
FOLLOW INSTAGRAM AKU YAH TEMEN-TEMEN
@n.lita.s DI SANA AKU BAKALAN SHARE NOVEL-NOVEL AKU JUGA SPOILER :-)
***MAKASIHHH...
**************************************************************************************
Radit terpaksa merelakan Celia pergi. Karena semua demi karir Celia, Radit bisa menerima. Radit menganggap ini ujian bagi dirinya untuk lebih mencintai Celia, selama mereka terpisah jarak.
“Mana calon menantu bapak, Dit?”
Sutomo mencari-cari sosok perempuan yang seharusnya Radit bawa ke rumah sakit namun, tidak ada. Radit hanya datang seorang diri.
“Gagal, nak?” tanya Ning yang melihat Radit pulang dengan lesu. Lelaki itu langsung merebahkan dirinya di sofa ruangan Sutomo di rawat.
Ning dan Sutomo saling berpandangan melihat sang putra tidak e jawab pertanyaan mereka. Tatapan mereka cukup intens, ada sesuatu yang mereka batinkan.
“Bisa di bilang gagal, bisa juga di bilang enggak. Yang jelas lumayan, pak, buk.”
Radit malah menjawab dengan ambigu. Membuat kedua orang tuanya semakin penasaran.
“Piye to Le, jadi mbak Celia nggak mau sama kamu?” Ning yang semula berada di sebelah Sutomo kini melangkah mendekati Radit.
“Pasti karena bapak ya?Dia nggak mau sama kamu karena takut sama bapak ya?” Sutomo menyahut dengan rasa bersalah. Jika, kali ini perjuangan cinta Radit gagal itu semua kesalahan Sutomo. Setidaknya itu yang ada di pikiran Sutomo saat ini.
“Dia keluar negeri, pak, buk. Bukan menolak Radit, tapi, dia minta Radit nunggu dia.”
Tidak mau membuat orang tuanya cemas. Radit menceritakan kejadian saat dia menemui Celia.
“Oalah,” timpal Sutomo dan Ning.
“Ya sudah tinggal kamu tunggu saja, yang sabar. Nanti kalau dia pulang langsung kamar saja. Maharnya tanah kita di Bandung,” ujar Sutomo.
Ning dan Radit melongo. Apa Sutomo serius? Itu ‘kan tanah peninggalan orang tua Sutomo, tanah warisan?
“Kenapa kalian kok kaget begitu?Enggak percaya?” Ning dan Radit serempak menggelengkan kepalanya.
“Lho, bapak itu serius ini..”
“Masa?” Radit masih enggan percaya ucapan sang ayah.
“Bapak ikhlas? Yakin?” tanya Ning.
Sutomo menganggukkan kepalanya. “Ikhlas, yakin dan sangat yakin,” jawabnya pasti.
“Lha kalau bapak yang ngasih mahar, terus Radit ngasih apa ke Celia?” Radit merasa tidak adil jika mahar pernikahannya di beri oleh Sutomo. Ia juga ingin memberikan mahar pada Celia dengan jeri payahnya sendiri.
“Ya kamu kasih kebahagiaan saja, berusaha sekuat tenaga membahagian mbak Celia. Membimbing nya menjadi istri yang baik, yang taat pada agama,” jawab Sutomo.
Ning setuju dengan ucapan suaminya. “Dengerin kalau bapak ngomong, Nak,” tutur Ning.
“Tumben bapak bijak,” sindir Radit. Ia masih mengingat bagaimana Sutomo menentang keras dirinya bersama Celia. Sepertinya kekecewaan yang bapak dapat karena terlalu percaya pada Danu membuat Sutomo lebih berpikir jernih.
“Hm, anakmu to buk. Bapak marah-marah salah, giliran bapak bijak di katain tumben,” adu Sutomo pada istrinya.
“Tapi Radit enggak salah kok pak, memang benar tumben bapak bijak?” Ning seakan membela Radit dan bersekongkol dengan Radit untuk memojokkan bapak.
“Ah, ibu sama anak sama saja, sudah lah bapak tidur saja,” Sutomo merajuk dan menarik selimutnya lalu tidur dengan posisi miring membelakangi Radit dan Ning yang duduk berdampingan di sofa yang sama. Ning dan Radit memandang Sutomo dengan gelak tawa.
“Cie bapak ngambek, Cie,” goda Radit.
__ADS_1
Sutomo cuek dan tidak menyahut namun dia tersenyum lega. Keluarganya kembali harmonis. Syukurlah keluarganya masih di lindungi Allah dari orang yang berniat jahat pada nya.
“Duh, bapak beneran ngambek tu, buk,” kelakar Radit cekikikan.
Puk.. Ning menimpuk bahu putranya. “Sudah-sudah, jangan iseng in bapak mu. Biar bapak istirahat,” tutur Ning lembut.
“Iya, iya,” Radit menghentikan tawanya. Malam ini keluarga Sutomo bisa tidur dengan nyenyak.
Sementara di keluarga Yoga pun sama. Yoga dan Jessica bisa tidur dengan nyenyak setelah masalah Celia terselesaikan.
“Aku lega deh mas, akhirnya Celia dan kak Radit baikkan,” ujar Jessi sambil mendusel di dada bidang Yoga. Pasangan pasutri itu tengah berbaring di atas ranjang dengan pakaian piyama lengkap dan bersiap untuk tidur.
Yoga membelai rambut sang istri dengan lembut. “Mas juga lega, sebentar lagi sahabat mas itu bakalan melepas status lajang,” sahut Yoga.
“Tapi belum pasti sih..” Jessi memainkan jari jemarinya di dada bidang Yoga, membentuk pola abstrak disana. Ada-ada saja cara Jessi menggoda Yoga.
“Kenapa belum pasti?” tanya Yoga mengurut alisnya.
“Ya ‘kan bisa aja Celia jatuh cinta sama cowok lain selama di luar negeri,” jawab Jessi masih dengan posisi yang sama.
“Nggak mungkin.”
“Loh, apa yang nggak mungkin mas?Celia cantik, artis, pasti disana juga banyak aktor-aktor ganteng juga. Nggak ada jamina Celia nggak akan cinlok(cinta lokasi) disana,” Jessi beraksi menyulut api dengan cerita mengarang nya. Ini adalah cara dia untuk membuat Radit menyusul Celia.
Yoga bergeming memikirkan ucapan Jessi yang dirasa ada benarnya juga. Dia harus memberitahu Radit soal kemungkinan itu.
“Sebentar sayang,” Yoga mengalihkan tangan Jessi yang masih berada di dadanya, dan bangun.
“Mas mau kemana?” tanya Jessi mendongakkan kelapanya.
“Mas telepon Radit dulu ya,” tanpa menunggu jawaban Jessi, Yoga sudah turun dari tempat tidur sambil membawa ponselnya yang tadi terletak di atas nakas.
“Gercep banget, padahal besok-besok juga bisa teleponnya,” Jessica cemberut. Padahal dia sedang ingin bergulat di atas ranjang dengan Yoga. Namun, suaminya itu malah sibuk bertelepon. Gagal total niat Jessi menggoda Yoga, dan kegagalannya karena ulahnya sendiri.
“Aduh,,” pekik Jessi saat keningnya terjeduk pintu karena Yoga mendorong pintunya dari luar.
“Astaga sayang, kamu ngapain di ngumpet di belakang pintu?” tanya Yoga langsung membelai lembut kening Jessi.
“Siapa yang ngumpet, Jessi mau nyusul in mas tau gak,” gerutu Jessi sambil memegangi keningnya.
“Oalah, sakit ga?”
Udah tau pake nanya!
Jessica kesal tidak menjawab pertanyaan Yoga dan berbalik kembali ke ranjang. Ia naik keatas tempat tidur dan meringkuk di balik selimut yang ia biarkan menutupi seluruh tubuhnya.
“Jess, kamu ngambek?” meraih tubuh Jessi yang berada dalam posisi miring. Jessi tak mengindahkan pertanyaan Yoga. Dia terlanjut kesal pada lelaki itu.
Yoga yang tidak peka an bukan membujuk Jessi malah ikut berbaring dan akhirnya tertidur lebih dulu dari Jessi.
Keesokan paginya.
“Jadi, Kak Radit mau nyusul Celia?” tanya Jessi pada Radit yang sudah bertamu pagi-pagi sekali.
“Iya, Jess. Saya sudah minta izin sama Yoga untuk cuti sementara,” jawab Yoga.
Yoga cemberut. Dia merasa tidak rela memberi izin cuti pada Radit. “Sementara apa an, empat bulan memang bisa di bilang sementara? Cuti melahirkan saja cuman tiga bulan,” gerutu Yoga. Jika Radit mengambil cuti, dia pasti akan sangat sibuk.
Jessi menyenggol lengan Yoga. “Gak papa kok kak, cuti satu tahun juga gak papa kalau demi untuk mengejar cinta,” ujar Jessi.
“Jessiiiii.”
__ADS_1
Yoga semakin kesal saat Jessi justru memihak pada Radit dan bukan pada dirinya. Harusnya Jessi membujuk Radit untuk memangkas cutinya agar tidak terlalu lama.
“Begini saja, lo bantu-bantu kantor Daddy di luar negeri, gue bisa anggap lo dinas magang di perusahaan Daddy?Bagaimana?” usul Yoga.
“Memang bisa?” tanya Radit.
“Bisa, cuman mungkin jawabatan kamu nggak bisa tinggi karena BASIC lo di hukum, lingkungan perusahaan mungkin agak berbeda,” jawab Yoga.
“Nggak papa, Ga. Jadi sales atau ob juga nggak papa, biar gue enggak nganggur di sana. Gue juga bosan kalau nggak ada kegiatan,” balas Radit bersemangat. Lumayan dia masih bisa mendapat penghasilan selama di luar negeri.
“Nah, itu malah udah dapat solusi,”
Sudah di putuskan, dengan bantuan Yoga, Radit mendapat pekerjaan sebagai karyawan biasa di perusahaan Raka yang berada di lur negeri. Radit akan mengejar cinta nya meskipun menyebrang samudra. Dia tidak akan jauh dari Celia.
Sore harinya Jessica nampak lemas, dia tidak nafsu makan dan sudah seharian tidak makan.
“Kita kerumah sakit ya sayang, aku khawatir kamu kekurangan cairan kalau enggak makan gini. Di rumah sakit kamu bisa di infus,” bujuk Yoga pada istrinya.
Jessi mengangguk, dia juga merasa tidak nyaman dengan tubuhnya. Rasanya mual namun tidak bisa muntah.
“Selamat bapak, anda akan segera menjadi ayah,” ucap dokter di rumah sakit.
“Mak-maksud dokter?” tanya Yoga terbata-bata.
“Ibu Jessi tengah mengandung empat minggu,” senyum tulus Bu dokter saat mengucapkan berita bahagia itu.
“Istri saya hamil, beneran dok?” Dokter menganggukan kepalanya. Yoga yang teramat bahagia sampai menitikan air mata mendengar berita bahagia itu.
“Kamu hamil sayang, kita akan jadi orang tua. Kamu hamil..” meraih jari-jemari Jessi dan mengecupinya berulang kali.
Jessi merespon dengan bengong, dia masih menyerap ucapan Bu dokter saking kagetnya. Ia tidak menyangka bisa hamil secepat ini.
“Sayang, kamu nggak senang?” melihat Jessi yang membisu. Dia menggelengkan kepalanya.
“A-aku nggak nyangka bisa hamil secepat ini, mas. Aku bahagia sangat bahagia,” Depresan air mata merembes begitu saja bagai rintik air hujan di pipi mulus Jessica.
“Sekali lagi selamat ya pak Yoga dan ibu Jessica,” Bu dokter menyela moment haru antara Jessica dan Yoga.
“Terimakasih, dok. Terimakasih,”
Jadi, inilah alasan dokter umum menyarankan Yoga dan Jessica pergi ke dokter kandungan. Dokter kandungan yang lebih mengerti kondisi Jessi dibanding dokter umum.
Yoga dan Jessica pulang dengan kebahagiaan, mereka bedua tidak sabar memberitahu berita bahagia itu kepada keluarga besar Hanggara dan Pratama.
End..
*****
Finally,
Sah ya guys, ini ending untuk kisah mereka. Terimakasih buat kalian yang masih setia membaca sampai bab ini. Aku sangat bersyukur tulisan aku yang masih jauh dari kata sempurna ini ada peminat bacanya. Semoga kedepannya aku bisa terus mengembangkan kemampuan menulis aku. Dan, kalau boleh aku ingin minta doa dari kalian. Semoga aku bisa menjadi penulis yang sesungguhnya, semoga menulis memang passion aku. Kalian yang mau ikut mendoakan, aku akan sangat berterimakasih. Lemah teles gusti Allah sing bales.***
Sekali lagi Terimakasih untuk pembaca setia ku yang mengikuti kisah Yoga dan Jessi dari awal, ada yang mengikuti kisah orang tua mereka juga. Aku ucapkan makasih banget. Untuk pembaca yang baru bergabung semoga suka..
Sesuai janjiku, setelah Jessi dan Yoga tamat. Aku akan melanjutkan kisah Salsa dan Jordan. Sampai jumpa di kisah selanjutnya .
Sekian dulu cuap-cuap dari aku, semoga kalian sehat-sehat semuanya. Jangan lupa segera vaksin jika ada kesempatan..
Tunggu notif dari aku untuk kisah Jordan dan Salsa yaa..
Salam hangat,
__ADS_1
N Lita S