
Jessi, Jordan dan Rey tengah bersantai diruang keluarga. Mereka bercengkerama sambil meikmati the hangat dan camilan yang di sajikan oleh pelayan. Sementara daddy Raka dan mommy Ayu sedang menghadiri hajatan salah satu kolega mommy Ayu.
“Kak?”
“Hmm.” Jordan berdehem menjawab Jessi.
“Kakak sama Naya pacaran?” pertama kalinya Jessi menanyakan hubungan percintaan Jordan, setidaknya Jessi ingin mencari tau apakah masih ada secuil harapan bagi Salsa untuk bersama Jordan.
“Nggak mereka settingan,” Bukan Jordan justru Rey yang menjawab pertanyaan Jessi, “Kak Jordan sama perempuan itu cuma gimmick.”
Jordan meilik Rey, “Sok tau kamu.” Balas Jordan singkat.
“Bener itu, kak?” Jika apa yang dikatakan Rey benar, Jessi merasa masih ada harapan untuk Salsa.
“Dia hanya rekan kerja, artis dibawah naungan pratama entertaimen,” Jawab Jordan.
“Tapi kalian kayak mesra gitu, bahkan banyak gossip kalian pacaran.” Pancing Jessi.
“Hanya gosip untuk apa di pedulikan.” Lagi-lagi Jordan menjawab dengan cuek.
Jessi melirik Rey, bocah Smp itu pun mengedikan kedua bahunya pertanda tidak tau.
“Wah, anak-anak Daddy lagi ngumpul.” Suara Raka menimbrung obrolan mereka. Ketiganya pun menoleh dan mendapati Raka dan Ayu yang baru saja pulang dari pesta.
“Lagi ngobrolin apa?” Tanya mommy Ayu seraya mendudukan diri di sebelah Jessi.
“Ini mom, hubungan Jordan sama artis itu tuh.” Jawab Jessi.
“Kalian pacaran, Jo?” kali ini Daddy Raka yang bertanya.
“No, Dad. Just friend.” Raka dan Ayu pun menganggukan kepalanya.
Jessi semakin semangat dan merasa masih ada harapan bagi Salsa untuk bersama Jordan, ia akan menjaga Jordan dan mencari tau kegiatan Jordan. Sementara itu biarlah Salsa meraih impiannya menjadi dokter, Jessi yakin meskipun jauh di Jogja, Salsa pasti tidak akan gampang jatuh cinta.
**
Hari yang di nanti-nanti Jessi pun tiba, hari dimana Yoga kembali ke Jakarta. Usai pulang kuliah Jessi langsung pergi ke apartemen Yoga untuk membuat kejutan. Ia di bantu Celia, Rey, dan si kembar Aksa, Akra untuk mendekor apartemen Rey dengan balon dan bunga-bunga, juga menyiapkan spanduk berisi tulisan “Welcome home Kak Yoganya Jessi”. Selain itu Jessi juga memasak, rencanya mereka akan makan malam bersama di apartemen Yoga.
Untuk urusan dekor mendekor, Jessi percayakan pada Rey dan si kembar Aksa, Akra. Sementara Celia membantu Jessi memasak. Semua sudah siap, Jessi dan yang lainnya bersembunyi di balik sofa menunggu Yoga datang, mereka juga mematikan lampu apartemen Yoga agar tidak mencurigakan, juga menyembunyikan sepatu dan sandal mereka di kamar tamu.
Kriet .. Suara pintu terbuka terdengar jelas. Jessi memberikan aba-aba pada pasukannya untuk bersiap mengejutkan Yoga. Saat suara sepatu pantofel menapak masuk ke dalam apartemen, Jessi dan pasukannya langsung keluar dari persembunyian. Rey pun langsung menghidupkan lampu.
Mereka berteriak, “Hore, suprize, kejutan, halo!” dan, tidak kompak. Semuanya mengucapkan kata yang berbeda.
“Lain kali di sepakati dulu kalau mau bikin kejutan, biar kompak.” Ucap Yoga datar tidak terlihat kaget. Ya, Yoga sendiri sudah tau Jessi dan yang lainnya mempersiapkan kejutan. Beberapa waktu lalu saat dalam perjalanan pulang, Yoga mengecek cctv apartemennya dan melihat ada aktivitas di dalam apartemennya.
“Yah, gagal.” Keluh Jessi sambil cemberut. Ia membawa kue di tanganya, kue bertuliskan “selamat datang sayang”.
“Siapa bilang gagal?Saya suka kamu menyambut saya.” Mencubit pipi Jessi dan langsung mengecup keningnya.
__ADS_1
“Astaga, kalian nggak ada akhlak. Ada anak di bawah umur woy!” tegur Salsa mengingatkan.
“Kami tidak melihat apapun,” Ucap Aksa.
“Betul.” Kompak Rey dan Akra.
“Selamat datang, Om. Mana oleh-olehnya?” Akra langsung mendekati Yoga dan menodong oleh-oleh.
“Sudah om tinggal di rumah bunda kamu, pulang sana!” Usirnya pada keponakannya.
“Massa sih, kok bunda nggak wa Akra?” merasa tidak percaya dengan ucapan Yoga. Ini pasti akal-akalan Yoga saja agar Akra dan yang lainnya pulang, sementara Yoga bisa berduaan dengan Jessi. Terbaca dengan jelas akal bulus Yoga.
“Bohong, Kak Yoga Cuma mau ngusir kita biar bisa berudaan sama Jessi ‘kan?Ah, trik lama. Basi, kita nggak akan tertipu.” Celoteh Celia sambil mengibas-ibaskan tangannya.
“Setuju sama kak Cel, kita mau makan malam dan tidur disini malam ini.” Aksa nampak menimpali.
Ting tong.. Belum sempat mereka menuju ruang makan untuk menikmati makan malam, bel apartemen Yoga berbunyi.
“Siapa, kak?” Tanya Jessi dan Yoga menggelengkan kepalanya. “Biar Jessi yang buka, kakak mandi saja terus nanti kita makan bareng-bareng.” Yoga menganggukan kepalanya lagi dan berlalu menuju kamarnya. Sementara yang lain pergi ke dapur untuk mempersiapkan makan malam.
“Kak Radit?Kak Yulia?” Jessi kaget melihat siapa tamu Yoga.
Mampus, ada Celia juga. Gimana nih?Celia pasti sakit hati lihat mereka bermesraan. Batin Jessi.
“Kita nggak disuruh masuk, Jess?”
“Siapa Jess?” Celia datang dari dapur.
Kak Radit?
Celia sedikit kaget namun segera bersikap biasa saja. Ia juga memaksakan senyum tipis.
“Ada, Celia juga?” Tanya Radit dan Jessi mengangguk. Sementar Celia tersenyum canggung.
“Kamu kenal, Yang?” Tanya Yulia. Radit pun menganggukan kepalanya.
“Sahabat, baiknya Jessi.”
“Oh.” Yulia merangkul mesra lengan Radit seakan menunjukan kepemilikan nya.
Yang? Pacar Kak Radit, jadi dia pacar kak Radit. Rasanya sesak melihat kak Radit dan pacarnya.
Jessi melirik Celia, seakan bertanya “Kamu gak papa?” dalam pesan batin. Celia sendiri seakan paham maksud Jessi, dia menganggukan kepalanya seakan menjawab “Gue fine”, ikatan persahabatan mereka berdua sangat erat sampai bisa memahami sakit hati masing-masing.
“Kalau gitu gue ke dapur ya, Jes.” Pamit Celia tidak mau melihat kedekatan Radit dan Yulia. Jessi pun mengiyakan.
“Duduk, kak. Kak Yoga baru mandi.” Kata Jessi mempersilahkan Radit dan Yulia untuk duduk.
Radit pun mengangguk dan mengajak Yulia duduk di sofa yang sama.
__ADS_1
“Mau minum apa, kak?” Tanya Jessi menawarkan.
“Nggak usah repot-repot, Jes.” Tolak Radit.
“Kita nggak lama kok, Jes. Soalnya mau sekalian jalan, cuman tiba-tiba Radit ada urusan kerjaan yang butuh Yoga jadi mampir deh.” Ucap Yulia ramah.
“Meskipun begitu tetep harus Jessi Justin minum dong, ‘kan tamu.” Ucap Jessi sambil tersenyum.
“Kalau gitu apa aja deh, Jess. Eh, Radit biasa minum teh, Jes.” Ucap Yulia.
“Siap.”
Jessi pergi ke dapur untuk membuat teh. Di dapur Celia sedang memanaskan opor ayam. Si kembar sedang memotong buah, dan Rey sedang berlagak menjadi mandor.
“Cel, buatin kak Radit teh dong. Kali aja teh buatan lo bisa melet kak Radit.” Ucap Jessi ngawur. Celia melongo mendengar ucapan ngawur sahabatnya, sepertinya Jessi lebih antusias me melet Radit dari pada Celia.
“Mana ada teh bisa buat melet orang.” Pikiran bodoh dari mana pikir Rey si anak jenius dan penuh dengan logika.
“Ada, ini mau di buat Celia.” Balas Jessi sambil menjulurkan lidahnya mengejek Rey.
“Lo aja yang buat, gue nggak mau.” Tolak Celia.
“Gue nggak mau buatin teh cowok lain, teh buatan gur cuman khusus untuk kak Yoga seorang.” Sergah Jessi.
“Lebay...” sahut si kembar Aksa dan Akra.
“Ya udah, sini gue yang bikinin. Ambilin garam cepet.” Tutur Celia.
Jessi mengerut dahinya, “Lo mau nge-racun in kak Radit?”
“Nggak, mau gue buatin oralit biar nggak muntaber.” Balas Celia cuek.
“Hah??Emang kak Radit lagi diare?” Tanya Rey serius.
“Kali aja muntaber.”
Jessi geleng-geleng kepala, Rey juga malah menanggapi ucapan Celia serius.
“Nih, teh nya.” Menyodorkan secangkir teh yang siap diminum.
“Lo, nggak beneran kasih garam ‘kan?”
.
.
.
.
__ADS_1