
FOLLOW INSTAGRAM AKU YAH TEMEN-TEMEN @n.lita.s DI SANA AKU BAKALAN SHARE NOVEL-NOVEL AKU JUGA SPOILER :-)
***MAKASIHHH...
**************************************************************************************
"Celiaa, akhirnya kamu sadar, nak," Rani membantu Celia duduk setengah tidur, ia letakkan bantal di punggung Celia sebagai penyangga.
"Mama.."
"Iya sayang, ini mama.."
"Maafin Celia, ma.." menundukan kepala dengan mata berkaca-kaca. Celia merasa sudah mempermalukan kedua orang tuanya dengan video yang beredar saat ini.
Rani merangul Celia dan mengelus-elus kepala putri semata wayangnya itu. "Nggak papa, sayang. Ini bukan salah kamu, mama yakin kamu nggak salah. Mama percaya sama kamu. Celia harus kuat ya nak, jangan sedih sendiri, mama, papa selalu ada untuk Celia." ucap Rani lembut.
Mendengar Rani menyebutkan Ari, Celia mendongakan wajahnya menatap Rani. "Papa tau, ma?Papa pasti kecewa 'kan, ma? Papa pasti kecewa sama Celia." tanya nya cemas. Manik mata nya tidak bisa menyembunyikan lagi kekhawatiran yang Celia rasakan, dia takut sangat takut mengecewakan Ari. Selama ini Ari selalu memanjakannya, Celia tidak mau menjadi anak yang tidak tau balas budi. Dia tidak mau mengecewakan Ari barang sedikitpun, tapi, nasi sudah menjadi bubur. Celia sudah menoreh luka untuk kedua orang tuannya. Statusnya sebagai anak kebanggaan Rani dan Ari, apakah Celia masih layak mendapatkan gelar itu saat ini?Setelah secara tidak langsung dia mempermalukan nama besar keluarganya dengan fitnah yang viral menjadi selingkuhan orang.
"Papa disini, sayang," Ari masuk ke dalam kamar tepat sebelum Rani menjawab pertanyaan Celia. Ari berjalan dengan langkah gagah menuju Celia. Ia duduk di hadapan Rani dengan posisi miring menghadap anak kesayangannya. "Kamu tenang saja, papa sama mama percaya sama kamu. Papa sama mama akan selalu ada untuk kamu, se kecewa apapun kami, kami tidak akan jauh darimu." Ari menggenggam erat jari jemari Celia.
Hati Celia menghangat, meskipun dia tau Ari kecewa tapi Ari tetap mendukungnya. Setidaknya Celia mempunyai dukungan untuk membuktikan bahkwa dirinya tidak bersalah dan bukan selingkuhan Radit. "Makasih papa, mama, Celia akan buktikan Celia tidak seperti yang mereka katakan." ucap Celia percaya diri.
"Harus sayang, kamu harus buktikan pada mereka yang sudah memandang salah terhadapmu." sahut Ari memberikan semangat.
"Mama yakin kamu bisa, sayang." Rani merangkul erat Celia diikuti Ari yang juga merangkul keduanya.
Diambang pintu Jessi menyaksikan moment haru itu, tak terasa ia menitikan air mata. Jessi yang awalnya ingin masuk ke dalam kamar pun berbalik. Dia menajuh dari kamar, memberikan kesempatan pada Celia dan keluarganya untuk bersama saling memberikan dukungan.
"Nggak jadi kak?" tanya Rey yang berpapasan dengan Jessi. Rey baru saja pulang dari sekolah berniat menemui Celia.
"Nanti saja." jawab Jessi berlalu.
"Oh," Rey cuek dan meneruskan langkahnya.
"Eh, mau kemana kamu?" Jessi berbalik dan menarik hodie Rey. "Aduhh," yang hodienya ditarikpun merasa sedikit tercekik. "Kakak, apaan sih kak?" sungut Rey saat Jessi sudah melepaskan tangannya dari hodie Rey.
__ADS_1
"Sorry, nanti saja ketemu Celia nya. Dia lagi sama tante Rani dan om Ari." ucap Jessi kemudian.
"Ngomong dong dari tadi, nggak perlu tarik-tarik segala mahal tau nggak hodie aku." gerutu Rey.
"Iyaa maap, ayok temenin kakak!" ajak Jessi pada adiknya.
"Kemana?"
"Ikut aja, pakai sopir kamu."
Rey menurut saja, dari pada membantah hanya akan menyebabkan keributan. Sebagai satu-satunya putri di keluarga Pratama, tidak ada yang berani menentang Jessi termasuk Rey dan Jordan. Mereka pun selalu memanjakan Jessi.
Jessi memakai celana jeans berwarna hitam dan hodie hitam serta kaca mata hitam dan topi hitam dengan rambut terurai lurus.
"Kita mau ngapain sih kak, tumben banget penampilan kakak?" tanya Rey saat mereka masuk ke dalam mobil.
"Kita mau main mafia-mafia nan," jawab Jessi asal sambil membenarkan sabuk pengamannya. Dia dan Rey duduk di kursi penumpang.
"Jalan, pak." perintah Rey pada sopirnya.
"Hodie kita sama-an Rey," Jessi baru menyadari hodie yang ia kenakan dan hodie yang Rey kenakan benar-benar sama dari merk, warna dan bahannya.
"Ya iyalah, ini 'kan hadiah mommy dari Jepang. Punya kakak, kak Jo, dan punya Rey sama. Kita kembar tiga.." tutur Rey.
"Oh, iyakah.. Baru tau aku, hehe."
Mobil yang membawa Jessi dan Rey mulai melaju dengan kecepatan sedang melewati gerbang, di ikuti satu mobil di belakangnya. Mobil dengan penumpang pengawal Jessi, yang akan menjaga keamanan Jessi dan Rey.
Tak berselang lama, satu mobil terlihat keluar lagi dari rumah itu. Mobil yang diketahui milik Ari, didalam mobil itu ada Ari dan Rani. Mereka keluar untuk membeli sesuatu sesuai permintaan Celia. Saat ini Celia sedang sendirian, ini kesempatan bagi Radit yang sudah menunggu lama untuk menemui Celia. Sudah dua jam Radit berdiam di dalam mobilnya memantau rumah Jessi sambil memikirkan cara menemui Celia. Tak disangka Tuhan membantunya.
Mendapatkan kesematan yang mungkin tidak akan datang dua kali, Radit pun langsung bertindak. Dia menghidupkan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya mendekati gerbang, dia memarkir mobilnya tidak jauh dari gerbang dan turun dari mobil menemui satpam yang bertugas. Beruntung Radit sudah beberapa kali mengunjungi rumah Jessi jadi ia sudah mengenal satpamnya dan satpam rumah pun tau Radit adalah sahabat sekaligus rekan kerja Yoga . Dengan embel-embel disuruh Yoga mengambil berkas, Radit bisa dengan mudah masuk kedalam rumah itu. Radit membawa mobilnya masuk ke dalam rumah dengan mulus. Radit langsung menuju kamar tamu yang Radit yakini ada Celia di dalamnya.
Tok.. tok.. Radit mengetuk pintu kamar tamu menunggu sahutan dari Celia.
"Masuk.." sahut Celia.
__ADS_1
Mendengar sahutan dari Celia, Radit pun membuka pintu pelan dan melangkah masuk kedalam ruangan itu. Ah, perasaan lega bercampur sedih Radit rasakan saat melihat keadaan Celia. Radit merasa lega Celia baik-baik saja, dan merasa sedih karena dirinya, Celia mendapat masalah saat ini.
"Kak Radit.."
"Maaf, saya datang tiba-tiba. Kamu pasti kaget yaa?" berjalan mendekati tempat tidur dan duduk di bangku yang tersedia di sebelah tempat tidur dengan posisi menghadap Celia.
"Kenapa kak Radit kesini?Mbak Yulia gimana?" tanya Celia. Bahkan dalam kondisi saat ini pun Celia masih memikirkan orang lain.
"Saya khawatir sama kamu." Jawab Radit jujur.
"Celia nggak papa, kak."
"Syukurlah, saya nggak tenang kepikiran kamu setelah kejadian waktu itu. Saya merasa bersalah membiarkan kamu pulang sendiri waktu itu dan perasaan bersalah saya semakin menjadi saat melihat video viral yang memojokkan kamu. Seharusnya kamu nggak mengalami kepahitan ini kalau saja saya tidak egois mengajak kamu ke Malang." Celia bisa melihat penyesalan dalam diri Radit saat melihat kedua mata Radit. Perasaan tertekan sedang Radit rasakan saat ini.
"Celia nggak papa, kak. Kak Radit nggak perlu merasa bersalah,"
Radit menggelengkan kepala dan berucap. "Nggak, Cel. Ini salah saya, maka dari itu beri saya kesempatan untuk menyelesaikannya."
"Bagaimana cara kak Radit menyelesaikannya?" tanya Celia.
"Itu urusan saya, Cel. Kamu tidak perlu memikirkan hal itu, kamu hanya perlu tetap tenang dan jangan keluar rumah untuk sementara waktu. Serahkan masalah ini sama saya, kamu percaya sama saya 'kan?" Radit memberanikan diri menggenggam tangan Celia dan menatap Celia lembut, seolah terhipnotis dengan ucapan Radit, Celia pun menganggukan kepalanya.
"Bagus, saya harus pergi sekarang. Saya tidak bisa lama-lama disini, kamu ingat pesan saya tadi 'kan?" lagi-lagi Celia hanya menganggukan kepalanya.
Sebelum pergi Radit mengelus-elus kepala Celia dengan lembut. Lalu berlalu meninggalkan Celia. Radit berjalan dengan sedikit berlari menuju mobilnya, dia tidak mau bertemu orang tua Celia, karena belum waktunya dia bertemu orang tua Celia. Sesuai pertimbangan Radit, tak selang lama mobil Radit keluar dari rumah itu, mobil yang di kendarai Ari, papa nya Celia kembali ke rumah itu.
"Selamat," gumam Radit sambil melirik spion mobilnya melihat mobil Ari memasuki gerbang rumah mewah itu. Radit langsung melajukan mobilnya dengan kecapatan tinggi menuju kediaman orang tuanya.
***
"Plakk..." satu tamparan keras mendarat di pipi Radit. Radit membeku di tempat sambil memegang salah satu pipinya yang terasa panas akibat tamparan dari sang Ayah.
"Bapak kecewa sama kamu, Radit! Yulia kurang apa sampai kamu tega berselingkuh dari perempuan sebaik Yulia? kurang apa Radit?! Kurang Apa?" Pak Sutomo bertanya dengan nada tinggi. Beliau sangat marah saat melihat video pertengkaran Yulia dan Celia, dimana Radit hanya diam menonton pertengkaran itu.
__ADS_1