengan percakapan mereka. Radit lalu pamit pada Yoga untuk menemui, Celia. Kebetulan Rani dan Ari sedang berada di rumah saudara mereka karena hajatan, jadi, Celia sendirian tentunya di rumah mewah Jessi itu.
Radit dengan mulus masuk ke rumah mewah itu dan langsung menuju kamar tamu untuk menemui, Celia. Namun, hanya penolakan yang Radit dapatkan. Lelaki itu terpaksa pulang tanpa hasil.
Ia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit setelah mendapat telepon dari Ning bawah Sutomo sudah sadar. Sampai di rumah sakit Radit melihat bapak sedang di suapi ibu, makan dengan lahap.
“Assalamualaikum,”
“Walaikumsalam,” sahut kedua paruh baya.
Radit berdiri di ambang pintu nampak ragu untuk masuk. Apakah Sutomo masih marah padanya?
“Kenapa berdiri di situ, cepat sini. Nggak mau lihat bapak?” tanya Ning.
“Mau kamu berdiri di sana sampai kering juga keputusan bapak tidak akan berubah. Kamu harus menikah sama Yulia,” tegas Sutomo. Pria paruh baya itu masih menginginkan Yulia menjadi menantunya.
Radit menghela nafas panjang dan melangkah gontai. “Radit nggak mau berantem, pak,” ucap Radit menghampiri kedua orang tuanya. Radit duduk di sayap barat brankar.
“Bagus kalau kamu sudah sadar.”
“Pak, bapak baru sembuh lho, pak.” Ning mengingatkan Sutomo agar peduli pada kesehatannya.
“Iya, Bu. Bapak tau..”
“Pokoknya minggu depan kalian harus nikah!” Keputusan final dari Sutomo.
“Yang penting bapak sehat dulu, masalah lain kita pikirkan.” Kata Radit kemudian.
__ADS_1
Dua hari kemudian, Sutomo sudah di perbolehkan pulang. Untuk sementara waktu Radit bolak balik rumah orang tuanya dan kantor. Sutomo tidak memperbolehkan Radit tinggal di apartemen hingga dia menikah dengan Yulia. Kabar pernikahan Radit pun sudah terdengar hingga telinga Celia. Bagaimana relasi Celia mendengar pernikahan Radit?
“Cel.. “ Jessi menggenggam tangan Celia erat. Memberi dukungan pada Celia yang pasti tengah terluka hatinya.
“Gue, gak papa kok Jess.” Sahut Celia sambil mengelus tangan Jessi. “Tenang aja, cepat atau lambat mereka juga bakal nikah. Gue udah siap. Lagi pula bapak nya kak Radit udah sehat gue udah bersyukur banget.” ucap Celia tulus. Dia menerima dengan ikhlas Radit menikah dengan Yulia. Karena Radit dari awal memang milik Yulia, begitu kira-kira yang ada di pikiran Celia.
“Gue udah ketemu sama bokapnya kak Radit, tampangnya emang nyeremin.” Cerita Jessi mengingat bagaimana Sutomo di mata Jessi. Jessi pernah bertemu Sutomo satu kali saat dia menemani Yoga menjenguk Sutomo yang terkena serangan jantung diruma sakit.
Celia tersenyum simpul. “Pasti galak ya, ibu nya kayak gimana?” tanya Celia penasaran.
“Beuh, ibunya mah lembut banget selembut sutra. Heran gue, bisa-bisanya mau sama bapaknya kak Radit yang galak bin nyeremin gitu.”Jessi malah asyik menggosipkan orang tua Radit demi menghibur Celia.
“Serius galak?”
“Banget.. gue ngeri tau nggak.. senyum sama enggak sama aja judes jatuhnya..” Jessi begidik ngeri membayangkan jika Sutomo adalah ayah mertuanya. “Untung papa Wisnu ga galak.” Kata Jessi kemudian.
“Nah, lo mesti bersyukur dapat keluarga seperti mertua lo, kakak ipar lo.” tutur Celia memberi nasihat pada Jessi.
“Iya-Iyaa, emang gue ngapain, gue juga bersyukur banget tauk..” Cebik Jessica sambil memanyunkan bibirnya. Membuat siapapun yang melihatnya akan merasa gemas, tentu saja tidak berlalu untuk Celia. Celia justru merasa gelay dengan tingkah sok imut dari sahabatnya itu.
“Hahaha, jiji atau demen?” Goda Jessi.
“Hoek.. jiji bin eneg tau ga,” Celia merinding sendiri dengan sikap Jessi dan pergi dari ruangan itu.
Sepeninggal Celia, Jessi merubah raut wajahnya menjadi garang. Ia mengambil ponslenya di tas dan menghubungi Kris.
“Aku akan kesana, Kris!” Kata Jessi mengawali dan mengakhiri percakapan telepon nya dengan Kris tanpa menunggu jawaban dari Kris.
Mobil sedan mewah yang di kemudikan oleh Yoga kembali memasuki area markas Daddy Raka.
“Semuanya sudah siap, nona.” Ucap Kris.
“Baik, jangan sampai ada kesalahan, Kris. Aku mau semuanya berjalan lancar.”
“Baik, nona.”
__ADS_1
***
“Akhirnya kamu nikah juga sama Radit, Yul.” Siti membantu Yulia mempersiapkan acara untuk akad nikah yang akan di gelar lusa.
“Belum, ma. Masih lusa akadnya.” Jawab Yulia.
“Halah tinggal lusa, ‘kan?”
“Iya, ma.”
“Pokoknya kamu jangan lupa kalau udah nikah ya, Yul. Suruh mertua kamu untuk kasih sawah yang di Bandung buat papa, itu satu-satunya lokasi strategis untuk pabrik kita nanti.” Siti mewanti-wanti Yulia agar mengingat tujuan dia menikahi Radit.
“Iya mama ku sayang, sawah itu pasti jadi pabriknya buat papa. Mama tenang aja, tinggal selangkah lagi.” Balas Yulia meyakinkan mamanya.
“Nah, itu baru anak papa.” Danu bergabung dengan istri dan anaknya. “Kalau bukan karena sawah itu nggak bakalan papa izin in kamu nikah sama petani, Yul. Mau taruh dimana muka papa mu ini,” jujur Danu.
Perjodohan antara Yulia dan Radit terjadi karena Danu yang terus memaksa Sutomo untuk menerima Yulia sebagai menantunya. Singkat cerita dulu Danu dan Sutomo adalah teman beda kelas saat SMP di Bandung. Danu tidak menyangka Sutomo yang dulu miskin ternyata mempunyai warisan lemah ber hektar-hektar dari keluarganya. Saat tau salah satu sawah memilik Sutomo menjanjikan untuk bisnisnya, Danu pun gencar mendekati Sutomo dengan akal bulus. Sutomo yang polos dan gampang di bodohi pun tidak curiga sedikitpun pada Danu. Sutomo percaya akan sikap baik yang dibuat-buat oleh Danu, Sutomo menyetujui perjodohan Radit dan Yulia karena menganggap Danu sudah sangat baik pada keluarganya. Apalagi Danu sering mengajak Sutomo memancing dan bercerita tentang hidup.
“Jangan lupa ini semua berkat ide mama,” bangga Siti sudah bisa memberi ide yang sangat menguntungkan bagi keluarganya. “Yulia bisa dapat Radit yang tampan dan mapan, sedangkan papa bisa dapat sawah untuk membangun pabrik. Kalian sama-sama beruntung karena ide mama,”
“Makasih mama ku sayang,” Yulia merangkul Siti penuh cinta.
“Nanti mama kasih jatah tiap bulan lho, Yul. Gaji suami kamu ‘kan banyak,”
“Iya mama, iya..”
“Kalau papa kasih mobil aja gak papa, Yul. Kebetulan mobil papa sudah butut.” Danu tak mau kalah dengan sang istri. Dia juga ingin menjajakan uang hasil kerja keras Radit. Benar-benar keluarga tidak tau malu.
“Sebentar lagi, ma, pa. Sebentar lagi kita akan mencapai tujuan kita,” Yulia merangkul kedua orang tuanya dengan perasaan lega. Sudah cukup drama nya menangis-nangis, mengemis-emis perhatian pada Radit. Lusa, dia akan sah menjadi istri Raditya Erlangga. Tidak ada lagi yang akan menggagalkan pernikahan mereka, Celia bukanlah tandingan bagi Yulia.
Sementara di apartemen Yoga, Jessi dan Celia mendengarkan percakapan Yulia dan keluarganya sambil geleng-geleng kepala.
“Gila bener..” komentar Jessi untuk pertama kali.
“Memang sawah kak Radit seluas apa sih sampai jadi incaran gitu?” tanya Celia penasaran.
__ADS_1
Yoga pun mengangkat bahunya karena tidak tau, begitu pun Jessi.