Pengacara Tampanku

Pengacara Tampanku
Bab scandal


__ADS_3

“Apa lagi ini?!” Yoga membelalak melihat trending topik di media sosial yang berisi foto-foto Jessi dan Raka. Raka nampak merangkul Jessi berjalan di lorong hotel. Berbagai komentar negatif dari Netizen pun bermunculan memenuhi akun-akun gosip yang memposting foto Jessi dan Raka.


“Ada apa, Ga?” Tanya papa Wisnu. Melirik Yoga yang sedang sibuk dengan ponselnya. Papa Wisnu, Yoga dan Adam sedang membahas masalah konferensi pers, namun di tengah-tengah itu ponsel Yoga berdering. Terdapat satu pesan masuk di ponsel Yoga. Radit sahabat sekaligus rekan seprofesi Yoga, mengirimkan berita scandal baru tentang Jessi.


“Ga?” Ulang papa Wisnu. Yoga menyerahkan ponselnya kepada papa Wisnu. “Papa lihat saja sendiri!”


Papa Wisnu melihat apa yang ada di ponsel Yoga. Beliau penasaran apa yang membuat Yoga kembali kesal, pasalnya beberapa waktu yang lalu kekesalan Yoga sudah hilang. Hanya gara-gara satu pesan masuk Yoga kembali merasa kesal.


“Adam juga mau lihat, pa.” Adam menggeser duduknya mendekat ke arah papa Wisnu. “Wah, kali ini calon mertua kamu ikut terseret, Ga.” Kata Adam setelah melihat scandal baru Jessi bersama Daddy Raka.


“Gak ada otak yang rilis berita itu.” Gumam Yoga.


“Papa jadi takut, Ga.” Papa Wisnu mengembalikan ponsel Yoga. Yoga menerimanya dan bertanya pada Wisnu. “Takut apa, pa?” Mengernyit heran. Apa yang bisa membuat papa gahul nya itu takut?


“Takut mertua kamu murka.” Wisnu begidik ngeri. Siapa yang tidak tahu Raka Rahardian Pratama? sepak terjangnya di dunia bisnis maupun dunia bawah sudah tidak bisa di ragukan lagi. Baik di dunia bisnis maupun dunia bawah, Raka masih sangat populer di usianya yang tidak muda lagi.


“Sudah pasti mas Raka murka, pa. Papa tau sendiri, Jessi itu princess di keluarga Pratama.” Ucap Adam.


Yoga menghela nafas berat. Benar yang dikatakan Adam, Jessi itu princess nya Pratama Group jika hal buruk menimpa Jessi, pihak Raka pasti akan membuat perhitungan setimpal.


“Yoga kekamar dulu, pa, mas. Mau telepon Jessi.” Mengingat gadis kesayangannya pasti sedang sedih. Yoga tidak bisa membayangkan seberapa sedihnya Jessi saat ini, dan ia malah tidak di sampingnya.


“Ya sudah kamu istirahat dulu, biar mas mu yang urus konferensi persnya.” Kata papa Wisnu sambil menepuk bahu Yoga. Adam mengangguk mengiyakan ucapan papa Wisnu. Yoga pun berlalu menuju kamarnya. Karena itu rumah utama, Yoga pun memiliki kamar di rumah itu.


***


“Lo lihat tuh!” Devina menunjuk layar televisi. Dimana Channel televisi itu adalah acara gosip. Disana muncul foto Jessi dan Raka yang baru saja viral setengah jam yang lalu. “Apa gue bilang, tuh cewek emang murahan. Baru aja kemarin sama Yoga sekarang sama bapak-bapak, eh.. bentar, itu bukannya pemilik Pratama Group, Yah?Itu suaminya ibu Ayu ‘kan?Gilaa tu anak, bisa-bisa di makan habisan-habisan tu anak. Berani-beraninya deketin suaminya ibu Ayu.” Kata Devina menggebu-gebu. Sudah dua jam Devina di apartemen Clara, perempuan itu menolak usiran secara halus oleh Clara. Padahal Clara ingin sekali Devina pergi dari apartemennya. Clara tidak mau nantinya terseret ke dalam masalah Devina.


“Cla.. kok lo diem aja sih?Lo dengerin gue nggak?” Merasa tidak ditanggapi oleh Clara.

__ADS_1


“Hm.”


“Itu, sugar baby nya Yoga jalan sama Presdir Pratama Group, gila bener tuh bocah.” Kata Devina.


Itu bokapnya bodoh!! Batin Devina.


“Kali aja itu bokapnya.” Ceplos Devina.


“He.. mana mungkin?Gue tau kok rumah tu anak, rumahnya sederhana banged. Mana mungkin anak tuan Raka.” Mengibas-ibaskan tangannya sambil mengejek Clara. “Tapi, agak mirip sih.” Setelah mengamati dengan seksama foto Jessi dan Raka.


“Haha, mana mungkin? Pasti cuma kebetulan saja mirip.” Gumam Devina.


Ya, iyalah mirip, DNA mereka sama. Gue cuma bisa berharap semoga kali ini bukan ulah lo, Dev.


Sebagai sahabat Clara hanya bisa mendoakan semoga hukuman Devina dari tuan Raka tidak terlalu kejam.


***


Sementara Raka, lelaki itu berada di ruang kerjanya untuk melakukan meeting video dengan tim hukumnya untuk mengambil langkah menangani kasus Jessi.


“Mommy, are u Okay?” Tanya Rey saat Ayu tiba-tiba lingkung.


“Mommy baik-baik saja, Rey. Hanya sedikit pusing.” Jawab Ayu.


“Duduk dulu, mom.” Mengajak Ayu untuk duduk di kursi panjang yang berada di samping pintu utama.


Iring-Iringan mobil Bodyguard Jessi mulai masuk ke area pribadi milik Raka. Yang artinya sebentar lagi akan masuk ke halaman rumah utama. Satu mobil Bodyguard sudah masuk ke halaman rumah. Diikuti oleh mobil Jordan dan beberapa mobil Bodyguard yang lain.


Melihat mobil Jordan sudah masuk kedalam halaman, Ayu pun langsung berdiri. Jordan memarkir mobilnya tepat di depan pintu utama. Ayu sendiri langsung berjalan kearah pintu mobil bagian belakang. Ayu tidak sabar untuk melihat kondisi Jessi.

__ADS_1


“Mommy?” Jordan tidak sadar ada Ayu yang sedang membantu Jessi turun dari mobil. “Mommy pulang?berarti Daddy?” Ah, sudah Jordan tahu jawabannya. Jika Ayu pulang maka Raka pasti juga pulang. Jordan tau betul seberapa bucin Daddy nya pada mommy nya.


Ayu sendiri memapah Jessi turun dari mobil di bantu oleh Salsa. Jessi nampak lemas, kedua mata Jessi pun nampak sembab dan bengkak akibat terlalu banyak menangis.


“I’ts oke, baby. Mommy here with you.” Tutur Ayu lembut. Berjalan masuk kedalam rumah.


Bruk... “Jessica!” Pekik Ayu saat Jessi tiba-tiba merosot dari papahan Ayu dan Salsa. Jessi pingsan dan jatuh ke lantai.


“Daddy!!!” Teriak Rey. Raka yang mendengar teriakan Rey pun langsung keluar dari ruang kerjanya. Sampai di ruang tamu Raka melihat Ayu menangis sambil lengan tangannya Ayu gunakan untuk menopang kepala Jessi, sementara Jessi tak sadarkan diri. Salsa dan Celia juga nampak menangis. Mereka tidak kuat menggendong Jessi.


“Astaga.. apa yang terjadi?” Mendekati Ayu dan Jessi. Ayu tidak menyahut pertanyaan Raka karena terlalu larut dalam tangisnya sambil mengusap usap lembut kepala Jessi.


“Kakak pingsan, dad.” Jawab Rey.


Raka langsung membopong Jessi dan merebahkannya di sofa ruang tamu. “Panggil dokter Harun, Rey!” Perintah Raka pada si bungsu.


“Oke, dad.” Rey meraih telepon di nakas dan langsung menghubungi dokter Harun. Dokter pribadi keluarga Raka saat ini.


“Jessi kenapa, mas?Anak kita baik-baik saja ‘kan?” Tanya Ayu menarik-narik ujung kemeja Raka seperti anak kecil. Raka tengah berdiri di hadapan Jessi sementara Ayu berjongkok di sebelah sofa yang digunakan untuk membaringkan Jessi.


“Tidak papa, sebentar lagi pasti sadar.” Mengusap kepala Ayu sambil tersenyum menenangkan.


“Kak Yoga.” Lirih Jessi mengigau memanggil nama Yoga.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2