
FOLLOW INSTAGRAM AKU YAH TEMEN-TEMEN @n.lita.s DI SANA AKU BAKALAN SHARE NOVEL-NOVEL AKU JUGA SPOILER :-)
MAKASIHHH...
***********************************************************************************
Setelah libur dua hari, Celia kembali beraktivitas. Kali ini dia ditemani Jessi yang akan berperan sebagai manajer sementaranya, sebab manajernya mengundurkan diri. Celia mengendarai mobil SUV hitam miliknya menuju lokasi syuting drama series.
“Akhirnya gue bisa keluar rumah tanpa penjagaan,” setelah keguguran beberapa waktu yang lalu penjagaan Jessi di perketat. Kemana-mana harus bersama Yoga ataupun bodyguard.
“Enak banget sih jadi anak orang kaya. Tapi, jadi sahabat orang kaya juga enak sih hahaha,” Celia menanggapi sambil terkekeh. Meskipun sambil mengobrol Celia tetap fokus pada kemudinya.
Mereka sampai di lokasi syuting.
“Ramai banget..” Celutuk Jessi melihat parkiran penuh dengan mobil juga orang-orang berkerumun. “Mereka kayaknya wartawan deh,” lanjut Jessi melihat beberapa orang yang berkerumun disana membawa peralatan seperti kamera khas para wartawan.
Celia juga sependapat dengan Jessi. “Iya nih, tumben banget.”
“Lagi ada konferensi pers kali,” tebak Jessi.
“Kalaupun ada gue pasti tau, meskipun bukan pemeran utama gini-gini gue juga di kasih info update acara di lokasi.” Sanggah Celia.
“Lo parkir dulu aja deh, ntar kita juga tau pas turun.”
Menuruti kata Jessica, Celia mencari tempat yang pas untuk digunakan parkir seharian. Terutama tempat yang teduh di bawah pohon besar, agar mobil nya tidak terpapar sinar matahari secara langsung.
“Kok perasaan gue enggak enak ya,,” gumam Celia sembari melepas sabuk pengamannya setelah mematikan mesin mobilnya.
“Gue juga ngerasa gitu.” Sahut Jessica.
Jessi lebih dulu turun dari mobil itu dengan gaya elegan khas mommy Ayu. Tangan kanannya menenteng tas branded jinjing, sedang kaki kanannya yang memakai flatshoes mahal menapak lebih dulu di tanah. Tak lupa kaca mata hitam bertengger di atas hidungnya.
“Itu dia, dia datang,” Teriak salah seorang laki-laki yang mengenakan jaket kulit berwarna hitam sambil membawa kamera di tangannya. Dia memandang kearah Jessica dan Celia berjalan. Akibat teriakan itu orang-orang mulai memandang kearah yang sama. Entah mengapa tatapan mereka seakan penuh pertanyaan.
“Kek pada ngelihatin gue ga sih?” tanya Celia pada Jessi lalu memandangi penampilannya apakah ada yang salah dengan penampilannya.
__ADS_1
“Mandangin gue kali, gue ‘kan cantik.” Sahut Jessi asal.
Drap.. drap.. suara derap langkah saling bersahutan kearah Jessica dan Celia. Ada yang tidak beres seperti apa yang Celia rasakan. Mereka yang bisa dipastikan wartawan mulai menyerbu Jessica dan Celia.
“Mundur, Cel.” Ucap Jessi saat merasakan bahaya mendekat ke arah mereka.
“Mbak, mbak Celia apa benar anda selingkuhan seorang pengacara?”
“Mbak Celia sudah berapa lama anda menjadi selingkuhan?”
Para wartawan menodong Celia dengan berbagai macam pertanyaan fitnah. Jessi sendiri berdiri tegap dihadapan Celia menghalangi para wartawan yang mulai mengambil foto.
“Mbak Celia apakah yang diberitakan media benar?”
“Sebentar pemberitaan apa ya mas?” tanya Jessi tenang.
“Mbak ini siapa nya mbak Celia?Apakah manajernya?” tanya salah satu wartawan yang lain.
“Mbak Celia jadi benar manajer mbak Celia mengundurkan diri karena tidak sanggup dengan sikap mbak Celia selama ini?” sahut waratwn lain.
“Apakah benar manajer mbak Celia mengundurkan diri karena mengetahui mbak Celia sebagai selingkuhan?”
“Jess, gue takut.” Celia gemetar memegang lengan Jessi.
“Lo tenang dulu, mereka kemana sih malah nggak ada yang nongol pas dibutuhin. Dasar sialan.” Keluh Jessi celingukan mencari pengawal bayangan yang seharusnya di kirim daddy Raka. Jessi yakin meskipun Yoga mengizinkannya pergi bersama Celia pasti suaminya itu sudah bersekongkol dengan daddy Raka mengirim pengawal bayangan.
“Mbak Celia..mbak apa bisa menjawab pertanyaa kami.”
Drap.. drap.. drap… bala bantuan datang pengawal Jessi berlarian mendekat, mereka tidak segan mendorong dan menggusur wartawan yang terlalu dekat dengan Jessi, mereka berdiri tegap membentengi Jessi dan Celia agar tetap aman. Mereka membuat formasi melingkar dengan Jessi dan Celia di tengah.
“Kasar sekali,” protes salah satu wartawan yang tersungkur.
“Mohon jaga jarak..” salah satu pengawal Jessi memberikan peringatan.
“Anda tidak papa, nona?” pengawal itu beralih menatap Jessi dan bertanya.
__ADS_1
“Tidak papa terimakasih,” jawab Jessi.
“Mbak Celia apa orang-orang ini suruhan anda untuk melawan kami?Apa mbak Celia merasa tergangu dengan pertanyaan kami?” tanya Wartawan wanita yang baru saja bergabung.
Wajah Celia sudah pucat pasi. Dia terlalu ketakutan dengan serbuan wartawan yang baru pertama kali ia dapatkan. Apalagi kali ini wartawan menyerbunya dengan berita miring. Melihat Celia yang seperti itu Jessi pun mengambil tindakan.
“Biar saya yang jawab,” Jessica maju di temani satu pengawalnya.
“Silahkan berbaris dengan rapi, nona kami akan menjawab pertanyaan anda-anda semua.” Tutur pengawal Jessi sopan.
“Siapa sih dia sampai di panggil nona.” Terdengar cuitan salah seorang wartawan yang tidak suka dengan sikap Jessi. Namun, mereka tetap mengikuti arahan pengawal Jessi untuk berbaris dengan rapi.
Jessi pun siap, dia membuka kaca mata hitamnya diletakkanya kaca mata itu di atas rambut kepalanya.
“Bukankah dia putri konglomerat itu?” beberapa dari wartawan tersebut ada yang mengenali Jessica. Tentu saja mereka yang di undang setiap tahun diacara ulang tahun perusahaan Raka pasti tau siapa Jessica.
“Baik, saya Jessica disini selaku manajer sementara dari Celia akan menjawab pertanyaan dari teman-teman wartawan. Namun, sebelum saya menjawab saya ingin tau lebih dulu detail dari mana asal muasal pertanyaan tersebut.” Ucap Jessi.
Salah satu wartawan menanggapi ucapan Jessi. “Nona Jessica apakah nona sudah tau tentang video viral yang beredar pagi ini?Video yang melibatkan mbak Celia dan seorang pengacara.”
Jessi menggelengkan kepalanya. “Saya belum lihat,” sigap salah satu pengawal Jessi menerima ponsel dari seorang wartawan yang berisi video Celia sedang bertengkar dengan Yulia dan menyerahkannya pada Jessi.
Jessica melihat video itu dengan teliti. Setelahnya mengambalikan ponsel tersebut kepada pemiliknya melalui pengawalnya.
“Baik secara garis besar saya sudah paham untuk permasalahannya. Namun, melihat dari kondisi Celia saat ini yang sedang shock dengan pemberitaan negative, kami akan menunda untuk menjawab pertanyaan dari teman-teman wartawan semua. Sebagai gantinya silahkan kirim pertanyaan teman-teman ke email resmi manajemen Celia. Selanjutnya kami akan jadwalkan konferensi pers untuk menjawab pertanyaan dari teman-teman wartawan.” Kata Jessi memberikan pengumuman.
“Kira-kira kapan ya mbak untuk konferensi persnya?”
“Secepatnya, kita akan jadwalkan secepatnya.”
“Apakah tidak bisa di jawab sekarang saja?” Sahut Wartawan yang mendesak Jessica untuk menjawab pertanyaannya.
Jessica tidak terintimidasi, ia tetap bersikap tenang. “Demi kenyaman semua pihak kami akan menjawab pertanyaan pada jadwal konferensi pers nanti dengan detail. Maka dari itu silahkan teman-teman wartawan diskusikan dan kumpulkan pertanyaan yang akan di ajukan. Selain itu kami tidak akan tinggal diam pada kritik yang tidak berdasar dan terkesan menfitnah Celia tanpa bukti yang jelas. Apabila kami menemukan kritik yang seperti itu maka kami akan membawanya ke jalur hukum. Sekian untuk hari ini, terimakasih untuk teman-teman wartawan yang mau mengerti.”
Kasak-kusuk para wartawan terdengan samar-samar saat Jessi mengakhiri ucapannya. Ada yang merasa tertantang untuk mengumpulkan bukti Celia sebagai selingkuhan, ada pula yang merasa ciut nyalinya takut terlibat masalah hukum dengan manajemen Celia jika salah membuat berita.
__ADS_1
Jessi berbalik arah dan mendekati Celia yang masih gemetaran, Jessi memapah Celia dan kembali ke dalam mobil di kawal pengawalnya. Ia dan Celia duduk di dalam mobil bagian belakang. Sementara pihak sopir diambil alih salah satu pengawal Jessi.
Tanpa Jessi dan Celia sadari, tak jauh dari lokasi itu seorang perempuan tengah kesal. “Sialan, Celia lolos lagi,” geramnnya menghentakkan kaki nya di tanah.