Pengacara Tampanku

Pengacara Tampanku
Perasaan apa?


__ADS_3

Efek samping dari obat yang diminum Jessi sepertinya membuat Jessi mengantuk. Gadis itu langsung terlelap tidak lama setelah minum obat yang di berikan dokter jaga malam.


Usai Jessi tidur Yoga juga mengurusi Rey untuk segera tidur. Bagaimanapun Rey besok harus sekolah, lebih baik segera istirahat. Rey tidak membantah Yoga, Rey langsung tidur sesuai perintah Yoga.


Sementara Yoga sibuk menghubungi Jordan setelah Jessi dan Rey tidur. Yoga berhasil menghubungi Jordan yang sedang berada di puncak. Ia langsung mengabarkan keadaan Jessi pada Jordan. Dan, malam itu juga Jordan akan pulang padahal Yoga sudah memberitahu Jordan jika dirinya akan menjaga Jessi namun Jordan tetap kekeuh akan segera pulang. Yoga hanya bisa berdoa semoga perjalanan Jordan lancar.


Pukul 02:00 pintu kamar rawat inap Jessi didorong dari luar. Yoga yang masih terjaga menoleh ke arah pintu. Dilihatnya remaja laki-laki masuk ke dalam kamar dengan mengendap-endap seperti maling.


“Kak Yoga belum tidur?” Sapa remaja lelaki itu sambil melangkah menghampiri Yoga yang berbaring di sofa.


Yoga bangun dari tidurannya. Ia duduk tegap. “Saya, kan, sudah bilang tidak perlu memaksakan diri untuk pulang malam. Lihat kamu pasti kelelahan!” Tutur Yoga memandangi Jordan dari atas kepala sampai kaki. Ya, remaja lelaki itu adalah Jordan. Ia baru saja tiba dari puncak. Dari wajahnya nampak kelelahan.


“Jordan kepikiran Jessi, kak. Apalagi dia dulu memang sering sakit. Semenjak SMP dia sudah jarang sakit, mendapat kabar dia sakit, Jordan nggak tenang, kak. Apalagi mommy sama Daddy masih di luar negeri, Jessi dan Rey tanggung jawab Jordan.” Ucap Jordan sambil duduk di sofa tinggal sebelah Yoga.


“Kau kakak yang baik, Jo. Istirahatlah, Jessi baik-baik saja. Dia hanya perlu di opname beberapa hari dan segera pulih.”


Yoga tau Jordan, meskipun masih remaja namun pemikirannya sudah dewasa. Jordan mewarisi sikap dan sifat Daddy nya juga kepintaran Daddy Raka. Walaupun Jordan dan Jessi kembar dari segi kedewasaan Jordan masih diatas Jessi jauh.


“Jordan akan mandi dulu, kak.”


Setelahnya Jordan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Lalu Jordan pun tidur di sebelah Rey di atas bed yang disediakan rumah sakit di kamar itu. Sementara Yoga tidur di sofa panjang dengan jas yang ia pakai untuk menutupi sebagian tubuh nya agar tidak kedinginan. Yoga sudah berganti pakaian santai, hanya saja ia tidak membawa selimut jadi ia memanfaatkan jas kerjanya tadi untuk menyelimutu tubuh bagian atasnya.


Keesokan pagi nya, Jessi terbangun pukul setengah enam pagi. Tatapan Jessi langsung tertuju pada sosok lelaki dewasa yang masih terlelap dalam tidurnya di sofa dengan posisi tangan berada di atas kepala. Ini pertama kalinya Jessi tidur di ruangan yang sama bersama Yoga meskipun ya beda tempat, Jessi tidur di brankar dan Yoga di sofa. Namun, hal itu tidak mengurangi rasa bahagia Jessi.


“Pagi yang hangat.” Gumam Jessi. Usai bersama-lama memandangi Yoga, Jessi berganti memandangi bed khusus keluarga yang berada di sebelahnya. Rey dan Jordan masih terlelap di sana. Rey terlihat meringkuk sedang Jordan memunggunginya.


“Cih, ingat punya adik juga dia.” Cibir Jessi pada Jordan.


Kriet.. pintu dibuka pelan. Dokter periksa pagi dan suster masuk ke dalam kamar. Dokter dan suster itu melangkah dengan senyap melihat kondisi ruangan masih penuh pangeran tidur. Jessi sendiri tersenyum melihat dokter yang akan memeriksanya.


“Selama pagi nona Jessi.” Sapa dokter muda itu terlihat ramah.


“Selamat pagi, dok.” Jawab Jessi sambil tersenyum.


“Bagaimana semalam, apa tidurnya nyenyak?” Sambil memeriksa Jessi. Jessi pun mengangguk. “Sangat nyenyak, dok. Sepertinya saya sudah sembuh.” Balas Jessi.


Dokter itu menangguhkan kepala nya. Lalu berbicara pada suster yang Jessi sendiri tidak mengerti karena memakai bahasa medis. “Baik, asal nona Jessi rajin minum obat sesuai arahan dokter pasti cepat sembuh, tapi, untuk sementara masih menginap dirumah sakit dulu, ya.” Tutur dokter itu. Jessi lagi-lagi hanya mengangguk mungkin menurut dokter kondisi Jessi masih perlu pengawasan dokter. Jadi, masih harus menginap di rumah sakit.


Tak lama setelah dokter keluar dari ruangan itu Yoga terbangun. Yoga langsung mendudukan dirinya dengan tegap, kakinya menapak lantai, sambil membuat peregangan otot otot tangan.


Yoga menatap kearah Jessi yang tengah tersenyum manis padanya.


“Pagi.” Sapa Jessi pada Yoga.


“Pagi.” Yoga berjalan ke arah Jessi. “Bagaimana keadaanmu?”


“Kata dokter masih harus istirahat disini, kak.” Jawab Jessi.


“Apa dokter pagi sudah datang?” Tanya Yoga dan Jessi pun menangguk.


“Kenapa tidak membangunkan saya?”

__ADS_1


“Aku tidak mau mengganggu tidur, kakak. Lagi pula pak dokter hanya sebentar kok.” Jawab Jessi. Aslinya gadis itu senang melihat Yoga tidur karena Yoga nampak semakin tampan saat tidur. Ia juga seperti bayi yang menggemaskan bagi Jessi.


“Apa pak dokternya tampan?” Jessi mengangguk menjawab pertanyaan Yoga.


Kenapa aku menanyakan hal itu?Tidak penting sekali.


Kenapa kak Yoga menanyakan pak dokter, apa dia cemburu??


“Kau sudah bangun Jess?” Tanya Jordan dengan suara serak khas bangun tidur. Jordan mengerjapkan mata saat mendengar suara Jessi dan Yoga sedang mengobrol. Jessi dan Yoga serentak menoleh ke arah Jordan.


“Kakak masih ingat punya adik?” Cibir Jessi mengingat Jordan yang tidak bisa di hubungi kemarin.


“Maafkan aku, kemarin poseku di bawa orang gila.” Jawab Jordan.


“Orang gila atau cabe-cabe an?” Jessi sudah bisa menebak pasti orang gila yang di sebut Jordan adalah salah satu perempuan fans Jordan. Perempuan yang sering mengikuti Jordan kemana-mana, bagaimana pun Jessi tau Jordan cukup populer di sekolahnya berkat ketampanan dan kekayaannya.


“Yah anggap saja begitu.” Jawab Jordan cuek sambil turun dari tempat tidur menuju kamar mandi.


“Dia selalu begitu.” Gumam Jessi.


“Sudahlah, dia tetap kakakmu.” Ucap Yoga.


“Kak Yoga bisa pulang sekarang, Terimakasih sudah menjaga Jessi semalaman.” Ucap Jessi tulus.


“Kamu mengusir saya?”


“Tidak..tidak, bukan begitu, kak. Kak Yoga, kan, harus bekerja. Jessi tidak mau karena menemani Jessi pekerjaan kakak terbengkalai.”


“Oh, aku kira kau mengusir.” Hampir saja Yoga merasa kesal. Untung Jessi cepat-cepat menjelaskan maksud ucapannya.


“Jessi mana mungkin mengusir kakak, Jessi, kan, sayang sama kakak.” Ucap Jessi refleks dan langsung menutup mulutnya sendiri setelah menyadari apa yang baru saja ia ucapkan.


Yoga tersenyum mendengar ucapan Jessi.


“Apa itu sebabnya kau selalu mengacau dan mengintai saya, juga selalu main ke kantor saya?” Tanya Yoga.


Jessica mengangguk malu. “Tunggu dulu, Kak Yoga tau Jessi sering mengintai kakak?” Tanya Jessi. Jadi, selama ini Yoga tau kelakuan Jessi yang sering mengikutinya kemana-mana.


“Ya.. Kau sering mengikutiku ke pengadilan, ke kantor dan di kemanapun saya pergi.” Jawab Yoga.


Sial. Malunya.


“Eng-enggak kok, hanya beberapa kali.” Jawab Jessi terbata-bata.


“Ya, hanya beberapa kali, mungkin seminggu tujuh kali.” Ejek Yoga.


Ya, dulu memang setiap hari Jessi mengintai Yoga setelah pulang sekolah. Namun, semenjak bekerja part time Jessi mengurangi jadwalnya mengikuti Yoga.


“Itu, kan, dulu.” Balas Jessi.


“Oh.. Jadi, sekarang tidak lagi?”

__ADS_1


“Bukan begitu, sekarang harus fokus belajar.”


“Yakin?”


Tidak yakin sih, tapi sekarang fokusnya bukan mengikuti kakak kemana-mana. Tapi, mencari uang untuk membeli kado ulang tahun kakak, tau.


“Yakinlah.” Jawab Jessi.


“Kenapa?” Yoga sedikit kecewa.


“Kan, sudah Jessi bilang, Jessi harus fokus belajar.”


Yoga manggut-manggut. “Baiklah, itu lebih baik. Daripada kamu mengikuti saya kemana-mana.”


“Jadi, kak Yoga mau pulang tidak?”


“Ini saya mau pulang.” Membalik tubuhnya menuju sofa untuk mengambil jas dan paperbag berisi baju kotornya di sebelah sofa. Yoga pun berjalan ke arah pintu.


“Gitu aja, nggak pamit sama Jessi?” Jessi mengangkat sebelah alisnya. Yoga yang sudah mendekati pintu tersenyum samar. Lelaki itu lalu berbalik menghampiri Jessi.


“Bagaimana saya harus pamit?Apakah seperti ini?” Sambil mengecup pipi Jessi. Jessi melongo tidak percaya, beberapa detik ia kehilangan kewarasannya saat Yoga mengceup pipinya.


“Apakah ini mimpi?” Jessi mengelus pipi nya bekas kecupan dari Yoga.


Haha, lucu sekali wajahnya itu.


“Cepat sembuh, jangan nakal. Saya akan menemui mu setelah pekerjaan saya selesai.” Mengelus rambut Jessi dengan lembut. Seperti terhipnotis oleh perlakuan Yoga, gadis itu menganggukkan kepalanya.


“Saya pergi.” Lagi-lagi Jessi mengangguk.


Punggung Yoga sudah tidak terlihat lagi. Pintu ruangan rawat inap Jessi juga sudah tertutup kembali.


“Perasaan apa ini?Jantungku, apa aku jatuh cinta lagi pada kak Yoga.” Gumam Jessica.


“Kak Yoga kemana, Jes?” Menoleh ke arah Jordan yang baru saja keluar dari kamar mandi.


“Pulang.” Jordan manggut-manggut.


Tok..tok.. “Masuk!” Sahut Jordan.


“Selamat pagi, nona muda, tuan muda.” Pak Tono orang kepercayaan Jordan masuk ke dalam ruangan rawat inap Jessi dengan membawa baju seragam Jordan dan Rey.


“Pagi.” Balas Jessi lembut.


“Hem.” Jordan yang cuek menurun dari sikap Daddy Raka.


“Untuk sarapan, apakah di mobil atau disini, Tuan?”


“Di sini saja, pak. Saya akan bangunkan Rey. Pak Tono siapkan saja.”


“Baik, tuan muda.” Pak Tono keluar dari ruangan itu untuk mengambil sarapan yang masih berada dia dalam mobilnya.

__ADS_1


Sementara Jordan membangunkan Rey dengan susah payah. Sampai ia mencipratkan air putih pada Rey.


__ADS_2