
Sungguh sial bagi Jessica, ini pertama kalinya ia mengebut dan di cegat polisi. Sebenarnya bukan masalah kalau hanya di cegat polisi saat dirinya mengebut, toh mau bagaimanapun ia tetap bisa lolos dari kantor polisi dengan bantuan tim pengacara Daddy Raka yang sudah pasti handal dan terpercaya.
Tapi, masalahnya saat ini Jessi sedang mengejar f*cek Boy, tapi pak polisi malah mengganggunya.
Jessi melihat seorang polisi turun dari mobil yang tadi menghadangnya lebih seperti mobil pribadi tidak ada logo kepolisian. Pak polisi itu berjalan menghampiri mobil Jessi. Pak polisi yang cukup tampan dan gagah. Sementara beberapa mobil polisi yang lain sudah meninggalkan tempat itu. Hanya tersisa satu mobil itu saja.
Jessi menurunkan kaca mobilnya begitu pak polisi sudah berdiri di samping mobilnya.
“Selamat siang..” ucap pak polisi yang langsung di potong oleh Salsa.
“Selamat siang juga pak.” Sahut Salsa semangat. Sementara Jessi hanya mengangguk sebentar, lalu bagaimana dengan Celia?Ho..Ho.. ia gemetaran di kursi belakang takut masuk kantor polisi dan dimarahi oleh papanya. Apalagi papa Celia sudah memberi peringatan pada Celia agar tidak berulah lagi.
“Bisa ditunjukkan surat-suratnya?” Tanya pak polisi. Jessica mengangguk lalu meraih tasnya, dan mencari dompetnya untuk mengambil beberapa surat penting seperti STNK dan SIM.
Tapi, apa yang dilakukan Salsa?Menggoda pak polisi tampan dong, gadis remaja itu mana mungkin melewatkan kesempatan menggoda polisi apalagi tampan.
“Mau surat apa pak?Surat cinta atau surat nikah?Kalau surat nikah kita ke KUA dulu pak, saya sama bapak.” Ceplos Salsa menggoda pak polisi sambil menyunggingkan senyum penggoda nya.
Senyum penggoda andalan Jessi saat mengganggu Yoga. Salsa belajar tersenyum seperti itu dari Jessi.
“Salsa...” lirih Celia takut mendengar ucapan Salsa. Takut pak polisi murka.
Pak polisi hanya geleng-geleng kepala seraya tersenyum manis membalas senyuman Salsa.
Aduh senyuman mu, pak.
“Kok malah senyum sih pak, saya, kan, tanya serius.” Salsa mengerucutkan bibirnya bertingkah sok gemas.
“Mulai deh Salsa, lo diem dulu!” Menyuruh Salsa untuk tidak bersuara. Jessi sudah hafal ya, Salsa mana tahan untuk tidak menggoda lelaki tampan. “Iya..iya..” jawab Salsa seraya menyegel mulutnya dengan jari telunjuknya.
“Ini, pak.” Menyerahkan STNK dan SIM yang sudah Jessi ambil dari dalam dompetnya.
Pak polisi menerima dan membaca informasi pada kedua barang penting itu.
“Anindya Ayu Pramusita.” Ucap pak polisi membaca identitas STNK yang dibawa Jessi. Lalu ia menatap Jessi.
“Iyaa, pak. Ini mobil mommy, tapi, Jessi sudah dapat izin dari mommy, kok. Kalau bapak nggak percaya, saya kasih nomor mommy.” Ucap Jessica serius.
__ADS_1
Pak polisi manggut-manggut. “18 tahun, apa adik tau mengapa saya menghadang mobil adik?” Tanya pak polisi itu.
“Ya mana saya tau, saya, kan, bukan cenayang. Bukan pula Mbah mijan.” Jawab Jessi santai.
Kesal?Ya iyalah pak polisi kesal dengan jawaban Jessi, tapi jawaban Jessi juga masih bisa di terima.
Paling juga gara-gara ngebut, tapi, kayaknya nggak ada pos polisi yang kita lewati kok bisa ada polisi ngejar, aneh. Batin Jessi.
“Memang kenapa bapak menghadang mobil kami, bapak ganggu saja.” Cebik Salsa masuk ke obrolan antara Jessica dan pak polisi.
“Adik ini sudah mengebut di jalan raya,” ucap pak polisi menjelaskan alasan nya menghadang mobil Jessi.
“Saya nggak ngebut kok, pak.” Sergah Jessi.
“Sudah jelas adik mengemudi melebihi kecepatan rata-rata, itu namanya mengebut.” Tegas pak polisi.
Jessi menggelengkan kepalanya menolak pernyataan dari pak polisi. “Saya nggak ngebut, pak. Mobilnya saja yang nggak mau pelan, ya masak saya bawa mobil sport pelan, nggak asyik dong pak. Nanti dikira mobil saya KW lagi.” Cerocos Jessi.
Astaga anak ini. Batin pak polisi kesal.
“Betul itu kata Jessi, pak. Saya juga alergi kalau naik mobil pelan, pak.” Salsa menimpali.
“Iya pak, kalau mobilnya pelan saya suka muntah gitu, terus emosi saya tidak stabil bawaannya marah-marah.” Lanjut Salsa menjelaskan.
“Kok bisa?”
“Bisa lah pak, kalau mobilnya pelan saya nggak sampai-sampai rumah, padahal saya pulang sekolah, kan, lapar. Emosi dong saya kalau kelamaan di jalan. Kasihan cacing di perut saya buruh asupan.” Astaga Salsa, memang tidak ada alasan yang lebih logis?
“Hemm.” Pak polisi menghela nafas kasar. Benar kata Yoga, mereka anak-anak nakal. Batin Dito, yang tidak lain adalah polisi itu.
“Jadi, gimana pak?Stnk sama SIM saya mana, kalau mau ditilang mana suratnya, pak?Kita buru-buru nih.” Ujar Jessi tidak sabaran.
Baru saja Dito akan menjawab sebuah mobil sport warna hitam datang dan menepi di belakang mobil Jessi. Dua lelaki keluar dari mobil itu dan langsung menghampiri mobil Jessi.
Jessi terkesiap melihat Yoha berjalan kearahahnya, rasanya ia ingin kabur dari situ. Yoga pasti akan menceramahinya dengan berbagai kata-kata bijak.
“Bro, sorry ngerepotin.” Ucap Yoga saat sampai di sebelah Dito.
__ADS_1
“Santai aja, man.” Balas Dito seraya menepuk bahu Yoga.
“Kalian saling kenal?” Tanya Jessi kaget melihat interaksi antara Yoga dan Dito. Begitu juga Salsa dan Celia.
“Kenal!” Jawab Yoga singkat jelas dan padat.
Cih..Mending ngirit duit bisa bikin kaya, lah dia ngirit kata nggak ada faedahnya. Batin Jessi.
“Oh.. iya ini STNK sama SIM kamu.” Mengembalikan STNK dan SIM Jessica.
“Surat tilangnya mana, pak?” Tanya Jessi.
“Nggak ditilang, cuman lain kali jangan diulangi atau saya benar-benar kasih surat tilang!” Ucap Dito penuh ketegasan. Terlihat jiwa wibawanya yang seorang polisi.
Fiks, gue jatuh cinta pada pandangan pertama. Batin Salsa tak mengalihkan sedikitpun pandangan matanya dari Dito.
“Kalau nggak jadi ditilang, kita makan siang bareng yuk, pak. Biar Jessi yang traktir.” Ucap Salsa ngawur. Jessi pun langsung melotot pada Salsa. Sementara Salsa hanya nyengir tanpa rasa bersalah. Enak aja bocah itu mau modus in pak polisi tapi Jessi yang harus modal.
Untung sahabat kalau nggak udah gue lempar lo ke sungai Amazon. Batin Jessi.
“Maaf, tapi saya sudah makan siang.” Tolak Dito halus. Yang membuat Jessi terkekeh.
“Kalau begitu saya permisi.” Pamit Dito.
“Tunggu, Salsa bener kita makan siang bareng. Lo pasti juga belum makan, kan?” Ajak Yoga pada Dito. Lelaki itu setidaknya harus berterimakasih pada Dito karena sudah mau direpotkan.
“Nah, Salsa emang selalu benar kok, kak. Yaudah yuk pak CUS, Salsa ikut mobil bapak saja deh, soalnya Jessi pasti bawa mobilnya nanti pelan.” Cerocos Salsa seraya melepas seatbelt nya dan turun dari mobil. Dengan semangat 45 Salsa berjalan menuju mobil yang tadi Dito bawa.
Modus lo Sa. Jessi geleng-geleng kepala.
Dito melirik Yoga sekilas hingga lelaki itu mengangguk. Akhirnya Dito pun berjalan menuju mobilnya menghampiri Salsa yang sudah berdiri di sebelah mobilnya dengan melambai-lambaikan tangan pada Dito.
.
.
.
__ADS_1
.