
Sesekali Yoga mengusap lembut kepala Jessi saat gadis itu mengigau. Ini adalah kali pertama Yoga memperlakukan gadis dengan sangat lembut. Saat berpacaran dengan Devina pun Yoga tak selembut saat ini.
Sekitar setengah jam yang lalu Yoga sampai di kediaman Raka. Yoga langsung menuju rumah Raka setelah mendapat telepon dari Jordan yang memintanya datang karena Jessi pingsan. Tak hanya sendiri, Yoga pergi ke rumah Raka bersama keluarga besarnya. Papa Wisnu, Adam, Nabila dan si kembar Akra, Aksa pun turut menemani Yoga.
Awalnya Yoga menolak mengajak keluarganya tapi papa Wisnu bersikukuh ingin ikut. Sudah begitu Nabila ikut-ikutan merengek meminta ikut. Mau bagaimana lagi? Keluarga besar Yoga juga mengenal dan menyayangi Jessi, mendengar Jessi pingsan semuanya menjadi cemas dan ingin melihat keadaan Jessi.
Selain itu papa Wisnu juga ingin menemui Raka. Beliau sebagai ayah dari Yoga akan meminta maaf pada Raka, karena Yoga lah penyebab Jessi hingga pingsan. Papa Wisnu tahu betul kondisi psikis Jessi. Jessi pasti belum cukup kuat menerima situasi saat ini. Apalagi Jessi tumbuh dari keluarga yang kaya, ia tidak pernah merasa kesulitan. Jessi tidak se kuat gadis-gadis di luaran sana.
Sementara Yoga menjaga Jessi, papa Wisnu, Adam, dan Raka mengobrol di ruang keluarga. Begitu pun para ibu-ibu, Nabila dan Ayu sibuk di dapur menyiapkan makanan.
Apakah Yoga hanya sendiri menjaga Jessi? Tentu tidak, dikamar Jessi ada Rey dan juga si kembar Akra, Aksa yang menemani Yoga. Si kembar Akra, Aksa hanya terpaut beberapa bulan lebih muda umurnya dari Rey. Jadi, mereka menjadi teman akrab, apalagi mereka sekolah di sekolah yang sama.
“Om, jangan nangis!” Ledek Aksa saat melihat Yoga menunduk seakan sedang menangis.
“Om tidak nangis.” Jawabnya tanpa mengangkat kepalanya.
“Kita keluar aja yuk! Kak Yoga butuh waktu berdua sama kak Jessi.” Ajak Rey pada si kembar. Keduanya pun mengangguk. Tiga bocah SD itu cukup bisa memahami situasi.
“Kita ke bawah dulu ya, om. Nanti kalau kak Jessi sudah sadar, om panggil kita.” Kata Akra seraya berdiri dari duduknya.
“Hm.” Yoga menjawab dengan berdehem.
Ketiga bocah yang masih duduk di bangku sekolah dasar itu pun keluar dari kamar Jessi.
“Kak..” lirih Jessi sambil mengangkat tangannya menyentuh kepala Yoga. Yoga pun mendongak. “Kamu sudah sadar, Jes.” Jessi mengangguk dan menepuk ruang kosong di tepi tempat tidurnya. Yoga beralih duduk di tepi tempat tidur Jessi.
“Bantu Jessi duduk.” Ucap Jessi meminta tolong. Yoga pun membantu Jessi setengah duduk dengan menaruh bantal di belakang punggung Jessica sebagai penyangga. “Segini cukup?” Mengatur bantal di belakang punggung Jessi. Jessi pun menganggukkan kepalannya.
“Kamu kenapa bisa pingsan? Saya hampir jantungan saat Jordan bilang kamu pingsan.” Mengelus pipi Jessi dengan lembut.
“Maafin Jessi, kak.” Kata Jessi berkaca-kaca.
Maaf?maaf untuk apa?Jangan bilang Jessi minta putus lagi gara-gara masalah ini.
__ADS_1
Yoga nampak cemas setiap mendengar kata maaf dari Jessi. “Maaf untuk apa, Hm?” Merapikan sulur anak rambut milik Jessi dan menyelipkan nya kebelakang telinga.
“Gara-gara Jessi karir kakak pasti hancur, Jessi udah buat kakak di benci masyarakat. Nama baik kakak tercemar karena Jessi, padahal kak Yoga mencintai profesi kakak. Kalau sampai kak Yoga-.”
“Stop.” Menaruh jari telunjuknya di depan mulut Jessi agar gadis itu berhenti bicara. “Karir saya baik-baik saja, saya tidak akan hancur hanya karena masalah ini. Dan, ini bukan salah kamu.” Tutur Yoga.
“Tapi, Jessi merasa bersalah, kak. Jessi tertekan, mereka mengatakan Jessi penyebab nama naik kakak tercemar. Mereka bilang Jessi yang menghancurkan karir Kaka, mereka juga bilang Jessi murahan, menjual diri, mereka, mereka...” Jessi tidak sanggup meneruskan ucapan nya. Air mata mengalir begitu saja di kedua pipi Jessi. Gadis itu menangis sesenggukan, hatinya sakit, perasaannya tertekan menghadapi pemberitaan miring tentang dirinya. Ia terus menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi. Jessica takut, terlalu takut menghadapi kenyataan jika dirinya lah penyebab Yoga mendapat cibiran negatif dari para Netizen.
Merengkuh tubuh Jessi dan memeluknya erat. “Sayang... ini bukan salah kamu, jangan menyalahkan dirimu. Ini bukan masalah yang besar, saya tidak akan jatuh karena masalah ini. Kamu percaya sama saya ‘kan?” Mengusap-usap lembut punggung. Sedang Jessi masih menangis di pelukan Yoga.
Saya nggak akan biarkan siapapun yang sudah membuat kamu menangis sepeti ini Jess!
Melepaskan pelukannya, dan kedua tangannya menyentuh bahu Jessi. “Sayang, hei.. Lihat saya!” Jessi memberanikan diri menatap Yoga.
Yoga mengusap lembut air mata Jessi. “Jangan menangis lagi! Saya nggak mau lihat kamu menangis, nanti nggak cantik lagi.” Gombal Yoga.
“Jessi takut..”
“Ehemm.” Mommy Ayu berdehem, entah sejak kapan mommy Ayu berdiri di ambang pintu.
Yoga pun melepaskan pelukannya dari Jessi dan tersenyum kikuk. Ia menjadi salah tingkat karena Ayu memergokinya memeluk Jessi.
“Mommy..”
“Sudah sadar kamu, nak.” Mendekati Jessi, Yoga pun menggeser tubuhnya dan berdiri memberi ruang agar Ayu duduk di tempatnya.
“Jessi kangen sama mommy.” Merentangkan tangannya yang langsung di sambut oleh Ayu dengan pekukan hangat. “Mommy juga kangen sama kamu, sayang.” Jessi dan Ayu saling melepas rindu. Ayu sendiri tidak membahas masalah Yoga dan Jessi, karena tidak mau Jessi tertekan. Ayu mengajak Jessi mengobrol yang ringan-ringan, contohnya Ayu menceritakan bagaimana bucin nya Daddy Raka saat di luar negeri.
***
“Kak Yoga di panggil Daddy, suruh ke ruang keluarga sekarang!” Rey menerobos masuk kedalam kamar Jessi tanpa mengetuk pintu. Yoga pun menganggukan kepalanya. Sementara Rey langsung kembali ke lantai bawah.
“Saya tinggal ke bawah dulu, ya?” Pamitnya pada Jessi.
__ADS_1
“Jangan lama-lama.”
Yoga mengangguk lalu berjalan keluar dari kamar Jessi.
“Jangan lama-lama, padahal mommy disini lho Jess. Kamu maunya beduaan terus sama Yoga.” Sindir mommy Ayu.
“Nggak gitu, mom. Jessi takut Daddy marahin kak Yoga, padahal ‘kan bukan salah kak Yoga. Jessi yang nyusul kak Yoga ke hotel. Kalau Jessi nurut kata kak Yoga buat nunggu di apartemennya pasti semuanya nggak akan terjadi.” Ucap Jessi bersedih.
“Sudahlah sayang, bukan masalah besar. Daddy kamu dan Yoga pasti bisa mengurus masalah ini.” Ucap mommy Ayu menghibur.
“Karir kak Yoga nggak bakal hancur ‘kan, mom?” Yang paling Jessi khawatirkan saat ini bukan dirinya yang mendapat kebencian dari para Netizen tapi karir Yoga sebagai pengacara.
“Mana mungkin karir Yoga hancur hanya karena masalah ini, kamu lupa siapa kakak Yoga?Kamu juga lupa siapa Daddy kamu? Mereka nggak akan membiarkan hal itu. Kamu percaya deh sama mommy. Mommy aja percaya sama Daddy kamu dan yang lainnya kok.” Ayu sudah lama menjadi Istri Raka. Ia cukup tahu peringai suaminya dalam menghadapi masalah. Bukan hal besar baginya masalah Jessi dan Yoga ini.
***
Media semakin ramai membicarakan masalah Yoga, Jessi dan Raka, apalagi saat Hanggara Group dan Pratama Group buka suara akan melakukan konferensi pers dalam waktu dekat. Masyarakat sibuk menerka-nerka apa yang akan di katakan kedua Group besar itu pada media. Seperti salah satu masyarakat rempong ini.
“Hancur lo, Jess. Gue yakin Hanggara Group dan Pratama Group bakal memojokkan lo demi melindungi Yoga dan Presdir Raka. Gue nggak sabar lihat lo kalah. Dan, setelah itu Yoga pasti jadi milik gue lagi.” Kata Devina bahagia.
“Jangan lupa ini ide gua, kak.”
“Lo emang paling bisa di andalkan, cheers buat kemenangan kita selangkah lagi.” Devina mengangkat gelasnya berisi minuman beralkohol yang di sambut oleh lawan bicaranya.
“Cheers.” Kata keduanya menabrakkan gelas mereka dan meminum minuman beralkohol itu.
.
.
.
Besok konferensi pers.. Sabar yaa, alurnya emang gini..
__ADS_1