Pengacara Tampanku

Pengacara Tampanku
Sarapan beda kota


__ADS_3

Pagi yang cerah di kota Malang. Pukul 07:00 tepat Radit dan Celia tiba di kota Malang. Sesuai janjinya Celia akan menemani aktivitas Radit seharian di kota Malang.


Celia berjalan dengan santai di sebelah Radit. Ia mengenakan dress flora dengan warna cerah dan jaket denim berwarna medium blue. Tak lupa kaca mata hitam ala sosialita bertengger di atas hidungnya, serta masker dan topi hitam yang tidak pernah ia lupakan saat bepergian keluar kota tanpa di temani sang manajer. Topi dan masker adalah alat nya untuk menghindari kejaran paparazzi. Karena akan sulit baginya menghadapi gosip apabila terkena jepretan paparazzi. Sementara Radit, lelaki itu mengenakan setelan kantor lengkap dengan jas nya dan sepatu pantofel dari bahan kulit. Sambil tangannya memegang tas kerjanya di sisi kanan.


Sampai di parkiran bandar udara, sopir kiriman firma hukum milik Yoga sudah menunggu.


“Itu mobil kita!” Radit menunjuk ke arah mobil sedan berwarna hitam yang di depannya ada seorang pria paruh baya bersender di bamper mobil.


Celia memandang ke arah yang ditunjuk Radit. “Oh, ada yang jemput. Kirain kita naik taksi.”


“Ada dong.. Saya ‘kan disini mau kerja bukan liburan jadi ada sopir kantor yang akan mengantar perjalan kita,” ucap Radit.


“Oh,”


Ucapan Celia yang singkat di salah artikan oleh Radit. Lelaki itu mengira Celia kecewa karena menemani Radit bekerja bukan liburan.


“Nggak usah kecewa. Nanti setelah urusan saya selesai, kita bisa jalan,” kata Radit kemudian.


Celia seakan tertohok. Siapa yang kecewa? Dia bahkan merasa biasa saja.


“Siapa juga yang kecewa,” gumam Celia.


Mereka sampai di sebelah mobil.


“Mas Radit ya?!” Tanya pak sopir dan Radit menganggukan kepalanya.


“Monggo, mas. Silahkan masuk,” sopir membukakan pintu mobil untuk Radit.


“Masuk!” Radit menoleh dan menyuruh Celia masuk ke dalam mobil lebih dulu.


Celia langsung masuk ke dalam mobil tanpa protes. Ia lalu bergeser ke kursi ujung di susul Radit yang juga langsung masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


“Akhirnya bisa buka masker,” Celia membuka masker dan topinya. Kemudian meletakan kaca mata mahalnya di atas rambut kepala memperlihatkan keningnya yang nonong. Radit melirik sekilas lalu tersenyum. “Takut banget di foto wartawan ya?” Tanya Radit.


“Iya lah.. mana lagi jalan sama pacar orang,” ceplos Celia yang langsung menutup mulutnya.


“Dasar mulut ga ada rem,” batin Celia mengutuk dirinya sendiri. Karena perkataannya barusan Radit sempat terdiam. Celia pun merasa tidak enak dan memilih memalingkan wajah menatap ke arah luar jendela. Suasanya menjadi canggung.


“Kemana dulu, pak?” tanya pak sopir yang merasa menjadi korban kecanggungan dua penumpang nya. Pak sopir bertanya demi mencairkan suasana padahal ia tau kemana tujuan mereka.


“Cari warung makan buat sarapan, pak. Warung kaki lima saja,” nah untuk tujuan sarapan pak sopir tidak tau.


“Kak Radit makan di kaki lima?” Batin Celia melirik Radit.


“Nggak usah lirak-lirik nanti jatuh cinta,” goda Radit merasakan sikap Celia yang meliriknya diam-diam.


“CIh.. siapa juga yang ngelirik dia,” gerutu Celia lirih.


“Warung kaki lima daerah sini yang enak cuman soto, pak. Bagaimana?” Tanya pak sopir .


“Soto nggak papa, pak. Seadanya saja.”


“Baik, pak.”


Radit sengaja memilih warung kaki lima sebagai tempat mereka sarapan karena mempertimbangkan karir Celia di dunia hiburan. Mungkin warung kaki lima aman, tidak ada paparazzi disana.


Jika saat ini Radit dan Celia tengah menikmati sarapan soto daging sapi dengan khusyuk. Berbeda dengan pasutri di Jakarta, Yoga dan Jessi terlihat adu mulut di pagi hari hanya karena hal sepele.


“Kalau mas Yoga keluar kota pokonya aku ikut,” ucap Jessi.


“Nggak bisa, Jess. Saya ini mau ke pelosok negeri lho bukan mau liburan. Disana enggak ada Mall, adanya hutan. Kamu nggak akan betah,” balas Yoga menjelaskan. Namun, Jessi tidak mau mengeti. Jessi kembali merengek meminta Yoga membawanya turut serta pergi keluar kota. “Kalau Jessi bilang mau ikut y berarti Jessi mau ikut,” Jessi ngotot sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


Yoga yang sudah selesai menali sepatu ketsnya itu pun mendongak menatap perempuan yang berdiri di hadapannya. Perempuan yang sedang merengek sepeti anak kecil yang meminta di belikan es Cream. “Jessi sayang, suamimu ini hanya akan pie satu minggu. Nggak akan lama,” ucap Yoga lembut.

__ADS_1


“Mau seminggu mau sehari juga Jessi harus ikut,” lagi-lagi Jessi mengotot, “bawa Jessi ya mas, ya ya!” Dia berjongkok di depan Yoga sambil memegang paha Yoga dan memelas. Andalannya adalah memelas dengan puppy eyes. Bak kucing Anggora yang masih lucu.


“Nggak sayang, medannya terlalu berat untuk kamu yang belum pernah merasakan hidup susah,” ucap Yoga yang langsung menyulut perdebatan.


Jessi kembali berdiri dan bersungut-sungut. “Kenapa sih mas selalu mandang Jessi lemah? Emang mas tau gimana hidup Jessi dari kecil sampai bilang Jessi nggak pernah hidup susah?Tau emang?” Dari nada bicaranya Jessi terlihat sedang kesal pada Yoga.


Yoga bingung, ia tidak merasa salah bicara namun kenapa Jessi semarah ini. “Bukan itu maksudku sayang,” Yoga bediri mendekati Jessi berusaha meraih tangan Jessi namun di kibaskan oleh Jessi. “Terserah lah. Kalau enggak boleh ikut ya sudah,” Jessi memutar tubuhnya berlalu meninggalkan kamar menuju dapur. Pun, Yoga mengikuti Jessi dan duduk di kursi pantry. Ia dia melihat Jessi yang kesana kemari terlihat sibuk menghidangkan sarapan pagi untuk Yoga.


“Makasih sayang,” kata Yoga saat Jessi menyodorkan piring berisi nasi goreng dan telur mata sapi setengah matang di hadapan Yoga.


“Hm,” jawab Jessi cuek.


Jessi duduk di kursi sebelah kanan Yoga dan langsung menyantap makan pagi nya. Dia begitu acuh pada Yoga yang sesekali mencuri pandang pada Jessi.


“Aku berangkat,” pamit Yoga.


Jessi mencium punggung tangan Yoga tanpa menyahut ucapan Yoga.


“Aku berangkat, sayang,” melangkah keluar apartemen dengan badan masih setengah di dalam apartemen dan setengah lagi di luar pintu apartemen.


“Ya, hati-hati,”


“Nggak ada kiss?” Tanya Yoga.


“Kiss aja sama pintu,” ketus Jessi.


“Astaga Jess, jahat banget sama suami sendiri,” pekik Yoga.


“Udah berangkat sana. Nanti telat.” Kata Jessi mengingat kan.


Meskipun cuek Jessi tetap perhatian menurut Yoga. “Apa saya bolos kerja saja hari ini, Jess?” tanya Yoga. “Habis kamu kelihatan kesal gitu,” lanjut Yoga memandang Jessi.

__ADS_1


“Nggak usah berulah. Mas tu pimpinan harus kasih contoh yang baik buat yang lainnya.” Jessi tidak setuju dengan Yoga yang berniat membolos. Padahal Yoga ingin sekali Jessi mengiyakan rencananya. Sayang sekali sepertinya Jessi memang sedang kesal.


__ADS_2