
Hari Senin yang menyebalkan bagi Jessi. Pagi-pagi ban mobilnya bocor, tidak ada angin tidak ada hujan ban mobil gadis itu bocor di tengah perjalanan menuju sekolahnya. Di tambah lagi Jessi tidak berada dalam pengawalan hari ini karena pengawal yang biasa menjaga Jessi dari kejauhan harus ikut Rey ke puncak untuk menjaga Rey, sementara pengawal Rey sedang cuti. Dan, pengawal yang satunya masuk sore hari.
Jessi merogoh ponselnya di dalam tas untuk mencari bantuan, apesnya ponsel Jessi lowbat. Mau tidak mau Jessi mencoba menghentikan mobil yang lewat untuk menumpang sampai ke sekolah.
“Huh, kenapa nggak ada taksi sih.” Gerutu Jessi, sudah sepuluh menit ia mencari tumpangan namun tidak ada satu mobil pun yang berhenti.
Tin.. tin..
“Kak, Rio?” Jessi melihat secercah harapan kala melihat pemilik mobil yang mengklaksonnya adalah Rio. Bos di tempatnya bekerja sekaligus kakak kelas Jessi dulu.
Rio menepikan mobilnya tepat di depan mobil Jessi dan turun dari mobil. Lelaki itu melangkah dengan keren menghampiri Jessi.
“Mogok?”
“Ban nya bocor, Kak.” Jessi melirik ban mobil depannya yang bocor di ikuti Rio yang juga melirik ban mobil itu.
“Ya udah, ayo! Aku antar kamu sekolah.” Ajak Rio menggandeng lengan Jessi. Dan, Jessi menurut saja karena ia memang butuh tumpangan dari pada telat.
“Tapi, ngerepotin kak Rio, nggak?” Tanya Jessi merasa tidak enak.
“Nggak, jam kuliah saya masih lama.” Rio berjalan sambil menggandeng tangan Jessi dan membukakan pintu mobil untuk Jessi. Jessi pun masuk ke dalam mobil Rio.
“Kak Rio kok bisa lewat daerah sini, emang rumah kak Rio daerah sini, ya?” Tanya Jessi penasaran.
“Rumah oma deket sini, Semalem nginep dirumah oma.” Jawab Rio. “Ntar sore berangkat kerja, kan?” Tanya Rio kemudian. Jessi pun mengangguk.
“Kalau gitu nanti aku jemput aja,kita ke cafe bareng, pulang sekolah jam berapa?”
“Eh, nggak usah, kak. Jessi bisa naik taksi.” Tolak Jessi.
“Saya nggak keberatan, kok. Lagi pula kita, kan, sama-sama ke cafe. Toh, nanti saya lewat depan sekolah kamu juga.” Bujuk Rio.
Jessi berpikir sejenak. ‘Boleh juga sih, lebih irit. Daripada naik taksi.’
“Gimana?”
“Boleh, deh, kak.”
“Nah, gitu dong.”
Dan, sudah di putuskan pulang sekolah Rio akan menjemput Jessi. Mereka akan berangkat bersama menuju cafe.
Rio menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang sekolah Jessi, Jessi pun langsung turun dan mobil Rio berlalu dari sana. Setelah mobil Rio pergi, Jessi menuju kelasnya dengan sedikit berlari karena sudah hampir bel masuk.
__ADS_1
“Tumben hampir telat?” Jessi baru saja masuk ke dalam kelas sudah di todong pertanyaan oleh sahabat dekatnya itu.
“Ban mobil gue bocor.” Jessi duduk di kursi nya dan mulai mengeluarkan buku-buku pelajaran.
“Terus? Lo kesekolah sama siapa?”
“Nebeng kak Rio, dia kebetulan lewat.”
“Syukur deh, gue kira lo jalan kaki sampai sekolah.”
“Lo pikir gue se goblok itu, kalaupun nggak ada kak Rio, mending gue bolos dari pada jalan kaki.” Jessi geleng-geleng kepala.
***
Besok adalah hari pertama kasus perceraian Devina. Untuk mempersiapkan hari esok agar tidak ada kesalahan dalam ucap, hari ini Devina datang ke kantor Yoga. Devina sudah bersemangat karena akan bertemu Yoga, tidak disangka Yoga menolak bertemu Devina.
Yoga bahkan mengalihkan kasus Devina pada Radit, sahabatnya. Yoga sengaja tidak mau berurusan lagi dengan Devina. Apalagi dengan ruang kantor Radit yang berbeda lantai dengan Yoga, jadi, Devina tidak mempunyai kesempatan untuk bertemu Yoga.
Meskipun kesal, Devina tetap mendengarkan apa yang di arahkan Radit sebagai pengecatannya. Karena yang terpenting saat ini bagi Devina adalah bercerai dengan suaminya.
**
Kriet.. Radit masuk ke dalam ruangan Yoga tanpa mengetuk pintu. Sementara Yoga sedang sibuk memeriksa beberapa berkas saat Radit masuk kedalam kantornya.
“Sorry, Bos. Gue lupa.” Radit nyengir dan menghampiri Yoga. “Gue ada sesuatu buat lo!” Menyodorkan ponselnya ke atas meja, sementara Radit langsung duduk di kursi yang berada di hadapan Yoga dengan meja kebesaran milik Yoga sebagai pembatas mereka.
“Gue sibuk.” Yoga acuh tak acuh, bahkan tidak melirik ponsel Radit sedikitpun.
“Lo bakal nyesel kalau nggak lihat.” Bujuk Radit.
“Kirim ke whatshap gue, ntar gue lihat.” Masih fokus pada berkasnya.
“Mantan lo udah pulang.” Ucap Radit.
“Gue nggak nanya.”
“Cih, lagak lo, lo lupa dulu pernah cinta mati sama dia.” Sindir.
“Cinta aja nggak pake mati. Nyatanya gue masih hidup sampe sekarang.” Kilah Yoga.
“Hm, oke, sekarang mending lo cek ponsel gue. Ada foto Jessica sama cowok lain!” Kata Radit serius.
Jessica?Cowok lain?
__ADS_1
Seketika Yoga menghentikan aktivitasnya. Ia meraih ponsel Radit dan langsung melihat galeri Radit. Beberapa foto Jessica dan seorang laki-laki disana. Foto pertama Jessica di gandeng seorang laki-laki. Foto kedua Jessica masuk ke mobil laki-laki itu. Foto ketiga Jessica nampak tersenyum lebar sambil bertatapan dengan lelaki itu.
“Siapa dia?Lo kenal?” Tanya Radit penasaran. “Bocil lo nggak mungkin selingkuh, kan?Kalau sampai Bocil lo selingkuh, mampus lo. Baru juga bucin udah di tinggal selingkuh aja.” Radit terkekeh.
Rio?Gue yakin cowok itu kak Rio yang pernah Jessi ceritakan. Tapi, kenapa Jessi bisa sama Rio?
Berbagai pertanyaan muncul di pikiran Yoga. Ia bahkan mengacuhkan pertanyaan yang Radit lontarkan.
“Yog?” Begitulah panggilan Radit untuk Yoga.
“Hm.”
“Bocil lo-.” Kata-kata Radit terpotong karena Yoga sudah menanyakan hal lain pada Yoga. “Lo dapat foto ini darimana?” Selidik Yoga.
Tidak mungkin Radit yang memotretnya, jarang kantor dan sekolah Jessi cukup jauh. Lagipula saat berangkat ke kantor Radit tidak melewati jalur ke sekolah Jessi. Jika, Yoga tidak salah perhitungan foto-foto itu diambil pagi ini saat Jessi berangkat sekolah.
“Mantan lo yang kasih.”
Devina?jadi, dia mau berulah.
“Dia dapat darimana foto-foto ini?”
Yang ditanya hanya mengedikan kedua bahunya. “Devina nggak bilang, dia nitip pesen sama gua buat ngingetin lo kalau Jessica bukan cewek baik-baik. Dia bilang Jessica sugar baby yang cuman mau morotin duit lo.” Ucap Radit.
“Dan, lo percaya?”
Radit terkekeh. “Mana mungkin, Jessica mana kepikiran morotin lo, duit keluarga dia juga nggak bakalan habis tujuh turunan. Gue pikir juga bokap nyokap Jessica lebih kaya dari lo.”
“Itu lo tau.” Yoga mengirim foto-foto Jessica dan Rio ke ponselnya. Ia akan bertanya langsung pada Jessica agar jelas dan tidak ada kesalahpahaman.
“Tapi, dari mana Devina dapet in foto itu?” Radit menopang dagunya dengan dua tangan yang berada di atas meja. “Jangan-jangan Devina?”
“Seperti yang ada di pikiran lo, makanya gue alihkan kasus Devina ke lo. Gue nggak mau ada urusan lagi sama perempuan itu.” Tegas Yoga.
“Lo tenang aja, gue pasti selesaiin kasus Devina dengan cepat, setelah itu dia nggak ada alasan menginjakkan kaki ke kantor ini lagi.” Kata Radit lalu beranjak dari duduknya.
“Gue percaya lo bisa diandalkan!” Balas Yoga tersenyum.
.
.
.
__ADS_1