Pengacara Tampanku

Pengacara Tampanku
Tertangkap basah


__ADS_3

Jessica Pov


Mencari nafkah ternyata tidak lah mudah. Kini aku merasakannya sendiri. Sebagai waitress aku harus bolak balik mencatat pesanan pengunjung cafe, ke dapur, mengantar pesanan, membersihkan meja, menjaga kebersihan cafe, kadang membantu mencuci piring, belum lagi menghadapi pengunjung yang rewel memesan ini itu dengan banyak permintaan.


Apalagi hari ini, keadaan cafe sangat ramai akibat spot baru cafe yang instagramable. Entah sudah berapa puluh kali aku bolak balik dapur, mengantar pesanan, dapur. Rasanya tanganku pegal membawa nampan yang berat belum lagi kaki ku yang lelah berjalan kesana kemari. Peluh ku pun berucururan, sesekali ku usap keringat di dahiku dengan sapu tangan yang ku simpan di saku baju seragam.


Baru saja aku hendak istirahat mendudukan diriku dan menselonjorkan kaki ku sudah di panggil lagi. Mbak Dewi meneriaki aku untuk mengantar pesanan.


Ah, nampaknya tidak ada waktu untuk ku istirahat. Aku tidak berani protes, ku paksa kaki ku berjalan ke arah mas Tio salah satu barista cafe.


“Meja 17 Jess.” Ucap mas Tio padaku. Aku menganggukkan kepalaku.


“Siap, mas.”


“Semangat, nanti saya buatkan kopi.” Kata mas Tio sambil mengedipkan sebelah matanya. Mas Tio memang agak genit suka menggodaku tapi aslinya dia baik. Dia hanya bercanda seperti itu.


Aku melangkah menuju meja 17, sampai di meja 17 tanpa basa-basi aku langsung meletakan pesanan meja itu. Niatnya karena aku ingin cepat kembali ke dapur dan istirahat. Aku benar-benar capek, rasanya tidak sanggup jalan lagi.


“Silahkan, Tuan.” Ucapku sopan sambil meletakan pesanan itu.


“Jessica!”


Em, sepertinya aku mendengar suara tidak asing sedang memanggil nama ku lebih tepatnya berteriak. Ku angkat kepalaku menengadah ke arah suara. Aku membelalak tidak percaya melihat siapa yang tengah memandangiku itu. Pantas saja aku merasakan familiar dengan suaranya. Yang memanggil namaku adalah kak Yoga, calon pacar ku dan sahabatnya kak Radit.


Kak Yoga kenapa bisa disini?Aduh, gimana nih, dia pasti kepo.


Sudah tertangkap basah mau bagaimana lagi ya sudah hadapi saja. Eh, kok tertangkap basah sih, kesannya negativ gitu. Aku nggak suka. Kayak kepergok selingkuh saja tertangkap basah padahal aku hanya kerja part time.


“Jessica, apa yang kamu lakukan disini?Apa-apa an ini?” Suara kak Yoga kembali menggema di telingaku. Aku tersenyum kikuk.


“He, kerja kak. Nyari duit.” Jawab ku sambil nyengir. Aku berdiri kembali sambil memeluk nampan.


“Nyari duit?Nggak salah?”

__ADS_1


Kak Radit seperti tidak percaya dan merasa aneh dengan jawabanku. Yah, siapa pun yang sudah mengenal ku dan keluargaku pasti tidak akan percaya jika tau aku kerja part time. Memang sih, mana mungkin aku kerja part time padahal jika di pikir-pikir aku punya beberapa kartu yang bisa ku gunakan untuk membeli apa pun.


“Nggak kok kak, Jessi memang lagi cari duit.” Jawabku pada kak Radit. Kak Radit hanya manggut-manggut, aku bisa menebak kak Radit masih penasaran mengapa aku kerja part time namun dia tidak bertanya lebih lanjut karna menyadari kak Yoga sedang menatapku aneh. Aku juga tidak tau apa arti tatapan itu.


“Jam berapa kamu selesai bekerja?” Tanya kak Yoga.


“Masih satu jam lagi, kak.”


“Aku akan menu-.” Entahlah kak Yoga mau bicara apa tapi belum sempat ia menyelesaikan ucapannya mbak Dewi sudah memanggilku aku menoleh ke arah mbak Dewi begitupun kak Yoga.


Hah, pasti mau nyuruh lagi.


“Jessica!” Ulang Mbak Dewi memanggilku sambil melambai kan tangannya sedikit melotot pula.


“Jessi lanjut kerja dulu, kak. Sudah di panggil.” Kak Yoga dan Kak Radit menganggukkan kepala. Padahal aku masih ingin mengobrol dengan mereka tapi terpaksa aku meninggalkan mereka untuk melanjutkan tugasku.


Ku seret lagi kaki ku menuju dapur untuk mengambil pesanan lain dan mengantarkannya ke meja lain.


“Kamu itu tau sibuk malah enak-enakan ngobrol sama tamu, nggak kasian kamu sama yang lain?Yang lain udah bolak balik dapat tiga meja, kamu satu meja saja nggak selesai kalau nggak saya panggil.” Omel mbak Dewi padaku.


Dahlah aku malas debat. Lebih baik aku segera meneruskan pekerjaan ku, satu jam, sabar satu jam lagi selesai. Semoga tidak lembur tapi melihat keadaan sepertinya memaksa untuk lembur. Ku menangis.


Jessica Pov end.


***


Yoga menatap punggung Jessi dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Cukup lama Yoga menatap punggung Jessi sampai punggung gadis itu tak nampak lagi, masuk ke arah dapur sepertinya.


Kenapa dia kerja part time?Apa Bocil kehabisan uang jajan?jika iya, kenapa harus susah payah, tinggal minta mbak Ayu atau mas Raka juga beres. Apa sebenarnya motif si Bocil!


Pertama kali nya Yoga melihat Jessi dengan tampilan kusut nampak kelelahan dengan peluh bercucuran.


“Gue nggak bohong, kan?” Radit menepuk bahu Yoga. Yoga mengangguk.

__ADS_1


“Menurut lo kenapa dia kerja??”


Radit yang di tanya Yoga hanya mengedikan bahunya.


“Hanya Jessi yang tau alasannya.” Sambil menyeruput kopi nya.


Aku tanyakan langsung saja padanya.


“Lo penasaran tanyakan langsung saja padanya.” Saran Radit.


“Gue nggak penasaran!” Ucap Yoga tegas. Menepis rasa penasaran nya agar tidak mendapat ejekan Radit. Apa jadinya jika Radit sampai tau Yoga penasaran pada seorang perempuan. Yoga pasti akan menjadi bully an diantara Radit dan Dito.


Gue nggak penasaran, nggak. Mau tu Bocil kerja kek apa kek, gue nggak penasaran sama sekali.


‘Memang lo sedang membohongi siapa, Ga?Lo lupa siapa gue, lo gue udah berteman dari SMA melalui banyak hal suka maupun duka. Gu sangat tau siapa lo, lo sedang mencoba menepis perasaan lo sendiri. Kali ini sepertinya lo kalah, Ga. Gue bisa lihat lo suka sama Jessi dari tatapan lo.’ Batin Radit.


“Cabut yuk, gue ada sidang pagi besok.” Mengajak Yoga untuk pulang.


Yoga melirik jam di pergelangan tangannya. Masih setengah jam sampai Jessi pulang kerja. Yoga enggan untuk meninggalkan tempat itu, tapi, jika Yoga tidak pulang bersama Radit, Radit pasti akan mengejeknya menunggui Jessi kerja. Yoga pun mengiyakan ajakan Radit.


Setelah Radit membayar bill nya, Radit dan Yoga keluar dari cafe. Mereka berpisah di parkiran, Radit menuju mobilnya dan Yoga pun menuju mobilnya. Mobil Radit dan Yoga beriringan meninggalkan parkiran cafe. Mereka pergi ke arah berlawanan karna arah apartemen Yoga dan rumah Radit memang berlawanan jika dari cafe.


Radit mungkin langsung pulang, tapi tidak dengan Yoga. Lelaki itu menepikan mobilnya di mini market sebelah cafe. Ia memarkir mobilnya menghadap pintu keluar cafe. Entah apa motivasi Yoga. Seharusnya ia juga pulang seperti Radit, tapi malah nongkrong di depan mini market. Ada-ada saja tingkah Yoga.


.


.


.


Instagram: @nlita.s


Sorry ya up nya telat. Hari ini sibuk banged..

__ADS_1


Yang sudah baca jangan lupa tinggalkan jejak Like atau Komen ya, masak yang baca ribuan tapi Like nya seratus aja nggak nyampe. Sedih deh hiks..


__ADS_2