
"Jessica?"
Dengan mata yang mulai sayu dan hawa panas di sekujur tubuhnya, perasaan tidak nyaman ingin mendapatkan sentuhan, Devina mencoba mendekat pada Yoga meraih pergelangan tangan lelaki itu. "Yoga aku butuh kamu." Namun segera Yoga menepisnya kasar.
"Jauhkan tangan kotormu dari saya!" Tegas Yoga. perempuan yang di pandnagnnya denan tapan jijik itu kini terduduk lemas di lantai. Devina membuka satu persatu kancing bajunya dengan tangan gemetaran. Perempuan itu tidak bisa menahan lagi gejolak ingin menerima sentuhan dari lawan jenis.
"Kak, apa dia akan baik-baik saja?" Jessi menarik ujung lengan kemeja Yoga sambil menatap Devina dengan iba. Ia memang kesal pada Devina, namun melihat Devina yang kehilangan kendali atas dirnya sendiri sisi empati Jessi seakan terusik.
"Biarkan saja, itu hukuman karena sudah bermain-main dengan saya."
"Tapi, kak."
"Kamu mau saya yang minum kopinya?Saya yang kena efek obat perangsang itu?" Seketika Jessi langsung menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah, biarkan saja. Toh, sebentar lagi akan ada orang yang membantunya. Ayo pergi!" Menggandeng Jessi dan keluar dari apartemen Naya. Sebelum pergi, Yoga sempat menghubungi seseorang yang kemungkianan akan membantu apa yang dibutuhkan Devina saat ini.
Mobil Yoga melaju pelan meninggalkan basement gedung apartemen yang cukup elit itu.
"Kita mau kemana kak?"
"Rumah sakit." nampaknya Yoga pergi ke rumah sakit untuk mengecek kepalanya pasca keelakaan.
Apartemen Yoga. Yoga duduk dengan tegap bak tentara yang siap menerima hukuman, sementara Jessica berdiri tepat di hadapan Yoga dengan kedua tangan Jessica lipat di depan dada. Tatapan gadis itu menyorot tajam seakan mengintimidasi.
"Jelaskan! Jadi, Kak Yoga kencan sama Devina tanpa sepengetahuan Jessi?Berani sekali kakak mengkhianati Jessi." Tidak ada nada bersahabat dalam ucapan yang Jessi lontarkan. Yang ada adalah perasaan kesal dan meraa diselingkuhi.
“Bukan kencan sayang, saya tidak sengaja bertemu Devina.” Sambil mengangkat tangan dan membentuk dua jari.
“Teros yang tadi di apartemen itu tidak sengaja, jelas-jelas janjian. Masih mau ngeles lagi?”
Fyuh, rasanya Yoga ingin menghilang saja daripada mendengarkan omelan Jessi. Ini semua gara-gara Radit. Jika, Radit tidak bermulut ember Yoga tidak akan ketahuan oleh Jessi bertemu Devina.
Flashback tiga jam yang lalu, di Firma hukum milik Yoga.
Radit sedang terhubung dengan Yoga via sambungan telepon.
Lelaki itu tidak menyangka jika ada yang mendengar semua percakapannya dengan
Yoga.
“Hah, Kak Yoga mau bertemu Devina?” Suara Celia membuyarkan
__ADS_1
lamunan Radit.
“Celia, kapan kamu datang?” Radit terkejut dan langsung menekan end call untuk mengakhiri percakapannya dengan Yoga.Sementara Celia, dia langsung berjalan mendekat ke arah Radit yang saat ini berdiri di dekat Jendela kantornya.
"Kak Yoga mau bertemu Devina?" Ulang Celia dengan pertanyaan yang sama.
"Yoga bertemu Devina? Kapan?" Tanya balik Radit bersikap bodoh.
"Jangan akting, Celia jelas-jelas denger kak Radit ngobrol sama Kak Yoga di telepon, Celia nggak mungkin salah denger. Pendengaran Celia masih baik tauu.." Menjembereng telinganya sendiri.
Radit tau berbohong pun Celia pasti tidak percaya, jalan satu-satunya adalah mengaku, dan memohon agar Celia tidak memberitahu Jessi rencana yang akan Yoga jalankan untuk Devina.
"Ya, meskipun begitu nggak perlu ketemu berduaan juga dong! Gimana kalau malah kak Yoga yang jatuh ke perangkap Devina 'kan bahaya?" Ucap Celia tidak setuju dengan apa yang sudah Radti ceritakan padanya.
Raditt mengusap lembut rambut kepala Celia sambil tersenyum tipis. "Tenang saja, Yoga pasti bisa menjaga hatinya untuk Jessi." Celia menepis tangan Radit merasa tidak nyaman di perlakukan seperti itu oleh Calon suami orang. Radit pun mengerti dan memilih sedikit menggeser tubuhnya menjauh dari Celia.
"Kak Radit nggak tau orang yang terobsesi akan sesuatu itu bisa melakukan segalanya. Bisa aja Devina ngasih minum ke kak Yoga yang udah di kasih obat perangsang kayak di novel-novel kalau udah gitu siapa yang menang dan untung, Devina tau nggak." Cerocos Celia sambil bersedekap menerawang ke arah luar jendela melihat suasana kota Jakarta yang cukup jelas dari kantor Radit.
Radit terdiam sejenak memikirkan apa yang baru saja Celia katakan.
Kembali pada Yoga dan Jessica.
"Untung aja kak Radit langsung kasih peringatan ke kak Yoga, kalau enggak? bisa amampus kak Yoga masuk ke perangkap Devina." Komentar Jessi usai Yoga menceritakan bagaimana Radit langsung mengirim pesan teks pada Yoga agar lelaki itu berhati-hati dan mempertimbangnkan apa yang Celia ucapkan pada Radit.
"Saya tidak mengira perempuan itu akan nekat, padahal saya hanya akan menunjukan mantan suaminya dan memberi peringatan agar dia berhenti bermain trik dengan saya." ucap Yoga.
Yoga lalu teringat Jessi yang tiba-tiba datang. "Ngomong-ngomong darimana kamu tau alamat Apartemen Devina, setahu saya Radit tidak memberi tahu Celia tempat saya dan Devina akan bertemu.
"Memang nggak, Jessi dapat pesan." Jessi mencari-cari ponselnya setelah ketemu ia langsung menunjukan pada Yoga pesan yang ia terima.
Pergilah ke alamat ini, Tunanganmu sedang bersenang-senang denganku. (Emot tertawa)
"Kurangajar," Yoga geram sendiri setelah membaca pesan dari Devina untuk Jessi. Jadi, Devina memang sudah merencanakan semuanya. Berniat menjebak dirinya dengan obat perangsang dan membiarkan Jessi memergoki dia dan Devina. "Saya akan buat perhitungan lebih dengan kamu, Devina!" Smirk Yoga.
"Rencana kak Yoga sekarang apa?" tanya Jessi.
__ADS_1
Jessi menerima kembali ponselnya dan menyimpannya didalam tas.
"Apa lagi mengurus pernikahan kita, sesuai kesepakatan satu tahun yang lalu. Kita akan menikah tahun ini, saya berniat memajukan acara penikahan kita." Jawab Yoga sudah tidak bisa lagi menunda pernikahannya dengan Jessi, selain dirinya yang memang sudah berumur juga karena Yoga ingin Jessi segera menjadi miliknya.
Jessi menganggukan kepalanya setuju-setuju saja, toh ini yang ditungggu Jessi sejak Sma. Menikah dengan pujaan hatinya, Pengacara tampannya, Jessica.
**
Devina terbangun dengan keadaan polos tanpa sehelai benagpun. Ia senyum-senyum sendiri salah sangka mengira dirinya tengah bermalam dengan Yoga. Sampai satu panggilan mampu meruntuhkan mood Devina di pagi Hari.
"Kamu !!" Membelalak tidak percaya melihat seorang lelaki yang hanya menggunakan jubah mandi keluar dari kamar mandi dengan kondisi rambut kepala yang basah. Belahan dada lelaki itu telihat menyembul karena tidak tertutup rapat oleh jubah mandi.
"Selamat pagi, sayang." sapa lelaki itu dengan handuk kecil di kepalanya. Mengusap-usap rambutnya yang basah.
"A-apa yang kamu lakukan disini?" taya Devina terbata-bata, lalu menutup seluruh tubuhnya yang polos dengan selimut.
"Ah, kau pura-pura lupa setelah menghabiskan malam yang panas bersamaku. Hatiku jadi sakit." Lelaki itu berjalan mendekat ke arah Devina dan duduk di tepi tempat tidur.
"Malam yang panas?Denganmu?Jangan mimpi, aku bersama Yoga semalam bukan denganmu." Teriak Devina.
"Yoga?" Sejenak berpikir, "Ah, mantan pacarmu yang semalam menghubungiku memintaku untuk mengurusmu." Lelaki itu terkekeh. "Menyedihkan, kau bahkan di buang olehnya," Ejeknya menatap Devina remeh.
"Tidak! Tidak mungkin Yoga melakukan itu, tidak mungkin Yoga memintamu mengurusku, tidak mungkin." Serpihan ingatan tentang kejadian kemarin perlahan Devina ingat, bagaimana yang meminum sendiri kopi dengan obat perangsang itu dan bagaimana ia dengan sukarela mengikuti kemauan lelaki yang kini tengah memandnagnya dengan tatapan menyedihkan. Lebih parahnya Devina lah yang memonopoli permainan panas semalam.
Melihat Devina terdiam lelaki itu paham bila Devina sudah mengingat kejadian semalam. "Menyedihkan ckck."
.
.
.
.
__ADS_1