Pengacara Tampanku

Pengacara Tampanku
Bab Pagi indah


__ADS_3

Sampai di apartemennya, Yoga disambut oleh Radit dan Dito. Ternyata dua sahabat Yoga itu belum pulang dari apartemen nya. Radit dan Dito berkunjung ke apartemen Yoga sejak magrib. Yoga terpaksa meninggalkan kedua sahabatnya untuk menjemput Jessi.


“Dit, lo ada kecium bau sesuatu, nggak?” Dito menyenggol lengan Radit saat Yoga duduk di sofa sebelah kedua sahabatnya itu.


“Bau apa?” Radit mengendus-endus kan hidungnya mencari-cari bau yang di maksud Dito. Merasa tidak mencium bau apapun Radit menoleh ke Dito, yang di toleh pun melirik Yoga sekilas sambil mengedipkan sebelah matanya.


Bukan Radit namanya jika tidak paham arti kedipan mata Dito. “Ooooo.. gue tau gue tau, gue bisa nyium bau ini, jelas banged bau nya.” Ucap Radit heboh sendiri.


“Bau apaan?” Tanya Yoga cuek. Ia bahkan tidak menoleh ke Dito maupun Radit saat bertanya. Yoga sibuk dengan ponslenya. Ia sedang mengirim pesan pada Jessi, mengabari pengacau kecilnya, dia sudah sampai di apartemen dengan selamat.


“Bau apa Dit? Yoga nanya tuh!” Kode Dito.


“Gue nggak ada nyium bau apa-apa, mana mungkin ada bau, apartemen gue bersih. Seminggu tiga kali asisten rumah tangga datang buat bersihin apartemen gue, mana ada bau di sini.” Ucap Yoga meletakan ponselnya di meja kaca. Ia pun berdiri berjalan ke arah kulkas untuk mengambil air.


Sementara Radit dan Dito masih duduk di karpet sambil bermain PS.


“Ada kok, baunya menyengat banget.” Timpal Dito.


“Bau apaan woy? Jangan mengada-ngada.” Tegur Yoga tidak mencium bau apapun.


“Bau-bau kasmaran!” Teriak Radit terkekeh.


“Sialan lo, gue kira serius!” Umpat Yoga kesal. Meneguk air mineral dengan botol berukuran sedang yang ia ambil dari dalam kulkas.


Dan, saat itu pula layar ponsel Yoga menyala, satu notif pesan masuk dari “My Bocil” dengan isi pesan.


Mimpi indah juga, kak. Muuuach ❤️


“Cie ... dapat muah dari My Bocil!” Teriak Dito yang tidak sengaja membaca pesan dari Jessi.


“Uhukkk..” Yoga langsung tersedak dan buru-buru mengambil ponselnya sebelum Dito membaca pesan yang lain.


Padahal Dito tidak mungkin membaca pesan yang lain, dia saja sibuk dengan stik ditangannya. Dito hanya mengintip pesan masuk Jessi karena layar ponsel Yoga menyala.


“Luluh juga lo.” Ledek Radit.


“Gue kira lo bakalan pacaran seumur hidup sama tumpukan dokumen kasus, ternyata bisa juga lo pacaran sama gadis.” Dito ikut menimpali.


Habis sudah Yoga di bully oleh kedua sahabatnya. Yoga hanya bisa melotot dan diam saat Radit dan Dito terus-terus an menggodanya. Apalagi Yoga pernah berkata tidak akan jatuh pada pesona Jessi. Tapi, ia kemakan oleh omong an nya sendiri. Tidak hanya jatuh pada pesona Jessi, Yoga bahkan pacaran dengan Jessi.


***

__ADS_1


Pagi-pagi sekali Yoga bersama mobilnya yang sudah terparkir di depan pintu gerbang Jessi. Kira-kira sejak pukul enam pagi Yoga sudah berada di lingkar luar gerbang rumah Jessi.


“Ternyata benar Den Yoga. Saya nggak salah lihat ternyata.” Ucap pak Basuki satpam di rumah Jessi saat Yoga menghampirinya.


“Iya saya, pak. Apa Jessi sudah berangkat sekolah, pak?” Tanya Yoga sopan.


“Belum, Den. Biasanya non Jessi berangkat jam setengah tujuh. Mau masuk, Den? Saya bukakan gerbang.” Tanya pak Basuki.


“Tidak usah, pak. Saya tunggu di sini saja.” Jawab Yoga. Pak Basuki memangguk.


“Duduk dulu, Den. Non Jessi paling baru sarapan.” Ujar pak Basuki hafal pada kebiasaan majikannya.


Yoga pun duduk di kursi yang sudah di siapkan pak Basuki. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku celana, Yoga mengirim pesan pada Jessi.


Sayang, saya di depan gerbang rumah kamu. Saya antar kamu ke sekolah.


Send..


Setelahnya Yoga memasukan kembali ponslenya ke dalam saku.


Sementara di ruang makan, Jessi memeriksa ponselnya yang bergetar.


“Uhukk..” Jessi langsung tersedak oleh makanannya saat melihat pesan yang dikirim Yoga.


“Makanya kalau lagi makan ponselnya dimatikan!” Tegur Jordan.


Jessi mengabaikan Rey maupun Jordan. Gadis itu malah mengelap mulutnya dengan tisu setelah menenggak habis segelas air putih dari Rey.


“Gu-gue duluan, guys.” Menyambar tas sekolahnya. “Lo, ke sekolah bawa mobil gue ya Sa, ntar gue ceritain nyampe di sekolah.” Memberikan kunci mobilnya pada Salsa, dan berlalu pergi.


Salsa sendiri terbengong. “Gue nyetir sendiri?” Menatap Rey dan Jordan secara bergantian. Kedua lelaki yang di tatap Salsa itu pun menganggukkan kepalanya.


“Lagian tu anak aneh.” Kata Jordan merasa adiknya sedikit berubah.


“Btw dia berangkat sekolah sama siapa?” Jordan maupun Rey hanya mengedikan kedua bahunya menjawab pertanyaan Salsa. Karena pada kenyataanya tidak ada yang tau Jessi berangkat sekolah bersama siapa kecuali pak Basuki.


Didalam mobil, Jessi tak henti-hentinya mengembangkan senyum di wajah cantiknya. Diantar Yoga berangkat sekolah sekali pun Jessi tidak pernah membayangkan hal ini.


“Kenapa?” Melirik Jessi.


“Nggak sih, kak. Jessi cuman masih nggak nyangka aja kak Yoga nganter Jessi berangkat sekolah.” Jawab Jessi.

__ADS_1


“Suka?”


“Banged, kak.”


“Ya sudah, saya antar kamu setiap saya ada waktu.” Kata Yoga serius.


“Mau banged, kak.” Girang Jessi.


Semoga ini bukan mimpi yang singkat. Jessi masih sering takut apa yang ia rasakan saat ini hanyalah mimpi. Perubahan sikap Yoga padanya terlalu besar. Sampai-sampai Jessica takut semua yang dia rasakan hanya mimpi.


“Nanti kerja part time?” Jessi mengangguk.


“Saya jemput, ya?” Tawar Yoga. Lagi-lagi Jessi menganggukkan kepalanya. “Boleh, kalau kak Yoga enggak sibuk.”


“Saya free, kok.”


“Nanti jemput agak awal ya, kak. Jessi malam ini pulang jam sembilan.” Ucap Jessi.


“Oke, sayang.”


Jessi sampai di sekolahnya lebih awal sepuluh menit dari biasanya. Sekolahnya masih sepi, sayang sekali, padahal Jessi mau pamer sama anak-anak yang sering mengatai Jessi tidak laku karena jomblo dari awal masuk. Jessi mau pamer berangkat sekolah diantar pengacara tampan dengan mobil sport, eh malah sepi. Kecewa deh, dek Jessica nya, tidak terlaksana niat pamernya.


Yoga sendiri langsung putar balik setelah melihat Jessi masuk kedalam gerbang sekolahnya.


***


Celia turun dari mobilnya. Ia memarkir mobilnya di tempat biasa, seberang an dengan mobil Jessi. Namun, tempat parkir yang biasa Jessi gunakan masih kosong.


“Tumben Jessi belum datang.” Gumam Celia. “Ah itu dia!” Melihat mobil Jessi memasuki gerbang dan melaju kerahnya.


“Lo sendirian? Mana Jessi?” Celia hanya melihat Salsa turun sendiri dari mobil Jessica. Tidak ada Jessi bersama Salsa, bahkan Salsa nampak menyetir sendiri.


“Udah berangkat duluan.” Jawab Salsa kesal. Bagiamana tidak kesal, pagi-pagi Salsa sudah kena tilang karena menerobos lampu merah.


“Kok bisa?”


“Bisa, lo tanya sendiri ke orangnya aja. Lagi kesel gue.” Salsa berjalan menuju kelas diikuti Celia dengan wajahnya bingung nya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2