Pengacara Tampanku

Pengacara Tampanku
Amarah Jessi


__ADS_3

Yoga menarik pergelangan tangan Jessi sambil berjalan meninggalkan tempat itu. Jessi dengan menurut mengikuti Yoga.


“Kita mau kemana, kak?” Tanya Jessi saat melihat Yoga membawanya masuk ke dalam lift. Di dalam lift Yoga diam tidak menyahuti pertanyaan Jessi. Yoga justru melirik jam di pergelangan tangannya seakan ia di buru oleh waktu.


Ting.. pintu lift terbuka. Yoga mengajak Jessi keluar dari lift. Melihat sekitar, mereka sedang berada di basement. Yoga masih saja menggenggam erat tangan Jessi menarik gadis itu agar terus mengikutinya.


“Kak??Jessi lagi sama Jordan dan yang lainnya. Kakak mau bawa Jessi kemana?” Tanya Jessi lagi saat mereka hampir tiba di mobil Yoga. Mobil yang sering Yoga gunakan tentu saja Jessi sangat hafal. Gadis itu hafal dari warna, sampai plat mobilnya.


“Saya ada pertemuan dengan klien sebentar, kamu ikut saya bertemu klien. Setelah itu kita bicara!” Ucap Yoga tegas seakan tidak menerima penolakan.


Yoga membukakan pintu mobil untuk Jessi dan menyuruh Jessi masuk kedalamnya. Dengan tangan Yoga berada di atas kepala Jessi agar Jessi tidak kepentok bagian atas pintu mobil.


Ah, so sweet nya pak pengacara. Pikir Jessi saat Yoga melindungi kepalanya dengan tangannya.


Setelah Jessi masuk ke dalam mobil, Yoga berjalan memutar dan masuk kearah kemudi. Lelaki itu lalu menghidupkan mesin mobil dan melajukannya keluar dari basement.


“Kak, tapi, Jordan dan yang lainnya gimana?” Memiringkan tubuhnya bertanya pada Yoga. Namun, Yoga malah memberi isyarat kepada Jessi agar diam.


“Gimana Jessi bisa diam, Jordan pasti khawatir sama Jessi.” Gerutu Jessi.


“Saya sudah telepon Jordan tadi.” Ucap Yoga.


“Serius?”


“Hm.”


Sekitar sepuluh menit yang lalu, Yoga baru saja selesai makan bersama Radit. Saat akan keluar dari restoran, Yoga melihat bayangan Jessi. Karna takut halu, Yoga meminta Radit untuk melihat apakah yang Yoga lihat benar Jessi atau bukan. Ternyata Radit pun melihat orang yang sama, yaitu Jessi. Bukan tanpa alasan Yoga takut halu, karena selama dua minggu ini bayangan Jessi selalu menghantuinya, entah itu pagi, siang, ataupun malam, bayangan Jessi terus muncul di pikiran Yoga.


Memastikan bahwa gadis yang ia lihat Jessi sungguhan bukan bayangan, Yoga mengikuti Jessi diam-diam. Sementara Radit melanjutkan langkahnya keluar dari restoran. Yoga melihat Jessi masuk ke dalam toilet wanita. Ia terpaksa menunggu Jessi di tempat yang berjarak dengan toilet. Selagi menunggu Jessi keluar dari toilet, Yoga menelpon Jordan. Ia mengabari Jordan bahwa Jessi ikut bersamanya agar Jordan tidak mencari Jessi. Sebelumnya saat melihat Jessi, Yoga juga melihat Jordan bersama sahabatnya dan Rey.


Kembali di dalam mobil.


“Kak Yoga juga makan di restoran ya?”


“Iya.”


“Tapi, kok Jessi nggak lihat kak Yoga?”


“Saya dan Radit di ruang VVIP.” Jawab Yoga.


“Terus kak Radit nya mana?”


“Sudah pulang.”


“Ow.” Menjawab dengan oh ria.


Sepuluh menit menempuh perjalanan, mobil Yoga sampai di tempat Yoga janjian dengan kliennya. Tempat yang tidak asing untuk Jessi. Tempat itu adalah hotel milik Raka. Daddy nya Jessi.


“Kakak ketemuan sama klien di hotel?” Dengan tatapan menyelidik. Yoga sedang memarkir mobilnya saat Jessi menanyakan hal yang sudah jelas jawabannya itu. “Kak!!” Ulang Jessi karena Yoga tidak menjawab.


“Iya, kamu, kan, tau saya parkir disini. Berarti saya ketemu klien saya disini. Turun!” Menjawab sambil melepaskan sabuk pengamannya dan turun dari mobil. Jessi ikut melepaskan sabuk pengamannya lalu menyusul turun dari mobil.


Yoga sendiri sudah menunggu Jessi di depan mobil. “Ayo!” Tangannya diangkat, diulurkan tangannya kearah Jessi agar gadis itu meraihnya. Jessi menyambut uluran tangan Yoga. Mereka bergandengan tangan berjalan masuk kedalam hotel.


“Kak, kok ketemuan di hotel sih?Klien nya cowok apa cewek?” Tanya Jessi.


“Kalau cewek kenapa?Kalau cowok kenapa?” Yoga menanggapi pertanyaan Jessi dengan santai.


“Kalau cowok ya nggak papa, kalau cewek ya nggak boleh. Enak aja mau berdua an sama cewek di hotel. Jessi jambak rambut tu cewek.” Jawab Jessi barbar.


“Saya akan bertemu di cafe resto yang ada di dalam hotel ini. Kebetulan klien saya menginap disini.” Jawab Yoga.


“Jessi nggak tanya itu...Jessi tanya cewek apa cowokkkk?!!!” Kesal Jessi saat Yoga menjawab pertanya Jessi dengan jawaban yang tidak nyambung.


“Perempuan.” Jawab Yoga.


Mendengar klien yang akan Yoga temui perempuan Jessi menghentikan langkahnya. Ia langsung cemberut. Yoga menoleh karena merasa tangannya tertarik kebelakang. Yoga tersenyum samar mendapati Jessi cemberut sambil mogok berjalan namun gadis itu tidak melepaskan genggaman tangan Yoga.


“Makanya saya ajak kamu karena klien nya perempuan.” Berbalik menghampiri Jessi yang cemberut dan mengelus rambut kepalanya. Bukan hanya itu saat mengelus rambut Jessi, Yoga tersenyum sangat manis menurut Jessi.


Mana bisa Jessi cemberut mendapat serangan manis Yoga?Yang ada Jessi klepek-Klepek.


“Ayo!!Enggak enak kalau klien saya menunggu lama.” Melangkah kembali. Jessi tidak cemberut lagi.


Sampailah mereka di restoran itu. Yoga mengedarkan pandangannya mencari Kliennya.


“Yoga !!” Panggil seorang wanita sambil melambai-lambaikan tangannya pada Yoga. Yoga tersenyum mengangguk dan berjalan kearah wanita itu. Semua gerak gerik Yoga tak luput dari penglihatan Jessi.

__ADS_1


Siapa sih wanita itu?Sok kenal. Jessi hanya bisa membatin.


“Sorry, Ra. Saya telat.” Ucap Yoga. Yoga dan Jessi sampai di meja wanita yang memanggil Yoga tadi.


“It’s Okay. Silahkan duduk!” Ucap wanita itu mempersilahkan Yoga dan Jessi duduk.


Yoga menarik kursi dan mempersilahkan Jessi untuk duduk. Jessi duduk menurut. Setelahnya Yoga duduk di kursi sebelah Jessi.


“Siapa dia, Ga?Apa mungkin?” Tanya wanita itu dan diangguki oleh Yoga.


Biarlah Clara mengira Jessi adalah pacarku. Batin Yoga.


Jadi, dia sugar baby Yoga. Batin Clara.


Yoga dan Clara membatin dengan pikiran masing-masing. Sementara Jessi cuek.


“Jes, kenalin dia Clara, teman kuliah saya dulu. Clara ini Jessica!” Yoga memperkenalkan Jessi dan Clara.


“Jessica.” Mengulurkan tangannya.


“Clara, saya seorang designer.” Jawab Clara sombong.


Cih, sombong!Mommy gue designer pro! Gue diam aja. Batin Jessi.


“Oh, hebat dong, kak.” Ucap Jessi pura-pura kagum.


“Ah, biasa saja. Kalau kamu?” Tanya balik Clara.


Dia sengaja mau pamer. Dasar calon fak girl.


“Jessi masih sekolah, kak.” Jawab Jessi santai.


“Pantas masih muda. Pasti masih labil.” Sindir Clara. Yang disindir bukannya minder malah tambah cuek.


“Jadi, gimana, Ra?” Yoga memotong pembicaraan Clara dan Jessi.


“Jadi, begini bla..bla..bla..” Clara dan Yoga nampak serius membicarakan bisnis.


Jessi kesal sendiri karena merasa diabaikan apalagi ponselnya tertinggal di meja restoran saat ia ketoilet. Yoga seakan mengerti Jessi bosan. Lelaki itu menyerahkan ponselnya pada Jessi. Jessi menerima ponsel Yoga dan menatap Yoga penuh pertanyaan.


Usai memberi Jessi mainan. Yoga kembali membicarakan bisnis dengan Clara.


“Saya ketoilet sebentar.” Pamit Yoga pada Jessi dan Clara ditengah-tengah percakapan mereka. Jessi dan Clara mengangguk.


Setelah Yoga pergi Clara mengajak Jessi berbicara. “Sudah berapa lama kamu jadi sugar baby nya Yoga?” Tanya Clara to the point.


“Hah?” Jessi mempause drakor yang sedang ia tonton di ponsel Yoga dan menatap Clara. “Sugar baby?” Memastikan apakah pendengarannya salah atau tidak.


“Ya, kamu sudah baby nya Yoga, kan?Kamu pasti mau duit Yoga doang kan, terus barter sama tubuh kamu. Kalau enggak mana mungkin Yoga mau sama anak kecil kaya kamu. Kamu pasti morotin Yoga untuk biaya hidup kamu, kan?Lihat saja pakain kamu branded semua, itu hasil dari jadi sugar baby nya Yoga, kan?” Cerocos Clara.


“Wait, gue sugar baby?morotin kak Yoga?Barter pakar tubuh gue?” Menatap Clara dengan tidak percaya. Bahkan, sampai melongo.


“Yups, udah nggak usah di jelasin dan nggak perlu kaget kayak gitu. Gue paham, kok. Cuman gue saranin jangan terlalu gelap mata hidup mewah, biar saat Yoga ninggalin lo nanti, lo nggak akan terlalu terpuruk kehilangan bank berjalan lo.” Clara memandang remeh Jessi.


“Mbak Clara, Em atau tante Clara?Kalau teman kuliah kak Yoga berarti udah seumuran kak Yoga. Jadi, Jessi panggil tante nggak salah, dong?” Ucap Jessi santai. Namun, Clara terlihat meradang dengan panggilan Jessi.


“Tante Clara yang nggak cantik-cantik amat, sepertinya tante salah paham. Jessi bukan sugar baby nya kak Yoga. Jessi itu calon istrinya, kak Yoga. Terus Jessi itu nggak morotin kak Yoga.” Kata Jessi penuh penekanan. Clara sepertinya tidak percaya dengan ucapan Jessi, Clara justru terkekeh mendengar ucapan Jessi. Clara kira Jessi hanya mengibul.


“Calon istri katamu?hahaha, mimpi!Terus, nggak morotin Yoga, kamu pikir saya percaya?Dari mana kamu dapat uang beli branded kalau bukan morotin Yoga. Apalagi anak sekolah. Dan, jangan panggil saya tante. Saya ini masih muda.” Ucap Clara dengan tawa sinis nya.


Idih, masih muda, nggak mau di panggil tante. Muka aja udah kayak seumuran mommy. Batin Jessi.


“Sudahlah Jes, saya tau kamu terobsesi menjadi kaya. Tapi, bukan jadi sugar baby juga!” Seru Clara.


“Jessi emang udah kaya dari lahir tante.” Jawab Jessi datar.


“Haha, mimpi lagi. Mimpi lagi.” Mengibaskan tanganya di depan Jessi sambil tertawa.


Kesal!!Satu kata itu yang Jessi rasakan saat ini.


“Pak Handoko!!” Panggil Jessi pada orang yang ia kenal yang juga pimpinan hotel itu. Clara menoleh ke arah sosok yang dipanggil Jessi. Clara juga mengenal pak Handoko dari orang tuanya.


“Dih, jangan bilang selain Yoga kamu jalan sama pak Handoko. Dia udah kakek-kakek.” Clara kembali menghadap Jessi dan geleng-geleng kepala. Jessi mengabaikan ucapan Clara.


Pak Handoko mendekat pada Jessica. “Nona Jessi, ada apa nona memanggil saya?” Tanya pak Handoko sopan.


“Pak, lihat baik-baik!” Jessi menujuk wajah Clara. Pak Handoko melihat kearah wajah Clara dengan seksama.

__ADS_1


“Tante ini adalah salah satu tamu hotel, pak Handoko lihat baik-baik wajahnya, lalu black list kedatangannya di semua hotel Daddy!!” Tegas Jessi.


“Baik. Nona.” Jawab pak Handoko. Clara membelalak dengan jawaban sopan pak Handoko.


“Apa maksud kamu Jessi?” Tanya Clara.


“Tante nggak dengar, mulai saat ini tante di black list dari seluruh hotel yang masih di bawah naungan Pratama Group, dan JJ Group!” Balas Jessi sengit.


“Cih, memang kamu siapa?Berani memblacklist saya.” Tantang Clara. Pak Handoko menggigit bibir bawah nya cemas.


“Gue?Gue itu princess nya Pratama Group dan JJ Group. Nama lengkap gue Jessica Rahardian Pratama! Dan, kakak mesti tau gue udah tajir dari lahir. Jadi, gue nggak sempet lagi morotin kak Yoga cuman buat beli barang branded.” Ucap Jessi dengan sombongnya.


“KA-kamu putri ibu Ayu, pendiri AA fashion??” Tanya Clara gugup. Jika dia seorang designer pasti mengenal Ayu yang juga istri Raka. Siapa yang tidak mengenal Ayu di dunia fashion. Ayu sangat terkenal di dalam maupun luar negeri.


“Itu, tante tau.” Jawab Jessi santai.


Fyuh.. Clara langsung keringat dingin. Ia telah menyinggung orang yang salah. Sementara Jessi nampak santai meminum boba nya.


“Pak Handoko sudah boleh pergi!” Ucap Jessi.


“Kalau begitu saya permisi, nona.” Jessi mengangguk.


Pak Handoko berjalan ke arah ruangnya dan langsung melaksanakan perintah Jessi. Ia menyebar foto Clara yang ia ambil dari CCTV yang cukup terlihat jelas dan menyebarkannya ke Grub pimpinan hotel dibawahnya naungan perusahaan Raka.


‘Perintah dari siapa, Doko?’Tanya salah satu pimpinan cabang yang lain setelah mendapat broadcase pesan perintah Jessi.


Dari nona muda. Balas pak Handoko di grup.


Siap. Siap. Setelah mengetahui perintah itu dari nona muda yang tidak lain adalah Jessica, para pemimpin yang lain langsung siap.


***


Yoga kembali dari toilet. Jessi terlihat serius menonton drakor. Sementara Clara duduk dengan raut wajah pucat pasi. Setelah Yoga sampai di mejanya. Clara langsung pamit. Clara beralasan tidak enak badan, untung urusan bisnis mereka garis besarnya sudah di bicarakan.


“Dia kenapa, Jes?” Tanya Yoga heran melihat Clara meninggalkan meja itu dengan terburu-buru. Jessi mengangkat kedua bahunya. “Mana Jessi tau, Jessi sibuk nonton drakor.” Jawab Jessi cuek.


Bisa-bisanya Jessi cuek padahal dialah penyebab Clara menjadi pucat.


“Mungkin memang benar enggak enak badan.” Gumam Yoga.


“Ayo, pergi!” Mengajak Jessi pergi dari tempat itu.


“Nggak usah bayar.” Ucap Jessi dan Yoga menurut saja. Toh, Yoga memaksa membayar juga tidak akan diterima karena ada Jessi.


Yoga dan Jessi masuk kedalam mobil. Yoga langsung melajukan mobilnya meninggalkan salah satu hotel milik Raka.


“Sekarang kita mau kemana, kak?” Tanya Jessi.


“Kamu maunya kemana?”


Lah, si om malah nanya balik.


“Jessi, kan, nanya kakak. Kenapa Kak Yoga malah nanya balik?” Cebik Jessi.


“Kamu mau nya pergi kemana?Ketempat yang kamu suka, nanti kita bicara disana.” Jawab Yoga fokus dengan kemudinya. Sesekali Yoga mengklakson mobil yang berjalan tidak benar.


Mau ngomong apa sih dia?Ribet amat nyari tempat.


“Jessi sukanya di Paris, kak. Menara Eiffel, disana bagus tempatnya.” Jawab Jessi ngasal.


“Oke, kita kesana sekarang.” Ucap Yoga datar. Jessi melongo menoleh pada Yoga yang nampak fokus menatap depan melihat jalanan yang macet karena berhenti di lampu merah.


“Serius, kak.”


“Saya juga serius, Jess. Mana pernah saya tidak serius, apalagi menyangkut kamu!” Jawabnya percaya diri dan tegas.


Oh, jantungku!Apa artinya ini? Jessi menekan dada nya tepat di jantung.


.


.


.


.


Guys ini 2000 kata lebih lho, hargai tulisan aku. Seenggaknya kasih Like yang sudah mampir. Aku baru sempat up karna sibuk banged hari ini. Harap maklum ya :)

__ADS_1


__ADS_2