
Sejak pagi wartawan sudah mulai berdatangan dan memenuhi lobi kantor pusat Hanggara Group. Jumlah mereka yang cukup banyak hampir memenuhi lobi perusahaan pun menggangu aktivitas tamu. Hingga akhirnya pihak humas perusahaan memindahkan mereka ke aula khusus konferensi pers. Disana sudah di sediakan tempat duduk untuk para wartawan, mereka di persilahkan duduk dengan rapi dan tertib sambil menunggu acara konferensi pers di mulai.
“Mohon perhatiannya untuk teman-teman media semua, sambil menunggu acara di mulai diharap teman-teman media bisa tenang! Tolong jangan berteriak-teriak!” Kata salah satu tim humas yang bertanggung jawab pada acara hari ini.
“Kita tenang kalau pak Yoga nya datang!” Sahut salah satu wartawan.
“Betul!” Timpal yang lain.
“Acara akan dimulai sepuluh menit lagi, dimohon untuk tenang. Barang siapa yang menyebabkan kericuhan maka akan di keluarkan dari ruangan ini dan tidak mendapatkan berita apapun!” Kata karyawan humas itu sedikit mengancam.
Dan, ternyata cara itu cukup efektif. Wartawan yang ada di ruangan itu mulai tenang dan fokus. Beberapa di antara mereka mulai men-seting kamera yang mereka bawa, beberapa mulai mengeluarkan laptop dan menaruhnya di atas meja. Kemungkinan untuk mengetik informasi yang akan disampaikan oleh pihak Hanggara Group.
Tibalah saat acara di mulai. Yoga memasuki ruang konferensi pers di dampingi oleh Adam, Tio selakusekertaris Adam dan beberapa pengawal. Suasana diruangan kembali riuh.
***
Di apartemen Devina. Devina tengah menonton siaran langsung yang menampilkan acara konferensi pers itu bersama sekutu nya.
“Gue yakin Yoga nggak bakalan bawa gadis itu..” kata Devina dengan senyum puas melihat Yoga hanya datang bersama Adam tanpa ada Jessi. Devina mengira Jessi tidak lah penting.
***
Suasana konferensi pers..
Adam selaku presiden direktur dari Hanggara Group pun membuka acara itu. Setelah memberi sambutan sedikit Adam pun mulai masuk ke topik pembicaraan yang akan di sampaikan kepada khalayak umum di acara hari ini.
“Seperti yang teman-teman media semua tau, beberapa hari ini tersebar berita-berita miring mengenai Adik saya Yoga yang akhirnya berimbas pada perusahaan. Disini saya sebagai kakak dari Yoga sangat menyayangkan berita itu, apalagi banyak pemberitaan yang menjurus ke pemberitaan negatif, selain mempengaruhi nama baik Yoga, berita-berita tersebut juga merusak citra Perusahaan.” Kata Adam menjeda ucapannya saat melihat ada wartawan yang mengangkat tangannya dan mulai memotong pembicaraan Adam.
“Tapi, pak Adam, bukankan orang dalam foto yang beredar itu memang benar pak, Yoga?” Tanya wartawan.
“Baik, untuk benar atau tidaknya berita tersebut akan di jawab langsung oleh yang bersangkutan.” Adam melirik Yoga yang langsung di angguki oleh Yoga. Awalnya Adam masih ingin meluruskan banyak hal namun sepertinya wartawan tidak sabaran. Mereka mulai gaduh saat Adam berbicara, lebih baik Yoga yang angkat bicara.
__ADS_1
Sorot kamera mulai fokus pada Yoga yang siap buka suara terkait scandal nya dengan Jessica.
“Pak Yoga, apakah betul orang di foto itu adalah bapak?”
“Apa benar pak Yoga sengaja booking anak SMA?”
“Apa hubungan bapak dengan gadis berseragam abu-abu itu, Em kalau tidak salah namanya Jessica?”
“Bagaimana dengan karir bapak setelah scandal ini muncul?”
“Siapa perempuan itu, pak?”
“Mengapa bapak dan Jessica bisa berada di hotel? Padahal sudah malam?”
Berbagai pertanyaan mulai para wartawan tanyakan. Moderator pun mengatur agar wartawan bisa bertanya satu per satu tanpa membuat kegaduhan.
“Baik, sebelumnya saya minta maaf kepada ikatan pengacara Indonesia karena scandal pemberitaan saya dan Jessica profesi pengacra jadi ikut terseret-seret dan mendapat citra yang buruk.” Ucap Yoga tulus. Ia pun sempat mendapat teguran dari ikatan pengacara Indonesia karena scandal nya dan Jessica.
“Dan, saya akan menjawab satu persatu pertanyaan dari teman-teman media terkait beberapa foto yang akhir-akhir ini menjadi trending topik di media sosial khususnya. Seperti yang teman-teman media tau, dalam foto itu ada sosok laki-laki yang mirip saya keluar dari kamar hotel dengan seorang gadis remaja. Dan, benar saya tidak akan menyangkal laki-laki di dalam foto itu adalah saya.” Belum selesai Yoga berbicara sahutan dari seorang wartawan terdengar keras.
“Apa gadis itu gadis panggilan, Pak?”
“Bagaimana cara gadis itu menggoda bapak, sampai pak Yoga yang terkenal berwibawa dan menjunjung tinggi moral sampai tergoda rayuan nya?”
Beberapa pertanyaan yang di utarakan oleh wartawan-wartawan itu terkesan memojokkan Jessica hingga membuat Yoga kesal. Dia hampir saja hilang kendali melempar wartawan itu dengan botol air mineral, untung Adam memberi isyarat pada Yoga agar dia tenang.
“Mohon ketenangannya!” Sela moderator. “Silahkan di lanjutkan pak Yoga.”
“Sepertinya banyak asumsi publik yang mengarah ke hal negatif ya, namun apa yang sebagian orang bicarakan tidaklah benar. Saya dan Jessica memang berada di hotel saat itu. Sebelum bertemu Jessica saya sedang meeting dengan klien saya, kemudian Jessica munyusul saya ke hotel karena khawatir.” Yoga berkata sambil menahan tawa mengingat kelakuan Jessi yang nekat menyusulnya ke hotel karena cemburu.
“Sebenarnya saya dan Jessica memang pacaran, saat itu di hotel Jessi sengaja menyusul saya karena saya tidak bisa dihubungi, kami tidak melakukan hal yang melewati batas di kamar hotel itu. Jarak saya masuk dan keluar hotel tidaklah lama, setelah klien saya pergi, saya berniat mengambil tas kerja saya di dalam hotel, tidak tau bagaimana ceritanya ada yang mengambil gambar saat saya dan Jessica keluar dari hotel. Mereka bahkan memberitakan yang tidak-tidak. Teman-teman bisa mengecek dari rekaman CCTV yang di tampilkan di layar, saat saya mengobrol dengan klien di depan kamar hotel. Disana ada Jessica juga.” Salah satu staf memutar video rekaman CCTV dimana Jessica mondar mandir di depan kamar hotel menunggu Yoga sampai Yoga keluar bersama Deka.
__ADS_1
“Jadi, pak Yoga dan Jessica pacaran?”
“Ya, saya dan Jessica sedang berpacaran dengan serius. Dan, saya mengenal Jessica dengan baik. Jessica tidak seperti yang di beritakan oleh media, dia gadis yang baik. Saya terus terang sedih melihat dan mendengar berita buruk beredar mengenai pacar saya, saya harap setelah mendengar penjelasan dari saya, beberapa media yang sempat memberitakan Jessica dengan berita negatif bisa menarik berita tersebut.” Ucap Yoga santai namun pembawaanya penuh wibawa.
“Saya rasa cukup sampai disini, sudah Clear semua ya antara saya dan Jessica. Terimakasih.” Yoga mengakhiri klarifikasinya dengan singkat. Laki-laki itu kemudian beranjak berdiri di ikuti oleh Adam yang juga berdiri. Mereka bedua meninggalkan ruangan dengan pengawalan yang ketat.
“Sebenarnya pak Yoga, Pak Adam, bagaimana dengan hubungan Jessica dan Presdir Pratama Group?Apa mereka berselingkuh di belakang pak Yoga?” Teriak salah satu wartawan.
Yoga menghentikan langkanya, Yoga menoleh ke arah wartawan itu dengan tatapan membunuh. Namun, Adam segera menenangkannya.
“Saya akan menjawab pertanyaan, saya anggap ini pertanyaan terakhir. Untuk scandal Presdir Pratama Group akan di jawab dengan konferensi pers dari Pratama Group. Jadi, sudah ya, cukup untuk hari ini.” Ucap Adam yang langsung mengajak Yoga melanjutkan langkah mereka.
***
Prank.. Prank.. terdengar pecahan kaca dari gelas yang di lempar oleh Devina.
“Jessica...” geram Devina sambil merekatkan giginya. Kesal? Tentu saja, mana mungkin Devina tidak kesal. Bukan menyanggah, Yoga justru mengakui hubungannya dengan Jessica di depan para media. Ini tidak sesuai dengan skenario yang Devina harapkan.
“Brengsek.. ini gak mungkin! Gak, gak, Yoga pasti sedang bercanda, dia pasti di ancam oleh gadis itu.” Kata Devina. Kedua telapak tangan Devina terasa basah karena cemas.
“Kak, lihat ini!” Kata adiknya memperlihatkan sebuah foto yang baru saja viral beberapa menit yang lalu.
“Apa ini??” Devina membelalak. “Kenapa mereka seperti kelaurga?” Tanya Devina pada adiknya. Foto itu adalah foto keluarga dari orang nomor satu di Pratama Group, dengan posisi Raka dan Ayu duduk berdua, di apit oleh Jessi dan Jordan sementara Rey duduk di bangku kecil ditengah-tengah Ayu dan Raka. Di dalam foto itu Raka dan yang lainnya menggunakan pakaian senada berwarna merah maron. “Dia temanmu ‘kan?Kau tau keluarganya ‘kan?”
Gadis remaja yang berada di sebelah Devina itu menggelengkan kepalanya.
“Apa, jadi, kamu tidak mengenalnya? Kamu bilang dia teman mu?!” Bentak Devina.
.
.
__ADS_1
.
.