
“Yulia, saya tidak mau tau ini terakhir kalinya kamu tidak fokus saat jam kerja!” Ucapan manajer tempat di mana Yulia bekerja terdengar tegas dan tidak menginginkan bantahan.
Yulia mengangguk, “baik, pak. Saya minta maaf.”
Sang manajer berlalu meninggalkan Yulia dengan kesal. Salah satu teman kantor Yulia pun menghampiri Yulia dan bertanya, “Lo lagi ada masalah?” Di jawab dengan gelengan kepala oleh Yulia. “Enggak, kok.” Yulia duduk dan kembali memeriksa pekerjaanya. Begitu pun teman kantor Yulia yang kembali ke tempat duduknya.
Yulia tidak mau teman sekantornya tau dia sedang mengalami masalah percintaan, dia merasa gengsi untuk mengakui hubungannya dengan Yoga sedang bermasalah, mengingat bagaimana dia selalu menyombongkan diri karena memiliki pacar seorang pengacara.
Semenjak hubungannya dengan Yoga berakhir, Yulia tidak bisa bekerja dengan fokus. Dia selalu membuat pekerjaannya berantakan, berbeda dengan seseorang di tempat lain.
Radit, dia justru penuh semangat dan ceria. Radit bahkan terlihat seperti orang yang terlahir kembali, seakan tidak memiliki beban atau masalah apapun.
Dalam satu hari Radit sudah memenangkan persidangan tiga kali. Lelaki itu tentu mendapat bayaran yang tidak sedikit dari kliennya.
“Alhamdulillah,” Radit mendapat notifikasi di ponselnya yang berisi bukti transfer langsung dari Yoga. Yoga sering kali memberi bonus langsung pada Radit saat dia berhasil memenangkan persidangan. Bahkan, bonus itu Yoga transfer dari rekening pribadinya bukan rekening perusahaan.
Radit, bisa kita bertemu?
Bersamaan dengan notifikasi bukti transfer, ada satu pesan masuk dari Yulia. Perempuan yang Radit anggap sudah menjadi mantan kekasih itu mengajak Radit untuk bertemu.
Radit mengabaikan saja pesan dari Yulia, selang beberapa menit satu pesan kembali masuk. Kali ini dari ibu kandung Radit.
Nak, nanti sore pulang ya! Ibuk sama bapak kangen. (Ibu )
Insyaallah, pulang kerja nanti Radit mampir, buk.
**
Menginjak usia tiga bulan pernikahan, hubungan Yoga dan Jessica semakin lengket saja. Seperti saat ini Jessi menempel pada Yoga seharian saat Yoga libur. Keduanya mager-mageran di apartemen. Sambil ngemil makanan ringan, berupa kacang Garuda dan kwaci. Ruang keluarga yang mulanya rapi nampak berantakan dengan bungkus makanan ringan dimana-mana. Juga, bantal sofa yang berserakan di karpet.
“Jess.”
“Hm.”
__ADS_1
“Kamu udah haid belum?” Tanya Yoga sambil mengelus perut Jessi yang sedikit buncit penuh dengan makanan. Semenjak menikah Jessi memang jarang berolahraga. Dia sibuk mengurus bisnis butiknya dan juga mengurus Yoga. Belum lagi Jessi mengikuti kelas memasak demi memanjakan lidah suaminya. Jessi tidak mau Yoga terlalu sering jajan makan di luar.
Jessi berpikir, sudah haid belum ya? Ini sudah akhir bulan. “Udah kok, mas.” Jawab Jessi mengingat dia haid saat Yoga tengah berada di luar kota. “Pas mas Yoga ke Kalimantan, minggu lalu.” Ucap Jessi kemudian.
Yoga manggut-manggut, “kapan ya ini ada isinya?” Masih mengelus-elus perut Jessi.
“Sekarang sudah isi kok, mas.”
“Serius?” Yoga bangkit nampak semangat mendengar ucapan Jessi. Jessi pun menganggukan kepalanya, “serius, tadi ‘kan Jessi udah isi pakai kwaci, lotek mbok jum, sama mcd. Masak mas Yoga udah lupa?” Jawab Jessica.
Yah, lemas sudah Yoga. Ia kembali merebahkan kepalanya di karpet dengan berbantal sofa. Dia memejamkan kedua matanya seolah ingin tidur. Padahal bukan isi itu yang Yoga maksud. Tapi, isi yang lainnya. Misalnya isi yang kalau di USG ada bintik-bintiknya.
“Kenapa, mas?” Jessi menyadari perubahan di diri Yoga yang nampak tak bersemangat seperti saat lelaki itu bangkit dari tidurannya.
“Nggak papa, Jess.” Jawab Yoga.
‘Nggak, papa, Yog. Masih ada banyak waktu, yang penting lo gas terus.’ Batin Yoga.
“Kamu mau makan apa lagi?Nggak takut gendut?”
Hening.. Jessi tidak menjawab pertanyaan Yoga. Hingga membuat Yoga heran. Lelaki itu membuka kedua matanya dan memandang Jessi.
“Ka-kamu nangis?” Yoga terkesiap melihat Jessi menangis tanpa suara. Air mata bergulir deras di pipi Jessi. Sigap Yoga pun bangkit dan duduk di hadapan jassi yang juga sedang duduk bersila. Di usapnya air mata Jessi dengan jari-jemarinya.
“Mas Yoga jahat, huaaaaa.” Pecah sudah tangisan Jessi. Dia memukul-mukul dada Yoga dengan kekuatan kecilnya.
Jahat? Lah, apa yang Yoga lakukan? Dia tidak melakukan apapun selain makan camilan dan rebahan seharian ini.
“Mas Yoga jahat.. hua hua hua.” Tangis Jessi semakin keras. Jari-jari lentik nya itu masih mengepal dah memukuli dada bidang Yoga. Namun, Yoga tidak merasakan sakit saat di pukul Jessi. Dia justru merasa geli, seakan Jessi tengah menggelitiki nya. “Aku jahat kenapa, sayang? Jahat kenapa, Hm?” Menahan kedua tangan Jessi dan bertanya dengan lembut.
Dengan sesenggukan Jessi berucap, “mas bilang Jessi gendut, mas nggak sayang lagi kalau Jessi gendut, hiks hiks.” Lucu nya batin Yoga. Yoga kapan ada mengatakan Jessi gendut, dia hanya bertanya apa Jessi tidak takut gendut. Tapi istri kecilnya itu ternyata baperan.
“Kamu gendut sekali pun mas tetep sayang, kok.”
__ADS_1
Dan, bukannya tenang Jessi justru semakin menangis histeris, “tu ‘kan?Mas seneng Jessi gendut, biar Jessi nggak cantik lagi. Biar mas bisa cari-cari perempuan lain ‘kan?”
Loh, loh. Yoga terbengong dengan ucapan istrinya itu? Sejak kapan istrinya yang terkenal cerdas itu bisa berpikiran sempit seperti saat ini.
Yoga geleng-geleng kepala menjawab apa yang di tuduhkan oleh sang istri, “nggak gitu sayang.”
“Nggak gitu nggak gitu apa? Jelas-jelas mas Yoga ada pikiran mau selingkuh!” Teriaknya kesal. Jessi berdiri dan berkacak pinggang, “Jessi kesel, Jessi benci mas Yoga! Bye!!” Berlari menuju lama dan menutup pintu kamar dengan keras.
Sementara Yoga, dia masih terbengong di tempatnya sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. “Gue salah dimananya coba?”
Yoga menyusul Jessi dan mengetuk pintu kamar mereka dengan pelan diikuti panggilan mesra, “sayanggg. Buka pintu dong, mas mau masuk.” Bujuk Yoga pada sang istri yang sedang merajuk.
“Pergi sana. Jessi nggak mau ngomong sama mas!” Suara Jessi berteriak dari balik pintu.
“Masak kamu nyuruh mas pergi, sayang?”
“Biarinnnn.”
Di balik pintu Yoga senyum-senyum sendiri dengan tingkah merajuk istrinya.
“Sayang, sayangku, cintaku, My honey.” Berbagai panggilan sayang Yoga ucapkan demi meluluhkan hati istrinya.
“Nggak denger.”
Ckckck, “nggak denger masak nyahut sih?Buka pintu dong sayang, mas mau lihat wajah kamu nih. Mas kangen sama kamu.” Gombal nya pak pengacara. Mulai lancar ya bund gombalan si pak pengacara yang dulu polos.
“Bodo.”
.
.
.
__ADS_1