
Setelah menyelesaikan pekerjaanya, Yoga mengantar Jessi pulang. Pukul lima sore mereka tiba di rumah Jessi.
“Saya langsung pulang, ya!” Pamit Yoga, Jessi pun menganggukkan kepalanya, tak lupa Yoga mengecup pipi kanan Jessi sebelum gadis itu turun dari mobilnya.
Jessi masuk ke dalam rumah setelah memastikan mobil Yoga keluar dari pekarangan rumahnya.
“Assalamualaikum..” lirih Jessi tidak bersemangat masuk ke dalam rumah.
“Walaikumsalam, kakak nggak kerja?” Tanya Rey, bocah itu sedang bersantai di karpet yang berada di ruang keluarga.
“Libur.” Jessi menjawab dengan lesu dan langsung berjalan lunglai menuju kamarnya. Ia bahkan tidak menyapa Jordan yang berpapasan dengannya di tangga.
Jordan menatap aneh Jessi, lelaki itu bahkan menghentikan langkahnya sejenak menatap punggung adiknya yang berjalan sampai ke lantai dua. Jordan melanjutkan langkahnya menghampiri Rey.
“Kenapa dia?” Tanya Jordan pada Rey. Rey sendiri mengangkat kedua bahunya.
“Aneh.” Gumam Jordan duduk di sebelah Rey.
“Diantar kak Yoga, kok. Tapi, kenapa lesu??” Rey menatap layar ponselnya. Bocah itu baru saja memeriksa CCTV melihat dengan siapa kakak perempuannya pulang. Apalagi Rey tau mobil Jessi di bawa Salsa.
“Coba lihat!” Menyahut ponsel Rey dan memeriksanya. Jordan tidak melihat adanya pertengkaran hubungan, lalu apa yang terjadi?
“Nggak punya duit mungkin, kak?!” Tebak Rey.
“Nggak mungkin!” Pertanyaan yang siapapun sudah bisa menjawab. Tidak mungkin Jessi kehabisan uang jajan. Jika, iya, sebelum habis, gadis itu pasti akan merengek pada Jordan meminta uang jajan.
***
Di dalam kamar Jessi baru saja selesai mandi. Tiba-tiba ia sangat merindukan mommy Ayu. Jessi meraih ponslenya di nakas dan menghubungi mommy nya.
Tut.. tut.. tut.. nada sebelum panggilan video Jessi di jawab oleh Ayu.
‘Assalamualaikum, sayang.’
“Walaikumsalam, mom.”
‘Tumben vc mommy, kangen sama mommy?’ Tebak Ayu diseberang, karena Ayu pun merindukan anak-anaknya. Jadwal nya di Korea di perpanjang karena pekerjaan Raka lebih banyak dari yang mereka perkirakan.
“Kangen banged, mom. Kapan mommy sama Daddy pulang?” Tanya Jessi berkaca-kaca.
‘Sabar ya sayang, dua minggu lagi. Mommy sama Daddy pulang. Kenapa?Ada masalah?’ Mommy Ayu bisa melihat kegelisahan dari diri Jessi.
Jessica menggeleng. “Jessi hanya kangen mommy sama Daddy.” Jawab Jessi berbohong.
‘Atau mommy pulang sekarang aja, kerjaan Daddy sudah 87% selesai.’
__ADS_1
“Jangan, mom. Kasihan Daddy nanti nggak bisa tidur kalau nggak ada mommy Haha.” Jessi terkekeh mengingat kelakuan Daddy nya yang sangat menempel pada Ayu. Makanya Raka selalu membawa Ayu kemanapun dia pergi urusan bisnis.
‘Iya sih, kamu benar, Jes. Mommy juga heran sama Daddy kamu, nggak bosan apa nempelin mommy terus.’ Protes Ayu.
‘Kan, cinta, My. Daddy, kan, cinta banged sama mommy, Daddy nggak bisa jauh-jauh dari mommy.’ Saut Raka yang baru saja datang entah dari mana.
“Lebayyyy.” Bukan sekali dua kali Jessi mendengar Raka menggombali mommy nya. Sudah makanan sehari-hari sepertinya bagi Jessi.
‘Tuh, mas, dikatain anak kamu Lebay. Nggak malu kamu, mas?’ Ayu geleng-geleng kepala melihat sikap Raka yang malah senyum lebar.
‘Sayang, kamu baik-baik, di rumah, ya, Daddy sama mommy pulang dua minggu lagi.’ Ujar Raka pada Jessi. Gadis itu mengangguk.
Ketiganya saling mengobrol untuk beberapa saat, sampai magrib Jessi pun mengakhiri sambungan teleponnya.
Saat makan malam pun Jessi tidak turun makan malam. Gadis itu merasa malas untuk makan. Pikirannya terganggu dengan kejadian yang ia dengar di kantor Yoga.
Flash back on beberapa jam yang lalu..
Perbincangan Yoga dan Devina seperti pengacara dan klien pada umumnya tidak ada yang mencurigakan. Jessi sendiri tidak mengerti apa yang Yoga dan Devina perbincangkan, hingga gadis itu merasa bosan dan tertidur.
Devina yang melihat Jessi tidur pulas sesekali mencuri pandang ke arah Jessi hingga membuat Yoga menyadarinya. Yoga pun ikut menoleh dan melihat gadis kecilnya tidur pulas.
“Astaga.” Yoga baru menyadari gadis nya tertidur.
“Maaf, saya izin memindahkan pacar saya ke ruang pribadi saya dulu, ibu Devina!” Kata Yoga menekankan kata ibu Devina. Devina pun mengangguk.
Yoga segera mengangkat tubuh Jessi la brydal style dan memindahkannya ke ruangan pribadi Yoga. Yoga menyelimuti Jessi dan mengecup kening gadis itu, barulah dia kembali menemui Devina.
“Siapa dia, Ga?” Hardik Devina setelah Yoga kembali.
“Saya tidak menjawab pertanyaan pribadi ibu Devina, Silahkan tanyakan hal yang berkaitan dengan kasus ibu Devina saja!” Yoga berucap dengan dingin. Terlihat jelas aura mencengkam berbeda saat sebelum Jessi tidur, Yoga sangat ramah pada Devina.
“Maaf, saya sudah melewati batas.” Ucap Devina.
“Bisa kita lanjutkan apa yang tadi kita bicarakan, ibu Devina?” Tanya Yoga dan Devina pun mengangguk.
Sekitar tiga puluh menit akhirnya Yoga dan Devina selesai dengan obrolan mereka. Devina bangkit dari duduknya berniat untuk pergi karena urusan nya dengan Yoga sudah selesai.
“Pintu keluarnya ada di sebelah sana ibu Devina!” Menunjuk arah pintu keluar karena Devina tak kunjung berjalan kearah pintu.
“Aku minta maaf, Ga.” Lirih Devina.
“Silahkan keluar.”
“Sampai kapan kau akan seperti ini?Aku minta maaf.”
__ADS_1
“Tidak perlu membahas hal yang tidak penting!” Kata Yoga datar dan membalik tubuhnya berniat menuju ruang pribadinya untuk menemui Jessi.
Baru beberapa langkah berjalan Yoga merasakan tangan melingkar di perutnya, Devina memeluk Yoga dari belakang dan menempelkan kepalanya di punggung Yoga.
“Apa yang kau lakukan, Devina?!” Bentak Yoga berusaha melepaskan tangan Devina darinya, namun Devina malah semakin erat memeluk Yoga.
“Aku Merindukanmu, Ga! Aku sangat merindukan mu, aku minta maaf. Tak bisakah kamu memaafkan ku??” Ucap Devina sambil menangis. Bahkan, air matanya menetes di jas yang Yoga kenakan.
“Cukup bicara omong kosongnya, urusan kita sudah selesai.” Ketus Yoga. Kali ini Yoga bisa melepaskan tangan Devina. Ia pun melepas jas nya yang terkena tetesan air mata Devina dan membuangnya lalu Yoga menjauh beberapa langkah dari Devina. Devina sendiri sedih melihat Yoga membuang jas nya.
“Tidak, urusan kita belum selesai. Aku tau kau terluka, tapi, haruskah kau jadi seperti ini, Ga?” Menatap Yoga tajam. “Kau masih mencintaiku, kan?”
“Pertanyaan tidak masuk akal, kau bahkan sudah tau jawabnya Devina. Sejak kau pergi maka cinta itu ikut pergi!” Tegas Yoga.
“Tidak, kau bohong. Kau masih mencintaiku, Ga!! Jika, kau tidak mencintai ku lagi, jika kau bahagia maka kau tidak akan melakukan ini. Kau memacari gadis SMA, kau pikir aku akan percaya kau mencintai gadis kecil itu?hah, tidak! Kau hanya menjadikan gadis itu sugar baby mu, Ga. Aku tau itu!” Kata Devina dengan persepsinya sendiri.
“Jaga bicaramu, Devina!!” Sekali lagi Yoga membentak Devina.
“Kau masih mencintaiku, putuskan gadis itu dan kita kembali bersama. Aku bersedia kembali bersamamu.” Ucap Devina dengan percaya dirinya. “Jika kau tidak berani memutuskan gadis itu biar aku yang mengurusnya!” Lanjut Devina berniat jahat pada Jessi.
“Semakin kesini kau semakin kurang ajar Devina, pergilah selagi saya berbicara baik-baik. Dan, satu lagi, dia bukan gadis yang bisa kau sentuh dengan mudah. Jangan berniat mengganggunya atau kau sendiri yang akan merugi!” Tegas Yoga berlalu meninggalkan Devina menuju ruang pribadinya. Ia muak dengan Devina. Perempuan tidak tau malu itu masih sama tidak pernah belajar dari apa kesalahannya justru semakin gila.
Disisi lain Jessi mendengar apa yang Yoga dan Devina bicarakan. Jessi sudah bangun beberapa saat yang lalu, setelah bangun ia akan keluar menemui Yoga namun baru saja Jessi akan menyentuh Handel pintu, Jessi mendengar bentakan Yoga. Jessi pun mengurungkan niatnya dan mendengarkan percakapan Yoga dan Devina. Percakapan Yoga dan Devina terdengar jelas di telinga Jessi karena pintu ruangan pribadi Yoga terbuka sedikit, sepertinya Yoga lupa menutup rapat pintu itu setelah memindahkan Jassi tadi.
Saat mendengar langkah kaki mendekat, Jessi buru-buru berlari keatas tempat tidur dan berpura-pura tidur. Untung saja Jessi tidak memakai alas kaki, jadi, saat ia berlari tidak menimbulkan suara.
Kriet.. Yoga membuka pintu ruangan pribadinya dan melihat Jessi masih tidur. Ia berjalan mendekat dan duduk di tepi tempat tidur. Yoga membelai rambut Jessi yang menutupi sebagian wajahnya.
“Sayang, bangun..” ucap Yoga lembut sambil mengelus pipi Jessi.
“Em, Kak Yoga.” Membuka kedua matanya pelan dan mengucek-uceknya khas orang yang baru saja bangun tidur. Yah, lumayan akting Jessi bangun tidur.
“Kita pulang sekarang, sudah sore.”
“Klien kakak sudah pulang?” Yoga mengangguk ragu menjawab pertanyaan Jessi.
“Cuci muka dulu.”
“Iya, kak.” Bangun dan mencuci wajahnya.
Untung Devina sudah benar-benar pergi saat Jessi dan Yoga keluar dari ruangan pribadinya. Terlihat jelas pula Yoga menghela nafas lega, Devina sudah pergi.
Flasch back off..
Jessi terus saja kepikiran apa hubungan Yoga dan Devina. Jessi sudah menebak Devina adalah orang yang pernah dekat dengan Yoga, kemungkinan mantan pacar Yoga.
__ADS_1