
Tiba saatnya Jessica berangkat kerja part time. Jam empat sore Jessi sudah sampai cafe tempatnya bekerja. Seperti biasa Jessi langsung mengganti baju nya dengan baju kerjanya.
Enam jam berlalu, pukul sepuluh malam atau pukul dua puluh dua Jessi selesai bekerja part time. Ia sudah berganti pakaian dan memakai pakaiannya semula.
Jessi termenung di depan gerbang cafe menunggu Jordan menjemputnya. Sudah lima menit berlalu Jordan belum datang. Saat Jessi merasa kesal dan berniat memesan taksi, sebuah mobil menepi di depan Jessi berdiri. Sang pemilik mobil itu membuka kaca mobilnya.
“Sayang, masuk!” Seru seseorang dari dalam mobil.
“Kak, Yoga?” Teriak Jessi ceria dan langsung masuk ke dalam mobil. “Kak Yoga kok bisa lewat sini?” Tanya Jessi sambil memasang sabuk pengamannya.
Yoga melajukan mobil dengan kecepatan standar meninggalkan tempat itu. “Saya telepon no kamu tapi nggak aktif, saya telepon Jordan, dia bilang kamu kerja. Jadi, saya datang menjemput kamu menggantikan Jordan.” Jawab Yoga.
Oh.. jantung gue. Udah jadian masih aja suka gemetaran.
“Jessi senang kak Yoga mau jemput Jessi.” Ucap Jessi.
“Selanjutnya saya akan lebih sering menjemput kamu, menemani kamu kemanapun.” Tutur Yoga lembut sambil mengelus rambut kepala Jessica.
Gila, ini bener-bener kaya mimpi.
“Sayang deh sama kakak.”
“Saya lebih sayang sama kamu.” Balas Yoga tidak mau kalah. “Gimana kerja kamu, lancar?” Tanya Yoga.
“Lancar, kak. Jessi senang teman kerja Jessi baik semua, bos Jessi juga baik, kak.”
“Oh, ya?” Jessi mengangguk mengiyakan. “Bos kamu pria apa wanita?” Penasaran satu kata itu yang Yoga pikirkan sejak tau Jessi bekerja part time.
“Laki-laki, kak. Dia itu kakak kelas Jessi pas SMA. Dia baik banged, kak. Pas Jessi sakit dia kasih izin Jessi lama, padahal biasanya maksimal seminggu kalau izin.” Ucap Jessi memuji Rio.
“Baik banged bos kamu.”
“Banged, kak. Kak Rio juga nggak pernah mandang karyawan sebelah mata, dia aja sering makan bareng karyawan. Jessi juga sering di kasih coklat.” Cerocos Jessi dengan polosnya. Jessi bahan tidak melihat kilatan api dari seseorang yang sedang fokus mengemudi sambil mendengarkan cerita Jessi itu.
Oh, jadi namanya Rio! Rio ?Kayak nama bad Boy.
“Kalau baik kenapa nggak antar kamu tadi, padahal saya agak telat jemput kamu.”
__ADS_1
“Tadi, kak Rio mau nganterin Jessi, kok.”
“Terus?”
“Ya, Jessi tolak, kak. Soalnya Jordan udah janji mau jemput Jessi.” Jawab Jessi.
“Oh, jadi kalau enggak karena Jordan janji mau jemput kamu. Kamu bakalan mau diantar in sama Rio, gitu?” Tanya Yoga dengan kening mengerut.
“Ya, iya, kak. Hemat biaya taksi.” Jawab Jessi polos.
Jadi, bocah sok kecakepan yang berani nyentuh kepala Bocil gue tadi si Rio, Rio itu.
Tiga puluh menit yang lalu. Yoga sudah sampai di depan cafe tempat Jessi bekerja, ia melirik jam di pergelangan tangannya. Masih belum waktunya Jessi pulang. Yoga pun memundurkan mobilnya dan memarkir mobilnya di depan mini market sebelah cafe, Yoga menunggu di dalam mobil sambil pandangan matanya terfokus ke arah depan. Arah pintu keluar yang digunakan pengunjung untuk berlalu lalang keluar masuk cafe itu.
Setelah tiga puluh menit menunggu, Yoga melihat Jessi keluar dari arah cafe. Gadis pengacau nya Yoga itu terlihat berbincang dengan teman kerjaanya. Sesekali Jessi terlihat tersenyum menanggapi ucapan teman kerjanya. Yoga masih mengamati Jessi dari dalam mobil. Baru saja Yoga akan menghampiri Jessi setelah teman kerja Jessi naik ojek, namun, Yoga mengurungkan niatnya saat melihat mobil sport merah menepi di depan Jessi.
Yoga melihat seorang pria turun dari mobilnya menghampiri Jessi. Pria itu nampak berbincang dengan Jessi, entah apa yang mereka bicarakan, yang jelas Yoga nampak kesal melihat Jessi akrab dengan lelaki lain selain dirinya dan keluarga Jessi. Bahkan, laki-laki itu sempat mengelus kepala Jessi sebelum pergi. Hal itu jelas tidak Yoga sukai, hanya Yoga yang boleh bersikap seperti itu pada Jessi. Setelah pria itu pergi, Yoga buru-buru menghidupkan mesin mobilnya dan melajukannya beberapa meter sampai di depan Jessi berdiri, Yoga menghentikan mobilnya.
***
“Rambut kamu bagus, sayang.” Puji Yoga pada Jessi.
“Iyalah kak, perawatannya mahal.” Jawab Jessi jujur yang langsung membuat Yoga terkekeh.
“Iya, nanti sampai rumah kamu keramas ya, sayang.” Niat Yoga terlihat jelas. Dia ingin Jessi mencuci rambutnya agar bekas usapan tangan Rio hilang.
“Rambut Jessi bau ya, kak?” Menangkap tangan Yoga yang berada di atas kepalanya dan menggeser tubuhnya mepet ke pintu mobil menjauh dari Yoga.
“Nggak bau, sayang. Cuman, kamu, kan, seharian beraktivitas, pasti banyak keringatan, anggap aja menjaga kebersihan kulit kepala dari keringat.” Hm, teori dari mana itu Yoga? Namun, polosnya Jessi mengangguk, mengiyakan permintaan Yoga untuk keramas menjaga kebersihan kulit kepalanya.
“Bagus. Sini, jangan jauh-jauh. Saya nggak bisa genggam tangan kamu, kalau kamu jauh gitu.” Pinta Yoga sambil menarik tanah Jessi dan mengecupnya.
Astaga, kak Yoga nyium-nyium tangan gue. Mana berulang-ulang lagi. Kan, baper.
“Kak?”
“Hm.”
__ADS_1
“Makasih.”
“Makasih untuk apa, Hm?”
“Makasih udah jemput Jessi.”
“Sama-sama, sayang.”
Gila, Kak Yoga bener-bener berubah jadi lembut. Nggak ada cuek-cueknya lagi.
Yoga dan Jessi saling bercerita aktivitasnya hari ini, tidak sadar mereka bahkan sudah masuk ke komplek rumah Raka. Yoga mengantar Jessica sampai di depan pintu utama. Mobil Yoga berhenti tepat di depan pintu utama.
“Kamu masuk gih, saya nggak mampir sudah malam.” Tutur Yoga lembut. Jessi menganggukkan kepalanya.
“Makasih ya, Kak.” Melepas sabuk pengamannya. Jessi meraih pegangan pintu mobil berniat membuka nya namun Yoga menarik tangan Jessi hingga perempuan itu menoleh kearah Yoga. Yoga sendiri sudah memajukan tubuhnya mendekat ke arah Jessi.
Cup.. satu kecupan hangat mendarat di kening Jessica.
“Pengantar tidur.” Ucap Yoga sambil tersenyum.
Sementara Jessica tersipu malu, namun gadis itu tidak mau kalah. Sebelum turun dari mobil Jessica dengan berani mengecup pipi kanan Yoga.
“Hati-hati di jalan, kak.” Turun dari mobil setelah mengecup pipi kanan Yoga.
“Saya telepon kamu setelah sampai apartemen.” Ucap Yoga dari dalam mobil sambil melambaikan tanganya pada Jessi. Jessi membalas lambaian tangan Yoga.
Mobil Yoga melaju keluar dari pekarangan rumah Raka. Tidak hanya Jessi yang berbunga-bunga, Yoga pun merasakan hal yang sama saat dalam perjalanan pulang, sesekali Yoga mengelus pipi kanan bekas kecupan dari Jessi. Yoga akan senyum-senyum sendiri sambil mengelus pipinya itu.
Kamu benar-benar membuat saya gila, Jes. Dasar pengacau kecil.
.
.
.
.
__ADS_1