Pengacara Tampanku

Pengacara Tampanku
Bab Pulang


__ADS_3

Jessi ketakutan di ruang kepala sekolah. Saat ini ia tengah bersama wali kelasnya. Jessi menangis mengingat ucapan salah satu wali murid “Cantik-cantik tapi pelacur, murahan, menjual diri demi gaya hidup” .


Hiks hiks.. “Jessi nggak kayak gitu, buk. Jessi nggak kayak gitu.” Ucap Jessi sambil menangis sesenggukan.


“Iya, Jes. Ibu percaya sama kamu.” Tutur wali kelasnya. Menepuk nepuk punggung Jessi dengan lembut untuk menenangkan Jessi.


“Hiks hiks, Jessi pakai barang branded itu dari mommy sama Daddy, buk. Mommy yang kasih uang jajan ke Jessi untuk beli barang-barang itu, hiks hiks. Jessi nggak jual diri, buk.” Air mata Jessi terus mengalir tanpa henti. Gadis delapan belas tahun itu tidak bisa menghentikan tangisnya. Ini menyesakkan bagi Jessi. Fitnah yang sangat kejam bagi gadis itu.


Apa salah Jessi?Kenapa Jessi di fitnah sejahat itu? Kira-kira itu yang Jessi pikirkan saat ini.


Salsa dan Celia masuk ke ruang kepala sekolah setelah mengganti baju mereka yang terkena lemparan telur. Kedua sahabat Jessi itu langsung merangkul Jessi.


“Salsa, Celia.” Keluh Jessi. “Gue nggak pernah jual diri.” Kata Jessi.


“Gue tau, lo kayak anggap gue siapa?Gue yang paling tau lo dari lo masuk sekolah ini.” Ucap Salsa merangkul Jessi.


“Gimana keadaan di luar, Cel?” Tanya wali kelasnya.


“Pak Kepsek sama guru-guru yang lain mencoba menenangkan ibu-ibu yang demo, buk.” Jawab Celia. Wali murid mereka pun manggut-manggut.


Kring.. kring.. dering ponsel Salsa yang berada di dalam tas. Salsa pun mengambilnya.


“Siapa, Sa?” Tanya Celia.


“Jordan.” Jawab Salsa. Ia langsung menjawab panggilan telepon dari Jordan.


“Hallo, Jo?”


‘Gue udah sampai di depan gerbang, sebentar lagi masuk. Kalian dimana?’ Tanya Jordan.


“Ruang Kepsek.” Jawab Salsa.

__ADS_1


‘Oke.’


Salsa menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas. “Jordan udah sampai, bentar lagi ke sini. Kita pulang.” Ucap Salsa. Jessi pun menganggukan kepalanya.


“Kalian nanti lewat mana?Ibu nggak yakin kalian bisa lewat halaman sekolah.” Tanya Bu guru mengingat kondisi wali murid yang masih memenuhi halaman juga wartawan yang berkerumun di depan gerbang.


“Jordan bawa banyak Bodyguard kok, buk. Pasti bisa lewat.” Ucap Celia.


Suasana di luar gerbang. Jordan membawa lima puluh Bodyguard yang akan mengawal dia membawa Jessi keluar dari sekolah. Awalnya ia hanya membawa Duapuluh, tapi Kris menambah nya untuk berjaga-jaga. Untung saja Raka terbiasa dengan dunia bawah jadi mencari Bodyguard dalam jumlah banyak dengan waktu singkat sangat mudah bagi bawahannya. Mereka terdiri dari sepuluh mobil dan beberapa motor sport..


Brum.. brum .. suara deru mesin mobil dan motor mulai memenuhi depan gerbang sekolah. Satpam yang mengetahui kedatangan Jordan pun langsung membuka gerbang. Kedatangan Jordan yang membawa banyak pengawal tentu saja menyita perhatian baik dari para wartawan maupun ibu-ibu yang demo dan siswa-siswa di sekolah Jessi.


Para Bodyguard yang dibawa Jordan langsung turun dari mobil dan motor. Mereka membentuk dua barisan saling berhadapan yang akan di gunakan Jessi berjalan keluar agar aman dari wartawan dan wali murid. Setelah barisan jalan yang dibuat Bodyguard Jordan selesai, Jordan turun dari mobil. Ia menggunakan kaca mata hitamnya masih dengan seragam sekolahnya berjalan gagah melewati jalan yang sudah di buka oleh para Bodyguard nya.


Tak hanya pada Bodyguard Jordan yang melaksanakan tugasnya, para guru pun ikut membantu dengan menahan wali murid yang ingin tau apa yang para Bodyguard itu lakukan.


“Itu bukan siswa sekolah kita, siapa sih?Ganteng banged.” Ucap salah satu siswa melihat Jordan dengan gagah berjalan melewati satu persatu Bodyguard nya menuju ruang kepala sekolah.


“Gila, pasti tajir nih. Bawa Bodyguard banyak banged, tapi mau ngapain?” Sela yang lain.


Jordan sampai di ruang kepala sekolah, ia melihat Jessi tengah menangis di peluk Salsa dan Celia. Ia pun mengepalkan kedua tangannya.


Gue akan balas siapapun yang udah buat lo nangis, Jess!


“Jess.” Panggil Jordan.


“Kakak.” Jessi mendongak dan langsung menghambur ke pelukan Jordan. Ia menangis sekeras mungkin di pelukan Jordan. Sementara Jordan membalas pelukan adiknya dan mengelus-elus punggungnya. Membiarkan sejenak Jessi menumpahkan kesedihannya.


“Kita pulang sekarang?” Kata Jordan saat Jessi mulai tenang. Jessi pun mengangguk. Setelah itu Jordan memakaikan Jessi kaca mata hitam yang sudah ia persiapkan.


“Terimakasih atas bantuannya, Bu. Saya akan bawa Jessi pulang.” Pamit Jordan pada wali kelas Jessi.

__ADS_1


“Sama-sama nak Jordan, hati-hati di jalan.”


Jordan merangkul Jessi keluar dari ruang kepala sekolah berjalan menuju halaman sekolah diikuti Salsa yang membawa tas Jessi dan Celia.


“Itu, dia!” Teriak salah seorang wartawan.


Suasana menjadi tak kondusif saat Jessi keluar. Wartawan saling berebut mengambil foto Jessi yang tentu saja tidak mudah karena terhalang Bodyguard Jordan. Juga ibu wali murid yang berteriak teriak asal memaki Jessi.


Untung saja Bodyguard yang dibawa Jordan bisa diandalkan, mereka bisa membuka jalan untuk Jessi sampai ke mobil Jordan dengan aman. Jessi langsung masuk kedalam mobil dan Jordan langsung menutup pintunya. Salsa juga masuk kedalam mobil lewat pintu sisi lain, duduk di sebelah Jessi. Sementara Celia masuk kebagian depan di sebelah kemudi. Jordan sendiri memberi arahan pada Bodyguard mereka untuk menyiapkan jalan agar mobil Jordan bisa keluar. Sementara beberapa Bodyguard Jordan masuk ke mobil mereka dan menempati posisi masing-masing untuk mengawal mobil Jordan, beberapa yang lain mendampingi Jordan yang akan mengatakan sepatah dua patah kata untuk wartawan.


“Mohon perhatiannya bagi teman-teman media, kalian mungkin bertanya-tanya siapa saya, kenapa saya membawa Jessica? Saya hanya bisa menjelaskan secara singkat bahwa pemberitaan yang beredar mengenai Jessica dan yang juga adalah adik kandung saya tidaklah benar.” Kata Jordan dihadapan puluhan wartawan dengan serius.


“Jadi, adik ini kakak dari Jessica?”


“Apa bisa dijelaskan apa hubungan Jessica dan pengacara Yoga?”


“Mengapa meraka berada di dalam hotel yang sama?”


“Apa benar adik anda menjual dirinya pada orang kaya demi gaya hidup?”


Hampir saja Jordan menampar wartawan yang sudah berkata lancang itu, ia sudah mengangkat tangannya di udara, untung Celia membunyikan klakson mobil Jordan dan berteriak menyuruh Jordan masuk kemobil. Tanpa menjawab pertanyaan wartawan itu, Jordan masuk ke mobil dan melajukan mobilnya. Para Bodyguard Jordan sudah membuka jalan untuk mobil Jordan.


Setelah mobil Jordan pergi, ada beberapa wartawan yang mengejar, dan ada beberapa wartawan yang lain tinggal untuk mewawancarai kepala sekolah Jessi.


Namun, kepala sekolah menolak buka suara. Beliau akan melakukan konferensi pers tapi tidak hari ini. Akhirnya para wartawan pun pulang. Tinggal pihak sekolah mengurus ibu-ibu wali murid yang masih ngotot meminta penjelasan tentang Jessica.


.


.


.

__ADS_1


.


Dua bab untuk hari ini ya guys.. See you besok wkwk


__ADS_2