Pengacara Tampanku

Pengacara Tampanku
Bab Kasih tau typo nya


__ADS_3

Yoga akhirnya terbangun dari komanya di hari ke 5, namun lelaki itu terbangun dengan keadaan tak mengenakkan. Yoga linglung dan tidak mengenali dirinya sendiri.


“Kak Yoga nggak lucu bercandanya, ini Jessi kak.” Tunjuk Jessi pada dirinya sendiri saat Yoga tak mengenalinya.


“Saya tidak kenal kamu.” Yoga berucap dengan polos.


“Tidak kenal? Hahaha, kak Yoga mau ngelawak?”


Lelaki itu menggelengkan kepalannya menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Jessi.


“Kalau nggak mau ngelawak kenapa pura-pura nggak kenal Jessi? Mau Prank ya? Gak mempan.” Jessi berkata dengan mengibas-ibaskan tangannya.


“Saya tidak melawan, tapi memang tidak mengenal kamu.”


“Terosss, lanjut sandiwaranya.”


“Saya siapa?”


“Kak Yoga cukup ya, bercandanya! Berhenti bercanda.”


“Saya tidak bercanda, kamu ada hubungan apa sama saya?”


Cukup sudah, Jessi yang menganggap Yoga sedang bercanda itu pun kesal.


“T-u-n-a-n-g-a-n.” Mengeja kata tunangan satu persatu hurufnya. “Jessi itu tunangan atau calon istri kak Yoga.” Menunjuk dirinya sekilas lalu menunjuk Yoga.


“Tunangan?” Yoga bertanya dengan bingung.


Tunangan?


Kata yang baru saja di ucapkan Jessi terngiang-ngiang di kepala Yoga, sekelebat memori kenangan muncul di bayangan Yoga.


“Argh.” Pekik Yoga sambil memegangi kepalanya.


“Kak, kakak kenapa?” Jessica mendadak panik melihat Yoga yang nampak kesakitan seraya menekan kepalanya dengan kedua telapak tangannya. Jessi mendekat mencoba meraih tubuh Yoga namun Yoga kembali meringis kesakitan.


“Kak?”


“Sakit.”


“Tung-tunggu kak, Jessi panggilkan dokter.” Jessi berlari keluar ruangan untuk mencari dokter. Saking paniknya gadis itu sampah lupa jika di ruangan ada tombol emergancy yang cukup di tekan dan perawat akan datang.


***


Ruangan dokter.


“Amnesia Disosiatif?” Ulang Adam.


Dokter yang duduk di hadapan Adam dengan bersekat meja itu pun mengangguk. “Amnesia Disosiatif merupakan kondisi dimana pasien tidak mampu mengingat berbagai informasi pribadi yang bahkan bernilai penting. Dalam kondisi ini pasien bisa saja lupa siapa nama dan segala hal yang berkaitan dengan pribadinya. Itu lah mengapa Tuan Yoga tidak mengenali dirinya.” Ucap pak dokter menjelaskan.


Adam dan Raka pun manggut-manggut mendengar penjelasan dari dokter


“Untuk kondisi pak Yoga sendiri pemicunya bisa karena kecelakaan yang baru saja dialami hingga mengakibatkan trauma pada kepalanya.” Lanjut dokter itu.

__ADS_1


Setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari dokter Adam dan Raka keluar dari ruangan dokter itu.


“Daddy, apa kata dokter, Dad? Kak Yoga kenapa? Kenapa kak Yoga nggak ngenalin Jessi?” Melihat Raka kalian dari ruang dokter, Jessi langsung mencerca Raka dengan beberapa pertanyaan seputar Yoga.


“Kamu tenang dulu, Jes. Kita duduk dulu, sayang.” Ajaknya pada putri kesayangannya.


Jessi menurut saja, ia dan Raka duduk di kursi panjang depan ruangan Yoga di rawat. Sementara Adam, lelaki itu masuk ke dalam kamar Yoga dirawat.


“Yoga amnesia.” Ucap Raka.


“Amnesia? Lupa ingatan? Kaya yang di sinetron-sinetron itu?” Tanya Jessi pada Daddy Raka.


“Bisa dikatakan begitu.”


“What?? Are you kidding me, Dad?”


“No, girl. Itu yang di katakan dokter. Kalau kamu tidak percaya sama Daddy, tanyakan ke uncle Adam.” Suruh Raka.


“OMG.” Jessi beranjak berdiri berjalan mondar mandir di hadapan Daddy Raka sambil menggigit jari nya.


“Amnesia, amnesia.. Nggak, nggak, nggak.” Gumam Jessi.


“Apa yang kamu lakukan, Jess?Daddy pusing lihat kamu mondar-mandir.” Lelah karena Raka ikut menggerakan kepalanya kesana-kemari mengikuti langkah kaki Jessi yang mondar-mandir.


“Daddy, apa nggak ada cara biar kak Yoga bisa langsung sembuh gitu?” Kembali duduk di sebelah Raka.


“Kamu yang sabar.” Jawaban Raka cukup membuat mood Jessi memburuk.


“Iya, saya kakak kamu, ini kakak ipar kamu. Dan dua bocah itu keponakan kamu.” Adam menunjuk dirinya, Nabila, serta Aksa dan Akra secara bergantian.


Yoga mengangguk canggung antara mau percaya atau tidak. Tapi, kenyataanya dia merasa nyaman dengan keluarga yang sedang mengelilinginya itu.


“Om, beneran lupa sama kita?” Tanya Aksa yang setujui Akra.


“Maaf.” Hanya itu yang bisa Yoga ucapkan saat ini. Karena dirinya benar-benar tidak bisa mengingat apapun.


“Tidak papa, om. Aksa dan Akra pasti bantu om mengingat semuanya.” Kata Aksa memberi semangat pada Yoga.


“Aksa benar, Ga. Mbak yakin kamu pasti cepat sembuh dan bisa mengingat kita semua lagi.” Imbuh Nabila. “Yang penting kamu semangat.”


“Terimakasih, mbak Na-?”


“Nabila.”


“Terimakasih, mbak Nabila.”


***


Radit dan Dito menyempatkan diri menjenguk Yoga sepulang kerja. Mereka berdua juga sudah mendengar amnesia yang di derita Yoga dari Jessi.


“Benar, kata Jessi.” Gumam Radit.


“Apaan?” Dito menoleh.

__ADS_1


“Dia kayak orang linglung.” Menunjuk Yoga yang kebingungan melihat kedua sahabatnya bertingkat sok akrab padanya.


“Lebih kayak orang bodoh, menurut gue.” Dito mengamati raut wajah Yoga. “Man, lo nggak cocok jadi sok o’on kayak gini. Lo tu cocoknya berwibawa, elegan kayak biasanya.” Kata Dito serius.


“Saya Yoga bukan Man.” Ucap Yoga polos.


Dito menoleh ke arah Jessi yang duduk di sofa. “Jess, lo yakin dia cuman amnesia? Nggak cacat otak trus jadi idiot ‘kan?”


“Kak Dito kok sembarangan ngomongnya.” Ingin menimpuk Dito dengan bantal tapi harus menjaga sikap.


“Habisnya dia kayak anak kurang.” Meletakan jari telunjuknya dengan posisi horisontal di depan keningnya.


Radit setuju dengan ucapan Dito. “Dia emang agak aneh.” Gumam Radit.


Jessi berdiri dan mendekati Yoga. Ia berdiri di tengah-tengah Radit dan Dito.


“Kak Yoga, yang disebelah kanan Jessi ini namanya kak Radit, sahabat sekaligus rekan kerja kak Yoga di kantor.” Kata Jessi mengenalkan Radit pada Yoga.


Yoga memandang Radit sesasi seakan menilai sesuatu lalu mengangguk.


“Nah, yang di sebelah kiri Jessi, namanya kak Dito. Dia juga sahabat baik kak Yoga. Kerjanya jalan-jalan nangkap penjahat.” Jessi berganti mengenalkan Dito.


“Menangkap penjahat?” Yoga mengurut alisnya.


“Polisi maksud Jessi kak.”


“Kalau dia?” Yoga menunjuk seseorang yang baru saja datang dan memasuki ruangan itu.


Semuanya menoleh, baik Jessi, Radit dan Dito.


“Oh, itu sahabat Jessi. Namanya Celia.”


“Hallo, kak.” Celia berjalan mendekat dan menyerahkan buah tangan yang ia bawa pada Jessi. “Aku Celia, sahabat Jessi sekaligus klien kakak.” Celia juga sudah tau Yoga amnesia.


“Halo, Celia.”


“O iya, Ga. Lo fokus sama kesembuhan lo, jangan mikir yang berat-berat. Untuk urusan kantor gue jamin aman sampai lo bisa ngantor lagi.” Radit memang di beri tanggung jawab oleh Adam untuk mengurus firma hukum milik Yoga selama Yoga menjawalni terapi pengobatan. Selain itu Radit merupakan wakil Yoga, memang sudah seharusnya ia menggantikan Yoga menjadi pemimpin sementara.


“Maaf jadi merepotkan lo.” Ujar Yoga sungkan.


“Kayak gue nggak pernah ngerepotin lo aja Bro, padahal gue yang lebih sering ngerepotin lo bahkan dari saat kita SMA.”


.


.


.


Aku nulis bab kali ini dengan riset ya guys, yang tentang amnesia..


Aku ambil amnesia itu dari sebuah artikel www.halodoc.com. Jadi, aku nggak cuman asal nulis aja.


Oke, segini dulu. Tolong kasih tau yang typo ya, ku edit besok. Udah ngantuk banged nih

__ADS_1


__ADS_2