
Yoga mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi usai mendapat pesan dari Jessi yang mengabarinya telah sampai di Bandara (Bandar Udara ). Lelaki itu langsung menuju bandara setelah menyelesaikan sidang pembelaan kliennya yang berujung dengan kemenangan.
Suasana kota Jakarta siang itu cukup padat, butuh waktu lebih lama bagi Yoga untuk munuju bandara.
Tin..tin.. tin.. suara bunyi klakson terdengar saling bersahutan saat lampu lalu lintas berubah warna dari warna merah menjadi hijau. Para pengendara mobil maupun motor tidak sabaran untuk menginjak pedal gas nya, begitu pun pengendara motor yang tidak sabaran meng-gas stang motornya.
Kak Yoga jadi jemput Jessi, nggak?
Lama banget sih, kak?
Hello!!
Jessi naik taksi aja deh.
Beneran Jessi naik taksi lho!
Yakin, Jessi naik taksi aja?
Yoga semakin menambah kecepatan laju mobilnya kala mendapat pesan beruntun dari Jessi. Kekasih kecilnya itu memberondong Yoga dengan berbagai pesan chat yang berbeda.
“Jessica pasti marah.” Gumam Yoga sambil melirik ponselnya yang berada di dasbor depan.
Tin.. tin..tin...
Mendengar suara klakson Yoga kembali memfokuskan pandangannya ke arah depan.
Brak!!
Benturan keras antara baja dan baja terjadi, mobil yang di kendarai Yoga terhantan kecelakan yang terjadi di depannya hingga mobil itu mengalami oleng. Dan, Brak.. satu kali terdengar benturan keras saat mobil yang dikendarai Yoga terbalik dengan posisi Yoga masih berada di dalam mobil.
Dalam keadaan antara hidup dan mati, Yoga berusaha tetap tersadar. Darah menetes perlahan di pelipisnya, posisi Yoga yang tengkurap membuatnya kesulitan untuk bergerak. Tangan nya ia gerakkan kearah gagang pintu mobil.
Samar-samar Yoga mendengar teriakan orang-orang dan langkah kaki mendekat sebelum ia akhirnya kehilangan kesadaran sepenuhnya.
Sementara Jessica yang kesal menunggu Yoga tak kunjung tiba menjemputnya pun memutuskan memesan taksi online.
“Kok, lewat sini, Pak?” Tanya Jessi pada sopir taksi online. Jalanan yang di lewatinya saat ini berbeda dengan jalur biasanya.
“Ada kecelakaan di perempatan depan, non. Makanya saya ambil jalan yang memutar. Soalnya macet disana.”
Jessi hanya manggut-manggut. Ia membuka tas slingbagnya dan mengambil ponsel dari dalam tas itu.
“Yah, mati.”
Jessica lupa mencharge ponselnya, alhasil ponselnya pun mati.
Kalau kak Yoga nyari Jessi gimana, ya?
Perasaan bersalah mulai menyelimuti Jessi karena tidak menunggu Yoga datang dan memilih memesan taksi online. Dia ingin menghubungi Yoga, mengabarkan pada lelaki itu bila dirinya sudah pulang dengan taksi online tapi ponselnya sudah terlanjur kehabisan baterai.
__ADS_1
**
Yoga dan beberapa korban lainnya pun tiba di Edward hospital. Salah satu rumah sakit terbaik di kota Jakarta.
Dokter dan perawat siaga menunggu kedatangan korban kecelakaan di depan rumah sakit. Satu persatu korban mulai mendapatkan penanganan medis begitu pun, Yoga. Lelaki itu langsung di bawa ke ruang IGD oleh dokter dan perawat.
Selang dua menit setelah Yoga masuk ruang IGD, Adam dan Nabila tiba di rumah sakit. Keduanya bisa datang secara bersamaan meskipun dari arah yang berbeda. Adam sendiri tengah berada dikantornya saat di kabari oleh pihak kepolisian perihal kecelakaan yang menimpa Yoga, sementara Nabila yang berada di rumah langsung menuju rumah sakit setelah mendapat kabar Yoga kecelakaan dari sekertaris Adam.
Keduanya dengan langkah panjang menuju ruang IGD.
“Kok bisa kecelakaan?”
“Mas nggak tau kronologis lengkapnya, sayang. Hanya garis besarnya mobil Yoga di hantam lalu terbalik.” Adam menanggapi pertanyaan istrinya dengan tenang.
Adam mondar-mandir menunggu dokter yang memeriksa Yoga tak kunjung keluar.
“Bagaimana keadaan adik saya, dok?” Dokter yang baru saja keluar dari ruang IGD langsung di todong pertanyaan oleh Adam.
“Untuk saat ini pasien masih belum sadar, saat ini detak jantung nya normal dan tekanan darahnya normal. Namun, kami akan lakukan pemeriksaan ct scan guna melihat kemungkinan adanya cidera di kepala maupun organ dada.” Jawab dokter itu.
“Baik, lakukan yang terbaik, dok.” Ucap Adam.
Mengakhiri percakapan mereka, Adam lalu menghampiri Nabila dan mengabarkan pada istrinya keadaan Yoga saat ini.
“Semoga, Yoga baik-baik saja, mas.” Lirih Nabila.
“Kita berdoa saja, sayang.”
***
Kediaman Raka Rahardian Pratama.
“Oke, saya ke rumah sakit sekarang.” Jawab Raka seraya mengakhiri panggilan teleponnya.
“Rumah sakit? Siapa yang sakit, mas?” Ayu baru saja datang dari dapur dengan membawa secangkir teh saat mendengar Raka mengucapkan kata rumah sakit dengan orang yang di ponsel.
“Jessi, kemana?”
“Tidur, mas. Kelelahan kayaknya, sampai rumah langsung mandi terus tidur.” Jawab Ayu.
Raka manggut-manggut sambil memikirkan sesuatu.
“Mas?” Setelah meletakan secangkir teh yang Ayu bawa di meja kaca.
“Hm.”
“Kamu belum jawab, mas. Siapa yang sakit ?Kamu mau kerumah sakit sekarang mau ngapain?” Cecar Ayu dengan dua pertanyaan sekaligus.
“Yoga kecelakaan.”
__ADS_1
“Yoga? Yoga nya Nabila? Calon mantu kita?Raka mengangguk mengiyakan. “Innalillahi, terus gimana? Gak papa ‘kan mas?”
Raka menggelengkan kepalannya lesu. “Nggak tau, Yu. Mending kita langsung kesana sekarang.”
“Iya, iya. Ayo cepet!” Menarik lengan Raka tidak sabaran.
“Kamu nggak ganti baju dulu?” Raka bergeming di tempatnya sambil memperhatikan penampilan Ayu dari kepala sampai ujung kaki. Ayu hanya mengenakan daster dan sandal bulu rumahan.
“Oh, iya.” Menunduk memperhatikan penampilannya sendiri. “Kalau gitu Ayu ganti baju sebentar.” Berlari secepat kilat menuju kamarnya.
Raka pun menunggu Ayu di mobil.
“Kita nggak bangunin Jessi, mas?” Ayu masuk kedalam mobil dan mengenakan sabuk pengaman.
“Nanti saja, kita pastikan dulu keadaan Yoga.” Raka menghidupkan mesin mobilnya. Mobil pun perlahan melaju meninggalkan kediaman Raka.
“Mommy sama Daddy, kemana?” Jessi terbangun setelah melepaskan keletihan dengan tidur. Gadis itu langsung menuju dapur, membuka kulkas dan meminum hingga tandas air mineral di botol.
“Nggak tau, kak. Pas Rey pulang, nggak ada orang. Rumah sepi.” Jawab Rey, bocah lelaki itu sedang makan sore sendirian di ruang makan.
“Tadi siang sih mereka di rumah.” Jessi duduk di kursi sebelah Rey.
“Mungkin mereka kencan, kak. Mumpung sama-sama cuti.” Ucap Rey dengan mulut penuh makanan. Tangan kanannya menyerahkan piring kosong pada Jessi.
“Tau aja kamu.” Menerima piring itu dan langsung mengisinya dengan nasi dan beberapa lauk. Jessi memang terbangun karena lapar.
Usai makan Jessi dan Rey mengobrol di gasebo taman belakang.
“Baru juga pulang udah galau aja.” Sindir Rey melihat wajah Jessi yang sedari tadi cemberut.
“Nomor kak Yoga nggak aktif, dia marah apa ya?” Memainkan ponselnya setelah beberapa waktu lalu terus menerus mencoba menghubungi Yoga.
“Mungkin lagi meeting, kak.” Rey memang selalu positif thinking.
“Bisa jadi sih Rey, cuman masalahnya tadi Jessi lagi marah sama kak Yoga. Takutnya dia balas dendam marah balik ke kakak.” Keluh Jessi.
“Emang kak Yoga, itu kakak. Yang masih kekanak-kanakan? Nggak mungkin kak Yoga marah karena masalah sepele.” Ucap Rey sudah terbiasa dan mengenal sifat Yoga yang dewasa.
“Masalahnya tadi kakak nyuruh kak Yoga jemput kakak di bandara, tapi kakak nggak sabar jadi pulang duluan naik taksi.” Lirih Jessica.
“Apa?!”
.
.
.
.
__ADS_1
Pelajaran apa yang bisa di petik dari episode kali ini ??