
Yoga mondar mandir di kantor nya karena tidak bisa menghubungi Jessi seharian ini. Sudah hampir jam pulang kantor tapi, pacar kecilnya itu tak kunjung bisa dihubungi. Yoga juga sudah menelpon ke kediaman Raka dan menanyakan pada orang rumah apakah Jessi sudah sampai rumah atau belum, dan, jawabannya belum.
‘Ah.. Cafe, gue sampai lupa..’ batin Yoga.
Yoga langsung menyambar jas dan kunci mobilnya lalu meninggalkan ruang kantornya untuk menemui Jessica. Jam-jam orang kantoran pulang jalanan lebih ramai dari biasanya, Yoga butuh waktu lebih dari 30 menit sampai di cafe tempat Jessi bekerja.
Yoga pun memarkir mobilnya tepat di depan supermarket langganan dia saat menunggu Jessi pulang kerja. Baru saja Yoga akan keluar dari mobil, ia melihat Jessica keluar dari arah cafe dan masuk kedalam mobil yang baru saja menepi di depan gerbang cafe. Plat mobilnya sama dengan mobil yang ada di foto. Tidak salah lagi mobil itu pasti milik Rio.
Setelah Jessi masuk ke dalam mobil itu, mobil itu pun melaju. Karena penasaran Yoga mengikuti mobil itu. Sekitar sepuluh menit perjalanan, mobil Rio pun menepi di depan sebuah tempat kerajinan perkakas dari rotan. Yoga sendiri ikut menepikan mobilnya di belakang mobil Rio dengan jarak yang cukup jauh agar tidak mencurigakan.
Rio dan Jessi turun dari mobil, dan masuk kedalam pusat kerajinan itu. Tidak sampai lima menit Rio dan Jessi sudah kembali keluar. Mereka membawa beberapa pot dari rotan dan di masukan ke dalam mobil juga beberapa kursi rotan yang dibantu oleh pekerja.
“Kenapa dia tertawa seperti itu?” Kesal Yoga melihat Jessi dan Rio terlihat akrab. Tidak hanya itu yang membuat Yoga kesal, Yoga melihat Rio memegang tangan Jessi dengan kedua matanya sendiri bukan hanya foto.
Ingin rasanya Yoga keluar dari mobil dan meneriaki Rio jika Jessi adalah pacaranya. Namun, ia gengsi. Bagaimana jika Jessi menganggapnya terlalu posesif dan kekanak-kanakan. Yoga tidak mau itu terjadi. Ia harus tetap terlihat dewasa dan berwibawa di hadapan Jessi.
Mobil Rio kembali ke cafe dan Yoga pun mengikutinya. Sampai di cafe Yoga tidak memarkir mobilnya di depan supermarket tapi di halaman parkir cafe. Ia akan masuk cafe sebagai tamu agar bisa bertemu dengan Jessi.
Nasib Yoga ternyata tidak semulus yang Yoga harapan. Pelayan yang mencatat pesanan dan yang menyajikan pesanan Yoga bukan Jessi. Lagi-pagi Yoga di buat kesal. Mau tidak mau Yoga menunggu Jessi pulang kerja agar bisa bertemu Jessi.
Dan, nasib sial lagi-lagi berpihak pada Yoga. Jessi pulang di jemput oleh Jordan. Yoga terpaksa mengalah. Ia mengurungkan niatnya menemui Jessi, dan memilih pulang ke apartemen.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Yoga sudah sampai di rumah Jessi. Ia akan mengantar Jessi berangkat sekolah. Setelah bertanya pada satpam dan memastikan Jessi masih di dalam rumah, Yoga langsung masuk ke dalam rumah.
Yoga pun di sambut hangat oleh Jordan dan Rey. Keduanya langsung mengajak Yoga sarapan bersama. Yoga juga tidak menolak karena memang dia belum sarapan.
Kenapa lagi ni Bocil? Yoga merasakan Jessi sedikit berbeda. Gadis itu tidak terlihat senang mendapati kunjungan Yoga. Tidak seperti biasanya.
Di perjalanan menuju sekolah Jessica hanya diam. Bahkan, gadis itu hanya menjawab pertanyaan Yoga sekadarnya saja. Jessi juga terkesan cuek saat menjawab pertanyaan Yoga.
“Ada apa ini, Jes?Kamu kenapa?” Tanya Yoga tidak tahan lagi dengan sikap cuek Jessi. Yoga melirik sekilas Jessi sambil tangan kanannya fokus pada stir kemudinya.
“Gak papa.”
“Jawaban apa itu Jessica, kalau tidak papa kenapa kamu seperti ini?” Mencoba selembut mungkin agar keadaan tetap kondusif.
__ADS_1
“Nggak papa,”
“Kalau saya tanya, kamu jawab yang benar. Bukan nggak papa, nggak papa terus. Itu bukan jawaban Jessica!” Kata Yoga mulai terpancing amarahnya.
“Kalau Jessi bilang nggak papa ya nggak papa. Kak Yoga ngerti nggak sih!” Ketus Jessi dengan nada sedikit meninggi.
Yoga geleng-geleng kepala. “Saya tidak mengerti, Jes. Bagaimana saya bisa mengerti kalau setiap saya tanya jawaban kamu nggak papa, nggak papa terus?”
“Terserah.”
“Nggak papa dan terserah itu bukan jawaban Jessica. Sekarang saya tanya, kamu kenapa?Saya ada salah sama kamu?” Tanya Yoga dengan lembut.
“Pikir aja sendiri.” Jawab Jessi acuh tak acuh.
Ni anak kenapa sih?Bukannya harusnya gue yang marah sama dia, kenapa jadi dia yang marah? Batin Yoga.
“Bagaimana saya bisa mikir kalau saya sendiri saja tidak tau dimana letak kesalahan saya.” Kata Yoga menghela nafas berat.
“Ow.”
“Kamu marah sama saya?”
“Gak.”
“Marah?”
“Gak.”
“Kamu marah, Jes. Saya tau kamu marah, kenapa, Hm?Ngomong sama saya, salah saya apa?Kenapa kamu marah, Hm?” Yoga melirik Jessi sambil tangan kirinya mengusap-usap lembut rambut Jessi.
Bukan menjawab Jessi malah melengos ke arah luar jendela. Ia menurunkan kaca mobil dan menghidup udara pagi, jalanan masih sepi.
“Kenapa sayang?Jawab saya, saya ada salah apa sama kamu?” Meraih dagu Jessica sedikit menggerakan nya agar Jessi menoleh ke Yoga. Namun, Jessi menepis tangan Yoga.
Dan, Yoga hanya bisa mengelus dada nya, berusaha sabar menghadapi sikap Jessi. Yoga berusaha memaklumi Jessi yang masih dalam masa labil, sebagai sosok yang lebih dewasa Yoga harus banyak-banyak bersabar dan mengalah. “Kalau ada masalah ngomong, jangan malah merajuk. Kalau saya ada salah kamu ngomong, biar saya tau letak kesalahan saya dimana?”
__ADS_1
“Siapa Devina?”
Devina? Kenapa Jessi tiba-tiba menanyakan Devina? Apa Jessi tau sesuatu tentang Devina?Seingat Yoga, ia belum menceritakan masa lalu nya bersama Devina? Atau jangan-jangan Devina yang lebih dulu menceritakan masa lalu mereka?
Shit... Si alan! Maki Yoga pada dirinya sendiri, jika benar Devina berulah maka ia kecolongan. Tapi, bisa saja Jessi belum tau apa-apa dan hanya asal bertanya.
“Devina?” Tanya balik Yoga.
“Ya, siapa Devina?Tante yang kemarin ke kantor kakak itu, siapa?” Tanya Yoga.
Sepertinya Jessi belum tau tentang Devina.
“Oh, kamu, kan, juga tau sayang, dia klien saya.” Jawab Yoga bersikap biasa saja.
“Bohong!” Tuding Jessi.
“Untuk apa saya bohong sama kamu, sayang?Nggak ada faedahnya. Dia memang klien saya. Kenapa memangnya?” Tanya Yoga.
“Kalau hanya klien, kenapa kalian berduaan tengah malam di taman??” Dan, Jessi pun melontarkan pertanyaan yang tidak pernah Yoga sangka sebelumnya.
“Maksud kamu apa, sayang?Kapan saya beduaan sama ibu Devina?” Kilah Yoga.
Cih.. Jessi berdecih kesal.
“Kakak mau sampai kapan bohong sama Jessi?Kakak pikir Jessi tidak tau, kakak sempat berduaan dengan Devina, bukan ibu Devina!” Tuduh Jessi tegas.
Yoga gelagapan mendapatkan tuduhan dari Jessi. Ia bingung harus menjawab apa pada kekasihnya itu.
“Jess, saya-.”
.
.
.
__ADS_1
.