
Kini, Yoga menatap tajam Jessi. “Kamu juga turun!” Kata Yoga pada Jessi sedikit memerintah.
“Kenapa Jessi harus turun?Ini, kan, mobil Jessi.” Ucap Jessi menolak.
“Lo bawa mobil gue, Dit.” Radit mengangguk, lelaki itu paham apa yang akan di lakukan Yoga.
“Oh..Jadi, kakak mau semobil sama Jessi, ngomong dong dari tadi.” Gerutu Jessi seraya berpindah duduk ke kursi di sebelah kemudi tanpa turun dari mobil.
“Saya, kan, sudah bilang. Kamu saja yang nggak mendengarkan saya.” Kesal Yoga seraya masuk ke dalam mobil Jessi, ia memegang kemudi siap untuk melajukan mobil.
“Mana ada, kapan kakak bilang??Kakak cuman bilang, Turun!!Yah, mana Jessi tau kalau itu artinya kakak mau ikut mobil Jessi.” Cerocos Jessi sambil memasang seatbelt nya.
“Sudah diam, kamu cerewet sekali.” Yoga melajukan mobil meninggalkan tempat itu, menyusul mobil Dito yang sudah lebih dulu melaju. Di belakang mereka Radit mengikuti dengan mobil Yoga.
“Jessi nggak cerewet ya, Jessi tuh hanya sedikit banyak bicara.” Ralat Jessi tidak terima dikatai Yoga cerewet.
“Sama saja.”
“Loh, ya beda dong.”
“Terserah kamu.” Terserah adalah kata andalan Yoga saat dirinya kalah berdebat dengan gadis pengganggu di sebelahnya.
Sepersekian detik Jessi memandangi wajah tampan Yoga yang sedang fokus pada kemudinya. Entah mengapa jiwa penggoda Jessi meronta-ronta setiap kali Yoga berada di dekatnya.
“Kak..” panggil Jessi pada Yoga.
“Hm.”
“Kak..” panggil Jessi lagi.
“Apa?” Yoga menjawab tanpa menoleh sama sekali.
“Kak..” ini ketiga kalinya Jessi memanggil Yoga.
“Apa?Apa..apa?!!” Karena merasa kesal akhirnya Yoga menoleh sekilas pada Jessi sebelum akhirnya kembali fokus pada kemudinya.
“Apa?Kenapa kamu berisik sekali?” Tanya Yoga.
“Nggak papa kok, Jessi cuma mau bilang kak Yoga kenapa sih bisa setampan ini?” Goda Jessi pada Yoga sambil tersenyum manja.
“Huh..” Yoga menghela nafas kesal. Dia menggangguku hanya untuk menanyakan itu, dasar bocah.
“Kakkk, jawab dong.” Rengek Jessi manja.
“Sudah dari cetakannya tampan!Sudah, jangan ganggu saya lagi, kamu tidak lihat saya sedang nyetir?Anteng sedikit bisa tidak, seperti teman kamu itu.” Ucap Yoga seraya melirik Celia dengan kaca depan. Sekilas hanya lirikan biasa namun Yoga sedang menyelidik Celia.
Yoga tau Jessi hanya memiliki satu orang teman yang bernama Salsa. Bocah yang sama gila nya dengan Jessi.
__ADS_1
“Astaga, lupa gue.” Jessi menoleh pada Celia. Dilihatnya Celia masih diam dan ketakutannya
“Kenapa lo gemetaran gitu?Masuk angin?Apa AC nya terlalu dingin?” Tanya Jessi pada Celia.
“Gu..gue takut masuk kantor polisi.” Jawab Celia tertekan.
Wah ni anggota baru mesti di ospek dulu sama Salsa. Batin Jessi melihat Celia yang nampak ketakutan.
“Hem, siapa juga yang mau ke kantor polisi, kita lagi jalan mau makan Maemunah. Penakut lo, nih minum!” Sambil menggerutu Jessi memberikan sebotol air mineral kepada Celia.
Celia menerima nya dengan tangan kanan. “Makasih.” Jawabnya.
Jessi pun menenangkan Celia dan memberi tahu Celia jika mereka sudah terbebas dari masalah dengan pak polisi. Ia jadi tidak punya kesempatan menggoda Yoga karna harus menenangkan Celia. Si gadis yang penakut dan bodoh.
Sampailah mereka di salah satu restoran favorite Yoga. Yang juga restoran favorite Jessi tentunya. Apa yang Yoga sukai Jessica pasti akan tau dan akan menyukainya.
“Cel, kita pakai jaket untuk nutupin logo sekolah.” Tutur Jessi sebelum turun dari mobil. Celia pun mengangguk. Ya, mereka masih memakai seragam putih abu-abu.
Usai memarkir mobilnya Yoga mengajak Jessi dan Celia turun. Di depan pintu masuk restoran Salsa sudah menunggu, perempuan itu juga mengenakan jaket untuk menutupi logo sekolahnya. Salsa, Dito dan Radit menunggu di depan pintu utama.
“Jangan VVIP, kita di tempat umum aja kak. Sambil cuci mata.” Ucap Jessi saat mereka sudah melangkah masuk ke dalam restoran.
“Cuci mata?” Yoga memicingkan matanya.
“Iya lah, cuci mata. Pasti banyak cogan makan, kita butuh asupan cogan.” Sahut Salsa.
“Cowok ganteng, kak. Masa kalian nggak tau sih?” Ujar Salsa sambil mengedarkan pandangannya mencari tempat yang strategis.
“Mereka mana tau, Sa. Kan, udah om-om.” Sahut Jessi menyindir Yoga dan kedua temannya. Sementara Yoga melotot pada Jessi.
Dito hanya geleng-geleng kepala.
“Jadi, kamu tergolong gadis yang menyukai om-om dong, Jess?” Timpal Radit. Sepertinya lelaki itu sudah semakin banyak bicaranya.
“Emang, Jessi lebih suka om-om dari pada berondong.” Jawab Jessi. Samar-samar Yoga tersenyum tipis mendengar ucapan Jessi.
“Stop!Kita duduk disini saja.” Ajak Salsa pada yang lainnya. Menurut Salsa ini tempat yang cukup strategis untuk cuci mata.
Tidak ada penolakan dari kubu Jessi ataupun kubu Yoga. Mereka mulai mencari tempat duduk masing-masing. Tempat duduk yang saling berhadapan dengan meja persegi panjang berada di tengah.
Satu persatu dari mereka mulai memesan makanan nya. Di sela-sela makannya Jessi dan Salsa nampak mencuri-curi pandang pada Yoga dan Dito. Kedua lelaki itu sebenarnya tau Jessi dan Salsa mencuri pandang pada mereka. Hanya saja kedua lelaki itu memilih diam. Bagi mereka Jessi dan Salsa yang diam-diam melirik mereka itu sangatlah lucu.
“Jes, boleh saya tanya?”
“Apa kak Radit?” Jessi masih sibuk mengunyah makannya saat ini. Ia tidak peduli jaga image atau bersikap anggun saat makan.
“Kenapa kamu lebih suka om-om dari pada Brondong?” Tanya Radit penasaran.
__ADS_1
“Kenapa?” Jessi menghentikan makannya sebentar lalu menatap Radit. Lelaki itu mengangguk.
“Ya karna dompetnya tebal lah.” Jawab Jessi ngasal.
Yoga yang saat itu sedang menikmati makannya pun tersedak mendengar jawaban Jessi. “Uhukk.” Apa katanya, karena dompet tebal?Bukan karena aku tampan? Batin Yoga.
Loh, Yoga kok jadi percaya diri sekali sih?Memangnya om-om yang Jessi sukai dia, ya walaupun memang Yoga.
“Minum dulu, kak.” Jessi menyodorkan segelas air putih pada Yoga yang langsung diterima oleh lelaki itu.
“Bukan karena tampan, Jess?” Tanya Radit lagi sambil melirik Yoga. Ia ingin tau seperti apa reaksi Yoga.
Disisi lain Yoga terlihat tenang tapi lelaki itu nampak menunggu jawaban Jessi dengan penasaran.
Jessi menggeleng. “Kalau cuman tampan mah teman sekolah Jessi banyak yang tampan, kak. Kakak kelas Jessi dulu juga banyak yang tampan.” Jawab Jessi.
“Dompet mereka nggak tebal?” Tanya Radit lagi.
“Tebal.” Jawab Jessi.
“Lalu??Kenapa kamu nggak suka mereka?”
Benar kata Radit, kenapa Jessi nggak punya pacar selama ini jika teman sekolahnya banyak yang tampan dan berdompet tebal.
“Ya..mereka dompet nya tebal minta orang tua, kalau om itu, kan, udah cari uang sendiri.” Jawab Jessi lagi jujur.
“Om itu siapa?” Goda Dito. Entah mengapa lelaki itu ingin menggoda Jessi seperti apa yang di lakukan Radit. Juga karena penasaran dengan eksperi Yoga saat mereka menggoda gadis pengganggu Yoga.
“Itu.. om itu!” Tunjuk Jessi pada Yoga yang duduk di hadapannya.
Seketika tawa Radit dan Dito pecah melihat wajah Yoga yang memerah karena ucapan Jessi.
“Jessica!!” Geram Yoga.
“Apa sih, Jessi, kan, ngomong apa adanya, kak.” Ucap Jessi cuek.
“Maaf, saya permisi ke toilet.” Ucap Celia tiba-tiba. Jessi dan Salsa langsung menoleh ke arah Celia bersamaan.
Mau gue temenin? Tanya Jessi dan Salsa dalam tatapan. Celia menggeleng kan kepalanya menjawab pertanyaan Jessi dan Salsa yang lewat telepati pikiran itu.
.
.
.
.
__ADS_1
Nih udah up yaa guys.. Kisah Jessi dan Yoga mungkin nggak bisa up tiap hari, tapi author usahakan dalam satu minggu up 3 kali, Insyaallah ya ☺️