Pengacara Tampanku

Pengacara Tampanku
Bab perempuan murahan..


__ADS_3

Jordan menurunkan Jessi di depan gerbang sekolah Jessi, hari ini Jessi tidak membawa mobil lagi.


“Terimakasih kembaranku..” ucap Jessi seraya tangannya membuka pintu mobil. “Nanti aku pulang di jemput pacar, jadi, kamu nggak perlu jemput.” Kata Jessi pamer. Yah, sesekali Jessi ingin memamerkan hubungannya dengan Yoga pada Jordan. Mengingat Jordan dulu sering membully nya.


“Cih.. pamer.” Cibir Jordan melajukan mobilnya meninggalkan area sekolah Jessica.


Sementara Jessica berjalan masuk ke halaman sekolah. Ada yang berbeda hari ini, Jessi merasa dirinya sedang di bicarakan oleh siswa lainnya. Bahkan beberapa siswa itu nampak memandang Jessi dengan tatapan menghina.


Ada apaan sih? Emang ada yang salah sama gue?


Jessi melirik bagian depan seragam nya, sepatu dan tas sekolahnya. Ia tidak merasa ada yang aneh dari dirinya, tapi, kenapa anak-anak yang lain menatapnya seperti itu.


“Eh, lihat itu yang katanya primadona sekolah ternyata murahan.” Bisik salah satu siswa perempuan.


“Iya, nggak nyangka, wajahnya cantik tapi bisa di booking. Hii.” Sahut siswa perempuan yang lain.


“Maklum lah, lihat aja sering gonta ganti mobil, kalau nggak dari om-om mau dapat dari mana dia.” Siswa yang lain nampak menimpali.


Apa yang mereka maksud gue? Tanya Jessi pada dirinya sendiri. Ia berusaha menampik apa yang ada di pikirannya saat ini. Tapi, melihat sekeliling seakan siswa-siswa yang Jessi temui selama perjalanan menuju kelas sedang menyindirnya.


Jessi terus berjalan dan tidak menghiraukan bisik-bisik siswa yang lain.


“Jes, berapa tarif lo semalam?” Seorang siswa laki-laki menghadang Jessica.


“Maksud lo apa?” Jessi terpaksa menghentikan langkahnya karena lelaki itu memenuhi pintu masuk ke kelas.


“Nggak usah jual mahal deh lo, bilang aja tarif lo semalam berapa?Gue bisa kasih sebanyak yang lo mau.” Bisik lelaki itu. “Ini kontak gue.” Sambil menyelipkan kertas ke saku seragam atasan Jessica dan dia pun berlalu meninggalkan Jessica. Jessi cuek dan membuang kertas itu.


Jessi meneruskan langkahnya masuk ke dalam kelas. Teman sekelasnya pun sama, mereka menatap Jessi aneh seperti siswa-siswa yang lainnya.


“Kalian kenapa sih?Ada yang salah sama gue?” Tanya Jessi pada teman-teman sekelasnya. Namun, teman sekelasnya bungkam dan memilih mengabaikan Jessi.


Drap..Drap.. Drap... Suara langkah kaki saling berlarian.


“Guys, ada demo dari wali murid!” Teriak salah seorang siswa. Jessica dan yang lainnya pun penasaran, mereka kemudian keluar kelas mencari tahu apa yang sedang terjadi.


“Keluarkan gadis murahan itu!” Teriak ibu paruh baya sambil berkacak pinggang.


“Betul, dia sudah mencoreng nama baik sekolah!” Timpal ibu yang lain yang tidak kalah heboh.


Sekitar dua puluh ibu wali murid terlihat berkumpul di lapangan sambil berteriak.


“Mohon untuk tenang ibu-ibu semua, kepala sekolah kami akan segera tiba.” Tutur salah satu guru di sekolah Jessi.


“Kami tidak butuh kepala sekolah, kami mau gadis yang mencoreng nama baik sekolah itu di keluarkan!”


“Betul!”


“Siapa namanya?” Tanya salah satu wali murid pada wali murid yang lainnya.


“Jessica, namanya Jessica!”

__ADS_1


“Keluarkan Jessica!! Gadis murahan tidak pantas sekolah di sekolah ini!!”


“Betul, kami mau Jessica di keluarkan dari sekolah ini!!”


Para wali murid itu berdemo meminta pihak sekolah untuk mengeluarkan Jessica dari sekolah.


Kenapa gue harus di DO?Apa salah gue?


Jessica bisa mendengar semua yang para wali murid ucapkan. Ia hanya bersembunyi di lorong mengintip aksi demo dari para wali murid. Namun, seseorang mendorong tubuh Jessica hingga dia tersungkur.


“Syukurin lo, cewek murahan.” Sinis siswa yang mendorong Jessi lalu berlari menjauh dari Jessi.


“Itu dia!” Teriak salah satu ibu wali murid yang langsung menerobos barisan para guru yang menghadang. Ibu itu berlari ke arah Jessica dan melempar telur ke arah Jessica.


Pyar..pyar..


Jessica menunduk melindungi kepalanya dengan kedua tangannya sembari menutup kedua matanya.


Gue nggak mencium bau amis telur? Perlahan Jessi membuka matanya mencari tau apa yang terjadi. Ia yakin betul ibu itu berlari kearah Jessica sambil membawa telur hendak di lempar ke Jessi. Tapi, kenapa Jessi tidak merasakan bau amis di tubuhnya?


“Lo nggak papa, Jes?” Tanya Salsa.


“Sorry, kita telat.” Timpal Celia.


“Salsa, Celia.” Kata Jessi berkaca-kaca. Kedua sahabat Jessi itu memasang badan mereka untuk melindungi Jessi dari lemparan telur.


“Lari ke ruang Kepsek, gue sama Celia nyusul nanti!” Seru Salsa. Jessi tebengong sesaat.


Sementara Salsa dan Celia mencoba menahan ibu wali murid yang berniat mengejar Jessi.


***


Jordan baru saja sampai di sekolah dan memarkir mobilnya saat ia menerima telepon dari Salsa, ia pun langsung menghidupkan kembali mesin mobilnya dan menuju sekolah Jessi.


“Paman, siapakan dua puluh Bodyguard, pergi ke sekolah Jessi sekarang!” Jordan menelpon seseorang saat dalam perjalanan menuju sekolah Jessi.


Setelah menutup panggilan teleponnya, Jordan langsung memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Di sekolah yang sama dengan Jordan, anak kelas enam SD nampak fokus dengan ponsel nya sambil menunggu sopir menjemputnya. Yah, anak itu adalah Rey. Setelah mendapat kabar tidak mengenakkan tentang kakak perempuannya, Rey langsung menelepon sopirnya untuk menjemputnya kembali. Sambil menunggu sopir menjemput, Rey berusaha menghubungi Daddy Raka dan mommy Ayu, namun ponsel kedua orang tuanya tidak aktif.


Rey pun menghubungi salah satu orang kepercayaan Raka di Pratama Group.


“Paman Kris, tolong tekan media yang menyebarkan berita sampah itu. Ambil alih perusahaannya!” Kata Rey pada mantan pengawal Jessi yang sekarang menjadi salah satu orang penting di Pratama Group.


“Jordan sudah memberi perintah Rey, kau tenang saja! Sekarang kau pulang ke rumah, tidak perlu masuk sekolah.” Ucap Kris.


“Tidak paman, aku akan menjemput kak Jessi di sekolahnya. Kakak pasti ketakutan.” Kata Rey. Sungguh anak SD sudah bisa apa?Tapi, dia ingin melindungi kakak perempuan nya.


“Tidak perlu, Rey. Jordan sudah membawa Bodyguard untuk menjemput Jessi, kau pulang dan tunggu mereka di rumah.” Tutur Kris meyakinkan Rey jika Jessi pasti aman karena ada Jordan.


“Baiklah, paman. Tolong minta paman Leo untuk menghubungi Daddy dan mommy. Rey, tidak bisa menghubungi mereka.” Pinta Rey lagi.

__ADS_1


“Oke, Rey.” Rey pun pulang bersama sopirnya. Ia akan menunggu di rumah saja.


***


Tidak hanya Jordan dan Rey yang geram. Yoga pun sama, setelah melihat berita tentang dirinya dan Jessica, Yoga langsung berniat menemui Jessica. Namun, gedung apartemennya sudah di penuhi wartawan saat Yoga hendak keluar. Ia butuh beberapa waktu untuk lepas dari kejaran para wartawan.


Setelah berhasil lepas dari kejaran para wartawan, Yoga memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju sekolah Jessi. Ia sangat cemas dengan keadaan Jessi saat ini.


Sialan!


Ckittt... Yoga mengerem mobilnya mendadak saat beberapa mobil menghadang mobilnya..


“Minggir kalian!” Teriak Yoga kesal dari dalam mobil, Ia membuka kaca mobil dan sedikit menyembulkan kepalanya keluar.


“Maaf, tuan. Tuan Adam dan tuan besar Wisnu meminta anda kembali ke rumah utama. Kami yang akan mengawal anda dari kejaran para wartawan.” Kata salah satu lelaki berpakaian serba hitam yang keluar dari mobil yang sempat menghadang Yoga.


Shit! Mas Adam dan papa pasti sudah tau.


“Katakan pada papa dan mas Adam, saya akan kembali setelah menemui Jessica!” Perintah Yoga.


Drttt...Drtt.. panggilan telepon dari papa Wisnu.


Yoga mengangkatnya. “Halo, pa. Yoga akan pulang setelah menemui Jessi, Yoga bisa jelaskan semuanya, pa.” Kata Yoga.


“Pulang sekarang, Yoga. Kamu pasti tau sekarang wartawan sedang mengejar kamu.” Ucap papa Wisnu.


“Yoga tau, pa. Tapi, Yoga tidak bisa pulang sebelum memastikan keadaan Jessi.” Kata Yoga yang sangat mengkhawatirkan Jessica. Kejaran wartawan bukan apa-apa bagianya, ia sudah sering dikejar-kejar wartawan. Tapi, Jessi? Ini hal pertama baginya.


“Papa tau kamu khawatir sama Jessi, tapi papa lebih tau Jessi pasti aman. Jordan sudah mengerahkan puluhan Bodyguard menuju sekolah Jessi, Jordan juga sudah menuju sekolah Jessi. Sekarang kamu pulang dulu, percaya sama papa, Jessi pasti aman.” Ujar papa Wisnu.


Yoga nampak diam sejenak.


“Jika kamu menemui Jessi sekarang, keadaan akan semakin kacau.” Imbuh papa Wisnu.


“Baiklah, pa. Yoga pulang sekarang.”


“Oke, papa tunggu. Biarkan orang suruhan mas mu Adam yang mengawal mu!”


“Baik, pa.”


.


.


.


.


.


Tahan marahnya guys.. Kasihan dedek Jessi harus menanggung malu..

__ADS_1


__ADS_2