
Hari-hari Jessi lalui dengan sekolah, mengajar les bahasa Korea dan bekerja part time. Dari pagi sampai malam Jessi sibuk dengan aktivitasnya itu, sampai-sampai ia tidak mempunyai waktu untuk bermain seperti dulu.
Namun, hari ini adalah hari libur bagi Jessi. Sekolahnya diliburkan karena semua guru rapat, ia juga mengambil libur mengajar les dan bekerja. Jessi akan menghabiskan seharian ini bermain dengan Salsa dan Celia.
Pagi-pagi sekali Celia sudah di antar papanya ke rumah Jessi. Celia membawa tas ransel sekolahnya dan paperbag berisi buku-buku sekolah esok pagi. Malam ini Celia akan menginap di rumah Jessi.
Selain Celia, Salsa juga sudah datang ke rumah Jessi tiga puluh menit lebih awal. Salsa akan menginap dua hari karena papa nya tugas dinas ke luar kota. Salsa langsung nongkrong di taman belakang sambil menunggu Jessi bangun. Ya, Jessi sang pemilik rumah belum bangun. Tidak hanya Jessi, Jordan juga belum bangun. Saat Salsa datang hanya Rey si bungsu yang sudah bangun.
Rey susah bangun karena akan berkebun selagi libur. Meskipun laki-laki Rey sangat suka menanam bunga dan mengoleksi bonsai. Bocah laki-laki itu menuruni sifat eyang kakung nya yang suka merawat bonsai.
Rey berkebun ditemani Celia yang nampak kagum pada koleksi tanaman bonsai milik Rey. Celia selalu saja bertanya jenis tanaman ini itu pada Rey. Membuat Rey yang ditanya merasa kesal.
“Kakak masa tidak tau macam-macam bunga, padahal kakak, kan, perempuan.” Gerutu Rey sebal karena Celia banyak bertanya. Bunga yang sering mereka jumpai saja Celia tidak tau.
“Memang kalau perempuan harus tau macam-macam bunga ya Rey?” Tanya Celia.
“Nggak juga sih.” Jawab Rey tertawa kecil.
“Rey, bangunkan kakakmu dong. Kak Salsa udah lapar nih!” Seru Salsa. Namun, seruan Salsa di abaikan oleh Rey dan Celia.
“Kita pura-pura nggak dengar aja Rey.” Lirih Celia mengerjai Salsa. Rey mengangguk setuju.
Salsa yang diabaikan pun merasa kesal sendiri. Akhirnya Salsa masuk kedalam rumah berniat membangunkan Jessi sendiri. Sampai di tangga menunju kamar Jessi, Salsa bertemu Jordan. Jordan baru saja habis mandi dilihat dari rambutnya yang basah. Wajahnya pun terlihat fresh.
“Cie.. ganteng amat sih Jo, pacaran yuk!” Goda Salsa saat berpapasan dengan Jordan di tangga. Lebar tangga di rumah Jessi cukup untuk berpapasan dua orang ya!
“Pacaran sama lo, hiii. Nggak bisa gue bayangin.” Jawab Jordan begidik ngeri lalu mempercepat langkahnya turun. Salsa terkekeh melihat Jordan yang sepertinya ilfil. Salsa pun melanjutkan langkahnya menuju kamar Jessica.
Sampai di kamar Jessi, Salsa membuka seluruh gorden agar sinar cahaya matahari masuk kedalam ruangan. Agar Jessi bisa kepanasan terkena sinarnya. Bukan bangun Jessi malah bersembunyi di balik selimut. Hal yang membuat Salsa kesal.
“Gila, kak Yoga tersangkut skandal pacaran sama artis.” Kata Salsa di buat seolah-olah terkejut. Salsa serius menatap layat ponselnya berdiri di sebalah ranjang Jessi.
“Serius?Mana lihat?” Jessi langsung menyembul dari dalam selimut dan merebut ponsel dari tangan Salsa. Buru-buru Jessi melihat layar ponsel itu.
__ADS_1
“Tapi bo’ong!” Salsa terkekeh berhasil membuat Jessi bangun.
“Salsa....” puk..puk.. bantal pun mendarat dengan selamat di kepala Salsa.
“Habisnya lo susah bangun, dengar nama kak Yoga aja gercep.” Salsa buru-buru merebut kembali ponselnya dari tangan Jessi dan berlari menuju pintu. “Gue tunggu di ruang makan. Lapar tauk.” Ujar Salsa meninggalkan kamar Jessi.
Jessi langsung bangun dan membersihkan diri. Setelah membersihkan diri, turun ke ruang makan sambil mengotak-atik ponselnya. Ia stalking akun instagram Yoga memeriksa apakah ada yang mencurigakan atau tidak. Akun instagram Yoga postingan terakhir masih sama dengan yang Jessi lihat terakhir kali. Jessi pun bernafas lega.
“Hampir dua minggu nggak ketemu, dan, kak Yoga nggak nyariin Jessi. Kirim pesan pun enggak. Jessi jadi makin yakin kak Yoga nggak ada perasaan sama Jessi.Yah meskipun itu terlihat jelas.” Gumam Jessi lesu. Menyimpan ponselnya di dalam tas.
Selama dua minggu Jessi menyibukkan dirinya agar tidak merecoki Yoga. Berharap Yoga akan mencarinya atau sekadar mengirim pesan namun, harapan Jessi tidak terwujud. Yoga bahkan tidak mengirimi barang satu pesan pun.
Sedih?Sudah pasti Jessi rasakan, namun Jessi tetap realistis. Jessi lah yang selama ini menyukai Yoga, ia juga tidak tau perasan Yoga. Jika, sampai akhir hanya Jessi yang mempunyai perasaan sendiri, bukanlah salah Yoga. Jessi tau mencintai seseorang ada resiko yang harus ditanggung salah satunya tidak mendapatkan balasan atas cinta itu.
Menuju ruang makan Jessi melangkah malas. Di ruang makan semuanya sudah berkumpul, bahkan Jordan dan Salsa sudah mulai makan karena terlalu lapar. Dua orang itu tidak sabar jika harus menunggu Jessi.
Usai sarapan, Jessi dan kedua sahabatnya jalan-jalan ke Mall. Tidak hanya mereka bertiga, Jordan dan Rey pun ikut pergi ke Mall. Jordan akan menjadi supir hari ini, sementara Rey akan menjadi body guard kecil yang mengawasi makanan yang di beli Jessi.
Sampai di Mall bioskop baru buka. Mereka menonton film horor dulu sebagai pembuka jalan-jalan di Mall hari ini. Setelah menonton, mereka lanjut ke timezone. Sudah lelah berkeliling Jessi mengajak sahabat dan saudaranya berganti tempat sekalian makan siang menjelang sore.
“Yang tempatnya mewah, harganya mahal, dan enak.” Jawab Salsa.
“Setuju, yang gue belum pernah makan disana.” Sahut Celia.
“Rey mau Western Cuisine, kak!” Seru Rey ikut menimpali percakapan Jessi dan kedua sahabatnya. Sementara Jordan hanya diam fokus menyetir saja. Jordan setuju apapun menu pilihan suara terbanyak.
“Kalian gimana?” Menatap Salsa dan Celia secara bergantian. Keduanya mengangguk setuju.
“Boleh deh Rey, kita makan masakan western aja. Kak, ke restoran favorite mommy ya!”
Jordan mengangguk dan langsung melajukan mobil menuju restoran favorite mommy Ayu. Restoran mewah yang sering keluarga Jessi datangi.
Sampai di restoran mereka langsung duduk di tempat yang di pilihkan pelayan. Dengan kursi untuk lima orang.
__ADS_1
“Rey mau Mushroom risotto, kak.” Jessi mengangguk. “Yang lain apa?” Tanya Jessi.
Salsa nampak membaca satu persatu menu di buku menu. Begitu juga Celia.
“Aku, Pasta marinara, Jess.” Ucap Celia.
“Aku, Roasted herbs chicken.” Ucap Jordan setelah membaca menu nya.
“Jess, aku sama kaya lo aja deh.” Ucao Salsa.
“Oke, tapi gue mau Spaghetti bolognese. Gimana?” Tanya Jessi.
“Boleh, deh.”
Jessi pun mengucapkan pesanannya pada pelayan. Setelah pesanan datang mereka langsung menyantap makanan mereka dengan lahap. Sesekali Jessi merusuhi makanan Jordan, Jordan pun tidak keberatan dengan tingkah Jessi.
“Aku ke toilet bentar ya. Kebelet pipis.” Ucap Jessi sambil mengelap bibirnya dengan tisu. Belum sempat yang lainya menyahuti ucapan Jessi, gadis itu sudah berlari meninggalkan meja.
Usai buang air kecil Jessi merapikan rambutnya, dia juga mengambil liptint dari tas nya dan mengaplikasi kan liptint itu di bibirnya. “Cantik.” Puji Jessi menatap dirinya di cermin.
Setelah masukan kembali liptint nya ke dalam tas. Jessi keluar dari toilet. Dia berjalan santai menuju tempat makan.
“Jessica!” Panggil seseorang yang sangat amat Jessi kenal suaranya.
Jessi menoleh ke arah suara berasal. “Kak Yoga?” Dilihatnya Yoga tengah berjalan ke arahnya.
“Kakak makan disini juga?” Senyum sumringah terpancar di wajah Jessi. Namun, tidak dengan Yoga. Lelaki itu terlihat sedang kesal.
“Kamu ikut saya!” Yoga menarik pergelangan tangan Jessi mengajaknya pergi dari tempat itu.
.
.
__ADS_1
.
.