
Follow instagram aku ya guys @n.lita.s
*Disana ada informasi update juga novel-novel aku yang lain. Sekali an kita bersilaturahmi di media sosial **💜*
**
Dengan kekuasaan yang dimiliki Daddy Raka, akan mudah membawa Jessica pulang tanpa hambatan. Bodyguard yang Daddy Raka bawa khusus menahan Yoga yang berontak menahan Jessi, mereka adu jotos bahkan Yoga babak belur.
“Cukup, mas! Ini keterlaluan.” Ayu menghampiri Yoga yang babak belur. Dia berucap lembut pada menantunya, “kali ini saja biarkan Daddy mu membawa Jessi, mommy akan pikirkan cara membujuk Daddy mu.”
“Tapi, mom.”
“Iya kak, Rey setuju dengan mommy. Daddy sedang mengamuk. Kakak tidak lihat orang-orang yang dibawa Daddy?” Rey ikut membujuk Yoga.
Sementara Raka membiarkan anak dan istrinya membujuk menantunya itu. Sembari dirinya memberi arahan pada beberapa perawat dan dokter untuk mempersiapkan kepulangan Jessi. Raka akan membawa Jessi ke kediamannya lengkap bersama dokter dan perawat.
Yoga melirik ke arah perawat yang mulai mendorong brankar Jessi dengan pasrah. Dia kalah dari ayah mertuanya.
“Yoga titip Jessi, mom.” Ucapnya pada Ayu.
“Percayakan pada mommy, Ga.” Ayu menepuk bahu Yoga, lalu menoleh pada Rey, “kau ikut kak Yoga, Rey. Antar Kak Yoga dengan supirmu.” Ucapnya pada sibungsu.
Rey mengangguk, “siap, mom.”
Di dalam mobil menuju kediaman Raka.
“Kamu marah, sayang?” Tanya Raka tanpa rasa bersalah sedikitpun padahal sudah membuat menantunya babak belur.
Ayu terlalu malas menjawab pertanyaan Raka yang sudah jelas jawabannya.
“Tidakkah kamu malu dengan besanmu, mas? Apa yang akan kamu katakan pada pak Wisnu, Adam sama Nabila?Kamu seperti preman:” gerutu Ayu.
“Aku memang preman. Dulu.” Jawab Raka santai.
Ayu memutar bola matanya malas, dasar Raka. Coba saja kalau bukan suaminya sudah ia bantai Raka.
“Aku lagi enggak bercanda ya, mas. Pokoknya kalau sampai keluarga Yoga enggak terima kamu yang urus masalahnya. Aku gak mau musuhan sama besan.”
Ayu memikirkan bagaimana ia akan beralasan pada Nabila atas perlakuan Raka pada Yoga. Nabila pasti kecewa pada Ayu karena tidak bisa menghentikan Raka.
“Mereka tau, kok.” Ucap Raka santai.
__ADS_1
“Maksud mas?”
“Mereka tau saya membawa Jessi. Mereka juga nggak masalah Yoga babak belur.”
“Hah?” Ayu menganga tidak percaya.
“Nih, lihat saja sendiri!” Raka menyerahkan ponselnya pada Ayu. Di aplikasi pesan ada per pesanan antara Raka dan Adam. Dimana Raka dan Adam saling berkirim pesan membahas Jessi. Termasuk, tindakan Raka yang akan membawa Jessi pulang ternyata sudah di setujui oleh Adam dan keluarga. Juga tindakan Bodyguard Raka yang memukuli Yoga. Adam hanya berpesan sewajarnya saja yang memberi pelajaran Yoga.
*“Jadi Adam sama Nabila enggak keberatan Yoga babak belur?” Ayu spechless, *ternyata keluarga besannya sama error nya dengan suaminya.
“Cowok kalau enggak babak belur belum bisa dikatakan laki, Yu!” Kata Raka kemudian.
“Mereka juga enggak masalah Yoga babak belur. Sekalian biar jadi pelajar buat Yoga kata mereka.”
“Astaga! Keluarga macam apa ini?” Batin Ayu, percuma saja Ayu cenan sendirian memikirkan bagiamana hubungan nya dengan Nabila yang akan merenggang karena ulah Raka. Ternyata Nabila malah lebih dulu tau soal ulah Raka.
“Jadi, kamu itu sebenarnya marah enggak sama Yoga?” Tanya Ayu memastikan.
“Nggak lah. Cuman kesel aja. Bisa-bisanya mereka bertengkar cuman karena mobil. Sampai keguguran pula.” Jawab Raka.
Ayu tidak mengerti apa yang diucapkan Raka. Bertengkar karena mobil? Apa maksudnya ?
“Mereka bertengkar karena mobil?”
“Ya Allah, astaga naga. Jessica sepertinya memang masih labil, mas.”
Ayu menjadi berpikir ulang. Apa keputusannya sudah tepat saat itu memberikan restu pada Yoga dan Jessi untuk menikah muda.
“Ya, anakmu memang tidak dewasa. Berbeda denganmu. Mereka tumbuh dengan bergelimang harta sejak kecil, tidak pernah merasakan hidup susah. Apa kita salah dalam mendidiknya ya, Yu?”
Memang benar anak-anak hidup dengan berkecukupan sejak kecil, namun Ayu juga selalu menanamkan nilai-nilai kebaikan pada mereka.
“Enggak mas, kita nggak salah dalam mendidik anak. Hanya saja kehidupan pernikahan itu berbeda, mereka mengalaminya secara langsung. Butuh waktu untuk beradaptasi, justru dengan masalah begini baik Jessi maupun Yoga akan belajar bagaimana bersikap lebih dewasa, lebih bertanggung jawab dan lebih Legowo. Setiap kejadian selalu ada hikmah yang bisa diambil, mas. Yakin saja, Allah memberi ujian pada keluarga kita hari ini, namun suatu hari nanti Allah akan menggantinya dengan kebahagiaan yang berlebih.” Ucap mommy Ayu bijak.
“Aku memang nggak pernah salah memperistri kamu!” Kata Raka bangga sambil merangkul dan mengecup kening istrinya.
Keesokan paginya saat Jessi membuka mata, dia merasa tidak asing dengan ruangan itu. Tapi, bukankan Jessi berada dirumah sakit? Bagaimana dia bisa tiba-tiba berada dirumah Daddy Raka.
“Selamat pagi nona Jessi.” Sapa perawat yang masuk kedalam kamar Jessi.
“Pagi.. Mbak, saya agak pusing saat bangun tidur. Jadi, saya mau tanya boleh?” Tanya Jessi ramah.
__ADS_1
“Silahkan, nona. Apa yang mau ditanyakan?” Sambil memeriksa tensi Jessi.
“Ini kayaknya kita lagi rumah orang tua saya, ya? Apa saya halusinasi ya, mbak? Seingat saya semalam saya dirumah sakit.” Pertanyaan yang Jessi lontarkan itu pun di senyum oleh mbak perawat.
“Benar, nona. Sekarang ini nona sedang berada di kamar nona sebelum menikah.” Jawab mbak perawat.
“Jadi, saya beneran dirumah Daddy?” Dan, mbak perawat pun menjawab dengan anggukan kepalanya.
Siapa yang membawa Jessi kerumah ini? Apakah Daddy Raka dan mommy Ayu? Apakah mereka berdua pulang dari luar negeri karena mendapat kabar Jessi kecelakan? Jessi bertanya-tanya dalam benaknya.
“Saya ganti infusnya ya.” Jessi mengangguk.
“Sayang kamu sudah bangun?” Mommy Ayu masuk dengan membawa nampan yang berisi sarapan untuk Jessica.
“Sudah diganti infusnya, Bu. Saya izin pulang dulu, boleh Bu?”
“Ya, mbak Terimakasih. Boleh mbak, tapi nanti kembali sebelum jam makan siang ya mbak, mbak!” Ucap Ayu pada perawat itu.
“Baik, Bu.” Mbak perawat itu undur diri.
“Mom, kenapa Jessi bisa ada dirumah?” Tanya Jessica bingung.
“Daddy kamu yang ngotot bawa kamu pulang. Katanya kamu lebih aman dirumah daripada di apartemen.” Jawab Ayu.
Syukurlah, setidaknya Jessi memang ingin ketenangan saat ini. Jessi sama sekali tidak memprotes keputusan Daddy Raka. Ia justru merasa senang. Karena Jessi memang sempat berpikiran akan pulang kerumah Daddy Raka setelah keluar dari rumah sakit.
“Ow.”
“Ow aja?”
“Ya terus Jessi harus bilang apa?Lagi pula memang ada yang bisa melawan keputusan Daddy, ‘kan enggak.” Menjadi putri Raka satu-satunya adalah keberuntungan bagi Jessi.
“Memang anak sama bapak sama saja. Kamu enggak kasihan sama suami kamu apa?” Tanya Ayu.
Suami? Iya, dimana suami Jessi? Kenapa tidak kelihatan batang hidungnya? Bukankah seharusnya dia berada disisi Jessi saat ini?
Jessi celingak kan mencari keberadaan suaminya, ia memandang kearah kamar mandi yang berada di pojok kamarnya.
“Nggak ada.” Ayu bisa membaca sorot mata Jessi yang menatap lama pintu kamar mandi.
“Suami kamu nggak ada disini.” Lanjut Ayu.
__ADS_1
“Kok bisa?” Tanya Jessi heran. Apa Yoga marah karena perkataan Jessi saat dirumah sakit? Sampai-sampai Yoga merajuk dan tidak mau ikut kerumah Raka? Jessi memang sudah keterlaluan saat itu. Tapi apapun itu seharusnya Yoga ikut bersamanya saat ini.
“Tanya aja ke Daddy mu.” Ayu enggan menjelaskan perihal Raka yang memukuli Yoga lewat Bodyguard nya.