
Jessi langsung
mengurung diri setelah perdebatannya dengan Yoga. Gadis itu tidak mau menemui
Yoga sama sekali, ia merajuk dan mengabaikan setiap panggilan dari Yoga.Mengacuhkan lelaki yang sejak tiga puluh menit yang lalu menunggu sambil memohon di balik pintu agar Jessi membuka pintu untuknya. Namun, bukan Jessica jika gadis itu bisa luluh begitu saja. Biarlah kali ini Jessi bersikap egois sesuai dengan keinginannya. Sejauh mana Yoga akan membujuk Jessi atau Yoga justru balik mengabaikan gadis itu.
"Mau kak Yoga berdiri sampai besok pagi Jessi juga gak akan bukain pintu, kak." Sindir Celia berpura-pura lewat di depan kamar Jessi. Yoga menoleh pada Celia. "Memang dia kalau marah lama ya, Cel?' tanya lelaki itu dengan wajah polosnya.
"Lama kak, bisa sampai berbulan-bulan." Jawab Celia terlihat serius sambil mendekat pada Yoga, gadis itu berucap lirih. "Bisa sampai setahun juga." lanjut Celia.
"Serius kamu?" Celia menganggukkan kepalanya. Yoga langsung menelan salivanya kasar.
Gila, dia ngambek versi apaan sampai dua musim? Batin Yoga. Satu tahun di Indonesia berarti melewati dua musim kemarau dan musim penghujan.
"Kamu ada ide buat bujuk dia nggak, Cel?' mencoba meminta ide dari sahabat dekat Jessi. Namun, Celia menggelengkan kepalanya. Jika Celia saja tidak tau cara membujuk Jessi, bagaimana dengan Yoga?
"Kak Yoga 'kan tunangannya, harusnya lebih tau cara membujuk Jessi, dong!"
"Saya 'kan nggak ingat, Cel." menghembuskan nafas berat. Celia mungkin lupa bila Yoga masih tidak ingat apapun. Lelaki itu menerima Jessi dalam kondisi tidak ingat karena percaya dengan apa yang di ucapkan keluarganya.
"Oh, iyaya." Celia terkekeh seakan mengejek penderitaan Yoga.
"Malah ketawa, cari ide buat bujuk teman kamu, bantu saya."
"Nggak mau ah, Celia lagi males mikir. Kak Yoga bujuk sendiri aja, Celia mau tidur. bye." Berlalu menuju kamarnya tanpa menunggu jawaban dari Yoga.
Dasar artis gadungan. cibir Yoga kesal karena Celia tidak mau membantunya membujuk Jessi.
Tidak ada kata menyerah di kamus Yoga, lelaki itu bertahan hingga pagi hari di depan pintu kamar Jessica tidur dengan beralaskan bed cover yang ia bawa dari apertemennya, dan ia sengaja tidak memakai selimut untuk menarik simpati Jessi.
“Astaga, kak Yoga apa-apaan?” Membelalak memandang Yoga masih meringkuk tertidur dengan lelap di depan pintu kamar. Hampir saja Jessi menginjak Yoga, kaki kanan Jessi pun sudah melayang di udarah namun tertahan
saat melihat Yoga tertidur.
“Mau pencitraan dia Jess, biar kamu maafin.” Teriak Celia
dari arah dapur. Celia sudah bangun lebih dulu, saat akan membangunkan Jessi, Celia melihat Yoga tidur didepan kamar Jessi. Celia juga melihat Yoga yang sudah terbangun namun kembali pura-pura tidur setelah melihat jam di
pergelangan tangannya.
Sialan Celia. Batin Yoga kesal dengan posisi kedua mata
masih terpejam. Ternyata Yoga hanya pura-pura tidur.
Jessica tersenyum tipis, lalu melangkah melewati Yoga
tanpa membangunkan Yoga dan berlalu begitu saja menuju dapur.
“Lain kali jangan biarkan orang asing menginap di apartemen kita, cel.” Kata Jessi datar. Jessi memandang Celia dengan tatapan penuh maksud seakan mengajak gadis itu untuk bersandiwara.
“Oke, sorry semalam gue lupa kunci pintu nggak tau ada penyusup.” Sahut Celia dengan diikuti senyum tipis dan geleng-geleng kepala.
__ADS_1
Tidak tahan berpura-pura lebih lama, Yoga bangun dari tidurnya dengan kesal.
“Jadi, maksud kamu saya orang asing?” Berteriak menyahut.
“Ada suara tapi nggak ada orang, Cel.”
“Iya Jess, hii serem.”
Apa-apaan dua bocil itu, mereka pikir gue jin.
Yoga bergegas menuju dapur menemui Jessi dan Celia. “Kalian pikir saya ini jin?Demit atau setan, apa-apaan kalian ini mengatai saya penyusup.” Kelakar Yoga dengan keras. “Dan, kamu!” Menunjuk kearah Jessica. “Kamu
bilang saya apa?Orang asing, saya itu tunangan kamu. Orang asing dari mananya ?” Masih pagi Yoga sudah marah-marah pada Jessi dan Celia.
“Lah kok ngamok,” Sindir Celia santai sambil menggoreng telur ceplok di Teflon.
“Tau nih, baperan sih pagi-pagi marah-marah.” Sambil menyeduh teh. Jessi berniat membuatkan Yoga the hangat.
“Saya nggak ngamok, nggak baperan.” Menarik kursi pantry dan duduk di kursi itu sambil memandang punggung Jessi yang sibuk berkutat dengan sendok, teh, air panas dan gula.
“Cie pengacara baperan, Jessi heran kak Yoga bisa menang tiap sidang gimana caranya?Padahal baperan.” Menyodorkan secangkir teh panas di depan Yoga. Yoga menyentuh cangkir itu dan berniat langsung menyeruput teh nya namun di tegur oleh Jessi. “Cuci muka dulu.”
Meletakkan kembali secangkir the panas yang sangat menggoda itu dan berjalan kea rah kamar mandi untuk membasuh wajahnya.
“Cie udah baikkan.” Goda Celia.
“Ya, mau gimana lagi? Terpaksa.”
“Hehe itu lo tau.”
Jessi, Celia dan Yoga kembali ke aktivitas masing-masing. Jessi dan Celia kuliah, sementara Yoga kembali ke apartemen untuk beristirahat, hari ini rencananya Yoga akan pergi ke dokter untuk Kontrol.
Beberapa hari berlalu, tiba waktunya Yoga bertemu dengan Devina. Mereka sepakat untuk bertemu di apartemen Naya.
“Aku kira kamu nggak bakalan datang, Ga.” Devina menyambut kedatangan Yoga dengan antusias. Lalu mempersilahkan lelaki itu untuk masuk kedalam apartemen, dan Yoga pun duduk di sofa yang berada di ruang tamu.
“Anggap aja rumah sendiri, aku buatkan minum sebentar. Mau jus atau kopi?”Tawar Devina. Yoga hanya menggaguk sambil berucap “Terserah,”
Devina pergi ke dapur membuatkan minuman untuk Yoga. Perempuan itu membuat kopi hitam pekat yang biasa diminum Yoga saat mereka masih berpacaran.
“Lo, akan jadi milik gue selamanya mulai hari ini, Ga.” Senyum Devina sambil memasukan serbuk berwarna putih kedalam kopi yang di buat Yoga.
Devina kembali ke ruang tamu dengan membawa dua gelas kopi hitam untuk dirinya dan Yoga. Juga, membawa piring berisi pisang goreng kesukaan Yoga. Ia sengaja mempersiapkan camilan kesukaan Yoga itu untuk menarik
perhatian Yoga.
“Kopi hitam?” Menatap kopi hitam yang masih berada di nampan yang di bawa oleh Devina dengan mata berbinar.
“Iya, ini ‘kan kopi kesukaan kamu.” Meletakan kopi dan camilan di meja lalu menyimpan nampannya di bawah meja.
“Kamu juga suka kopi?”
__ADS_1
“Kamu mungkin lupa, Ga. Kita berdua sama-sama suka kopi dan pisang goring.”
“Maaf, aku lupa.”
“Nggak papa, Ga. Aku bisa mengerti.” Mengelus lembut lengan Yoga.
Ting tong ..Suara bel berbunyi. “Siapa sih?” Gerutu Devina.
“Buka aja dulu, kali aja penting.” Devina menganggukan kepalanya.
Beberapa saat kemudian ia kembali ke ruang tamu dengan sebuket bunga mawar merah ditangannya. “Kamu yang kirim bunga buat aku?” Wajah Devina terlihat berbunga-bunga mendapat sebuket bunga dari Yoga. Ternyata kurir
bunga yang menekan bel.
“Kamu suka?” Yoga berdiri menoleh kearah Devina.
“Banget, Ga. Makasih.” Menghambur memeluk Yoga dan mencium pipi Yoga. Yoga membalas pelukan Devina.
Asyik, gue tau lo pasti luluh, Ga. Batin Devina tersenyumlicik dengan kepala ia senderkan di bahu Yoga masih berpelukan dengan erat. Yoga bahkan mencium puncak kepala Yoga.
“Kopi nya dingin.”
“Eh, iya.” Devina melepaskan pelukannya dengan Yoga dan mengajak Yoga duduk untuk minum kopi.
Sekita lima menit setelah minum kopi. “Aduh, kenapa badan gue panas gini?” Batin Devina merasakan tidak nyaman di tubuhnya. Ia melirik Yoga yang tengah menikmati pisang gorengnya dengan lahap, sambil sesekali
menyeruput kopi hitamnya.
“Kenapa Yoga baik-baik saja, kenapa malah gue yang kepanasan?” semakin merasa tidak nyaman dengan tubuhnya.
“Ga?”
“Gu-gue pengen cium.”
Yoga memandang lurus pada. “Cium?” Devina menganggukkan kepalanya.
“Hahaha.” Tawa seseorang menggelegar begitu saja memenuhi ruangan itu.Yoga dan Devina menoleh ke arah suara.
“Jessi?” Devina menatap Jessi dengan tatapan yang mulai kabur karena efek tidak nyaman ditubuhnya.
“Iya, ini gue. Apa?!Lo mau cium-cium tunangan gue, dasar nenek lampir nggak laku.” Jessi mendekat ke arah Devina dan melirik Yoga.
.
.
.
.
.
__ADS_1